Jurnal Hitchhiker: Jengukan Tak Terduga

Before:
KRI Surabaya 591 in My Mind [Prolog]
Catper Hitchhiker: Pelantara II Temu Saka se-Indonesia
Catper Hitchhiker: Rasaku pada KRI Surabaya 591
Catper Hitchhiker: Pramuka, Mangrove, dan Donor Darah [Tegal]
Jurnal Hitchhiker: Keluarga Kecil Kucing Laut Berisik
Catper Hitchhiker: Yuk, Masuk Dapur KRI Surabaya 591
Jurnal Hitchhiker: Tepar di Hari Pertama Sandar Bali

Sakit itu yah, ngga ada yang enak.
Ejie ngga suka sakit.
Karena ngga bisa ngapa-ngapain.
Sedih euy terkurung dalam ruang kesehatan itu.
Mana sepi pula ngga ada suara berisik keluarga kucing.
Ihhh…. 😦
***
Ruang kesehatan dan kasur tempatku berada saat sakit. I was there....(doc Kadeplog, photo by me)
Ruang kesehatan dan kasur tempatku berada saat sakit. I was there….
(doc Kadeplog, photo by me)

Ketika seharusnya Ejie bisa berkumpul bersama teman-teman lainnya, ketika Ejie seharusnya berjalan-jalan ceria bersama teman-teman, tapi tak bisa. Ketika Ejie harusnya bisa tertawa bareng dengan mereka yang riang, tapi hanya diam. Ejie hanya bisa tepar di ruang kesehatan. Huuuuuuuu…… Tak enak!

Semua ini hanya karena nasi. Arrgghh… capek juga kalau begini terus.

Aku hanya diam, sambil mengurut-ngurut kepalaku yang tak tahu seperti apa rasanya. Kalau saja kepala itu bisa dicopot sebentar untuk menghilangkan sakitnya, Ejie mau deh. Ntar kalau sudah selesai sakitnya, pasang lagi. Bisa ngga yah?? Eheheee..

Pengen juga jedot-jedotin kepala biar hilang sakitnya kalau boleh……. 😀

***

  • Karena Nasi?

Ini waktu aku sakit, antara sadar dan tidak, karena aku lemas banget waktu itu. Dan hanya ada Pak Sadikin juga Pak Dokter yang menjagaku, berikut 2 orang pasien di depan kasurku yang aku tak tahu siapa. Teman Pramuka, mungkin.

Sedikit berbincang mengenai sakitku yang menurut Pak Sadikin “sedikit aneh” karena berhubungan dengan nasi. Pak Dokter pun menganjurkan hal yang sama.

“Terapi, Jie…. Pasti ada penyebabnya,” Pak Sadikin dan Pak Dokter tidak melanjutkan kalimatnya yang aku bisa menebaknya, “Karena apa?”

Terkadang, orang kesehatan bisa membaca yah sebelum kita menjawab?

Kenapa? Karena lelehan air mata ini mungkin yang menyebabkan mereka tidak bertanya lanjut tentang nasi itu. Aku pun bingung menjelaskan panjang lebar. Disamping habis muntah 2 kali, untuk bercerita lagi, bisa kuprediksi akan ada susulan muntahan lainnya yang tak aku suka. Puncak kepahitannya. Iyaks!!

Oke, cukup……

Maafin Ejie yah Pak Dokter dan Pak Sadikin… Ngga bisa cerita lanjut. Ejie lemas juga mau cerita banyak.

The medicine that i've got(doc pribadi)
The medicine that i’ve got
(doc pribadi)

Obat, Ejie ingat habis dikasih obat dan sudah bereaksi. Kantuk yang menyerang, tak kuasa menahan sakit kepala yang luar biasa, membuat Ejie terlelap dalam tidur yang sepertinya tak nyaman karena tetap berdenyut namun anteng.

***

  • Siapa Itu?

“Ejie…. Ejieee… bangun heiiii…..” sebuah suara yang aku agak lupa siapa, membangunkanku dalam ketidaksadaran.

“Kenapa kamu?” tetap belum sadar.

Aku ingat, mataku dibuka tutup hanya untuk bisa tahu bahwa aku tak apa-apa.
*saat nulis ini kalau ingat itu, aku geli sihhh…. Soalnya sampai segitunya yah Ejie lemas ngga sadar diri??? Haiiisshhhhh….. maluuuuuuuuuuu

Sayup-sayup dengar suara itu berbicara dengan Pak Sadikin yang tetap menjagaku. Entah apa yang mereka bicarakan, aku pun tak begitu mendengar.
*ya ampoooooooonn…. Ini Ejie kelewatan banget yak?!?? Wakakkkkaaaka

Adeuuhh… adeuhh… maafin Ejie yang tak sadarkan diri yah?

Ejie ingat itu sampai dibilangin, “Ejie, yuuukk jalan-jalan biar kamu ngga lemas gini. Mau kemana, tak temenin,” kira-kira seperti itu lamat-lamat telingaku menangkap ajakan suara itu yang tetap berusaha membangunkanku.

Jujur nih, Ejie ngakak deh kalo saat itu Ejie bisa liat diri Ejie gimana. Dijengukin, dibangunin, diajakin jalan, ditanyain, tapi Ejie ngga ngapa-ngapain? Ckccck…
*getak Ejie pake tambang gede pengikat KRI ehh…. Hiihiihi 😀

Ejie bingung, ngangkat tangan aja lemas banget, gimana mau ngangkat badan buat jalan-jalan? Yang ada, Ejie mah dipelukin mulu dengan mata beler tak menikmati perjalanan kan? Lagian, Ejie ngga kuat nahanin kepala yang sakit. Gimana coba kalau nekad sok mau ikut jalan?

“Kamu kedinginan ya, Jie?” ujarnya dan aku hanya bisa menganggukkan kepalaku tanpa kuat membuka sejenak mataku.

“Ya sudah, istirahat biar cepat sembuh,” kira-kira itu ya yang diucapkannya? Ejie lupa, maaf…

Yang Ejie ingat, hanya jawaban singkat “ya, ngga, gelengan kepala atau angguk-angguk” saja tiap kali ditanya. Kemudian terakhir sebelum pergi, mungkin karena Ejie tak bisa diajak bicara normal, akhirnya Ejie hanya ngerasain kalau ia nyelimutin Ejie. Nutupin sekujur tubuh Ejie dengan selimut yang Ejie bawa dari kabin G 07,  lantai atas. Membenarkan kuplukku, juga sedikit memberikan pijatan pada kakiku dan menutupinya kembali dengan selimut. Tulus, terasa… 🙂

Foto sakit yang kuterima setelah di Lombok Timur, seingatku. Kiriman dari yang menjengukku di ruang kesehatan. Katanya, kalau tidur, Ejie kek anak kecil. Oww... really?? :P(doc pribadi-nya)
Foto sakit yang kuterima setelah di Lombok Timur, seingatku. Kiriman dari yang menjengukku di ruang kesehatan. Katanya, kalau tidur, Ejie kek anak kecil. Oww… really?? 😛 hhaha
(doc pribadi-nya)

Ejie merasa nyaman saat itu. Tenang, karena akhirnya aku tak sendiri. Ada yang menjengukku walaupun teman-teman masih jalan-jalan, ehhh… sedikit bingung antara sadar dan tidak, siapa yang menjengukku??? Olalaaaaa….

***

  • Kangen Kabin

 05.00 WITA

Masih sepi dan kulihat Pak Sadikin masih tertidur di kasur sebelah. Aku tayamum, shalat di kasur. Setelah shalat ingin kembali ke kabin. Menunggu ternyata membuatku kembali terlelap. Cukup 1 jam dan aku seperti dikejutkan untuk bangun dan segera kembali.

***

06.00 WITA

Kami bercerita sejenak mengenai tadi malam.

“Ejie ingat ngga tadi malam ada yang jenguk Ejie, ngajakin ngomong, tapi Ejie a-i-u…?” tanya Pak Sadikin.

“Ngga tahu, Pak,” sahutku.

“Lha, kamu kan ngomong dan kebanyakan memang ngga jelas sih,” ia tertawa. Lalu menjelaskan ciri-ciri orang yang menjengukku.

“Tahu siapa, Jie? Dia ngajakin kamu keluar, jalan nyusul teman-temanmu mungkin. Masalahnya Ejie lemas banget saya lihat,” Pak Sadikin melanjutkan dengan sedikit kuap.

Ejie ngangguk. Ejie tahu siapa itu yang jenguk Ejie, Pak. Wadeuuhh…. Maafin Ejie yah? Sebegitu ngga tahukah Ejie malam itu? Sebegitu teparkah Ejie malam itu? Terima kasih ya, Pak infonya jengukannya. Heheh… Ejie sampai ngga ngeh.

Akhirnya, setelah diizinkan kembali ke kamar dan dikasih obat untuk sakit kepala Ejie, Ejie pamit masih dengan terhuyung-huyung jalan ke atas dengan masih menempelkan badan pada dinding kapal.

***

07.15 WITA

Kamaaaaaaarrr…. Kabinkuuuu…. Hikmaaaaahhh…. Teman-temaaaannn…..
Ejie kangeeeeeeeennn…. ^0^

Woops! Ngga nyampe sehari ketemu sudah kangen saja? Iyaaaaaaa, karena tak ada satupun dari batang hidung kalian yang menjenguk Ejie. Jadi, Ejie memutuskan untuk menjenguk kalian yang mengendap di kamar sejuk itu.
*hhhh… yang sakit sebenarnya siapa yah? kebalik deh iniiii….

Hayuuuuuuk jalan-jalan kitaaa, ehh….

***

Dear Journal,

Masih shock dengan yang jengukin Ejie. Kadang disaat tak sadarnya diri akan adanya kehadiran orang lain yang memperhatikan, merasa bahwa alhamdulillah, Ejie masih ada yang ngejagain.

Sendiri namun tak sendiri. Berteman tapi sepi. sudah berapa kali Ejie merasakan hal itu? Bisa dihitung dengan jari!

Allah Yang Maha Bijaksana,
Ku kembalikan semua kebijakan hidupku pada-Mu. Apa yang terbaik dalam garis panjang kehidupanku saat ini dan nanti. Jika masih memberikan kesempatan padaku, aku….
*tak berani berucap.. jalani saja

Untuk yang menjenguk Ejie,

Terima kasih yah udah jagain Ejie. Terima kasih juga untuk yang telah dilakukan saat Ejie sakit. Menjaga, itu lebih dari apapun yang Ejie inginkan. Untuk jahenya, untuk obatnya, untuk mengingatkan saya makan, untuk selimutnya, untuk peduli pada saya.. 🙂

Ejie tak bisa memberi apapun untuk semua itu. Hormat Ejie untuk sikap yang baik selama ini. Terima kasih…..

Allah lebih tahu apa yang ingin Ejie sampaikan dalam tulisan ini, namun tak bisa. Catatan terbaik hanya Ejie tujukan pada-Nya yang lebih mengenal Ejie. (jie)

*satu gula di lautan menjagaku

***

The medicine(doc Kadeplog, photo by me)
The medicine
(doc Kadeplog, photo by me)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s