Merapi-Selo: Tanjakan Pedas bagi Kartono Batu [Part 1]

Before:
remind-me-mie-sarung-tangan-merapi-tim-nanjak-lenong/

Lil bit to the Merapi... *kejar :P (doc pribadi photo by Erore)
Lil bit to the Merapi…
*kejar πŸ˜›
(doc pribadi photo by Erore)
Kami mengambil jalur pendakian umum melalui Selo, Boyolali, Jawa Tengah
untuk naik ke Gunung Merapi setelah mendaki Gunung Merbabu.
Ada 3 jalur lainnya menuju Merapi,
yaitu Kaliurang, Sawangan dan Kemalang (Klaten).
Kabarnya mendaki melalui jalur Selo bisa dengan waktu 5 jam.
Haa??? 5 jam? Apakabar kakiku ini?
Baiklah, kita lihat saja nanti… πŸ™‚
***
Search by om google
Search by om google

Foto-foto tulisan lengkap bisa lihat disini ya… πŸ˜€

25-26 January 2013

  • Basecamp Merapi

Udara di basecamp malam itu dingin banget. Aku meringkuk dalam sleeping bagku. Tak kuat sama hawa dinginnya ditambah hujan yang menitik terdengar di telingaku.

Basecamp sederhana ini berupa ruangan luas yang di dalamnya ada tempat untuk kita mengaso. Selurusan pintu depan basecamp jika berjalan ke dalamnya akan tampak sebuah pintu menuju belakang. Aku mengamatinya dan memang bolak-balik kesana.

Di ruang belakang itu terdapat 1 ruang tidur, 1 bale-bale bambu yang dipakai keluarga di basecamp itu untuk beristirahat sambil menonton televisi (seingatku) juga dapur yang menyatu dengan ruangan tersebut.

Kita bisa memesan makanan seperti nasi, sayur dan lauk pauk maupun mie. Teh atau kopi juga ada kok.

Di kanan sebelum dapur dan melewati ruang tidur, ada pintu untuk keluar dimana terdapat kamar mandi. Airnya dingin sekaliiiiii…… brrrr πŸ˜€

Makan malam di basecamp Merapi (doc pribadi)
Makan malam di basecamp Merapi
(doc pribadi)

***

Pukul 01.00 WIB
Saat alarm berbunyi, kami terbangun. Perasaan baru tidur jam 23.00 WIB deh. Itu juga karena Ejie disuruh Ricky Merah tidur karena masih ikutan dengar orang ngobrol. Hahhaha..
*siap kumendan!

Dari 12 orang anggota tim, hanya 6 orang saja yang terus melipir ke basecamp Gunung Merapi sepulangnya kami mendaki Gunung Merbabu di hari yang sama (25/01/2013). Mereka adalah Ricky Merah, Kayun, Erore, Anja, Dilis dan Ejie.

Semua siap packing terkecuali Kayun yang tiba-tiba demam. Agak kaget karena begitu sampai di basecamp, Kayun terlihat baik-baik saja. Aku tahu dari Ricky Merah kalau Kayun sakit. Padahal yang tadinya mau ngga muncak adalah aku, karena persediaan baju yang habis disebabkan hujan naik dan turun saat di Gunung Merbabu dan jaket hujan pun tak ada. Tak berani ambil resiko jika perlengkapan tak ada. Bukan tak sanggup, tetapi ngga mau menyusahkan teman-teman jika terjadi sesuatu pada diriku jika tak siap.

Hehheeee…. Akhirnya, bisa naik Gunung Merapi karena dipinjamin Kayun baju yang lupa dikembalikan, pakai jas hujan Ricky Merah, pakai sepatu dan sarung tangan Dilis karena ngga boleh sama Ricky Merah dan Dilis pakai sandal (untung bukan Berto galak yang ngomong πŸ˜› ), turunan Merapi malah dipinjamin jaket Anja dan Erore.
*ampuuunnn….. dipinjamin semua. Iiihhihihi

Hasil dari awal persiapan pendakian adalah Dilis yang mundur tak jadi ikut naik karena:

  1. Khawatir dengan logistic yang minim untuk 5 orang nanjak
  2. Persediaan air minum yang terbatas
  3. Jaga Kayun yang sakit

***

Pukul 03.00 WIB
Aku ditemani Anja merupakan orang terakhir yang memulai pendakian. Ricky Merah dan Erore sudah di depan bersama rombongan om Gondrong, kenalan kami di basecamp Merapi.

Sebelum memulai pendakian, sebaiknya mengambil air minum di aliran air segar yang tersedia di dekat basecamp. Diatas tidak ada sumber mata air. Sebaiknya bawalah air untuk kebutuhan minum dan keperluan memasak.

Aku waktu itu bawa 2 liter air minum untuk naik turun. Masih kurang rasanya. Maklum, jalur pedas, tapi ngga boleh banyak minum kata Ricky Merah. Jadi seperti biasa, mengantongi cemilan dan madu dari Kayun. Makasih ya Kayun…. πŸ˜‰

KIKA: Kebun penduduk dan tower. Gambar diambil saat turun dari Gunung Merapi. (doc pribadi)
KIKA: Kebun penduduk dan tower.
Gambar diambil saat turun dari Gunung Merapi.
(doc pribadi)

Jalan aspal akan melewati:

  1. Kebun penduduk
  2. Tower di kanan jalan
  3. Jembatan
  4. Pintu masuk jalur Selo yang ditandai dengan tulisan “NEW SELO” yang terpampang besar di sisi kanan jalan. Jalur Selo adalah jalur kecil di sebelah kiri kantin-kantin tersebut.
KIKA: Jembatan dan jalan masuk jalur Selo di kiri kantin dan tulisan besar. Gambar diambil saat turun dari Gunung Merapi. (doc pribadi)
KIKA: Jembatan dan jalan masuk jalur Selo di kiri kantin dan tulisan besar.
Gambar diambil saat turun dari Gunung Merapi.
(doc pribadi)

***

  • Selo Tanjakan Pedas

Emaaaakk!!

Naik dari Selo, cukup membuatku harus mengatur ritme langkah dan nafas. Jalur ini pedas banget buatku. Lambat, paling akhir, hanya berdua, jalur berat karena nanjak terus, gelap, dingin, dan tak kelihatan jalan! Perpaduan yang pas!

Anja yang menemani dari jalanan aspal yang menanjak pun sudah mulai coba untuk menciutkan hatiku. 2 kali ia bilang kalau aku tak sanggup, boleh balik badan. Wuaaahhh…. Anjaaaaa!! Jangan menyerah dan menciutkan saya jika tak ingin memulai.
*tambah pedas untuk pemanasan kesanggupanku πŸ˜€

β€œ3 kali Anja bilang begitu, jalan duluan saja deh. Ejie sendirian ngga apa,” sabaaaaaarrr…..

Anja cengengesan. Sebel ihhhh πŸ˜›

Tapi lumayan sabar nih Anja nemanin Ejie. Bukan apa-apa, Anja kan biasa ngebut kalau nanjak, makanya di belakang dia gerah kali ya? Xiiixiixi

Tapi Ricky Merah dan Erore pun tak meninggalkan kami begitu saja. Di tiap belokan, mereka berhenti menunggu kami bersama rombongan om Gondrong dari Yogya.

jalur Selo yang diambil ketika turunan dan hujan cukup deras. (doc pribadi)
Jalur Selo yang diambil ketika turunan dan hujan cukup deras.
(doc pribadi)

Menurutku, jalur Selo menuju shelter awal selamat datang ini lumayan berat. Kenapa?

  1. Melalui jalan aspal sebelum ke Selo, mendaki.
  2. Jalan di jalur Selo yang menanjak tajam. Cukup menguras langkah kaki dan nafasku.
  3. Melalui kebun penduduk. Baik di jalanan aspal maupun menuju pos selamat datang, terjal.
  4. Jalur tanah, kerikil dan sedikit berbatu.
  5. Lumayan rusak dan berdebu sih jalanannya waktu itu.

Kalau jalur pedas, aku jarang foto. Lebih merhatiin jalannya biar ngga siput banget gitu deh. wakakaaaka

shelter tempat kami shalat dan orang yang nenda semalam. gambar diambil saat turun. (doc pribadi)
Shelter tempat kami shalat dan orang yang nenda semalam.
gambar diambil saat turun.
(doc pribadi)

Seingatku, kami sampai tepatnya aku sampai di pos ini saat adzan shubuh. 2 jam? Lama ya? Maklum lah sama kaki saya. Hehhee.. KamiΒ  shalat di tempat tersebut dan melanjutkan sesudahnya. Eh, ada yang nenda juga lho di pos itu.

Selepas shelter, tumbuhan di kanan-kiri jalan lumayan membantu. Tidak terlalu berdebu, tetapi harus tetap menggunakan masker, menurutku.

Oiya, kalau di peta jalur basecamp, ada shelter 1, 2, 3. Hhehee…. aku tak terlalu memperhatikan. shelter nya yang mana saja itu. Hanya ingat shelter selamat selamat datang.

***

Jalur Merapi via Selo (doc Ricky Merah)
Jalur Merapi via Selo
(doc Ricky Merah)
  • Jalur Kartini dan Kartono ke Pos 1

Cuaca sedikit bersahabat dengan kami saat itu. Menjelang Pos 1, mulai sedikit gerimis atau hanya embun pagi ya? Agak lupa Ejie. Karena gambar di kamera Ejie, banyak bintik hujannya saat mengambil foto πŸ˜€ .

Karena ke Merapi adalah perjalanan pertama kami, maka kami memperoleh sejumlah informasi tentang jalur dari om Gondrong.

Katanya, menuju ke Pos 1, ada 2 jalur yang bisa dicapai, yaitu:

  1. Jalur Kartini sebelah kiri merupakan jalur regular. Jalur ini cukup landai dan sedikit menanjak. Tetap banyak tumbuhan kanan-kiri dengan jalur tanah dan kerikil.
  2. Jalur Kartono sebelah kanan. Sebenarnya ini adalah jalur alternatif. Cukup memacu adrenalin bagi yang suka memanjat dan perjalanannya lebih singkat untuk yang hobi ngebut. Jalur disini lebih ke bebatuan besar dan terus menanjak juga lumayan curam.

Kedua jalur ini hanya memakan waktu sebentar kok. Mungkin sekitar 5-10 menit buat yang biasa ngebut. Perbedaan lama kedua jalur menurut om Gondrong hanya 5 menit.

Waktu itu, Ejie sudah ambil jalur Kartini, tetapi karena Ejie paling akhir jalan, mata Ejie ngelirik Ricky, Anja dan Erore yang belok ke jalur Kartono. Otomatis Ejie belok dan ikutan.

Kika: Jalur Kartini yang kami lalui saat turunan. Tengah: persimpangan kiri ke jalur Kartini dan kanan ke jalur Kartono. (doc pribadi)
Kika: Jalur Kartini yang kami lalui saat turunan.
Tengah: persimpangan kiri ke jalur Kartini dan kanan ke jalur Kartono.
(doc pribadi)

Pas turun dari puncak, Anja, Erore dan Ejie coba lewat jalur Kartini kok. Lumayan. Kami bersama 3 orang rombongan om Gondrong, yakni Faa dan 2 orang temannya (lupa Ejie).

***

  • Pos 1

Yang menandakan daerah tersebut merupakan pos 1 yaitu sebuah batu besar yangΒ  berasal dari jalur Kartono dan tulisan pos 1 di depannya, antara persimpangan jalur kartini menuju pos 2.

Jalur Kartono yang kami lalui saat naik. Erore gantian menjaga saya. (doc pribadi)
Jalur Kartono yang kami lalui saat naik. Erore gantian menjaga saya.
(doc pribadi)

β€œWah, dasar…. Ejie mah batu. Disuruh ambil jalur Kartini, ehh… malah ikut jalur Kartono. Bandel nih Ejie,” Ky, kumendan tim kami geleng-geleng kepala. Anja dan Erore seperti biasa ketawa-ketawa deh liat Ejie diceramahin.

β€œKan mau coba jalurnya, Ky…..” masih ngeles. Takut ditinggal sendirian Ejie padahal πŸ˜›

β€œLama Ejie, mah…” Ky tetap keukeuh.

Bersama rombongan, kami istirahat dan sedikit ngemil roti dan biscuit untuk mengisi perut. Foto-foto juga donk… hahah

Kiri: Pos 1 setelah jalur Kartini-Kartono. Kanan: Di belakang batu besar adalah jalur Kartono. (doc pribadi)
Kiri: Pos 1 setelah jalur Kartini-Kartono. Di kiri papan pos 1 itu jalur ke pos 2.
Kanan: Di belakang batu besar adalah jalur Kartono.
(doc pribadi)

***

  • Pos 2

Perjalanan Pos 1 ke 2 adalah jalur kesukaanku. Jalur melek yang membuat mataku tak jadi ngantuk, membuatku terus menyunggingkan senyum, karena semuanya jalur batu yang harus dipanjat dengan sesekali merayap atau melompat. TOP!

Entah ya, kenapa suka dengan jalur manjat-manjat begitu? Enak, soalnya membantuku untuk tetap focus dan berkonsentrasi dalam menanjak. Meski sesekali perlu beristirahat karena nafas yang tersengal, tapi aku suka soalnya ngga pedas. πŸ˜€

Oiya, kalau memanjat begitu, saranku sih selalu memakai sarung tangan. Terkadang ada batu yang lumayan tajam kena jemari kita, sakit juga. Atau batunya sedikit kasar. Memakai sarung tangan juga meminimalisir batu yang licin untukku. Apalagi saat itu sedikit gerimis.

Gunakanlah sarung tangan di jalur panjat bebatuan ini :D *iklan jaket, sarung tangan dan sepatu kelhatan ngga ya? ahhaha (doc Ricky Merah)
Gunakanlah sarung tangan di jalur panjat bebatuan ini πŸ˜€
*iklan jaket, sarung tangan dan sepatu kelhatan ngga ya? ahhaha
(doc Ricky Merah)

Di jalur ini pun banyak pilihan, mau yang mudah atau sedikit repot. Maksudnya lumayan sulit manjatnya.

Kalau Ricky Merah selalu kasih pilihan jalan buatku yang selalu bertanya jalur mana yang enak, β€œAmbil jalan yang menurut Ejie gampang dilalui, Jie….”

Seingatku pos 1-2 itu ngga terlalu jauh. Lupa sih… apa karena aku yang keasikan manjatin bebatuan ya jadi ngga ingat waktu? Jam istirahatku juga sedikit kok kalau di jalur begini. Lebih senang meloncat-loncat daripada banyak istirahat. Heheheeee…

Aku yang tadinya di jalur awal tanjakan Selo itu berada paling belakang, sekarang mah sudah di depan dengan diapit Ricky Merah, Anja dan Erore yang tetap bersamaku. Tim yang baik, sayang kalian! πŸ™‚

tanjakan melek menuju pos 2. SERU! (doc pribadi/Ricky Merah)
Tanjakan melek menuju pos 2. SERU!
(doc pribadi/Ricky Merah)

***

Pukul 06.30 WIB

Udara pagi itu berkabut. Matahari tak kelihatan. Sebagian turis yang hobi nanjak yang kami temui di jalur batu itu pun mengatakan hal yang serupa. Mereka tidak sampai puncak, karena kabut yang menutupi jalan dari arah Pasar Bubrah.

Pos 2 ditandai dengan sebuah tugu yang ada di kiri jalan dan tulisan pos 2 nya berada di kanan jalan. Sedikit melewati tugu dan tulisan pos 2, terdapat tanah sedikit lapang, batu besar bertuliskan in memoriam. Dibalik batu tersebut, kami berlindung dari terpaan angin dingin dan memasak sarapan mie-sarung-tangan juga kopi sebagai penghangat badan. Ahahaa…. Baca deh kenapa bisa jadi mie sarung tangan πŸ˜›

Rombongan om Gondrong menyusul dan kami sarapan bersama menanti matahari yang muncul malu-malu dari persinggahannya πŸ˜‰ .

***

Mulai dari nanjak awal di jalur masuk Selo hingga ke pos 2 ini, vegetasi masih rapat. Banyak pepohonan, ilalang, lumut, pohon kecil yang kuat untuk menahan tubuh kita jika udara terlampau dingin dan angin yang berhembus kencang (Ejie lupa namanya. Pernah baca. Nanti dicari lagi deh linknya).

Okeeeeee…. be safety first, guys! (^0^) (jie)

***

Β #ditunggu kelanjutannya pos 2 ke Pasar Bubrah dan apa yang terjadi di tanjakan pasir ke Puncak Garuda ya?

Persiapan masak ceria sebelum kejadian mie sarung tangan. (doc Ricky Merah)
Persiapan masak ceria sebelum kejadian mie sarung tangan.
(doc Ricky Merah)
Foto bersama di tugu pos 2, bergantian. (doc pribadi/Ricky Merah)
Foto bersama di tugu pos 2, bergantian.
(doc pribadi/Ricky Merah)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

11 thoughts on “Merapi-Selo: Tanjakan Pedas bagi Kartono Batu [Part 1]”

    1. wuadeww…
      isna tinggal di Jambi?

      alhamdulillah, latihan sabar kl nanjak itu isna..
      th baru lalu ejie diajakin tmn ke Kerinci, tp ejie lg gabisa.

      kl gt, nanti kl sdh ada hati memanggil ejie ke kerinci, isna bareng ya kesana?? πŸ˜€

      1. hehehe … ane bantu akomodasi aja yak πŸ™‚
        gak hobi naik gunung …
        ya, ane di sungai penuh gan, kerinci

      2. kota terdekat dari gunung kerinci kalo kamu datang dari arah jambi, tapi kebanyakan kalo dr jawa datang dari padang soalnya lebih dekat .. kamu tinggal dimana

        sip, silakan singgah kalo sempat πŸ™‚

      3. ejie di jakarta, isna.
        rata2 temen yg kesana mereka transit ke padang. semua udah cerita sih. tp hati gunung belum memanggil, ejie ngga bisa paksain isna. hehehe

        sungai penuh itu tempat wisata ya?

      4. sungai penuh itu ibukota kerinci, tapi sekarang udah jadi kota sendiri … apa aja yg ada di sungai penuh ?
        silakan intip yah di blog, sebagian udah kutulis disitu πŸ™‚
        salam kenal ya …

      5. waaaa… okee..
        ejie baru follow tp belum sempat baca.
        nanti ejie baca. tenang isna, ejie biasanya paling bnyk komengan tuh. xixixix

        *soalnya sambilan nulis ini ejie, jd sliweran sana-sini πŸ˜€

    1. πŸ™‚ terima kasih juga sudah blogwalking kesini…
      semoga sukses ya nanjaknya turissendaljepit.. versi ending dari tulisan ini belum ejie selesaikan. padahal sudah ada yang nunggu.

      have fun ya? πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s