Hitchhike Cirebon-Pekalongan: Ujian Kedua [4]

(doc by Erick Samuel)
(doc by Erick Samuel)
Duduk bukan saja diam, tetapi menelurkan ketertinggalanku yang belum melanjutkan cerita hitchhiking to seperempat Jawa Tengah.
Kini aku menuliskannya kembali, kisahku ke kota selanjutnya, Pekalongan.
***
Prepare di salah satu mini market sembari charge handphone. (doc pribadi)
Prepare di salah satu mini market sembari charge handphone.
(doc pribadi)

Before:
hitchhike-by-myself-to-jawa-tengah-prepare/
tentang-aku-yang-berhitchhiking-2/
hitchhike-jakarta-cirebon-rekor-terlama-hitching-3/

Untuk melihat foto lengkap, klik ini –> https://www.facebook.com/media/set/?set=a.299947580122750.70738.100003225317995&type=3

***

Rabu, 28 November 2012

  • Persiapan Hitching

Menurut info Ecy, teman sekolahku tempatku akan menginap nantinya, perjalanan Cirebon-Pekalongan hanya memakan waktu 2-3 jam. Itu bila tak ada hambatan selama di perjalanan.

Berdasarkan info tersebut, aku yang saat itu mengaso di sebuah mini market Terminal Harjamukti, bermaksud “sedikit bandel” dengan melanggar pesan Bayu untuk tidak berhitchhike malam hari.
*maaf ya Bay…. 😀

Menghabiskan waktu maghrib, aku mempersiapkan perlengkapan lainnya. Mengeluarkan tulisan “Numpang Pekalongan”, memotretnya untuk dokumentasiku, mencatat detil perjalanan pada notes yang telah kusiapkan.

Selain itu, aku mancharge baterai handphone yang sudah sekarat. Tentu saja gratis… tiiiiss…. tiiiiss… ini penting sih, agar tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang memantau perjalanan Ejie. Heheeehe…

***

  • Start Hitching

Pukul 19.00 WIB
Berjalan ke arah Pos Polisi Harjamukti pada persimpangannya. Banyak kendaraan yang salah satu tujuannya adalah Pekalongan. Atau kalau tidak mau pusing ya, tundukkan saja wajahmu, liat setiap plat mobil yang lewat disana. Gampang kan? 😉

Catatan 7: Perhatikan plat kendaraan untuk memudahkan tujuanmu. Sebelumnya ya hafalin donk kode wilayah mobil per daerah. Kalau perlu buat contekan. Ihhihih

Aku berbincang pada pak Rois, Polisi yang sedang bertugas saat itu. Izin padanya untuk mencari tumpangan pada perempatan lampu merah tersebut.

“Boleh kok,mba… silahkan saja. Mau kemana? Bukan berasal dari daerah sini ya?” tanyanya.

“Dari Jakarta mau ke Pekalongan, Pak,” kataku. Mengalirlah cerita mengenai komunitas HHI-ku.

“Wah, ada ya mba komunitas begitu? Setahu saya, disini kalau mau numpang tinggal lompat saja. Ngga perlu izin ke pengemudi. Apalagi kalau mobil jenis bak terbuka. Tidak ada tuh yang seperti mba Ejie ini.”

Catatan 8:

  • HHI ada juga lho peratuan tak tertulisnya. Pendapatku, komunitas ini ada tata kramanya. Nego (berbincang gesit) di awal dengan pengendara mobil tentang bolehkah menumpang, menanyakan arah tujuan dan jumlah orang jika kita berada dalam tim, membuat HHI adalah komunitas menumpang yang mempunyai etika. Tidak sedikit pengendara yang mengacungkan jempolnya tanda setuju dengan aturan tak tertulis tsb. Salah satunya yakni Abednego/, pengendara yang mengangkut aku dan om Harr dari pintu tol Mohammad Toha, Bandung di edisi terdahulu.
  • Kesopanan akan membawa pada keberuntungan perjalanan hitchhike.

Singkat cerita, aku memulai perjuanganku untuk dapat mencapai Pekalongan dengan target sebelum pukul 01.00 WIB dinihari, tiba di rumah Ecy… 😀

***

  • Mari Berandai-andai

Jika pukul 20.00 WIB aku memperoleh kendaraan hitchhike sekali jalan ke Pekalongan, ditambah (taruhlah waktu terlama) 1 jam menanti kendaraan dengan perkiraan jalan yang lancar, berarti pukul 00.00 WIB akan tiba di tujuan.

Tetapi jika ada hambatan semisal macet (misal 1 jam), maka pukul 01.00 WIB aku baru tiba di Pekalongan.

Wahhh…. Aku harus memberi kabar pada Ecy agar ia tidak terus menunggu kedatanganku.

Segera kulayangkan pesan padanya, “Ecy, kemungkinan Ejie sampai disana sekitar pukul 01.00 WIB atau paling telat pukul 02.00 WIB deh. Sementara Ejie jalan, istirahat saja daripada nungguin ngga jelas waktunya.”

“Oke, tapi selalu kabari posisi Ejie ya? Hati-hati di jalan, Jie. Soalnya sudah malam begini. Bahaya,” keukeuh memantau perjalananku.

“Iya, siap!” kuselipkan emoticon senyum di SMS penutup sebelum ku-off-kan telpon genggamku.

***

  • Cerita Lucu
Ayu yang khawatir melihatku duduk di pinggr jalan dengan membawa tulisan "NUMPANG". (doc pibadi)
Ayu yang khawatir melihatku duduk di pinggr jalan dengan membawa tulisan “NUMPANG”.
(doc pibadi)

Ada yang lucu deh di kala aku menunggu kendaraan. Karena pegal berdiri, aku duduk di pinggiran trotoar sambil tetap memampangkan tulisan numpang. Tak lama, seorang gadis berjilbab yang kutahu namanya setelah bercerita, Ayu, menanyakan tujuanku yang hendak kemana. Ia kasihan padaku karena malam-malam mau numpang.

“Mba maaf ya? Mba tujuannya mau kemana?” nada penasaran.

“Pekalongan,” singkat tak lupa senyum.

“Sudah malam, mba. Aku sebelumnya minta maaf, mba kalau ngga ada tempat bermalam, boleh kok ke rumahku. Besok pagi saja dilanjutkan perjalanannya. Atau mba kehabisan ongkos ya? Maaf, mba… Aku bukan bermaksud apa-apa, tapi kalau memang begitu, aku mau kok bantu mba untuk naik bus. Biar aku yang bayarin, mba. Aku ikhlas,” Ayu berbicara panjang.

Ngaga edition!

Tentu saja. Tersadar, aku tertawa dalam hati. Olalaaa…. pasti gara-gara aku ngejogrok duduk di pinggiran jalan dan “numpang” nih yang membuat Ayu berpikir demikian. Aku akhirnya menjelaskan maksud dari perjalananku ang akhirnya ia mengerti.

“Ooo… mba lagi bertualang? Aku minta maaf ya mba, tapi aku benaran kok. Kalau mba mau cepat sampai, biar aku bayarin. Ngga apa, mba..” Ayu kembali menawarkan kebaikannya.

“Ayu, makasih ya? Tapi bukan itu yang Ejie mau. Ini karena penasaran saja ngejalaninnya dan karena ingin menulis. Jadi Ayu tenang saja. Ejie pasti berhasil sampai di tujuan. Yakin!” tegas aku berkata.

Ayu yang pengusaha muda dengan berwiraswasta ini tersenyum dan kami bertukar alamat sosial media! Wkkk

Terima kasih Ayu yang baik…. semoga usahamu lancar jaya ya, seperti petualangan Ejie ini…. 😉

***

  • Sekali Jalan, Super!

Lelah bukan pada tubuh, tapi lebih kepada mata, cukup berat bagiku. Kalimat bijak bilang, kerja keras itu akan sepadan dengan hasil yang diperoleh. Setuju! Dan aku mendapatkan kendaraan super ke Pekalongan berkat usaha tak kenal mundur ini. Hihhii…. Ingat perjuangan Jakarta-Cirebon. Kini pun aku tetap diuji kesabaran.. 🙂

Entah, sudah kendaraan keberapa yang menolakku meski beberapa dari pengendara bertanya apa alasanku menumpang. Kujawab sopan meski letih. Tak hanya itu, tanpa membuka kaca jendela mobilnya, sebagian dari mereka hanya melambaikan tangannya saja saat kuangkat tulisan “NUMPANG PEKALONGAN” itu. Tak kecewa kok, apalagi patah semangat. Bukan akuuuuuu…. 😀

Jalur pantura ini memang incaran hati hitchhikingku sejak mengikuti Backpacking Race lalu. Ada sesuatu yang memaksa adrenalinku agar terus memacu bahwa aku takkan kalah hanya dengan ditolak hitching pada sebuah kendaraan. Banyak kendaraan lain yang lalu-lalang di perempatan itu. Mosok tak satu kendaraan pun yang berhasil aku dapatkan. Pasti bisa! Ahaaayyy…..

Sebenarnya, kadang bukan karena ditolak, tapi saat nego, aku harus izin dan berbicara pada si pengendara. Waktu yang kupunya tak cukup banyak mengingat menit pada traffic light tersebut.

Horeeee…. 10 menit dari target perjalananku dapat kendaraan di pukul 20.00 WIB akhirnya terkabulkan. Niat baik dan positif thinking itu selalu menyertaiku.

Truk tronton yang kutumpangi dari perempatan Pos Polisi Harjamukti. (doc pribadi)
Truk tronton yang kutumpangi dari perempatan Pos Polisi Harjamukti.
(doc pribadi)

Yeaapp… sebuah truk Semen Tiga Roda yang berisi seorang supir dan asistennya, bersedia menampungku dalam kendaraannya. Langsung ke Pekalongan. Aku segera mengabari Ecy mengenai kendaraan yang berhasil ku naiki.
*loncat-loncat dalam hati

Truk yang kutumpangi ini jenisnya tronton dengan ban depan 1-1 dan ban belakang 5. Truk ini mengangkut semen tujuan dari Cirebon-Palimanan-Purwodadi. Kalau muatan penuh, maka kecepatan yang diizinkan untuk berjalan adalah 40km/jam.
*bisa bayangkan seperti apa rasanya aku dalam perjalanan itu kan? Wohoooo…

Tronton ini biasa membawa 40 ton semen jika permintaan penuh dari customer. Karena saat itu muatan tidak 40 ton, jadilah mereka bisa mengangkut Ejie buat menggenapkannya. Waaakkakka…

Alasan mengangkut Ejie itu ada 3 nih:

  1. Kasihan [lagi ya? 😉 ]
  2. Perempuan [lagi?]
  3. Sudah larut, ketemu Ejie yang numpang pula? Xixiiixi….

Kebayang ngga seperti apa tanggapan mereka pada Ejie ketika itu? Salah kalau teman-teman yang baca cerita Ejie berpikiran negative. Justru mereka sangat jauh dari pikiran tersebut. Mengejutkan ngga sih?!?? Ejie pun iya, kaget dengan jawaban mereka.

“Mba, nolong orang itu ya wajar tho…. Kalau kata mba, mau naik atau ngga di suatu kendaraan, saya pun demikian, mba. Ngga mungkin asal ajak orang naik juga. Takut juga kalau ada apa-apa di jalan. Tanggungjawab kami pada tempat kami bekerja juga ada,” Pak Andi mewakili menjawab.

Dari obrolan kecil tadi, melebarlah kepada kisah kehidupan yang tak mungkin aku jabarkan disini.

Satu alasan yang tepat. Melihatku di jalan, mengingatkan mereka pada keluarga dan pengalaman lalu mereka yang juga pernah merasakan menumpang.

Catatan  9: feeling di awal menentukan untuk kita melangkahkan kaki. Apakah akan naik kendaraan tersebut atau tidak. Mungkin harus banyak praktek untuk mendapatkan feeling itu. Hohooo..

Satu hal yang tetap kuingat yaitu aku tetap berteman dengan Andi (supir) dan Adit (asisten) yang kini pun si asisten telah membawa kendaraan sendiri dan mempunyai asisten pula. Hhaaa…

Iya, kami berteman di salah satu media social. Ia juga join di komunitasku. Berteman boleh dengan siapapun tanpa memandang status social seseorang, kan? Ini berlaku padaku.
*mari berteman…. 😀

Catatan 10:

  • Berbicara yang sopan, berbuat baik, berbagi cerita akan membuatmu mengerti sebagian dari kehidupan lain diluar zona nyamanmu yang selama ini ada di ruang lingkupmu.
  • HHI mengajarkan untuk berbagi, jadi lakukanlah tidak dengan terpaksa, namun senang hati.
  • Posisikan dirimu berada pada suatu kehidupan lain, akan semakin membuatmu mensyukuri atas kehidupan yang telah kamu peroleh.

***

  • Hasil Pantau

Meskipun banyak kendaraan yang berlalu-lalang di sekitar lokasi, jarang orang mau mengangkut khususnya pengendara kendaraan pribadi. Walaupun sudah berbicara sopan, belum tentu pengendara mau mengajak. Jika menemukan kondisi seperti ini, jangan patah semangat ya? Usaha terus saja. Tapi kalau ngga tahan ya, beralih dengan ala backpacker pun tak salah. Kalau Ejie pribadi kan memang PENASARAN mencoba dan waktu liburnya panjang, jadi menikmati saja semua prosesnya 😀

Oia, di perempatan Terminal Harjamukti, rata-rata yang mau mengangkut adalah jurusan terdekat (KANCI). Truk atau mobil pick up pun belum tentu mau memberikan tumpangan jika sedang membawa muatan penuh.

***

  • Cerita Kota dan Ban Pecah

Pukul 21. 28 WIB

Posisi di Kabupaten Brebes. Aku tak terlalu memperhatikan perjalanan karena mengobrol dengan keduanya. Berbicara mengenai apapun. Pak supir yang berusia 25 tahun itu lebih konsentrasi pada kendaraan, mengingat malam itu jalur pantura terlihat lebih ramai menurutnya. Disamping itu, karena bawaan semen yang akan diantarkannya, membuat truk tak bisa melaju cepat.

Hihiii… kami melewati jajaran telur bebek asin yang terpajang di sepanjang perjalanan.

“Mba ngga mau mampir beli telur asin?”

“Ngga, Pak. Saya kan pulangnya masih lama. Nanti jadi berat bawaan,” sahutku.

“Oia, si mba kan mau naik gunung ya?” tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari jalan di depan kami.

“Iya, pak.”

Ia kembali berkonsentrasi, sementara Adit dan aku meneruskan perbincangan ringan.

Catatan 11: selalu memanggil pak, kak, mas pada pengendara untuk tetap menghormati mereka, apapun jenis kendaraan yang ditumpangi.

Pukul 22.30 WIB

Uhuuuuyy….. Tegal.

Huaaaaww…. Kalau saja ini adalah perjalanan di siang hari, pasti aku akan berhenti di tempat ini. Aku penasaran dengan air panas  Guci Tegal yang kulihat di brosur yang kubawa dan kusearching sebelum petualangan dimulai. Dan aku penasaran juga dengan tulisan temanku Sam di blognya yang bisa berendam di saat matahari telah terbenam. Ehehehe….. ada yang yang buka malam-malam begitu hanya untuk berendam di air panas?? Penasaran!

Sayangnya, karena aku berada di Tegal malam hari, tak mungkinlah aku nekad turun untuk mencari air panas tersebut. Etapi, keinginanku itu terlaksana kok ketika aku nanjak Gunung Slamet bersama teman-teman mendaki (tulisannya belum ada ini. Sabar ya?).

Cerita kedua dari Adit, di Tegal itu ada pantai yang pasirnya bagus buat dikunjungi untuk orang-orang seperti Ejie.

“Ngga bakalan nyesal, mba….” Adit pomosi. Heheeh

Sayang lagi ya? Aku tak bisa turun deh untuk hasrat bermain pasir pantai yang bikin aku ngiler. Lain kali, pasti aku akan mampir ke Tegal.

Ban yang kempes dan agak bocor. Karena ngantuk, aku mengambil gambar dari atas truk. (doc pribadi)
Ban yang kempes dan agak bocor.
Karena ngantuk, aku mengambil gambar dari atas truk.
(doc pribadi)

Pukul 22.38 WIB

Hmmm…. Ternyata pusat kemacetan dari jalur ini berada di sekitar Pos Polisi Krandon Tegal, Pemalang (benar ngga ya? Agak lupa ni Ejie 🙂 ). Kemacetannya ini hampir memakan waktu selama 1,5 jam.

Jalur jembatan yang tadinya ada 2, sebelahnya sedang dalam masa perbaikan.

“Jalannya lagi di cor, mba… macet nih,” terang Adit.

Aku yang sudah mulai terkantuk-kantuk tapi takut tidur, melayangkan pandangan keluar jendela. Ckkkckk… pemandangan luar biasa menyangkut macet ini, mobil selalu berlomba-lomba ingin saling mendahului agar tak terjebak macet. Hasilnya??? Bisa dibayangkan bukan? Semakin menambah keruwetan jalan. Pffftt~

Behhh… malam yang merayap lambat, mata yang mulai tak mau kompromi, kaki yang mulai terasa pegal karena tak dapat selonjoran, angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela yang dinginnya menusuk tulangku meski jaket, kupluk, sarung tangan dan syal telah kupakai, aku tak bisa bersahabat dengan dingin. Cocok! Err~

Tersentak ketika truk yang kutumpangi tiba-tiba berhenti dan Adit yang permisi mau turun karena posisi dudukku yang dekat jendela menghalangi jalannya.

“Permisi sebentar ya, mba…. Mau lihat kondisi ban nih. Sepertinya pecah,” ujarnya.

Bergeser dan ikut turun memperhatikan pak Andi dan Adit yang disibukkan dengan mengecek ban truknya. Butuh waktu 20 menit, akhirnya selesai dan kami melanjutkan perjalanan.

***

Touchdown di lokasi pilihan Ecy. (doc pribadi)
Touchdown di lokasi pilihan Ecy.
(doc pribadi)
  • Touchdown Pekalongan

Sudah berapa banyak bahan cerita ya yang kami perbincangkan di truk itu? Aku sampai lupa saking banyaknya obrolan.

Mendekati Pekalongan, Pak Andi memberitahu bahwa perjalanan akan segera berakhir. Maksudnya, aku yang sudah mau sampai di tujuan. Mereka baik sekali. Aku disuruh menghubungi Ecy untuk Tanya dimana aku akan dijemput, biar bisa menurunkan aku nantinya di tempat aman.

“Nanti kami tunggu sampai teman mba jemput,” kata Pak Andi.

Aku menghubungi Ecy dan ia mengarahkanku untuk berhenti di Hotel Istana, jalur yang memang juga biasa dilalui oleh kendaraan yang mau ke kota selanjutnya.

“Hotel Istana, katanya, Pak…”

“Ooo… kami lewat jalan itu kok, mba. Kabarin temannya 25 menit lagi sampai. Mending jalan sekarang dari rumah,” kata Pak Andi.

“Baik, pak,” aku memberikan informasi tersebut pada Ecy.

Kami sampai duluan di lokasi yang ditentukan. Seperti janjinya, Pak Andi dan Adit menemaniku hingga Ecy dan Rio, suaminya datang menjemputku. Aku mengucapkan terima kasih atas tumpangan yang diberikan kedua orang tersebut dan berpisah.

Kii-kanan: Ecy, Rania (anak ke3) dan Rio (suami). (doc pribadi)
Kii-kanan: Ecy, Rania (anak ke3) dan Rio (suami).
(doc pribadi)

***

  • Kata Hatiku

Sungguh ya, aku sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik dalam petualangan hitchhike edisi sendiri ini. Perjalanan yang membuatku merasa bersyukur atas tiap pelajaran dan pertemanan yang kuperoleh.

Nasihat dari Pak Andi dan Adit pun tak lepas dari catatanku, selalu menjaga diri dimanapun aku berada. Ini berlaku untuk semua kaum, walau tetap, kaum hawa adalah prioritas dari nasihatnya tersebut.

Terima kasih ya Pak Andi dan Adit…. Semoga berkah rezeki menyertai setiap langkah kebaikan yang kalian tebar… Amin YRA. (jie)

***

Wellcome drink... hot tea and chocolate brownies. Thank's Ecy ;) (doc pribadi)
Wellcome drink… hot tea and chocolate brownies.
Thank’s Ecy 😉
(doc pribadi)
(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

12 thoughts on “Hitchhike Cirebon-Pekalongan: Ujian Kedua [4]”

    1. heheehe…

      salam kenal myra 😀
      ini tulisan ke4. sebelumnya juga ejie kasih kok linknya kl mau baca.

      atau di kategori Rp 0,- dan Hitchhiker Indonesia juga bnyk petualangan NOL RUPIAH.

      maksi ya udah mampir dan baca tulisan ejie, myra 😉

  1. wah kemarin pernah nyoba nebeng, emang agak susah untuk nebeng mobil pribadi kemarin yang mau nebengi mobil petugas PLN

  2. Selalu asyik baca petualangan Ejie.
    Ngomong-ngomong itu pantai yang di Tegal, terakhir ke sana sih agak kotor Jie. Jadi agak gak nyaman gitu buat main-main di pasirnya.

      1. Nama pantainya itu Pantai Alam Indah. Nah kan ketahuan kalau Ejie gak teliti bacanya :P. Kan Ejie sudah sempat kasih komentar juga di postingan aku yang mengenai pantai itu, Jie. Lupa ya?

      2. aaa? udah ya chris? ejie lupa…

        dari minggu kemaren ejie kebanyakan isi nih otaknya, sampe ejie lupa mau ngapain aja.
        maaf ya chris… 😀

        kerjaan ktr lg numpuk juga.. hhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s