Geulis Nanjak Malam Ngantuk Abis (The Tracks-End)

  • Tanjakan Dimulai
  • Hutan Bambu, Hutan Kayu dan Jalan Setapak
Tanjakan pertama. Hutan Bambu yang terdapat banyak bambu disisi kanan kiri sepanjang perjalanan. (Album Mida)

Tanjakan pertama dengan tebangan bambu, belok kiri, jalur yang hanya satu-satunya kami lalui. Mulai nanjak dengan jalan yang sedikit rata dan beralur. Beberapa tanjakan diawal, kami melewati hutan bambu. Penebangan bambu pun masih terlihat sepanjang perjalanan memasuki hutan bambu ini.

Jalan yang dilalui terkadang mengecil. Kata teman-teman, ini termasuk punggung gunung. Jadi yang dilewati pun merupakan jalan setapak, karena memang jalurnya untuk penduduk mengambil kayu bakar. Kadang jalannya juga miring, disamping  letaknya yang berada di lereng bukit.

Memasuki tanjakan berikutnya berupa hutan kayu. Disini juga sedikit banyak masih tumbuh pohon bambu di beberapa tempat.

Di hutan kayu, kembali berjalan di tanah coklat. Hanya sedikit tanjakan disini. Tak bergitu sulit dan tak terlalu terjal. Namun cukup menguras tenaga karena 2 gunung sudah kami lakukan dalam 1 hari itu. Beruntung, cukup banyak jalan landai disini.

Tanahnya memang coklat, tetapi kalau hujan, aku rasa lumayan licin, karena bercampur dengan tanah liat.

Sedikit naik keatas, kami memasuki jalan setapak kembali. Setelahnya akan sampai di hutan bambu lagi. Di tahap ketiga ini, menurutku, tanjakan demi tanjakan sudah mulai terasa.

Parahnya lagi, aku yang baru kali ini ikut nanjak malam, mulai deh sepet matanya. Omigosssshhhh…… nguantuuukk tenan! >_<

Godaan kantuk mulai menerpa. Angin malam yang sepoi-sepoi, kondisi cahaya yang menurun dan dibantu headlamp yang diaktifkan, turut mengundang cuaca dan mendukung acara kantukku ini. Hoaaammm……. Berkali-kali aku menguap sampai akhirnya aku terduduk di sela-sela tanjakan yang mulai meninggi. Bukan hanya kantuk, tapi tumit belakang kaki kananku sakit. Entah kenapa. Wandi  Suwandy Wandy yang berjalan di belakangku dan beberapa teman yang setia menjaga dan mengiringi langkah lambatku ini, ikut berhenti. Ngaso.

“Wandi, tumit Ejie sakit nih. Kalo mau lanjut jalan, silahkan deh. Ejie ntar aja, jalan pelan, “ sedikit meringis.

“Ngga apa Ejie. Istirahat bentar lah,” jawabnya sembari ngomong ke Wendi dan teman di sebelahnya, “Ejie tumitnya sakit nihh…”

Irwansyah Irwadi Hidayat yang konyol, nongol, “Ejie mau digeret lagi pake webbing??”

Nyengir, “Ogaaaahhh…. Bweee… Yuuk ahhh, jalan lagi. Ngantuk Ejie ini… hehehe,” beringsut, kupaksakan kakiku melangkah naik. Haap!

Perjalanan dilanjutkan. Tim atas seperti biasa selalu menunggu tim belakang jika jarak terpisah kami sudah melampaui beberapa menit. Tapi begitu tim belakang mucul, tim atas akan melanjutkan jalan. Sesekali kumpul jika dirasa perlu untuk cek kelengkapan tim atau duduk bersama berbagi minum.

Disamping malam yang semakin menggelayut, suara jangkrik dengan krik-kriknya, semilir angin dengan hembusan daunnya, suara daun yang bergemerisik beradu satu dengan lainnya pun turut menyertai langkah kami. Keinginan untuk sampai di puncak, penasaran dengan puncak pun mengajak kami untuk tetap mengayunkan langkah.

Tim belakang.
Pasangan ancur Wendi-Irwansyah yang getol gaya,
banci kamera dan selalu bikin Ejie ngakak gada habisnya… akakaakaaa..
Makasiy yahhh kalian selalu jagain Ejie yang lambat jalan nanjak dan turunnya..
hikss… *seka mata, lebay
(Album Wendi)

Srak…sreekk…. Sraakkk… sreekk…

Seret langkah kaki tim ini terdengar jelas. Di heningnya malam yang berisikan kami saja, pendaki malam. Tsaaahh… (sok lomatis gitu dah ahhh… qiqiqii)

Hmm… tim ini yah, kalo ngga ada tawa kocak, bukan tim belakang namanya. Fiuuufhh… celotehan, banyolan konyol duet antara Irwansyah dan Wendi emang udah pas banget deh. Sepi ni tim kalo mereka loncat ke tim depan. Dan aku bakalan tambah lama jalannya kalo gada mereka berdua. Ahahhah…. Pasangan ancur! Jiaakakkaaka…

Mungkin juga karena udah malam, jadi yaaahh… tak seramai tadi pagi juga siy ancurnya mereka.

Malam menjelang, lapar menggelitik. Untung aku selalu ingat pesan seseorang untuk menyediakan cemilan dan minuman di kantung doraemonku ini. Jadi saat berhenti, selalu aku sempatkan untuk ngunyah. Nambah energi katanya. Haiyaaaahh…. Pesan yang selalu kuingat jelas, sejelas aku mengingat senyum sabarnya. Haishhh… *kangen edition! Ugkhhh…. Tonjok otakku yang tak bisa lepaskan sedikit memori tentangnya. Dung…. Dung… duuunggg *getak otak, hohhoh

***

  • Kantuk Kedua

Kududukkan bokongku dan carrier Kangmang yang kupanggul.

“Wendiiii…. Ejie ngantuk berat niihh…. Mata Ejie ga kuat lagi dipake jalan. Sumpah deh pen tidur Ejie, Wen… “ setengah tercekik, aku berteriak.

Sontak barisan belakang ikut berhenti.

“Ehh, Ejie beneran ngantuk? Kakinya gimana?” Wendi Arwen Abdi Zulullah bertanya dan beralih ke Ricky Abu, “Si Ejie ngantuk berat tuhh… gimana?”

Tanpa banyak omong, Ricky Abu  Ricky Lukitamenghampiriku, “Ejie, naik. Tetap jalan, gerakin badan. Kalo terus diam disini, tambah lama sampainya. Dikit lagi udah sampai puncak. Ayo jalan. Ga baik kelamaan disini. Kan ngantuk. Ayoo….”

Pelan tapi tegas. Hiiiiyyy…. Tinggal sendirian di tengah hutan gini mana mau lahh aku. Bukannya takut gelap atau ditinggal sendiri, tapi kalo tiba-tiba ada orang yang nongol dari balik semak-semak daaaannnn…. Err~ nope! Tengkiyuuuuu…. Otak parno ku mulai menyergap.

Ikutin omongan Ricky Abu deh. Malas, aku bergerak,  melangkahkan kaki. Tetap! Mereka tetap menyuruhku untuk berjalan di depan mereka walau lambat. Mereka akan tetap menjagaku. Hhhhh…

“Teman-teman yang baik. Allah, terima kasih lagi. Engkau menghadiahkan aku teman-teman yang solid. Jaga mereka juga, Ya Allah. Amin Yra,” pintaku padaNYA.

***

  • Sedikit Tanah Lapang, Puncak Bayangan dan Lampu Kota

Hureeeeyyy! Pinali puncak!

Eitssss…. Bukan puncak sebenarnya donk… ini baru puncak bayangan. Woooooo… lihatlah ke bawah sana! Lampu-lampu kota yang cantik. Pemandangan yang ga usah pake koprol kali yeeee…. *wink

Puncak bayangan saat malam hari yang penuh dengan lampu kotanya
(Album Ricky Merah)

Ummmm.. kata Ricky Merah, dari atas puncak bayangan ini kita bisa melihat Kota Bandung dan Bandung Selatan. Sejauh mata memandang ke bawah, banyak rumah dan lampu yang tampak. Indah. Lampu-lampu kotanya juga ada yang berkedip. Seakan menyatakan selamat datang pada kami di Geulis dari bawah sana. Haaaaaaaa….. senangnyaaa…

Geulis, puncak bayangan, tampak pada siang hari (Album Mida).

Udara yang segar, tak tertutup hutan lagi. Tanah yang lumayan lega untuk kami sekadar melepaskan penat dan beristirahat sejenak. Terasa bau ilalang, rerumputan tinggi yang ada di sekitarnya.

Lampu kota yang kecil dan cantik di bawah sana, sebenarnya momen yang baik untuk mengambil foto, tapi tak ada dari kami yang tertarik untuk mengabadikannya. Hanya menikmati pemandangannya saja. Hmm.. kantuk yang usil datang dan perut yang mulai keroncongan memanggil, membuat kami segera bergerak lagi untuk mencapai puncak. Yuuukk… jalaann.. hihihih

Kalo yang ini, turunan dari puncak bayangan. Gambar diambil siang saat turun dari puncak Geulis.
(Album Mida)

15 menit ngaso, kami melanjutkan perjalanan. Celotehan riang  masih terdengar untuk mengurangi kantuk. Otakku sudah merencanakan apa yang akan aku lakukan jika sudah di puncak. Gelar matras, cari posisi tidur enak, ga usah makan, tidur di bawah langit menatap bintang untuk mencarinya! Herooooo… sungguh suatu kegiatan yang sangat kusuka! Suka karena mengingatkan pada bintangku. Waaaaaa…. Aku kangen bintaaaaaaangg….:D

 ***

  • Pemakamankah?

Woops… ini benarkah? Ada pemakaman di puncak gunung? Adakah yang tinggal disini? Ehemmm… yang sopan kalau di kuburan, eh.. pemakaman. Kami berjalan diam melewatinya. Arah kanan lurus kami ambil.

 ***

  • Puncak Goal

Untuk mencapai puncak, kami sedikit melewati padang ilalang yang tumbuh tinggi disisi jalan. Untung (aku selalu untung yah, ahaaayyy…) aku pakai tongkat daki milik Kangmang dan kayu yang temukan di jalan tadi, jadi bisa membatu jalanku menepis ilalang ini. Ciaaaaaaaattt…. 😉

19.15 WIB

Yeeeeaa… akhirnya sampai juga di puncak! Asiiikkk….asiiiikkkk….

Geulis, puncak goal, tenda….
Haaa… malam yang indah untuk menatap bintang! xixixiii.. 😀
(Album Wendi)

Tim depan aku rasa udah dari tadi sampai. Terbukti barang mereka yang udah dibongkar. Malah ada yang persiapan pasang tenda dan ada yang masak. Bu Tender Yuni dan Rere sepertinya di pojok sana, sibuk masak. Haruuuumm…

Aku segera berlari kearah Mida Hamid Nur Alifa  yang sedang bongkar cemilan. Seperti rencanaku tadi, gelar matras adalah tujuan utamaku. Etapi, keknya keluarin cemilan dan makanan bentar deh, oper ke Mida sebelum kantuk datang menyerang.

Bongkar ranseeeeeelll…

“Mida, ini yah cemilannya. Eiyah, ada kue putri salju juga dari mama Kangmang ni untuk kita serbu. Dan iniii…. Juga iniii… “ kukeluarkan semua barang bawaanku.

“Amaaaannn… saatnya tidur, Midaaa…” aku berbaring menatap bintang kesayanganku.

“Eh, Ejie… makan dulu baru tidur,” Mida mengingatkan.

“Ntar aja. Ini udah ngemil kok. Ejie ngantuk banget, Mida. Udah ga tahan iniiihhhh,” kuhitung bintang 5, 7….. dan aku terlelap!!

***

 Perasaan udah nyaman tidur ketika samar-samar terdengar suara.

“Pindah…. Pindaahh… Ejie tidur di tenda sana, jangan disini. Ntar sakit. Badan lo itu kan ga kuat dingin. Sana pindah ke tenda,” seseorang mengusirku, “Udah dipasang tuh tendanya. Masuk giihh…” tambahnya lagi. Itu antara suara Mida, Irwansyah, Ricky Abu atau Wendi aku tak tau.

Irwansyah mengantarku pada sebuah tenda. Mata yang tak bisa kompromi, aku ngantuk berat. Di luar tenda, kembali seseorang berseru padaku, “Ejieeee…. Ganti baju. Jangan pake baju yang keringatan tadi kalo tidur. Ga sehat!”

Arrggghh! Ini kenapa jadi ribet gini urusannya yah? Segala urusan baju dipikirin.

“Emang harus??!?” teriakku sambil mengucel mataku.

“Ganti Ejieeeee….” jawab suara di luar tenda lagi.

“Iyaaaa…. Ganti deh,” sambil bersungut ngantuk aku turutin juga perkataannya. Sementara di luar tenda kudengar suara terkekeh-kekeh. Hhh…

Ganti pakaian, minyak kayu putih, bedakin sana sini. Pakai peralatan tempur yang lengkap sesuai pesanannya. Uff.. untuk yang ini, aku selalu tersenyum, lupa ambegan perintah ganti baju tadi. Hihihii….

Sarung tangan, kaos kaki, celana panjang anget, jaket dobel, kupluk anget, masker dan syal. Aku siaaaaaapppp…….. masuk sleeping bag tanpa sikat gigi?? Adeuuuhhhh… males Ejie keluar dari sarang lagi niii…. Besok aja deh.

“Maafkan Ejie yah gigi karena tidak menyikatmu malam ini….,” kataku dalam hati. 🙂

***

  • Si Konyol Itu Lagi

“Ejie…. Ada spaghetti.. makan dulu yuuk..” kembali suara usil itu terdengar lagi.

“Ejie ngantuk banget. Ga kuat ahhh matanya. Besok aja deh makannya,” seruku.

Pluk!! Spaghetti udah di hadapanku.

“Berdua Mida, makan!” perintahnya.

Oalaaahhh…. Tim belakang yang ribet. Tapi aku dan Mida akhirnya makan juga. Nyam-nyam kenyang tapi tak habis.

Udah operan spaghetti, kulihat Mida malah udah lelap duluan disampingku. Okeeehhh… aku menyusulmu, Midaaaaa….

***

  • Dingin Temanku

22.00 WIB

Aku lupa tepatnya pukul berapa saat itu. Tapi aku terbangun karena kebelet pippo (buang air kecil, red). Selain itu, kebiasaan naik gunungku kumat. Ga kuat dingin!! Dan ternyata kedengaran ke tenda sebelah yang berisi Berto dan Kangmang. Yang ada mereka ngeledek dah. Huuuhh! Awas yahhh….

Selesai pippo diantar Kangmang, Berto Roberto Elordes suruh aku makan ubi rebus, “Biar anget, Jie. Makan ubi nih.”

Bertiga, kami menyantap rebusan ubi itu. Kenyang lagi.

“Ejie udahan kenyang. Dingin.. mau nenda lagi yah. Tidur. Makasiy Berto…” cengiran usilku keluar.

“Sana… tidur!” Berto nyengir balik.

Masuk tenda dan blugkhh!! Wearpack dan celana training tambahan mampir di tendaku.

“Buat apa Kangmang?” tanyaku.

“Katanya dingin. Pake itu,” kata Kangmang.

“Heheee… makasih ya Kangmang…” segera kukenakan wearpack dan lapis jaket lagi. Berapa banyak lapisan baju dan jaket yang kukenakan? Ini memang kebiasaanku kalo udah di puncak. Ga kuat dingin adalah masalah yang ngga bisa ku kontrol untuk badanku. Cepat aku sembunyi dalam sleeping bag. Ahhh…. Anget udahan. Kukirimkan satu pesan padanya bahwa aku aman malam ini dan kembali terlelap.

Bulan, bintang…. Temani aku yah malam ini. Walau ngga bisa tidur beratapkan langit karena terhalang langit tenda, aku berharap bisa menembus untuk  melihat bintangku malam itu. Bintangku yang baik…. Selamat tiduuurr….

***

Geulis Sunrise
(Album Ricky Merah)
Sunrise Geulis diataskepala Bu Yuni Tender
“Yeaaaayy… semoga rezeki selalu bersama cerianya tim Manglayang-Geulis sepanjang masa. Amin YRA”
(Album Ricky Merah)
Formasi lengkap tim Geulis
(Album Ricky Merah)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Geulis Nanjak Malam Ngantuk Abis (The Tracks-End)”

    1. ooo… itu kayun yang nyuruh ganti baju???
      cckck… saya sudah ngantuk berat itu kayun. tapi makasih yah? kl ga ganti mungkin udah sakit ya kayun?
      *peyuk ahhh kayuuuuunn 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s