Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 1, Cirebon]

Before :

Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Awal]

(doc by Tides)
(doc by Tides)

KESULTANAN KANOMAN CIREBON

Β TERJEBAK ANTARA BUDAYA DAN MODERNISASI

Minggu, 21 Oktober 2012

  • Awal yang Indah?? Auuchhh…

08.30 WIB start awal bersama tim selatan, kami menuju terminal Kampung Rambutan dan berpisah disana untuk selanjutnya bertemu di Borobudur, garis akhir petualangan kami.

Menunggu bus arah Cirebon, itu yang kami lakukan. Informasi yang diperoleh dari petugas mengenai harga tiket menjadi acuan kami.

Pukul 09.00 WIB, bus yang kami tunggu datang. Bus Ekonomi AC jurusan Jakarta – Cirebon yang menarik tarif Rp 40.000,-per-orang menjadi pilihan kami setelah beberapa kendaraan ekonomi jurusan Cirebon lewat di depan kami.

1 jam 20 menit kemudian, bus mulai bergerak. Ahh gosh.. finally! Entah mengapa kami merasa mobil ini begitu lambat. Ternyata bukan langsung bergerak, melainkan kendaraan terus berjalan merambat dengan ngetem di beberapa tempat hingga pukul 11.45 WIB kedepan, bus masuk tol Pasar Rebo menuju Cirebon.

Waks?!? 3 jam yang sia-sia. Udah plus kami yang bolak-balik bangun dan tidur kembali saking lamanya menunggu bus tersebut jalan. Haaahhh… awal yang indah untuk sebuah perjalanan.

Ciasem arah Indramayu, knp bisa pas yah? hahaaa(doc by Tides)
Ciasem arah Indramayu, knp bisa pas yah? hahaaa
(doc by Tides)

13.30 WIB, Bedeeeehh!! (daerah Ciasem). Panas aja niy bus.Ternyata AC di bus ini embel-embel doank. Kondisi AC yang bahh…. tak sedikitpun terasa dingin. Beberapa penumpang pun mulai mengeluh dan sedikit berkoar, tapi tak dihiraukan oleh pengendara dan keneknya yang menyadari hal tersebut. Baah lagi! Asheem tenan iki. Pas banget yah dengan nama wilayah yang kami lalui ini.

Ugkhh! Kumpul yang telat, jalan bus yang lambat, ngetem yang lelet, masuk tol yang waktunya sangat lewat. Pas dan cocok banget dengan suasana hati yang empet tak sabar menjalani serunya petualangan yang udah ngumpul di otak. Berharap, mendapatkan target tulisan dan hasil akhir yang menyenangkan nantinya. Senyuuuumm…. ^^

16.05 WIB, Terminal Harjamukti, Cirebon

  • Kesorean dan Laper!

Akhirnyaaaa…. perjuangan bokong pegel yang lama selesai sudah. Cari lokasi beser, beli cemilan dan isi perut. Sebuah supermarket yang ada di Terminal Harjamukti, Cirebon adalah sasaran utama kami. Beruntung, karyawannya memperbolehkan kami untuk menggunakan toiletnya disamping jajan juga target utama kami.

Bakso, kami bertiga yang kelaperan mencari makan guna menghangatkan dan menentramkan cacing di perut kami.Sambil menunggu pesanan, Tides terus menghubungi contact person (CP-red) kami di Cirebon, Mas Chepy. Tapi karena ada kerjaan yang tak bisa ditinggal, kami diarahkan pada Pak Elang Raharja, abdi dalem Kesultanan Kanoman Cirebon untuk explore dan dokumentasi foto.

Checkpoint 1 Cirebon, foto bersama Elang Harja, kontak person kami di Kesultanan Kanoman Cirebon(doc by Tides)
Checkpoint 1 Cirebon, foto bersama Elang Harja, kontak person kami di Kesultanan Kanoman Cirebon
(doc by Tides)

17.45 WIB, tiba di lokasi. Karena maghrib, kami langsung menuju masjid. Hal yang terlupakan adalah mencari spot foto lokasi kala surya masih benderang. Hueee… kami lupa! Alhasil kami mendapatkan seluruh foto saat malam hari dengan penerangan yang minim.

Janji ketemu Pak Harja, panggilannya, terpenuhi. Ramah dan penampilan yang sederhana dengan batik yang dikenakan merupakan penilaian kami terhadapnya.

***

  • Checkpoint 1, Kesultanan Kanoman, Cirebon
    • Kurangnya Perawatan serta Minimnya Perhatian Pemerintah
    • Trayek lokasi Kesultanan Kanoman

Kesultanan Kanoman Cirebon kondisinya sangat kurang terawat. Tampak dari pintu masuk, bukan hanya sampah yang terlihat dibeberapa sisi kesultanan, seperti yang tampak pada alu lumpang, mande perwira, mande pancaratna, mande pancaniti, mande gamelan, dan beberapa mande lainnya. Tak hanya itu, rumput yang kering, kurangnya penghijauan, kebersihan, serta banyaknya debu di kesultanan tersebut, membuat nilai budaya yang seharusnya ada menjadi berkurang. Sangat berbeda dengan keberadaan kesultanan lainnya.

KIKA : Pintu Gerbang Kesultanan Kanoman, Alu Lumpang, benda budaya yang terlihat bersih namun kurang terawat.(doc by Tides)
KIKA : Pintu Gerbang Kesultanan Kanoman, Alu Lumpang, benda budaya yang terlihat bersih namun kurang terawat.
(doc by Tides)

Padahal jika dilihat, kondisi cat pada dinding Kesultanan Kanoman Cirebon bersih dengan warna putih terang. Tetapi mengapa dengan perawatannya? Pak Harja mengatakan, bahwa sampai saat ini, belum ada realisasi dan sedikit perhatian pemerintah setempat terhadap kesultanan.

Pintu Masuk Kesultanan Kanoman yang terbuat dari kayu jati dan berusia 500 tahun (ejie sedikit lupa angkanya, maaf). Dibuka hanya saat tertentu saja.(doc pribadi)
Pintu Masuk Kesultanan Kanoman yang terbuat dari kayu jati dan berusia 500 tahun (ejie sedikit lupa angkanya, maaf). Dibuka hanya saat tertentu saja.
(doc pribadi)

Dijelaskan Pak Harja, kendala utama di Kesultanan Kanoman yaitu kurangnya sumber daya manusia terhadap tanggungjawab pelestarian budaya. Abdi dalem aktif di kesultanan berjumlah kurang lebih 10 orang, sedangkan yang aktif hanya 2 atau 3 orang. Terutama dalam hal perawatan dan kebersihan tempat wisata. Hal kedua yaitu letak kesultanan yang tertutup dengan pasar sehingga menyebabkan akses menuju lokasi menjadi kurang diketahui oleh wisatawan.

Kemudian kurangnya wisatawan yang berkunjung, turut menentukan eksistensi keberadaan kesultanan tersebut.Hal ini menyebabkan berkurangnya juga pemasukan yang berdampak pada kelangsungan kesultanan walau bukan hal ini yang diutamakan.Karena pelestarian budaya lebih dipentingkan guna tetap berdirinya kesultanan dan diingat bahwa Cirebon memiliki aset budaya yang berdasarkan sejarah perjuangan agama dan patut diperhitungkan.

Disamping itu, posisi kesultanan yang letaknya bukan di pusat kota, namun menjorok masuk ke dalam di sekitar lingkungan perumahan warga pun menentukan.Β  Menurut informasi yang kami dapatkan, terkadang ada wisatawan yang ingin berkunjung, namun karena bingung mencari lokasi, akhirnya mereka batal singgah ke kesultanan.

Mengikuti perkembangan yang ada, pembangunan PLTU Kanci yang dilakukan tahun 2005 berdampak pula terhadap Kesultanan Kanoman meskipun tidak terlalu signifikan. Jika dikaitkan pada kesehatan, menurut Pak Harja, dalam radius 1 km dari kesultanan, debu yang berasal dari PLTU tersebutmengganggu kesehatan khususnya pernafasan.

Dikatakannya, hal tersebut lebih terasa terhadap kelangsungan hidup para nelayan, dimana nelayan Cirebon adalah penghasil udang rebon yang terbesar di Indonesia. Namun akibat pembangunan PLTU tersebut, lahan pencarian nafkah nelayan menjadi berkurang disebabkan pencemaran air laut oleh limbah PLTU.

Bercerita tentang sumber PLTU, tanpa sengaja, kami bertemu dengan karyawan PLTU Kanci di supermarket Terminal Harjamukti yang akan bertugas malam. Maksud hati ingin menumpang menuju daerah yang ramai kendaraan dan terang, ternyata….. hulalaaa! Pak supir yang lupa kami tanyakan namanya mengatakan kalau tujuan mereka menuju Kanci.

Waaaa….. kami tergelitik mendengar kata β€œKanci”. Sontak Ejie langsung bertanya, β€œKanci? Pak, adakah orang disana yang bisa kami temui untuk sekadar bercerita mengenai PLTU-nya? Bisakah memberikan informasi kepada siapa kami harus bertemu?”

Si bapak menoleh kearah supermarket dengan ekspresi yang sedikit berbeda, β€œItu mbak, atasan saya. Tapi sepertinya ngga bisa.”
Begitu atasannya masuk mobil, hanya kalimat selamat malam yang bisa kami ucapkan dan wusssshhh…. Mereka menghilang.

O-oww…. Kenapa diam? Kenapa tak satupun kalimat yang keluar? Ejieeee…..Tideeeess… you missed the moment! Blaaahhhh… *gigit jari

***

Jalan menuju ke Kesultanan Kanoman, melalui pertokoan. Di jalan ini, kalau malam biasanya ramai oleh warung-warung makanan yang ada di sekitarnya. Setelah melewati jalan ini, untuk mencapai Kesultanan harus melewati lorong kecil yang sempit.
Jalan menuju ke Kesultanan Kanoman, melalui pertokoan. Di jalan ini, kalau malam biasanya ramai oleh warung-warung makanan yang ada di sekitarnya. Setelah melewati jalan ini, untuk mencapai Kesultanan harus melewati lorong kecil yang sempit.

Untuk mencapai kesana, dari terminal naik angkutan kota (angkot-red) dengan rute trayek D7 atau D8 cukup dengan ongkos Rp 3.000,- per orang turun di lampu merah Kadipaten dan sambung kembali dengan rute trayek 03, turun di Jalan Pulasaren, Kanoman. Ongkos pun sama, Rp 3.000,- per orang.

Untuk mencapai ke lokasi kesultanan diilakukan melewati pasar, berjalan kaki menyusuri sebuah gang kecil dari Jalan Lemah Wungkuk. Ini adalah wilayah pertokoan yang jika malam hari berfungsi sebagai tempat jajanan pasar malam.

Menurut Lilik, warga Cirebon yang mencari peruntungan di Jakarta, tetangga yang duduk bangku sebelah Ejie di bus jurusan Cirebon, angkot ke daerah Kesultanan Kanoman Cirebon hanya beroperasi hingga pukul 17.00 WIB. Setelahnya Cirebon akan sepi kendaraan pada malam hari. Hanya akan menemui ojek atau pun becak untuk mencapai tujuan kita selanjutnya. Namun untuk beberapa tempat, masih ada angkot yang beroperasi hingga malam.

Keluar dari sana, melalui gang kecil pula namun kita akan sampai pada gerbang utama Kesultanan Kanoman Cirebon.

***

to be continue πŸ™‚

#nantikan cerita selanjutnya di checkpoint ke-2, Pekalongan

Ini adalah gerbang utama untuk menuju pintu masuk melalui sisi yang lain. Tak perlu melewati pasar, karena di depannya adalah jalan raya.(doc by Tides)
Ini adalah gerbang utama untuk menuju pintu masuk melalui sisi yang lain. Tak perlu melewati pasar, karena di depannya adalah jalan raya.
(doc by Tides)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s