Hitchhike Ngaliyan-Muktiharjo Lor Semarang: Curiga Identitas? [9]

(doc by Erick Samuel)
(doc by Erick Samuel)
Informasi awal, Ejie mencari Simpang Lima Semarang, tempat Primus akan menjemput.
Walau sering mendengar namanya, seingatku sih belum pernah kesana.
Entah, Ejie  lupa.
Ternyata, lokasi penjemputan berubah seiring dengan tujuan dari kendaraan yang kutumpangi berikutnya.
Takut ngga ya beda dengan nego di awal naik?
Ayo, ikutin donk petualangan Ejie ini.
Lumayan repot karena pengemudi takut padaku, lho kok?!?
Ingin tahu identitas Ejie juga, dan…. wohooooo…. ini pengalaman yang belum pernah ditemui sekalipun selama berhitchhiking secara tim maupun sendiri.
Ada apakah?? Penasaran?
Kemon baca, temans… 😉
***
Lanjut hitching ke Muktiharjo. (doc pribadi)
Lanjut hitching ke Muktiharjo.
(doc pribadi)

Before:

hitchhike-by-myself-to-jawa-tengah-prepare/
tentang-aku-yang-berhitchhiking-2/
hitchhike-jakarta-cirebon-rekor-terlama-hitching-3/
hitchhike-cirebon-malang-ujian-kedua-4/
bonus-hitchhike-pekalongan-museum-dan-taman-batik-5/
bonus-rp-0-kuliner-pekalongan-bakso-kepala-sapi-6/
bonus-hitchhike-pekalongan-pantai-ujung-negoro-kulon-batang-7/
hitchhike-batang-ngaliyan-semarang-truk-nasihat-8/

***

Semarang, Desember 1st, 2012

  • Cari Informasi

Turun di lampu merah depan pom bensin itu, sebenarnya banyak kendaraan umum berupa bus lho yang lalu-lalang disana. Bapak di perjalananku sebelumnya juga menyarankan sebuah bus jika ingin naik kendaraan berbayar. Tapi dasar penasaran yang tetap besar, Ejie mengukuhkan untuk tidak berputus-asa dahulu sebelum berusaha. Dan hari masih terang kok. Kesempatan untuk mencoba hitchhiking juga masih panjang. Mau bersantai-santai menikmati jengkal hitchinganku nih. Hahahaaaa….

Menyeberang dan satu petugas pom bensin kuhampiri untuk bertanya arah yang dimaksud.

“Pak, kalau mau ke arah Simpang Lima itu kemana ya?” aku memulai pertanyaan.

“Lewatin jembatan di depan, mba. Nanti ada busnya kok disana. Warna kuning. Naik dari depan sini juga bisa kalau mba mau. Tapi bahaya, mba, ramai. Sebaiknya di jembatan sana saja,” si bapak mengarahkan.

“Baiklah, terima kasih ya pak.”

Catatan 14: Cari dan catatlah setiap informasi sebelum melanjutkan perjalanan. Jangan sampai kita tidak tahu sama sekali. Jangan mengacuhkan hal kecil.

Jembatan hijau setelah Polsek Ngaliyan. (doc pribadi)
Jembatan hijau setelah Polsek Ngaliyan.
(doc pribadi)

Meninggalkan pom bensin dan melewati Pos Polisi Ngaliyan. Ejie izin duduk sebentar untuk meringankan beban pundak dan pinggang yang mulai pegal. Salah seorang petugas polisi malah menyuruhku untuk masuk dan duduk di posnya yang adem. Kembali aku terlibat pembicaraan mengenai arah, maksud dan tujuanku.

Tepat! Tanggapan yang sama dari tiap orang yang mendengar ceritaku. Ngga mungkin? Yeapp, selalu begitu. Tetap saja orang menganggap Ejie itu aneh, nekad, berdecak “cckckcc”karena berwisata dengan cara menumpang dan sendirian dan… PEREMPUAN PULA??! Hmm… lama-lama, sudah mulai terbiasa dengan kalimat-kalimat itu. Mari lanjut jalan.. 🙂

Menuju jembatan bercat hijau di seberang jalan, melewati sebuah masjid (Ejie sedang off shalat) dengan berjalan kaki santai dan keterusan jalan! Hhe… bukan sengaja sih, tapi kepengin menikmati saja.

Masjid setelah jembatan hijau, disisi kanan jalan. (doc pribadi)
Masjid setelah jembatan hijau, disisi kanan jalan.
(doc pribadi)

Daerah itu cukup ramai, mengingatkanku pada Jakarta. Ahh.. Ejie belum kangen Jakarta waktu itu, soalnya masih membuncah rasa semangat hitching yang Ejie sendiri merasa amazing bisa mencapai sejauh ini. Sudah berapa mil ya Ejie dari Jakarta? Kalau diingat lagi, tekad kalau sudah bulat itu, hebatnya bisa memuaskan keinginan yang tersimpan dengan bumbu PENASARAN.
#ihiiiiiww.. sok ngerti

Jalan kaki Ejie ini terus berlanjut hingga ke pertigaan depan dimana ada jalan tol di sebelah kanan. Nyeberang lagi deh, ada pak polisi tuh yang bertugas. Seperti biasa, untuk meyakinkan diri, Ejie bertanya lagi tentang Simpang Lima itu.

Tiba-tiba jadi kepikiran sama om harr Sean dan kawan. Mereka kalau ditanyain terus, pada malas tuh jawabnya. Katanya Ejie cerewet, rempong (repot, red), banyak nanya. Padahal, malu bertanya, sesat di jalan kan ya? Mending cerewet daripada nyasar. Xixiixiiiii… Ejie suka ahh ngerepotin mereka itu. Biar rame! 😛

20 menit Ejie jalan, ada sebuah mobil pick up putih nih yang lagi beres-beres barang di depan Ejie. Ehh, ketarik usil pengin nanya [lagi] sih, sambilan ngarep siapa tahu dibolehin ikut mobilnya.
#otak hitching, tet toooooott..

Bla…blaaaa ngobrol sedikit saja soal Simpang Lima, lalu?? Asik ahh, tarik JEMPOL naik kendaraannya. HOREEEEEEE….. hitching kembali ke Simpang Lima! Yippiiiiieeee….

***

  • Cerewet di Mobil, Dicurigai dan Mana Identitas?
(doc pribadi)
(doc pribadi)

Bukan asal cerewet lho. Ini karena si bapak  yang hobi nanya. Banyak banget yang ditanyakannya sehingga harus cerewet Ejie di mobil ini.
#maaf ya, catatan Ejie hilang, jadi lupa namanya dan kontak di no HP Ejie juga ikut hilang gegara HP yang restart sendiri. Padahal ada nomor kontak si bapak.

Tapi dari cerewet ini, si bapak yang masih berusia 30-an tersebut, jadi takut katanya sama Ejie. Lho, kenapa?

“Kata orang, semakin banyak bicara seseorang itu, semakin pintar menjawab pertanyaan, semakin bahaya. Aku takut lho dengan orang seperti ini, mba. Apalagi mba cakep,” si bapak komentar, menyetir sambil agak melirik ke tempat duduk sempitku.

Iya, aku dapat mobil pick up putih yang mini ini. Duduk saja perlu diatur biar ngga kesemutan. Bersebelahan dengan temannya yang berambut gondrong dan sering senyum-senyum melihat aku yang selalu menjawab pertanyaan si pengemudi yang tampaknya setengah tak percaya dengan jawaban-jawaban lugas ala kubercerita. Posisi duduk yang harus berbagi dengan barang yang ada disampingnya dan dibawah kaki kami, membuatku harus pandai mengatur duduk.

Hoo?? Haahhaa… Ejie cakep ya bukan cantik? Okelah Ejie terima. Sampai si bapak bertopi putih inipun ngga rela sebut Ejie cantik saking gagahnya kali yak?!?? Bruakakakakakk
#mingkem

“Lhaaa… Ejie kan banyak bicara karena ditanya. Kalau ngga yah, Ejie juga pasti akan cerita. Lihat-lihat lawan bicaranya seperti apa dulu, pak. Sekiranya seperti bapak yang demen (suka, red) banget nanya, Ejie ya berusaha menjelaskan saja. Maaf kalau Ejie cerewet. Lagian kenapa bapak mau tadi mengiyakan sewaktu Ejie tanya boleh numpang?” nyengir.

Lagi, mas yang duduk disebelahku itu, senyum-senyum, ngga berani ikutan nimbrung kayaknya.

“Sebelumnya, saya ngga pernah mba, ngajak orang (numpang, red) di mobil ini. Soalnya biasanya penuh sih mobil saya. Ngga pernah berpikir juga kalau suatu saat ada orang mau numpang. Ini kan mobil sayur, mba. Kecil dan sempit. Apalagi, mba gayanya ngga cocok tuh numpang-numpang, perempuan, lagi. Wajar kan saya takut. Banyak modus kejahatan, mba. Hipnotis, misalnya. Seperti berita di tv,” tetap fokus pada jalan.

“Ohh… bukannya seharusnya Ejie yang takut ya naik kendaraan bapak?” aku balik bertanya.

“Kenapa?”

“Dari tadi, bapak nanyanya lebih banyak dari kendaraan lain yang pernah Ejie tumpangi. Belum lagi, ini (menunjukkan identitasku yang keempat kalinya dilihat olehnya). Harus berapa banyak identitas yang mesti Ejie keluarkan, pak? Bapak juga ngga ada sama sekali menunjukkan identitas bapak dari tadi. Padahal bisa saja Ejie ngga kasih identitas ini, soalnya bapak juga ngga mau jujur. Hayoooo…” balik menembak si bapak.

Tuhh…. nyengir ngga enak dia. Dikembalikannya kartu identasku sambil tetap agak “tak mau mengakui kekalahannya?”

Percaya ngga? Baru kali ini Ejie ditemukan pada bapak yang melihat sampai 4 buah kartu identitas. Aku perlihatkan satu-persatu diantara percakapan kami. Mulai dari NPWP, kartu pers yang masih berlaku, SIM dan KTP.

Catatan 15: Bawalah selalu identitas diri kemanapun kamu pergi. Penting untuk diri kita dan sebagai bukti juga kalau kita bukan penduduk gelap. Tidak semua orang percaya pada penampilan kita. Jadi, bersiaplah dengan kondisi apapun.

“Tujuan mba sebenarnya mau kemana sih?”

“Simpang Lima. Tadi sudah Ejie sampaikan sebelum naik, kan pak? Nanti teman Ejie jemput disana. Namanya Primus, dia orang Semarang,” kulihat ia tetap tak percaya dan berbicara dengan temannya dalam bahasa Jawa. Bukan tidak mengerti sama sekali, tapi sedikit banyak aku tahu pembicaraan mereka.

“Bapak ngga lewat Simpang Lima?” tanyaku.

Mengernyitkan kening, mungkin dia ngeh kenapa aku bertanya hal itu, “Temanmu itu tinggal dimana? Mungkin kami bisa lewat arah rumahnya,” serrrr… ada yang berdesir aneh nih, aku mentralisirnya dengan segera menjawab pertanyaannya.

“Ejie kurang paham, pak. Ejie telpon teman bentar, nanti bapak yang bicara sama dia ya?” kutekan tombol nomor di HP.

Melirik si bapak yang tetap ngga percaya kalau temanku orang Semarang.

20141204102929
Tulisan NUMPANG yang sangat membantu kemanapun melangkah. (doc pribadi)

Catatan 16:

  1. Siapkan nomor telpon tujuan kita. Telponlah jika memang perlu dan dibutuhkan di saat mendesak seperti posisi Ejie itu. Terkadang, orang yang kita tumpangi seperti menyelidik, tapi tetaplah berusaha tenang. Lebih baik kita cepat menghubungi teman yang dituju di kendaraan tersebut.
  2. Kendali perjalanan ada ditangan kita, jangan sampai kita yang mengikuti alur si pengemudi.
  3. Fokus dan ikuti alur bercerita juga perlu loh… 🙂
  4. Keep calm n friendly, meski gondok. ahhahaha

“Benar temanmu atau bukan, mba?”

Aku berkosentrasi pada bunyi panjang di HP dan Primus mengangkatnya di ujung sana.

“Ejie sudah dimana?” was-was.

“Prim, ni si bapak sepertinya mau mutar arah, Ngga lewat Simpang Lima katanya. Bisa Primus yang ngomong dengannya dalam bahasa Jawa? Mungkin dia lebih ngerti, Prim,” greget, sabaaaaaarrr…..

Kuberikan HPku pada si bapak. Mereka ngobrol dalam bahasa Jawa. Totok. Wes, blas aku ra ngerti 🙂 Jowo tenan iku. Menunggu akhir pembicaraan si bapak saja. Aku duduk tenang, memotret setiap pemandangan yang kulihat di jalan. Hei, aku melewati 1 tempat yang aku rasa pernah melewati daerah tersebut saat Backpacking Race #Solarizing Borobudur/ransel-wisata-menuju-4-kota-episode-4-semarang/ tahun 2012 lalu. Ahh… kufoto tempat itu, biar mengingatkan.

Sepertinya pernah melalui jalan ini waktu Backpacking Race @SolarizingBorobudur lalu bareng Tides dan Bule. (doc pribadi)
Sepertinya pernah melalui jalan ini waktu Backpacking Race @SolarizingBorobudur lalu bareng Tides dan Bule.
(doc pribadi)

Selesai, HP diberikan kembali padaku.

Sumringah atau apa tuh si bapak, ketawa-ketiwi.

“Mba, maafin aku ya dari tadi nanya terus dan ngga percaya sama omongan mba. Aku tadi sudah bicara dengan mas Primus. Dia yang jelasin tentang mba. Kebetulan aku lewat daerah Muktiharjo, mba. Nanti mas Primus akan jemput mba disana. Itu lebih dekat daripada mba ke Simpang Lima, jauh lagi ke rumahnya, mba..” sepertinya ia terlihat lebih santai dari sikapnya tadi.

“Okeeee…. jadi sekarang, Ejie boleh gantian donk lihat KTP bapak?” 2 kali ketembak, hha.

Diserahkannya KTP atas nama dirinya. Sayang, aku tidak memotretnya karena batrai HP yang sudah sekarat merah. Aku berjaga-jaga jika Primus menghubungiku pas jemput.

Si bapak (lupa namanya, arrrggh!) yang telah berkeluarga dan beranak 1, perempuan, berusia tidak kurang dari 2 tahun ini, adalah seorang penjual sayur-mayur. Tiap hari, ia dan kawannya mengantarkan sayur ke pasar dinihari. Berjualan. Siang atau sore setelah beristirahat berjualan, kembali ke desanya.

“Maaf mba kalau kesel sama aku. Maklumlah, kan harus hati-hati sama orang asing, mba. Aku tadi kasihan kalau mba mesti jalan lagi untuk dapat kendaraan, makanya aku ajak. Ini sebentar lagi kita sampai kok mba,” mulai ramah.

Yayayaaaaa…. Ejie juga tersenyum melihat si bapak yang sudah ngga jutek lagi sama wajah dan pertanyaan-pertanyaan “sengak” nya itu.

Lalu, teringat sesuatu dari keempat identitasku tadi, aku berucap, “Pak, punya NPWP ngga?”

“Ngga punya, mba. Kenapa?”

“NPWP yang Ejie perlihatkan tadi, itu sudah seperti KTP lho, pak. Gratis itu bikinnya di kantor pajak. Cuma lima menit pula buatnya. Bapak bawa KTP saja dan nanti tinggal isi formulir, tunggu sebentar, kartunya langsung jadi loh, pak. Bapak bikin gih… biar ngga ngerasa seperti tadi sewaktu Ejie lihatin NPWP itu. Nga percaya sama Ejie.”

Kami tertawa plus si mas baju merah yang dari tadi cuma senyum-senyum saja.

“Mba, telpon mas Primus, kita sudah masuk daerah Muktiharjo nih,” bapak mengingatkan.

***

  • Jalur Akhir Primus

Primus sudah disana. Menungguku dan pick up putih.

“itu temanku, pak…” aku menunjuk seorang lelaki bersepda motor, berjenggot dengan celana pendeknya.

Mobil berhenti dipinggir, bapak ikut turun. Tentu saja aku tak melewatkan kesempatan untuk memotret si mas senyum yang mau kujadikan model tulisan nebengku di depan pick up. Si bapak ngga mau difoto, malu dia sudah mencurigaiku selama di perjalanan.

Cuma dia nih yang mau di foto. (doc pribadi)
Cuma dia nih yang mau di foto.
(doc pribadi)

“Makasiy yo mas, sudah anterin temenku sampe sini,” Primus berbicara dalam bahasa Jawa. 5 menit mungkin mereka ngobrol. Apa yang dibicarakannya, jangan tanya aku, karena aku sudah sibuk mencari spot untuk foto touchdownku di Semarang, di kampung kecil ini.

Sebelum berpisah, aku memberikan grup HHI pada si bapak yang dari tadi menanyakan alamat fb ku. Ejie bilang, add grup HHI saja, pak.. 🙂

Terima kasih Allah…
Terima kasih bintang…..
Terima kasih telah menjaga perjalananku hingga selamat sampai dijemput Primus, teman Sail Morotaiku.

Mari mencari makaaaaannnn….. LAPAR! 😀 (jie)

***

Thank’s to:

  1. Bapak dan mas senyum yang aku lupa namanya
  2. Pick up putih mini transprortasiku —> Rp 0,-
  3. Primus yang menjemput di touchdown akhirku —-> Rp 0,-

***

Potret cepat sebelum jalan lagi (doc pribadi)
Potret cepat sebelum jalan lagi
(doc pribadi)

tulisan hhi jalan

Primus, temanku yang menjemput. (doc pribadi)
Primus, temanku yang menjemput.
(doc pribadi)
(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

12 thoughts on “Hitchhike Ngaliyan-Muktiharjo Lor Semarang: Curiga Identitas? [9]”

  1. He he he . . . sempet dicurigai juga rupanya ya Jie. Kalau pas dicurigainya sih gak enak, tapi setelahnya pasti lucu kalau diingat. Aku juga pernah dicurigai mau nodong sama sopir taxi yang aku tumpangi, sampai-sampai sopir taxinya lari keluar mobil begitu berhenti di dekat satpam perumahan yang aku tuju. Untung satpam-satpam di situ kenal aku semua, kalau gak bisa berabe tuh.

    1. emmm….
      lebih ke ejie ngerasa, “knp jg si bpk mau ngajak ejie dr pertama setelah ngmg ya?”

      ejie rasa saat itu dia ngerasa:
      1. kasian
      2. cewek kok numpang
      3. oke, sekalian lewat arah yg mau ejie tuju

      begitu kali ya, chris?

    1. hai winny…

      salam kenal dan terima kasih sudah mampir disini.
      petualangan gratis ejie bisa dilihat dan dibaca pada kategori Rp 0,- atau hitchhiker indonesia, winny..

      selamat menikmati tulisan ejie ya winny 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s