Jempol Lumpur Buniayu: Rasakan Seratus Ribu Edisi KUA Buniayu [The Basecamp]

(doc by Erick Samuel)
(doc by Erick Samuel)

Penantian 4 tim kloter pertama berhadiah banyak.
Merasakan istirahat meluruskan kaki, sarapan di awal dan hirup udara segar basecamp Buniayu.

Kehadiran 4 tim kloter kedua.
Penuh keriuhan, bantal beterbangan dan tertawa tiada henti.

Makan siang yang super telat.
Menunggu pesanan makan dengan perut super lafar dan jalan-jalan Goa Kelelawar.

Fix!
Baca teruuuuusss… 🙂

****

Batas wilayah Sukabumi. Terminal Jubleg, tempat kami berkumpul sebelum menuju ke basecamp Buniayu(doc by Ongston Obe/BBram/DnyS)
Batas wilayah Sukabumi. Terminal Jubleg, tempat kami berkumpul sebelum menuju ke basecamp Buniayu
(doc by Ongston Obe/BBram/DnyS)

Leyeh-leyeh dan 4 Tim Telat

4 tim berhasil sampai di pos akhir rute seperti pembahasan pada briefing awal di Sarinah Thamrin. 3 tim diantaranya adalah tim gerobak pasir  dan 1 tim tidur santai. Mereka adalah :

  1. Sean, Mimi, Obe
  2. Ejie, Hartip, Arby
  3. Ibeth, Jamie, Bram
  4. Om Harr, Tata, Robert

Sembari menunggu 4 tim lainnya di waktu yang telah ditentukan pukul 06.00 Wib, kami sempat istirahat dan bersih-bersih badan di Musholla tempat kami berkumpul.

Sebagian mengisi perut yang keroncongan di warung terdekat. Pilihan nasi uduk, lontong atau ketupat pun menjadi incaran menu sarapan pagi teman-teman hitching, terkecuali aku (hwuaaaaa… lafaaaaaarr… tapi nda bisa gabung makan. Menyebalkan!)

Berburu foto di batas wilayah, hunting tempat charge hape, semua berusaha menghadiahi dirinya kesenangan setelah letih berhitchhiking dinihari tadi.

***

Selamat datang saung adem! :)(doc by DnyS)
Selamat datang saung adem! 🙂
(doc by DnyS)

Pukul 06.00 Wib

  • Saung Adem

Waktu yang disepakati pas 1 jam kemudian, akhirnya keempat tim memutuskan untuk naik duluan ke basecamp Buniayu. Carter angkot sharing cost pun dilakukan, Rp 5.000 per orang.

Cukup jauh perjalanan menuju basecamp membuat beberapa teman terkantuk-kantuk tidur diantara hentakan musik keras dalam angkot.

Mendekati lokasi, kendaraan mandeg, tak bisa naik. Untung saja dekat, maka 12 orang pun keluar membawa ranselnya masing-masing.

Hangatnya sinar mentari pagi menyambut teman-teman hitchhiking dengan ceria, seceria hati kami :D(doc by BBram/Ongston Obe)
Hangatnya sinar mentari pagi menyambut teman-teman hitchhiking dengan ceria, seceria hati kami 😀
(doc by BBram/Ongston Obe)

Udara segar Buniayu, menyambut kedatangan kami dengan ceria. Seberkas cahaya pagi seakan mengucapkan selamat datang pada para pejuang hitchhiking dengan  sinar hangatnya saat kami melangkahkan kaki menapaki tangga menuju basecamp.

Sebuah bangunan sederhana dengan tulisan “Selamat Datang di Wanawisata Goa Buniayu” terpampang di kanan jalan.

Leyeh-leyeh asoy mengistirahatkan kaki di saung adem(doc by Ongston Obe)
Leyeh-leyeh asoy mengistirahatkan kaki di saung adem
(doc by Ongston Obe)

Beeeehhh….
Kaki-kaki yang tak sabar mencari dan melihat saung, akhirnya terbayarkan. Rumah sederhana dengan pemandangan asri nan hijau, yeaaay! Straight to the point. Semua tumplek mengerubuti mencari posisi tidur yang nyaman.

Kehebohan terjadi saat kasur, bantal, selimut dan seprai datang. Lucu!! Ckkkck…. Rebutan, norak, berisik! Itulah kami, keluarga hitching yang penuh ceria. Padahal semua kebagian perlengkapan tidur itu lho?!? Hihiiiiiihii…… orang kota yang kampungan. Baru juga semalam ga tidur, udah kek apaan tau deh..
*jitak satu-satu pake kendaraan hitching masing-masing, ehh… 😛

Akhirnya, tetap memikirkan 4 tim lainnya yang akan bergabung bersama nantinya, aku menghitung jumlah perlengkapan tersebut dan mengordernya pada bapak pengurus saung.

Baiklah, lengkap sudah. Posisi pun telah diatur agar semua kebagian tempat beristirahat untuk 24 orang yang tumplek tidur dalam 1 saung bersama.

Kebersamaan adalah ciri kami. Berbagi pun bagian dari kami. Sementara menunggu lainnya, beberapa sibuk bermain kartu, rubik dan permainan yang telah kami bawa dari rumah. Mandi dan tidur, sebagian memilih untuk memulihkan kondisi badan.

Ada yang berbeda!
Semua keep the mouth, tahan cerita hingga sesi sharing berdentang. Ting tooooongg……

***

Pukul 10.00 Wib

  • Kehebohan Terjadi
2 dari perusuh yang memporak-porandakan kerapian saung, Kadonna dan Kabayo. katin kemana yah?(doc by Ongston Obe)
2 dari perusuh yang memporak-porandakan kerapian saung, Kadonna dan Kabayo. Katin kemana yah?
(doc by Ongston Obe)

Hiyaaaaaa…
4 jam dari waktu yang ditentukan boleh naik kendaraan berbayar, kebijakan HHI untuk tim yang tak sampai pada waktunya, akhirnya muncul.

Mereka adalah:

  1. Titin, Salym, Gema
  2. Wawan, Pipit, Nicky
  3. Donna, Dny, ircham
  4. Bayu, Fitri, Deni

Huaaahhh… ckkkk…. Ampooooonnnnnn… tobaaaattt… dan tak ada yang bisa terucap selain ngakak! Kenapa?

Kerusuhan lengkap saat trio perusuh berkumpul. Kadon, katin dan Kabayo.(doc by DnyS)
Kerusuhan lengkap saat trio perusuh berkumpul. Kadon, katin dan Kabayo.
(doc by DnyS)

Gimana ngga ngakak coba? Begitu datang, 3 orang perusuh dari jauh sudah sibuk mau foto, riuh rendah suara mereka. Sampai di saung yang harusnya mereka beristirahat karena jauhnya jam yang ditentukan, malah dipakai untuk cekakak-cekikik membuat kami yang berada di dalam saung, mau tak mau ikut tertawa melihat keriangan mereka.

Titin, Bayu, Donna, trio rusuh ini sontak saja melampiaskan cerita yang juga mereka keep dengan lempar-lemparan bantal dan barang-barang (ringan kok) di sekitar mereka.

Hhhh….
Kasur yang rapi, mendadak berantakan oleh mereka. Okeeee… kami maklum. Hehehh

***

Segambreng daftar pesanan makanan untuk perut 24 orang yang dimanage Kabunda(doc pribadi)
Segambreng daftar pesanan makanan untuk perut 24 orang yang dimanage Kabunda
(doc pribadi)

Pukul 15.00 Wib

Saat semua terbangun dari tidurnya, kelaparan melanda. Kabunda Ibeth adalah ibu hitching. Langsung saja aliran pesanan makan mengalir dalam catatannya. Kami yang tadinya ingin pesan paket makan dari saung, akhirnya memutuskan untuk membeli nasi di bawah (isu nasi padang siapa nehh??).

Hitching motor bapak pengurus saung untuk beli makan siang. Kabunda Ibeth dan Kabayo lah yang berinisiatif untuk mengantar beli makan.

Menunggu pesanan makan siang yang telat di warung santai.(doc pribadi)
Menunggu pesanan makan siang yang telat di warung santai.
(doc pribadi)

Menunggu dan lafaaaaaarrr sudah menjadi kebiasaan kami. Makanya beberapa orang segera pesan mie instan plus telur di warung. Setengah jam kemudian (lebih siy keknya),  Kabunda dan Kabayo datang membawa aroma nasi dalam kardus.

Okeeee…… aku minggat dari warung santai tempat mereka makan.

Selamat makan siang yang telat, teman-teman….. 😀

Bangun tidur perut yang keroncongan. Kabunda dan Kabayo adalah penyelamat perut semua... Makasih yah kakaaaa ;)(doc pribadi)
Bangun tidur perut yang keroncongan. Kabunda dan Kabayo adalah penyelamat perut semua… Makasih yah kakaaaa 😉
(doc pribadi)

***

Pukul 17.00 Wib

  • Goa Kelelawar, Belajar Kamera dan Outbond yang Tertinggal
Goa Kelelawar diambil dari bawah ke arah goa ke pintu keluar(doc by DnyS)
Goa Kelelawar diambil dari bawah ke arah goa ke pintu keluar
(doc by DnyS)

Dny, Robert, Hartip, Salym, Nicky dan Tata main ke Goa Kelelawar di bawah dekat ruang fitting baju.

Goa Kelelawar, hmm… aku tak ikut bergabung untuk mengeksplore isi di dalamnya. Maka aku hanya bisa melihat hasil jepretan teman-teman yang kesana.

Aku yang minggat dari warung makan santai, baru menyadarinya saat kusempatkan untuk mengambil foto suasana area basecamp Buniayu kalau di bawah itu juga ada goa lainnya, Goa Kelelawar.

Akhirnya beberapa jepretan kuperoleh.

Pelajaran kilat kamera sama pak guru Hartip(doc by Salym)
Pelajaran kilat kamera sama pak guru Hartip
(doc by Salym)

Saat mereka yang bermain selesai dan bergabung dengan lainnya, Salym, Hartip dan aku masih mengambil beberapa foto dari keindahan alam di sekitar kami. Menunggu senja kusempatkan bercerita dengan mereka. Bertanya apa yang ada dalam goa di bawah dan hehhehee…… aku beroleh pelajaran kamera dari keduanya.

Heiiiii…. Kalian yang makaaaaannn.. Ejie dapet ilmu kamera donk… wekeekekkee

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 18.10 Wib, saat kami melihat rona pink dibalut biru langit menghiasi seputaran awan di hadapanku.

Cekrek, cekrek…
Menanti perubahan warnanya yang cantik. Langit yang bersih senja itu menyapa kami bersahabat. Teriknya mentari sore, kebiruan dan kemudian berubah menjadi pink cantik dengan pendaran romantis warna di sekitar awannya. Berikut menjadi siluet indah tatkala mata memandang tak lepas dari langit Buniayu.

Wooo… langit kesukaanku, kuabadikan dan kami pun segera naik ke atas untuk bebersih dan kumpul bersama keceriaan teman-teman lainnya.

Hahahaaa…. dan kukirim langit indah itu pada bintangku..
*tsaaahhh… mau ada bintaaaaaaaaannngg 😀 (jie)

***

bersambung lagi deh 😛

#selanjutnya keluarin yang behind the scene dolo kali yak, baru lanjut sesi sharing… hooho… biar numpuk penasarannya 😀

Saung adem hitchhiker (kanan atas), kamar mandi dan toilet okehh ( kiri bawah) dan podokan untuk 2 orang (kanan bawah)(doc pribadi/DnyS)
Saung adem hitchhiker (kanan atas), kamar mandi dan toilet okehh ( kiri bawah) dan podokan untuk 2 orang (kanan bawah)
(doc pribadi/DnyS)
Dny, Hartip, Salym, Tata dan Nicky sepulang dari Goa Kelelawar(doc pribadi)
Dny, Hartip, Salym, Tata dan Nicky sepulang dari Goa Kelelawar
(doc pribadi)
Menanti langit berganti warna, selalu suka warna hatinya :)(doc pribadi/Ongston Obe)
Menanti langit berganti warna, selalu suka warna hatinya 🙂
(doc pribadi/Ongston Obe)
Isi dalam Goa Kelelawar(doc by DnyS)
Isi dalam Goa Kelelawar
(doc by DnyS)
Goa kelelawar dengan sentuhan berbeda sang photographer(doc by Ongston Obe/DnyS)
Goa kelelawar dengan sentuhan berbeda sang photographer
(doc by Ongston Obe/DnyS)
Goa Kelelawar~suka cara pengambilannya. Membuat jadi tambah penasaran dengan isi goanya euy.. JEMPOL buat koh wonbin!(doc by DnyS)
Goa Kelelawar~suka cara pengambilannya. Membuat jadi tambah penasaran dengan isi goanya euy.. JEMPOL buat koh wonbin!
(doc by DnyS)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

One thought on “Jempol Lumpur Buniayu: Rasakan Seratus Ribu Edisi KUA Buniayu [The Basecamp]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s