Mentari Rakutak di Ufuk Ciremai [4]

Before:

kelengkapan-pesona-alam-gunung-rakutak-bandung-1/
gunung-rakutak-edisi-jalur-panjang-merunduk-dan-berduri-2/
menuju-puncak-utama-hujan-kabut-di-puncak-gunung-rakutak-3/

Plang puncak (doc pribadi)
Plang puncak
(doc pribadi)
Menatap langit dari ketinggian tertentu itu sungguh memuaskan jiwa.
Tak harus tinggi untuk melihat biru yang menggebu.
Tak perlu tinggi untuk meraup kebahagiaan.
Tak musti tinggi untuk mendamba sunrise di pagi hari.
Tak wajib tinggi jika ingin menikmati gulungan awan.
Sungguh, tiada seindah rasa yang berkaitan dengan cipataan-NYA.
Nikmati hari yang indah, teman….
Selamat datang biru 🙂
***
Gunung Cikuray dilihat dari Gunung Rakutak. Foto diambil pukul 05.41 WIB. (doc pribadi)
Gunung Cikuray dilihat dari Gunung Rakutak.
Foto diambil pukul 05.41 WIB.
(doc pribadi)

Gunung Rakutak
2nd Day
June 02, 2013

PERCAYALAH…
Semua foto yang ada dalam tulisan ini, akan semakin indah bila dinikmati secara langsung dari atas puncak utama Gunung Rakutak dinihari. Keluarlah dari tenda hangatmu di pukul 05.00 WIB, maka bathinmu akan tersentak.. kagum pada ciptaan-NYA (^o^)
*penikmat langit tak berkesudahan

***

Pukul 04.00 WIB

Saat alarm handphoneku mengeluarkan detaknya yang terjamah hanya oleh telingaku yang bersembunyi dalam hangatnya pelukan sleeping bag, kujulurkan lenganku mengambil posisi nyaman agar dapat menggeliatkan pegal-pegal di ujung kaki dan punggungku.

Kretek! Punggungku berbunyi. Kugeser posisi tidurku yang terlalu ke sisi pinggir tenda tersebut. Hawa dingin menyeruak masuk menghadang daging yang dibasahi oleh guyuran hujan menuju puncak utama Gunung Rakutak kemarin. Kurapikan kuplukku, kulepaskan sarung tanganku, dan omigosh…. pantas saja semalam kedinginan. Tak memakai kaus kaki rupanya. tidur bak ulat yang meringkuk kedinginan. Haiiiissshh..

Kulihat sekitarku, masih gelap, hanya bunyi semilir angin yang masuk melalui sela-sela jaring yang terdapat di tenda. Ingin keluar, tapi masih sepi. Kulihat juga teman di sebelahku, masih nyenyak. Demikian pula tetangga tenda depanku. Hanya kami berlima (Kayun, Kangmang, Bari, Arul dan aku) yang ngecamp di puncak utama Gunung Rakutak ini di ketinggian 1.921 Mdpl. Kami yang berjalan santai hingga trekking 8 jam untuk mencapai puncak utama ini. Pendakian santai bisa jepret sepuasku. Muaahahhaa…. PUAS BANGET!

Rencana ingin bangun pagi dan melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, Situ Ciharus, tampaknya harus sedikit pending. Kasihan juga ingat teman-teman yang masih lelah akibat perjalanan panjang kemarin dan kurang tidur. Aku rasa, di pendakian kali ini, santai memang sudah paduan yang pas deh. Jangan dikutak-katik. Ihihihihi…

Aku mendudukkan badanku, mengerjapkan kedua mataku mencoba menembus gelap yang masih tak menampakkan apapun (atau mataku yang membutuhkan kacamata agar memperjelas penglihatan? 😛 ).

Bosen ihh berlama-lama sendiri, kuputuskan meramaikannya dengan cemprenganku. Wattaaaaaaa…

Pukul 05.00 WIB
“Banguuuunnn! Hayuuu … bosan sendiri sayaaaa. Tetanggaaaaa… Wake up pleaseee,” wkkk Tetiba pada duduk dan bersuara. Cemprengan manjur! 😀

Mencari tissue basah, keluar tenda dan…… hhehe

***

Pemandangan di puncak utama Rakutak (doc pribadi)
Pemandangan dari puncak utama Rakutak
(doc pribadi)
  • Look, The Blue!

Aihh…. MAMAMIA!

Look at the sky. Full of blue. Love u, love u….. ckkckkkk….. memandang langitMu yang sarat dengan biru, aku termangu dalam kesendirian. Menikmati birumu yang aku suka, mengingatkanku padamu, bintang.. 🙂

Biru yang tiada lepas sejauh mata memandang. Biru yang yang tiada tara, yang aku lihat sejak di jembatan Sirathal Mustaqiem kemarin itukah hingga kini terus mengiringi dan menemaniku? Biru yang selalu ada, ibarat dirimu yang bersamaku?
*mauuuuuuuuu

Tiger blue, my 3rd travelmate. (doc pribadi)
Tiger blue, my 3rd travelmate.
(doc pribadi)

Birumu, biruku, biru pemberianmu yang selalu kusuka. Ahhh…… menikmati biru dalam kesendirian. Duduk disini, menikmati biru yang dalam, mengisi bathinku. Nyaman..
*merindukan bintang dalam biru 😉

Aku, sendiri dalam biru menikmati langit romantis diiringi “Groovy Kind of Love” Phil Collins, minus bintang 🙂

***

Deretan gunung diantaranya Tangkuban Perahu (kata Kangmang). (doc pribadi)
Deretan gunung diantaranya Tangkuban Perahu (kata Kangmang).
(doc pribadi)

“Ejieeeee…..” hee? Arul keluar dari tenda. Mengganggu saja, ishhh dah…. 😀

“Bentar ambil kamera. Ejie mau baterai, Rul,” ujarku

“Arul nyiram tanaman dulu ya, Jie….” Ketawa dia. Waakakka.. ikutan ngakak.

Hanya Arul dan aku nih yang sibuk mengagumi indahnya langit pagi itu. Lainnya sibuk di tenda, entah ngapain. Kangmang sepertinya masak karena kedengaran suara gemericik minyak yang meletup-letup.

Arul memanggilku, memberikan batrai yang baru untuk kamera pocketku dan jadilah aku puas memotret (kembali). Bergantian bergaya di tanah datar puncak utama yang tak terlalu luas ini berdua Arul. Mengabadikan si biru dalam jepretan kamera dan video.

Menangkap laba-laba yang menikmati sejuknya pagi. (doc pribadi)
Menangkap laba-laba yang menikmati sejuknya pagi.
(doc pribadi)

Puas?? Belum! Hehehe gangguin Kangmang, Kayun dan Bari si Hamster yang akhirnya keluar juga dari kantung hangatnya. Kami menikmati pagi yang biru, bersama menanti sunrise yang masih merambat naik dari peraduannya.

Laba-laba naik Gunung Cikuray? :D (doc pribadi)
Laba-laba naik Gunung Cikuray? 😀
(doc pribadi)

***

  • Look, it’s Coming!

Huaaaaaa…… sunrise yang cantik. Masih tersembul malu-malu ditutupi gulungan awan yang tebal. Tak secara langsung. Beranjak sedikit demi sedikit.

Ketika mentari mulai menampakkan cahayanya. (doc pribadi)
Ketika mentari mulai menampakkan cahayanya.
(doc pribadi)

Pukul 06.01 WIB
Baru kali ini diam tak bersuara menikmati sunrise yang akhirnya menampakkan sisi kuning orange terangnya. Cerah sekali!

Kiri: Gunung Guntur, kanan: Gunung Cikuray. (doc pribadi)
Kiri: Gunung Guntur, kanan: Gunung Cikuray.
(doc pribadi)

Dan lihat!
Sunrise kuning orange bak sunkist yang segar itu hadir…… Subhanallah..

Sunrise yang kupotret di pukul 06.01 WIB. Keluar dari peraduannya di ufuk Gunung ciremai yang belum pernah kudaki. (doc pribadi)
Sunrise yang kupotret di pukul 06.01 WIB. Keluar dari peraduannya di ufuk Gunung ciremai yang belum pernah kudaki.
(doc pribadi)

Dia muncul dari balik Gunung Ciremai yang masih menggelayut awan putihnya di puncak gunung itu. Menyinari kami diatas Rakutak ini. Ceria! Mari… mari sambut pagi dengan suka-cita, teman-teman… 🙂 (jie)

***

2 tenda, cukup... (doc pribadi)
2 tenda, cukup…
(doc pribadi)
Gantian foto sama Arul (doc pribadi)
Gantian foto sama Arul
(doc pribadi)
Rakutak yang romantis? (doc pribadi)
Pemandangan dari Gunung Rakutak yang romantis? Dikelilingi deretan gunung Malabar dan sekitarnya.
(doc pribadi)
Arbei orange yang asam manis segar, cikuray dibalik bunga apa itu dan deretan gunung dalam bentangan awan. (doc pribadi)
Arbei orange yang asam manis segar, cikuray dibalik bunga apa itu dan deretan gunung dalam bentangan awan.
(doc pribadi)
Jajaran gunung di Bandung.  Mana yang belum didaki? (doc pribadi)
Jajaran gunung di Bandung.
Mana yang belum didaki?
(doc pribadi)
Entah harus bilang apa... (doc pribadi)
Entah harus bilang apa…
(doc pribadi)
Langit-Mu.... (doc pribadi)
Langit-Mu….
(doc pribadi)
Bari si hamster :P (doc pribadi)
Bari si hamster 😛
(doc pribadi)
Kangmang si kerikan (doc pribadi)
Kangmang si kerikan
(doc pribadi)
Kayun si jagoan (doc pribadi)
Kayun si jagoan
(doc pribadi)
Arul si narsis juga (doc pribadi)
Arul si narsis juga
(doc pribadi)
Ejie si paling telat (doc pribadi)
Ejie si paling telat
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “Mentari Rakutak di Ufuk Ciremai [4]”

      1. Jadi ngiri nih Jie. Kayanya asyik banget ya bisa mantengin sunrise dari puncak gunung. Eh itu Gunung Rakutak di sebelah mana ya? Kalau mau trekking ke sana, naik dari mana?

      2. itu ada 4 tulisan yg kata temen ejie bnyk bgt serinya ejie ttg rakutak…
        wkkkk…
        ejie bahas dari awal kok, chris…

        asik kesana. seru… coba deh dibaca dari awal.

        masuk dari desa sukarame, kec. pacet.

      3. selamat membaca chris…. 🙂

        gmn tanggepannya?
        jalannya yg ribet itu cm di bagian merunduk aja si..
        jd kl kesanan ga usah bawa carrier yg gede biar ga riet, chris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s