Jempol Lumpur Buniayu: Rasakan Seratus Ribu Edisi KUA Buniayu [The Hitching]

(doc by Erick Samuel)
(doc by Erick Samuel)
Tulisan ini diambil dari pengalaman hitching tim 6 yaaaaa…
Kami bertiga berisikan Arby si Chef Molor, Hartip si Photographer dan Ejie si Buta Peta.
Kenapa begitu?
Haissshhh… tak usah bertanyalah, nanti pun akan tahu ;P
Kemooonnn… lanjut baca yak?!??
Soalnya disini banyak kolaborasinya loh dengan tim lain.
Do’a cempreng di marka jalan tol arah Bogor:
“Ya Allah, mau kendaraan yang adem donk? Paaak.. nebeng atuuuuhh..”
“Wusshhh…. wuuusshh.. mobilnya lewat kakaa…”
Hartip dan Arby nyengir denger do’a Ejie, soalnya bukan dalam hati.
Ahahahhhah 😀

***

Before:
Time for Playing HHI to Buniayu [Prolog]
Jempol Lumpur Buniayu: Rasakan Seratus Ribu Edisi KUA Buniayu [Starting Point]

Tim 6, Ejie, Arby, Hartip diapit Sarie dan Donna(doc by Hartip)
Tim 6, Ejie, Arby, Hartip diapit Sarie dan Donna
(doc by Hartip)

POS AKHIR RUTE

Sabtu, 02 Maret 2013

  • Kendaraan Hitch 1, Truk Pasir

Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB saat kami memulai petualangan itu. Yap, dengan tim 3 di depan kami yaitu Om Harr, Tata dan Robert.

Tulisan tujuan disiapkan, JEMPOL dipasang, kamera disandingkan, alat tempur berhitchhiking pun dimulai.

1, 2 kendaraan lewat. Ketika sebuah truk pasir hasil bidikanku yakin akan berhenti di depan kami, nego pun dilancarkan.  Om Harr yang tadinya di depan kami pun menghampiri dan karena hafal jalan juga ikut bernego untuk sampai ke batas Tol Semanggi depan Plaza Semanggi sebagai awal pemberhentian kami nantinya. Alasan bak belakang kotor berpasir tak menjadi masalah bagi kami asalkan bisa naik dan tarraaaaa….. 4 tim pun berkolaborasi naik dalam satu gerobak pasir basah ini.

Ehh, tahukah anda?
Tanpa disangka, tim kabunda Ibeth Betty Suryaningsih pun tetiba muncul dan hap!! Lumpat juga dalam bak pasir. Jiakaakakaaa… gerakan gesit!

Aku yang sudah komit dengan tim katin untuk berkolaborasi, langsung saja mengajak timnya yang ada di depan. Tapi, olalaaaaa… katin saking cepatnya melompat, kakinya kejeduk papan truk pasir tersebut. Hasilnya pasti bireum-bireum deh. Sabar yah kaki kiri katin… *elus-elus

Hitchingan pertama yang tak sempat kami foto karena harus segera turun agar tak memacetkan lajur kendaraan lainnya. Aku masih ingat nama bapak yang buru-buru aku tanyakan, Pak Uding.

Berikut 4 tim yang berkolaborasi:

  1. Ejie, Hartip, Arby
  2. Om Harr, Tata, Robert
  3. Titin, Salyn, Gema
  4. Ibeth, Jamie, Bram

***

  • Kendaraan Hitch 2-3, Ambulance-Avanza

Dari universitas tempat kami berhenti, melambatkan jalan adalah strategi kami. Melihat 3 tim lainnya berada di depan, kami pikir takkan mungkin untuk berdekatan mencari kendaraan hitchingan.

Buah manis kesabaran adalah tim kami berhasil mendapatkan kendaraan hitching kedua. Sebuah mobil ambulance (idamanku sejak lama) akhirnya berhenti dan saat menanyakan arah terdekat untuk pemberhentian selanjutnya, ternyata searah. Alhamdulillah.

Kendaraan hitching kedua, Ambulance, B1017KIX, tujuan Semanggi-simpang tol Bogor(doc by Hartip)
Kendaraan hitching kedua, Ambulance, B1017KIX, tujuan Semanggi-simpang tol Bogor
(doc by Hartip)

Pak Kino dan Pak Yoyok. Mereka sudah cukup lama bekerja sebagai tenaga medis. Pak Kino yang bekerja selama 5 tahun dan Pak yoyok yang bekerja selama 7 tahun biasanya mobile ke dalam dan luar kota. Saat itu tujuan mereka adalah Kramatjati dan akan melewati Cawang. Ambulance ini khusus untuk mengangkut orang sakit.  Di dalamnya terdapat tandu, obat-obatan dan beberapa alat kesehatan pertolongan pertama lainnya.

Obrolan dengan Pak Kino sang paramedis tak hanya berkisar di kesehariannya saja, tapi juga merambat pada tumpangan seperti kami saat itu.

“Tadi lihat pampangan tulisan kalian yang numpang, jadi kami pikir pasti mau ikut. Sebelumnya juga sudah sering kok mengajak yang menumpang. Kalau memang searah, apa salahnya kami ajak. Akan kami ajak jika memang memerlukan pertolongan,” ujar Pak Kino.

2 temanku yang juga tak begitu paham dengan rute perjalanan akhirnya mengikuti pembicaraanku dengan Pak Kino yang banyak bertanya soal jalan, terlebih jalan tol. Melihat kebingunganku terutama, akhirnya, kami diantarkan hingga persimpangan arah tol Bogor. Kami pun turun dan sempat berfotoria di sisi persimpangan jalan tol.

Foto bareng Pak Kino dan Pak Yoyok(doc by Hartip)
Foto bareng Pak Kino dan Pak Yoyok
(doc by Hartip)

***

Mau tahu lagikah anda??

Sebenarnya, posisi kami untuk berhenti di marka jalan tol tersebut, kurang menguntungkan karena alur tersebut adalah:

  1. Cabang ke 2 ruas jalan dengan 1 jalur dari arah belakang dan kemungkinan memperoleh kendaraan hitching agak dipertanyakan.
  2. Dari arah datang (belakang) laju kendaraan tak bisa ditebak, cenderung ngebut.
  3. Belokan, jadi kemungkinan kendaraan berjalan lambat disana agak buat manyun karena yang terdengar adalah bunyi, “wushhh.. wuuusssssshh…”

Arby sibuk pampangin tulisan sembari giat mencari tumpangan, sedangkan Hartip Simorangkir sibuk menjepretkan kameranya  untuk mencari momen foto hitching.

Ada 2 kendaraan yang membuat aku menyesal karena posisi saat itu sedang menulis di aspal dengan tujuan “CIAWI”.

Kendaraan pertama yang lewat adalah Trans7, dimana aku sedang mengeluarkan spidol dan kertas fax. Kendaraan kedua adalah SCTV , dimana aku sedang dalam posisi jongkok dan menulis. Aaaaaakk…. lewat begitu saja? Sudahlah, bukan rezeki. Smangat kakaaaa.. 🙂

Dan aku hanya bisa berkata, “Mau kendaraan lainnya yang lewat Allah…. masih banyak mobil stasiun televisi lainnya yang belum lewat kan tip, by??” Mereka ketawa.

Do’a cempreng marka jalan pun kulancarkan:
“Ya Allah, mau kendaraan yang adem donk? Paaaakk… nebeng atuuuhh..
Wusshh… wuuush… mobilnya lewat kakaaaaa…….”

Hartip dan Arby nyengir denger do’a Ejie yang tak diucapkan dalam hati.
Ahahaahaaa… ;P

Etapi Allah Maha Baik yah? Dia mendengar do’a ku loohh…. Karena tak lama setelahnya, sebuah avanza hitam lewat di depan kami, melambat dan muncullah sesosok wajah yang kukenal sambil menurunkan kaca jendelanya dan berteriak, “Ejieeeee… ikut yuk sama kitaaaaaa..”

Kendaraan hitching ke-3, toyota avanza, Pak Yuda, eksekutif muda yang menetap di Bogor(doc by BBram)
Kendaraan hitching ke-3, toyota avanza, Pak Yuda, eksekutif muda yang menetap di Bogor
(doc by BBram)

Bruakaakakaaaaa… Kabunda Ibeth nongol euy!

Allah… aku sayang Engkau! Hhihihiiii….

Sementara Hartip dan Arby sedang sibuk-sibuknya pindahin barang-barang yang ada di bagian belakang, karena jujur sempit tempatnya, aku masih tetap berusaha mencari kendaraan dengan menyorongkan JEMPOL asoyku.

Sebuah ambulance lagi berhenti dan ketika bernego, si bapak menyahut, “Ke Cibitung mbak…”

Otak buta peta ku berpikir (sok kali lah mikir, ngerti juga kaga, bweeeeee…) tapi instingku mengatakan itu adalah jalur yang berbeda. Aku langsung saja mengucapkan, “Nda usah pak, beda jurusan. Terima kasih yah pak sudah menawarkan tumpangannya.”

“Ejie, ayok sudah bisa kok. Naik,” kabunda Ibeth memerintah.

Syalaalalaaa….

Kehebohan 2 tim yang berakhir di terminal Baranangsiang, Bogor(doc by Hartip)
Kehebohan 2 tim yang berakhir di terminal Baranangsiang, Bogor
(doc by Hartip)

Kendaraan hitching ketiga, avanza milik Pak Yudha yang tinggal di Bogor selama 14 tahun dan lulusan IPB tahun 1998 dan S2 tahun 2008 ini adalah seorang eksekutif muda yang bergerak di bidang elektrical mechanical (susah kali lah ngomongnyaaaa… hanya  Bernard Bram yang ngerti ini. Susuuuuiiittt 😛 ).

Di kendaraan ini kolaborasi 2 tim penuh dengan berisik, cerita dan eheeemmm.. kajamie Jamilah Anaphalis Babs yang berlanjut dengan smsan.

Wuaaaaaaaaahhhh!
Saatnya berhitching kendaraan kajamie…. bukan hitching ke hatinyaaaaa… ahahahaa

Akhirnya kehebohan di avanza Pak Yudha selesai di terminal Baranangsiang sekitar pukul 01.15 Wib.

***

  • Kendaraan Hitch 4-5, Angkot Ceria

Tak lama beli air minum dan baru saja aku menjepretkan kamera ke arah terminal Baranangsiang, kabunda Ibeth sudah nego lagi dengan sebuah kendaraan. Kali ini angkot. Kami kembali naik bergerombol. Beeehh… tak mau pisah tampaknya kita.  Okehh lanjoooooot temans.. 😀

Angkot 01 yang dikendarai oleh Bento dan 2 orang temannya Yopi dan Sulek sebenarnya berisi 3 orang penumpang. Mulanya agak ngga enak karena masih narik penumpang, tapi Yopi sang juru bicara menengahkan bahwa, mengangkut kami karena sejalur juga melewati jalan yang kami tempuh. Kebetulan angkot itu akan ke arah Sukasari.

“Kaget juga, karena kami kira 1 orang yang numpang, ternyata ramai. Hahahaaa… ngga apa-apa kok, kami ikhlas nolong sih karena  dekat. Soalnya kami akan menuju Sukasari dari lampu merah nanti, arahnya berbeda dengan tujuan mbak ke Sukabumi,” jelas Yopi.

10 Menit kemudian, Sukasari adalah pemberhentian kami selanjutnya.

“Makasih ya mas….” setelah sebelumnya kami berfoto bareng.

Kendaraan hitching ke-4, angkot Bento yang penuh dengan lagu upbeat(doc by Hartip/BBram)
Kendaraan hitching ke-4, angkot Bento yang penuh dengan lagu upbeat
(doc by Hartip/BBram)

***

Ahaaayy..

Selang beberapa menit saja, sebuah angkot lagi berhenti diantara aku dan Hartip. Segera saja Hartip menghampiri dan bernego dengan pengemudinya. Melihat Hartip menoleh kearahku, tanda butuh bantuan nego, akupun mendekat dan kembali bernego. Nice, kembali gerombolan si ransel naik angkot gratis.

Kendaraan hitching ke-5, Pak Feri, F 1968 BC, tujuan Sukasari-Ciawi(doc by Hartip/BBram)
Kendaraan hitching ke-5, Pak Feri, F 1968 BC, tujuan Sukasari-Ciawi
(doc by Hartip/BBram)

Pak Feri yang punya usaha angkot sendiri dan memiliki 2 buah angkot jurusan Cisarua-Sukasari (02 warna hijau) ini  bermaksud pulang karena memang jadwal ngangkotnya sudah selesai. Selain usaha angkot, terkadang ia juga menyewakan angkotnya untuk mengangkut borongan seperti pindahan, antar barang keperluan sound system, dll. Ia berhenti, tatkala melihat segerombolan pasukan beransel dengan tulisan numpang di tangan.

Cukup 15 menit Sukasari-Ciawi, jurusan selanjutnya. Perempatan lampu merah, kami turun. Pak Feri mengarahkan tujuan kami untuk ke Sukabumi.

Oww.. mataku sigap langsung saja melihat sebuah mobil APV karena kupikir bisa angkut 2 tim lagi, sementara yang lain masih sibuk menurunkan ranselnya. Namun karena lampu lalu lintas segera berwarna hijau, aku tak sempat mengejarnya. Saat lampu kembali berwarna merah,  sebuah mobil box  melintas dan aku bilang pada kabunda untuk berpisah dan bertemu di titik selanjutnya untuk bisa mencapai tujuan berikut, entah dimana. Masih buta peta, heheee….

***

Ciawi, 01.55 Wib

  • Kendaraan Hitch 6, Box Ekspedisi

buniayu hitch sabunYap, akhirnya tim kami berpisah. Kendaraan hitching ke 6 adalah mobil box ekspedisi bermuatan sabun dan obat nyamuk bakar. 4 orang duduk di muka, cukup membuat kami sulit bergerak. Apalagi dengan porsi bongsor Arby Ramadhan Sudrajat. Cukuplah penderitaan empelan kami dengan segala pegel kaki, pegel bokong, dan pegel pinggang. Hihiiiii… tak apalah demi sampai di tujuan sebelum waktu yang ditentukan.

Maaf ya teman-teman… 😀

Pak Bunbun, 43 tahun, berkeluarga dan punya 3 orang anak (kuliah, 2 SMP dan 5 SD).
Berangkat dari Jakarta di waktu yang sama saat kami starting point dari Sarinah, 00.30 WIB. Pak Bunbun yang jarang mengambil off  kerja karena harus mengejar setoran untuk biaya anaknya yang kuliah di Karawang ini, mengangkut tim kami dengan alasan sebelumnya pun sudah biasa jika ada yang menumpang. Asalkan baik. Memang tidak semua bisa dinilai baik.

Menurutnya dari cara berbicara di awal, ia sudah bisa tahu apakah orang yang menumpang tersebut berniat baik atau tidak. Dan ia melihat kami memakai ransel, pikirannya tidak jauh, mungkin anak-anak yang mau kemping.

“Tidak semua orang juga akan saya angkut. Kadang lihat-lihat juga. Maklum mbak, saya hidupnya banyak di jalan. Jadi lumayan ngerti kenapa orang ingin numpang. Saya jarang off pun semua saya lakukan untuk keluarga dan anak saya biar bisa sekolah,” Pak Bunbun menerawang lurus kedepan. Aku hanya memperhatikannya saja dari posisi duduk tak nyamanku.

Plang Segaranten(doc by Hartip)
Plang Segaranten
(doc by Hartip)

Oiya, sebagai informasi, Pak Bunbun menyatakan kesediaannya untuk mengajak teman-teman yang ingin menumpang jika ia tugas luar kota. Ia biasa ke Sukabumi, Semarang dan Bali. Dalam sebulan sekali, ia akan ke Bali (nomor kontak bisa menghubungi saya atau liat sharing di info doc Hitchhiker Indonesia (HHI)).

Pembicaraan beralih pada keberisikan kedua temanku yang sudah mulai terasa pegal. Perjalanan panjang dan sepertinya masih jauh membawa pada percakapan seputar jalan dan tempat kami berhenti. Pak Bunbun memperlihatkan alamat surat tugasnya dimana ia akan berhenti. Arby si pemegang peta rute perjalanan mencocokkannya dengan alamat Pak Bunbun dan memutuskan tim kita akan berhenti sebelum tujuan mobil box berakhir.

Ketawa-ketiwi akibat sempitnya ruang gerak, mengakibatkan kami kebablasan dari pemberhentian yang kami inginkan.  Turun, mengambil ransel kami diantara tumpukan barang Pak Bunbun, sedikit bergaya di plat kendaraan dan say thanks to him.

Jalan kaki dan bertanya pada tukang tambal ban mengenai tempat yang kami tuju, Otista. Naaaaahhh.. ini dia yang sedari Jakarta tadi  aku berpikir, kenapa juga Otista hanya ada di Jakarta? Ahaahaha… itu adalah Jalan Otista sekitar pasar Gudang.

Segaranten!

Kami menemukan daerah Segaranten dan segera saja aku mengambil gaya dibawah plang bertuliskan Segaranten. Bukti kalau aku pernah berada disini. Narsis dikit, boleh donk?!?? 😛

***

  • Kendaraan Hitch 7-8, Pickup dan Angkot

Asik menunggu, ternyata jodoh tim 6 (Hartip, Arby dan Ejie) belum berkesudahan dengan tim 7 (Kabunda Ibeth, Jamie dan Bram). Bertemu di Pasar Gudang, Otista, sesuatu banget yak?!?

Tawa lebar kami membuncah pagi itu seakan meneriakkan, “Wellcome back, guys” jumpa kembali.

Kendaraan hitch ke-7, pickup Kang Wawan, hitching tersingkat cukup 5 menit(doc by BBram)
Kendaraan hitch ke-7, pickup Kang Wawan, hitching tersingkat cukup 5 menit
(doc by BBram)

Sedikit bertukar cerita tentang perjalanan beda kendaraan, sebuah mobil pickup putih berhenti di depan kami. Kemon guys, naik kita. Ckckkkk… sungguh rezeki kolaborasi yang baik yah?

Emau tahu banget yah? Soalnya ini udah mau tahu yang ketiga kali deh… hehheh
Jalur pickup ini adalah jarak tempuh terdekat yang kami naiki. hanya sekitar 5 menit tak lebih sampailah kami pada pertigaan.

Kang Wawan si empunya pickup F 8920 SD, yang baru berusia 18 tahun punya usaha kue basah di Pasar Gudang, Otista. Biasa mengantarkan kue-kue tersebut ke tokonya dan berjualan dari pukul 01.00-04.30 WIB.

Karena singkatnya perjalanan, tak banyak yang bisa kuceritakan (selalu aku yang diumpan untuk bercerita dengan pengemudi, nasib si cerewet yang ingin berangin segar duduk di kap terbuka tak kesampaian. hoohohhh…).

Secepat itu turun, secepat itu pula kami mendapatkan kembali rezeki angkot gratis kami. 5 menit menunggu, langsung naik kendaraan hitching terakhir menuju (bukan pasar seperti informasi Om Harr, tapi terminal) Jubleg.

Ohooooo…
Perjuangan 2 tim menuju ke Terminal Jubleg selesai. Kang Deri, 20 tahun, dengan angkot tujuan Baros (nomor 25) mengantarkan kami hingga ke pos terakhir meeting point sebelum Buniayu.

Kendaraan hitch ke-8, angkot Kang Deri, tujuan Pasar Gudang Otista-Terminal Jubleg adalah pos terakhir kami untuk bergabung bersama teman lainnya.(doc by Hartip)
Kendaraan hitch ke-8, angkot Kang Deri, tujuan Pasar Gudang Otista-Terminal Jubleg adalah pos terakhir kami untuk bergabung bersama teman lainnya.
(doc by Hartip)

Ummm…
Dinihari itu, banyak berkah kebaikan bagi 2 tim ini. Bukan hanya mobil pribadi, tetapi angkot-angkot pun bersliweran bukan sekadar lewat depan kami, namun turut menawarkan tumpangannya pada 6 orang berisik seperti kami. Terkecuali Bram si tak ada ekspresi yang hanya berekspressi melalui jepretan kameranya.

Coba saja lihat hasil jepretannya cek senyum Bram disini.

Dari sekian banyak photo yang ada, hanya 1 yang aku berhasil temukan  (catat, SATU SAJA), hanya ada 1 senyuman saja.
Ckkkckk….. Braaaaaaaaammm…. mana ekspresi loooo???!?
*versi ngedumel *&@%$)(*~&@)$_)~!&^5`^@

***

  • Terminal Jubleg, 04.15 WIB

Horeeeeeeeee.. kami sampai.
Ow noooo… tim 5, Aa Sean , Mimi Jolly dan Obe sudah sedari pukul 03.00 WIB disana, sudah tidur pula! Haishhhh….

Ayoooooookkk…. bersih-bersih di Musholla, lalu makan! Lafaaaaarr kakaaaaaaaaa….. 😉

***

Bersambung lageee 😛

#Nantikan edisi basecamp, leyeh-leyeh, lafar dan jalan-jalan 4 tim pertama yah kaka-kakaaaaaa….. 😀

Terminal Jubleg, pos pemberhentian terakhir perjalanan hitching ke Buniayu(doc by Ongston Obe/BBram)
Terminal Jubleg, pos pemberhentian terakhir perjalanan hitching ke Buniayu
(doc by Ongston Obe/BBram)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Jempol Lumpur Buniayu: Rasakan Seratus Ribu Edisi KUA Buniayu [The Hitching]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s