Menuju Puncak Utama: Hujan Kabut di Puncak Gunung Rakutak [3]

Before:
kelengkapan-pesona-alam-gunung-rakutak-bandung-1/
gunung-rakutak-edisi-jalur-panjang-merunduk-dan-berduri-2/

Perjuangan menuju puncak utama tinggal sedikit lagi.
Sekitar 15-20 menit.
Etapi, senja yang keburu tertutup oleh kabut dan gerimis kecil sudah menghampiri kami.
Jalan ngebut terpaksa dilakukan.
Dan demi mengejar sampai di puncak utama untuk mendirikan tenda, Kangmang dan Kayun yang berada di depanku ngebut.
Sementara Bari dan Arul yang tadinya berada dibelakangku, tetapi karena membawa tenda di carriernya, aku menyuruh mereka  jalan duluan tanpa satupun menceritakan padaku, penghubung apa yang ada antara puncak 2 dan puncak utama.
***
Puncak 2 setelah melewati 8 jam trekking yang kelamaan. wkk... (doc Bari, photo by Kayun)
Puncak 2 setelah melewati 8 jam trekking yang kelamaan. wkk…
(doc Bari, photo by Kayun)

Bandung 1st Day
June 01, 2013

  • Puncak 2

Pendakian dari jalur terakhir di bumi perkemahan ke puncak 2 Gunung Rakutak tercatat pukul 04.52-05.40 WIB. Heheee…. 1 jam ya? Itu rekor waktunya aku lho? Biasalah, selain memang jalannya lambat, kan keseringan nyangkut gara-gara foto ini itu. Yaaaaa…. Kurangin 10 menitlah kalau sama teman-teman lain 😉 .

Kelamaan ya? Memang sih…. Kata Kangmang, normalnya trekking di Gunung Rakutak dari bawah hingga ke puncak utama itu sekitar 4-5 jam saja. Tapi kami 8 jam perjalanan sejak melakukan dari awal naik pukul 09.30 WIB pagi tadi. Ckkkckk… dan 8 jam itu belum sampai puncak utama, baru di puncak 2 saja.

Haiyaaaaahh…. Kami sampai di puncak 2, lagi-lagi aku sebagai urutan paling akhir. Hahaaaaa…. Kebanyakan motret, suka sih aku. Jarang-jarang dapat kesempatan begini soalnya.

Biasanya kan selalu diteriakin suruh cepat jalanlah, ngga boleh lambatlah, jangan jalan dibelakanglah, apalagi kalau kebanyakan foto-foto begitu, uwaaaaahhh….. biasanya gayung bersambut itu sama Berto, teman nanjak yang paling sering suruh aku berjalan cepat. Atau Ricky, yang kalau aku jalan telat, pasti deh ditungguin biar ngga lambat-lambat jalannya. Hahahaa…. Kangen juga sama mereka yang lagi sibuk nanjak sendiri-sendiri dan jauh-jauh.

Nah, sampai di area puncak 2 ini kami hanya 10 menit deh. Mengabadikan kebersaman kami di plang penunjuk puncak 2. Haishhh…. Kamera Ejie yang banyak dipakai jeprat-jepret mulai kehabisan baterai. Dan itu sudah baterai ketiga kalinya ku tukar-pasang sejak dibawah tadi. Boros baterai >_<
*sigh

Tak bisa berlama-lama di puncak 2 itu. Disamping sudah mulai maghrib, kabut dan gerimis kecil mulai menghampiri kami. Dijelaskan Kangmang, puncak 2 menuju ke puncak utama itu hanya sekitar 15-20 menit saja kalau tidak tertutup kabut dan gelap. Berarti perjuangan untuk mendirikan tenda, tinggal sedikit lagi ya? Horeeeeee……. Tiduuuuuuuurrr, ehh… lapar euy 😛

 ***

Jalan penghubung puncak 2 dan puncak utama. Inikah jmbatan Sirathal Mustaqiem? Diambil dengan kamera Nokia tanpa editan. (doc pribadi)
Jalan penghubung puncak 2 dan puncak utama. Inikah jembatan Sirathal Mustaqiem?
Diambil dengan kamera Nokia tanpa editan.
(doc pribadi)
  • Jalan Setapak Tipis

Sepertinya tak ada seorangpun yang mengetahui (atau hanya aku saja yang tak menyadari) mengenai jalanan tipis yang kami lalui saat itu. Jalan ini ada diantara puncak 2 ke puncak utama, seperti jalur penghubung.

Karena diburu kabut putih keabuan dan gerimis, kami mempercepat langkah agar sampai ditujuan. Iya, puncak utama yang kata Kangmang ngga jauh lagi.

Heii…. Lihatlah, jalur itu, tipis sekali. Hanya muat 1 badan! Jadilah Kangmang dan Kayun di depan, aku di tengah, Bari dan Arul mengapit dibelakangku. Dasar bandel ya? Sudah tahu gerimis, jalan yang pas-pasan, tetap saja tanganku usil memotret.  Alhasil, kami ketinggalan jarak dengan Kangmang dan Kayun.

Hei…. Lihat lagi!

Kabut yang tadinya putih keabuan itu berubah warna menjadi kabut biru yang menurutku, so romantic. Jiaaaaaaaahhh…. Kalap deh pengen banget foto kabut biru romantic itu. Bari pun melihat hal serupa denganku. Ditunjuknya 1 buah pohon kering yang berada di depan sisi kiri kami, wuaaaaaahh…. Aku terpana! Indah nian, Allah………. 🙂

Cekrek! Memanfaatkan moment meski foto yang kuambil tak sempurna, namun kapan lagi aku bisa menemukan hal yang jarang kulihat di alam ciptaan Allah ini kan ya?

Kabut biru romantis *may i.. remembering u? (doc pribadi)
Kabut biru romantis
*may i.. remembering u?
(doc pribadi)

Ehh, tiba-tiba saja, gerimis semakin kencang.

“Bari, mereka duluan sudah ada tenda kan di carriernya?” tanyaku.

“Ngga, Jie. Ini tenda semua ada di aku dan Arul,” sahutnya.

“Kalau begitu, susul Kangmang dan Kayun deh. Biar cepat berdiriin tenda. Nunggu Ejie lama ntar, Bari,” ujarku.

“Okeee….. Ejie ngga apa?”

Aku mengangguk.

Arul yang melihatku tak menyiapkan headlamp, segera menyuruhku mengambil senter di carriernya.

“Cek di bagian paling depan, Jie….” ia mengarahkan.

“Ketemu, Rul… gihhh…. Duluan.”

“Ejie sendiri, jangan kelamaan jalannya ya, Jie,” Arul mengingatkan.

Mengangguk untuk kedua kalinya, dan mereka berjalan cepat, lenyap dari pandangan. Sesekali aku masih menyahut panggilan kedua temanku itu yang juga tak mau aku tertinggal terlalu jauh. Saling menjaga, tetap kami lakukan.

Hujan semakin menderas, malam menggelap, serta hanya jatuhan suara hujan yang terdengar di telingaku. Kuputuskan mengambil rain cover untuk menutupi daypackku tanpa mengingat bahwa aku tak menggunakan raincoat.

Menatap jalan di depanku yang minim, kanan-kiri jurang yang tak tampak karena kabut, mencium aroma segar rerumputan, tanah, batu yang diguyur hujan. Okeeeee…. Aku bisa!

Melanjutkan perjalanan sendiri di jalan setapak yang kecil yang berbelok ini. Kabut, hujan, gelap, sedikit berbatu dan terkadang harus agak naik karena ada batu-batu besar yang harus dilalui. Sesekali kuhapus jatuhan air hujan yang menutupi pandanganku. Belum lagi, tanpa diduga, jalannya yang tak sempurna setapaknya tersebut, kadang agak miring ke kiri, sedikit amblas tanahnya. Wuiihh.. bikin aku kaget. Pelan-pelan karena jujur, aku tak bisa berjalan sempurna juga, jika berada dalam gelap apalagi dalam kondisi cuaca demikian. Untung aku menemukan potongan kayu yang membantuku meraba jalan dalam hujan.

Berbekal senter Arul, aku menjalaninya.

***

  • Puncak Utama

Hap, hap, happ!
Langkah-langkah kakiku menapak cepat menyusuri jalan ini. Ingin segera sampai di puncak utama menyusul teman-temanku yang pasti sudah lebih dahulu berada disana. Ingin berlindung dibalik hangatnya tenda, menyeruput secangkir susu dan makan???

Olalaaaa….. baru terasa kalau perutku lapar setengah mampus. Ingat kalau dari siang tadi perutku tak diisi makanan berat apapun. Hanya 2 potong crakers, 3 potong kue gambang, 2 potong wafer, 1 kotak minuman kacang hijau (nya), sepotong coklat dan 1 sachet madu. Maaaaaaaaaaakkk…… lapar kaliiiiiii! 😀

Jalan dengan pikiran yang ikut berjalan-jalan lapar juga itu lucu ya? Jadi mempercepat langkah lambatku ini. Haahhaha…

Tak sadar, saat kakiku menjejak di tanjakkan terakhir yang aku tak tahu dimana, menengadahkan kepalaku, lalu melihat teman-teman yang sedang sibuk mendirikan tenda, lega hatiku. Terima kasih Allah..

Puncak utama!
Sampai sudah, Alhamdulillah…… perjuangan yang tak sia-sia meski memakan waktu panjang, terbayarkan kini. Mencari tempat duduk diantara mereka yang sibuk (maaf ya teman-teman, aku ngga pandai memasang tenda), mataku sibuk mencari-cari cemilan yang tersebar berada di tanah karena mereka membongkar carrier  untuk mengambil tenda. Dapat! Nyam-nyam….. sambil membaginya pada mereka yang mendirikan tenda. Indahnya berteman di gunung ya?

Karena sudah gelap dan hujan pula, tak ada satupun dari kami yang berniat memotret apapun. Bergegas mendirikan tenda dan bernafas lega dengan menghangatkan tubuh didalamnya lebih utama saat itu.

***

Hmm… kangen tenda dan setelah hujan berhenti yang menurut Arul, city view nya indah sekali malam itu. Sayang, tak satupun dari kami yang beranjak dari hangatnya tenda kecuali Arul. Memasak, rebutan isi perut, dan memberikan ruang bagi kehangatan mengalahkan rasa ingin memandang keluar tenda.

Pukul 22.00 WIB
Kesunyian gunung dan ketenangan di sekitarnya, mengantarkan kami pada lelapnya malam yang cerah setelah diguyur hujan. Mencoba menembus langit-langit tenda dengan berselimutkan sleeping bag, menitipkan 1 bintang di langit Rakutak nan sejuk serta mengirimkan do’a padaNya sang pencipta alam bahwa aku berharap ia ada. Selamat malam, bintang…… 🙂

***

Puncak utama Gunung Rakutak, pukul 05.00 WIB dinihari. Penuh biru yang kusuka, bintang... ;) (doc pribadi)
Puncak utama Gunung Rakutak, pukul 05.00 WIB dinihari.
Penuh biru yang kusuka, bintang… 😉 hanya tanpamu.
(doc pribadi)

Rakutak 2nd Day
June 02, 2013

  • Penasaranku pada Jembatan SIRATHAL MUSTAQIEM

Ini adalah pertanyaanku yang kuajukan pada Kayun keesokan harinya (02/06), saat turunan dari Rakutak.

“Sebenarnya yang namanya jembatan Sirathal Mustaqiem itu yang mana sih, Kayun? Ejie masih ngga ngeh…”

Kayun menjawab anteng, “Kan yang kemarin dilewatin pas hujan, gelap dan maghrib itu, Jie…. Jalan tipis yang kita lalui. Itu jembatannya.”

Hoo??? Cengok, nganga, entah apalagi deh itu.

“Puncak 2 ke puncak 1, Jie,” Kangmang menambahkan, juga santai.

Woooooo….. tak ada satupun dari mereka yang memberitahukan perihal jembatan itu kemarin padaku. Sudah melewatinya?? Masih shock. Glekhh! Nelen ludah euy dengar kalimat mereka.

Jadi, jalan tipis, sempit, setapak, 1 badan, berbelok dan agak naik di batu-batu itu, cenderung miring ke kiri dan terkadang ada tanah amblas dan aku jalan sendirian di saat hujan-hujan dan ngga kelihatan jalan itu…… itukah jembatannya?? (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “Menuju Puncak Utama: Hujan Kabut di Puncak Gunung Rakutak [3]”

      1. ayo kita gabung yuk… kapan nehhh ada rencana najak di bandung lagi??? salam KOMPAS komunitas pecinta alam pasundan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s