Bintang yang Tak Kunjung Ada

31 Desember 2012
Mengingatmu saja…

Mencarimu di Langit Hatiku
Mencarimu di Langit Hatiku
Pilihanku jatuh pada genteng di ruang sebelah kamarku.
Tepatnya ruang kecil disamping kamar yang seperti gudang mini. Disana, ada 4 jendela. 1 jendela, cukup besar untuk aku bisa duduk diantaranya dengan genteng rumah sebagai pijakan kaki. Bersebelahan dengan antena televisi yang tak berniat kubenarkan antena meskipun televisi sudah banyak semutnya, karena tujuanku adalah menatap langit dan mencari bintang!
Yaap…. kulakukan disana.

Ku shutdown layar PC ku setelah seharian berkutat dengannya. Segepok PR kukerjakan sembari clingak-clinguk ngintipin area facebook yang selalu bikin tawa tak henti. Update status untuk keberadaan beberapa temanku yang bertahunbaru-ria dengan melakukan hitching (nebeng kendaraan, red), pun kulakoni. Bukan untuk pamer atau sok-sokan bahwa mereka berada di tempat yang mereka inginkan dengan gratis, tapi ini adalah kebiasaan yang diterapkan oleh grup Hitchhiker Indonesia saat melakukan perjalanan. Tujuannya adalah, saat mereka melakukan update status, teman-temanlah (selain keluarga, tentunya) tempat informasi yang bisa dituju jika terjadi sesuatu (walau tak pernah mengharapkan terjadi hal yang buruk. Hanya antisipasi).

Tak ada rencana spesial malam itu untuk jalan kemana-mana. Ajakan dari beberapa teman untuk berkumpul, hangout atau sekedar kongkow merayakan malam tahun baru pun tak kusambut. Entah, aku tak begitu suka dengan hingar-bingar keadaan dan mood untuk bergabung pun tak ada.

Padahal yang sekadar ngajak kumpul dengan tak berisik pun ada. Tak jua menggugah asaku untuk beranjak dari PC ku saat itu. Hanya tersenyum menanggapi sejumlah ajakan saja.

Saat itu, aku hanya berencana untuk menikmati langit, mencari bintangku. Ingin ke suatu tempat, tapi tak tahu dimana. Ingin melihatnya di tempat yang nyaman, pun tak ada ide mau kemana. Tahun baru biasanya jalanan ribet, riweuh, macet dan blaaa… blaa…… tak ingin terjebak!

Rumah adalah pilihan terakhir untukku dan kuputuskan menghabiskan malam pergantian tahun di genteng rumah saja. Hahahaaaa….. pilihan yang ngga aneh sih, karena kupikir akan nyaman berada disana menatap bintang. Aku mau bintaaaaaaaaaaaaaaaaaannng….. 😀

***

  • Cerita Nongkrong di Genteng

Langit sedikit berkabut, ngga jernih, cuma kelihatan kembang api dimana-mana, dan tak ada bintangnya! Mataku menatap santai ke arahnya. Langit yang sepi. Tak ada sedikitpun bintang diantaranya. Sejenak, kunikmati alam yang ada, malam itu. Mataku menatap penuh harap ke langit. Menghitung mungkin akan ada bintang yang bertaburan.

Menunggu, berharap bintang. Ahhhh….. kemana dia? Tak ada. Aku masih berharap sambil melahap coklat kesukaanku. Satu, dua gigitan. Tetap tak ada! Aku bertahan.

Pohon itu… Mataku tertumbuk pada satu pohon di depan rumah. Gosh… teringat sebentuk senyum dan beberapa hal yang dilakukan. Aku ingat. Perlakuan baik. Suara… iya, aku ingat suara sabarnya yang selalu ngademin jiwaku. Kangen suaranya juga. Dimana dia?? Hembusan angin dingin menyertai rasa kangenku. padanya. Pfftth~

Hmm.. pagar. Teringat saat ia menungguku membuka pagar. Begitu pagar udah kebuka, gantian aku yang akan menunggu, melihatnya hilang di kejauhan dalam deru suara knalpotnya.

Mata beralih ke persimpangan disisi rumah dekat polisi tidur, sesudahnya. Aku ingat selalu memanggilnya dan kemudian berlari ke arahnya, tubruk dan peluk. Takut kalau itu adalah yang terakhir buatku. Seandainya saja bisa freez-in waktu saat itu, aku ingin coba…..
Criiiiiiiiiingg…..

“Ejiee….” panggilannya menyadarkanku, “Masuk gihh….. ” atau apapun perkataannya, aku pasti kan nunut (nurut). Balik badan, depan pagar lagi menunggu hingga ia pergi dan tak kelihatan.

Moshi.. moshi……
*menyebutkannya dalam hati untuk bintangku

Hhhh…. entah kapan.. Hanya berharap pada kebijakan-Nya saja yang mengatur semuanya ini.
*berdo’a untuknya….

Tiba-tiba, “Jegeeeeeerr!!”
Bunyi petasan yang segede gambreng menyadarkanku, membuatku hampir terloncat dan sedikit bergeser dari tempat dudukku. Olalaaaaa….. kenceng banget itu bunyi petasan. Kaget setengah mampus, aku beranjak turun dari posisiku yang tak lagi nyaman di genteng.

***

  • Cerita Jendela Kamar

Oke pindah. Butuh waktu sekitar 2-3 menit untuk turun dan mengunci jendela gudang mini tersebut. Huup… loncat turun jendela. Jejakkan kaki pada tumpuan keranjang yang ada di gudang mini. Done… Kunci gudang dan cuci kaki karena mau masuk kamar. Biar bersih dan ngga jorski (jorok, red).

Baiklah, tujuan kedua dari tongkronganku saat itu adalah jendela kamar tanpa terali besi di sekitarnya. Ini adalah special request yang kuminta karena suka main gitar duduk di jendela sambil tetap menatap langit malam. Hmmm…. aku suka.

17, make it 20 minutes from the roof..
Pukul 23.45 WIB, jendela kamar. Tetap melihat langit dan masih sama kondisinya. Kabut, percikan kembang api yang terlihat dimana-mana berikut dentuman petasan yang memekakkan telinga. Polos dan tak ada bintang! Ahhh…. kemana dia??

Zzst… tertunduk sepiiii…. Petasan dan petasan. Hanya petasan yang terdengar dan bikin pusing, sakit kepala tak bisa santai.

Ternyata, kebisingan yang tertangkap di jendela kamar pun tak membuatku bisa menikmati langit polos dengan santai. Bertahan 5 menit saja. Sakit kepala dengan bunyi-bunyian dari petasan yang sambung-menyambung tiada henti. Ugkhhh.. malam yang tak bersahabat. Kemanapun aku mencarinya dengan sudut mataku, tak ada sedikitpun aku melihatnya. Sembunyi dimana dia?? Hhhhhh..

Sebelum turun dan tutup jendela, kusempatkan melihat pohon… umphh, tak bisa bohong euy, moshi-moshi sangat iniiihhh…. Mana dia??

10 menit lagi pukul 00.00 teng.
Baiklah…. bersih-bersih badan lagi dan ready on the bed. Yapp, siapin diri untuk do’a karena off shalat.

Dan teeeeeenng! Whoallaaaaa….
Sujud syukur, do’a untuk semuanya. Ampunan, kebaikan, rezeki, harapan, impian, termasuk list do’a teman-teman yang dititipkan padaku. Semoga barokah buat semuanya, amin Ya Rabb… 🙂

*maafkan…. cuma bisa bilang, smakin dan sayang bintang sabarku… senyum untuk semua 🙂

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s