Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 4, Semarang]

Before :
Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Awal
Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 1, Cirebon]
Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 2, Pekalongan]
Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 3, Batang]

Backpacker ceria…
Setelah melalui perjalanan panjang melewati 3 kota sebelumnya, tim utara akhirnya sampai di kota terakhir sesuai tugas yang diberikan oleh Greenpeace dalam Backpacking Race #Solorizing to Borobudur.

Apa yang yang terjadi kemudian yah?
Bagaimana dengan narasumber yang di dapat dalam perjalanan menuju ke Pekalongan lalu?
Dapatkah ditemui?

Sepertinya banyak beberapa yang terlewatkan.
Hayuulahh… baca terus yah petualangan tim utara ini… πŸ™‚

semarang

SEMARANG OH SEMARANG

Perjalanan akan kesabaran kami tampaknya terus berlanjut. Ini adalah kota tujuan terakhir dari persinggahan kami. Batang menuju Semarang. Disini kesabaran tim kembali diuji. Hmm.…. Mungkin karena dari awal perjalanan kami terus merasakan lamanya perjuangan memperoleh kendaraan, kali ini tim terlihat lebih santai sekembalinya dari Roban.

19.00 WIB, Kami tiba di pangkalan ojek Tulis. Ada sebuah warung untuk kami menghangatkan perut. Secangkir kopi hitam panas, secangkir kopi krimer hangat dan secangkir energen jahe hangat mewakili panggilan perut ketiga anggota tim utara (Climate Rescue Ranger). Kami menikmati pesanan tersebut sambil mengunyah kerupuk. Hhaahaaha..kenapa harus kerupuk yah? Iya, karena kami mau wisata kuliner di Semarang. Emang masih sempat ya sudah malam begini? Sudah pasti tidak… πŸ˜›

Seorang petugas polisi nimbrung memesan minuman. Bule yang membuka pembicaraan dan akhirnya kami pun terlibat percakapan ringan. Ejie sibuk menghabiskan minumannya sambil tak henti memperhatikan setiap kendaraan yang mendekat, mencari bus tujuan Semarang. Tides pun demikian walau sebenarnya sudah tak tahan untuk mencari toilet. Wakakaak…. Sabar ya, Des…
#nyengir manyun T_T

Dua, lima, sebelas, waks?!? Sudah banyak kendaraan yang lewat, tapi tak satupun yang kosong untuk mengangkut tiga makhluk yang kelaparan ini. Waktu menunjukkan pukul 19. 48 WIB saat sebuah bus berhenti di depan Ejie dengan judul SEMARANG.

Sigap Ejie bertanya tujuan dan ongkosnya. Sesuai perkiraan, Rp 20.000,-. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berteriak cempreng, β€œTideeeeeesss….. Buleee… hayu naik kitaaaa.”

Diiring si Bapak Polisi yang menemani ngobrol tadi, Tides dan Bule bergegas. Pak Polisi pun menolong kami mengangkat ransel-ransel kami.

β€œPak, tolong titip teman-temanku ini. Mereka mau lanjut ke Semarang,” pesannya pada kondektur bus.

Ehh, kami jelas senang dan bingung. Si Bapak Polisi yang baik, yang tak sempat kami tanyakan namanya dan berkenalan hanya karena beliau ngerok badannya yang masuk angin, mengantar kami hingga naik bus dan berkata, β€œHati-hati kalian.”

Wah… wahhh…. Kami berterima kasih dan berpikir, kira-kira apa yang dibicarakan Bule yah sampe Pak Polisi nganterin kita? Ehehehh….

***

Tain, CP merangkap narasumber(photo by Bule)
Tain, CP merangkap narasumber
(photo by Bule)

21.00 WIB, Sampai di pom bensin Coyo, Semarang dan menunggu Tain, teman Tides yang bersedia menampung kami beristirahat malam itu. 15 menit kemudian Tain muncul dan kami pun bergerak menuju rumahnya yang merupakan markas IIWC dan disana kami berkenalan dengan beberapa teman Semarang lainnya,termasuk Lorenza (Italia) yang bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit dan sedang liburan di Indonesia.

22.00 WIB, Perut yang keroncongan, membawa kaki kami melangkah mencari makan malam. Pilihan jatuh pada rawon kudus seharga Rp 8.000,- seporsi plus es jeruk Rp 2.000,- cukup untuk perut kami yang kelaperan.. hehhe

***

  • Checkpoint Ke-4, Kota Lama Semarang
  • Semarang dan Kenyataannya
Semarang Nol Kilometer di depan Kantor Pos Kota Lama Semarang(photo by Tides)
Semarang Nol Kilometer di depan Kantor Pos Kota Lama Semarang
(photo by Tides)

09.00 WIB, Kota Lama, Nol Kilometer menyambut kehadiran kami dengan ceria. Pagi itu kami bermaksud wisata kota dan wisata kuliner. Aaaaaakkk…. Lapar menyergap!

Perjalanan Semarang sampai pada Mesjid Kauman. Maesjid Kauman adalah masjid pertama yang berdiri di Semarang. Dulunya alun-alun Kota Semarang terdapat di jalan depan Masjid Kauman, namun sekarang alun-alun Semarang telah berpindah ke daerah Simpang Lima.

Masjid Kauman ini menyimpan sejarah peradaban Islam di Semarang yang patut dilestarikan, namun saat ini bangunan masjid telah mengalami 90% perubahan, yang tetap bertahan dari arsitektur aslinya hanyalah kubah mesjidnya.

Kami mengitari jalan di seputar Kantor Pos Indonesia, melewati pusat jajanan disisi kiri, ke belakang arah Pasar Johar Semarang dan berakhir di PT. Perkebunan XV (Persero).

Pasar Johar dan PT. Perkebunan XV Persero(photo by Tides)
Pasar Johar dan PT. Perkebunan XV Persero
(photo by Tides)

Kota wisata ternyata tak luput dari permasalahan klasik yang ada. Semarang, kota yang mempunyai banyak tempat wisata, mempunyai permasalahan tertentu pula. Khususnya penggerusan air laut (rob).

Kota lama memiliki letak geografis yang dekat dengan pantai di utara Kota Semarang. Kondisi tersebut menyebabkan kondisi tanah Kota Lama amblas karena rob beberapa waktu silam, namun sekarang Kota Lama tidak lagi mengalami rob karena struktur tanah yang telah ditinggikan.

Sisi Kota Lama Semarag menuju gereja Blenduk(photo by Ejie)
Sisi Kota Lama Semarag menuju gereja Blenduk
(photo by Ejie)

Kondisi rapuhnya tanah Semarang itu tetap tidak membuat masyarakat tersadar akan kondisi lingkungan, malah bersikap tidak ramah lingkungan. Dapat dilihat dari kondisi jalan di depan gedung PTPN VIII yang banjir dan banyak bergelimangan sampah, sehingga terkesan kumuh. Terlihat juga tumpukan sampah menghambat aliran air di saluran air di kawasan Gereja Blenduk, yang merupakan gereja pertama yang berdiri di Semarang.

G.P.I.B. Immanuel yang terkenal dengan nama Gereja Blenduk(photo by Ejie)
G.P.I.B. Immanuel yang terkenal dengan nama Gereja Blenduk
(photo by Ejie)

β€œDulu, Kota Lama ini terkena rob, tetapi sekarang tidak, karena kondisi tanah yang telah ditinggikan. Kalau tidak ditinggikan, maka akan terus menerus terjadi amblas. Rob itu banyak terjadi di dekat pantai, tapi masing-masing daerah punya system tersendiri untuk mengantisipasinya, β€œ Tain, CP yang menemani perjalanan kami menerangkan.

Tingkat kenyamanan masyarakat yang menginginkan kebutuhan akan air bersih pun menjadi sedikit kendala dan permasalahan yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah kota.

Sehubungan dengan air tersebut, Sambudi (Manager Telkom wilayahΒ  Semarang) mengatakan, kondisi air di Semarang tidak stabil. Karena wilayah atas aliran air dari gunung atau bukit yang ada. Sementara di bawah yang merupakan dataran rendah lebih rentan terkena banjir dan kenaikan air laut.

β€œDi kantor itu kualitas air kurang bagus. Dua hari saja tidak dibersihkan, bak kamar mandi bisa berkerak, berwarna kecoklatan juga payau. Di samping itu air minum pun tidak sehat. Aliran air tersebut berasal dari sungai di Jalan Ahmad Yani, β€œ jelasnya.

Ditambahkannya bahwa resapan air laut yang tinggi terhadap air tanah menyebabkan air tawar khususnya, menjadi tidak layak untuk dikonsumsi. Di pesisir Kota Semarang dibangun benteng supaya air laut tidak masuk ke kota. Kenyataannya berbeda. Makanya air tawar di tempat Sambudi tetap terasa asin karena percampuran air laut itu.

Kondisi air sehubungan dengan banjir pun disampaikan oleh Meta, International Indonesia Working Camp (IIWC). β€œSistem drainase yang tidak terfungsikan dengan baik menyebabkan Semarang terkadang banjir. Mungkin dikarenakan konteks geografinya yang dekat dengan pantai. Hal ini bisa terlihat pada Kota Lama yang di sebagian tempat terlihat aliran air yang tersumbat,” ungkapnya.

Menurutnya, masalah system drainase itu adalah klasik dan sampai sekarang belum ada solusinya. Padahal penyedot air sudah ada, namun prosesnya kurang maksilmal.

***

  • Semarang dan Permasalahannya

Permasalahan alam dan lingkungan di Kota Semarang menyangkut hal kelerengan, potensi gerakan tanah, amblesan, kawasan rawan banjir, konsentrasi kepadatan penduduk, sedimentasi sungai, kawasan rawan abrasi dan akresi, pencemaran sungai dan udara, sebaran air tanah, potensi tanah kritis, kawasan dataran yang rendah rawan terkena yang rawan terkena banjir dan kenaikan air laut.

Identifikasi permasalahan Kota Semarang terdiri dari beberapa alasan, diantaranya adalah permasalahan fisik alam yang terdiri dari rob, banjir, abrasi, gerakan tanah, amblesan tanah dan intrusi air laut.

Selanjutnya kepadatan penduduk, transportasi, pencemaran yang terdiri dari udara dan air sungai. Kualitas air dan lahan kritis pun menjadi perhatian pemerintah serta rentan terhadap perubahan iklim yang terjadi.

***

to be continue πŸ™‚

#masih bersambung? Baca akhirnya donk, touchdown di Borobudur! ahaaaaayy…

Jembatan Kota Lama Semarang(photo by Bule)
Jembatan Kota Lama Semarang
(photo by Bule)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 4, Semarang]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s