Percakapan Dua Warna Hati

 

2 warna ini adalah pemberian warna dari bintang di langit yang saat itu dekat disisi dan tak meninggalkan temanku.
Di kala terjepit diantara pertemanan dan rasa sayangnya pada seseorang yang dipercaya,
yang memberikannya rasa aman, nyaman dan kesabaran yang tak pernah ditemuinya lagi.
Mungkin untuk sekarang hanya bisa menatapnya dalam memori serta ingatannya yang sudah terucap takkan pernah amnesia tentang bintangnya.
Baiklah, diadopsi dari salah satu cerita teman sehati yang memberikan 1 sisi cerita pada blog ini.
***
Biru yang luas dan tak berbatas. Tak mengapa jika tersakiti. Masih banyak ruang hampa yang menerima untuk menyayangi hatinya (doc pribadi)
Biru yang luas dan tak berbatas. Tak mengapa jika tersakiti. Masih banyak ruang hampa yang menerima untuk menyayangi hatinya
(doc pribadi)

Minggu
14 April 2013

CERITA TEMAN SEHATI:
Sudah sering rasanya mendengar keinginan Pink itu. Mungkin sudah lupa menghitungnya karena tiap kali diomongin, Biru hanya bisa tersenyum kecut saja.

Biru:  “Sudahlah… berharap dan berusaha. Jika Allah memberikan kesempatan-NYA, semoga menghadiahkan yang terbaik dan sayang pada kita. Kan selalu menyebut tak ingin seperti dia yang menyakiti. Berdo’a lah untuk hal itu.”

Pink: “Jadi kapan?”

Biru: “Ngga tahu. Ngga bisa bilang kapan. Kalaupun tak ada, ngga ada salahnya berdua saja sampai akhir, dan cukup berlaku untuk saya yang sendiri kan? Kecuali kita kumpul suatu saat nanti bersama Merah. Maka cukup buat saya.”

Biru tahu jika menatapnya, akan sama-sama bersedih menangis. Jadi Biru berbicara padanya sembari melihat pintu lemari di hadapan dan langit-langit kamar 3×2,5 m yang bercat dinding pink tersebut.

Tangan Pink terus mengelus-elus Biru menandakan ia memberi semangat, menyalurkan energy positif, menyalurkan rasa sayang dan pedulinya pada Biru yang mencoba menepikan rasa tersebut agar tak meleleh air di sela alur yang tersedia pada sudut matanya itu.

Obrolan yang mungkin hanya 15 menit itu cukup membuat Pink dan Biru terdiam dalam kisah yang terjadi dibaliknya,  selang beberapa tahun lalu.

Tak banyak sebenarnya yang dibicarakan. Hanya seputar pendidikan, Merah yang tak bisa berkumpul bersama karena suatu hal, kehidupan mendatang, ibadah, kesehatan, semuanya tentang hidup yang terus berjalan.

Membicarakannya seperti teman sebaya? Bisakah ia mengerti? Entahlah….

Terhenti sejenak ketika kalimat itu sampai pada hal yang seakan menggantung.

Biru: “….. tak masalah tinggal sendiri jika digariskan. Sesekali jenguklah, jangan tinggalkan, jangan lupakan…..”

Tercekat!

Sedikit menekan suara dan menahan menelan air liurnya yang tersendat, karena mulai merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak mengalir.

Biru: “Tunggu ya? Mau sikat gigi sebentar….”

Pink terdiam, tak juga menjawab. Sekilas mengintip, air menggenang di pelupuk mata beloknya. Sadar jika menjawab, akan ada yang pecah point terlebih dahulu.

***

Allah………
Sungguh, Pink adalah orang yang pandai menyimpan dan mengerti akan Biru dan Biru adalah orang yang kasihan pada hati Pink yang selalu menahan apapun demi hati Biru. Jiwa toleran yang cukup kuat untuk ukuran usianya.

Tambahkan berlipat-lipat hati yang bersih untuknya, Allah…

***

Pink dan Merah adalah saksi kecil dimana Biru tersiksa bathin setengah tahun dengan psikis yang tercabik-cabik dan 4 tahun lamanya berada dalam ombang-ombing ombak yang tak pasti, kesakitan serta hanya bisa bersabar dalam kesakitannya.

Biru berterima kasih kepada yang membuat tak hanya rusak 1 hati, tapi 2 hati lainnya yang mengubah mereka bertiga.

***

Sebenarnya ini adalah edisi menahan hati pada hati lainnya agar tak tersakiti, agar tak terluka atau bagaimanakah?
Somebody help them…… 😦

***

PS: Bintangnya teman sehatiku, terima kasih untuk pilihan warna hati itu pada ketiganya… (jie)

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s