Setahun Minus Rindu

Pertemuan tanpa rencana.
Mengikuti alur dengan kesadaran.
Kabar yang mendadak menurutku, membuatku lemas dan perlu waktu menalarnya.
Jadi bego dan agak takut dengan kalimatnya ketika aku akhirnya memutuskan, IYA dan PACKING!
***
Dan bertemu! :) (doc pribadi)
Dan bertemu! 🙂
(doc pribadi)

Jakarta, Fly Over Pasar Rebo
(Setelah Setahun, Bulan yang Sama)

Kesabaran itu adalah latihan hati paling banyak diberlakukan untuk diriku. Setahun? Ahh… Belum sampai kok. Bukan lamanya, tapi setiap detik yang dilalui dalam rentang waktu yang cukup banyak, menenangkan perjuangan rasa dan bathin lebih berkompeten. Mengajakku untuk terus bersabar.

Ia yang dengan sabar meladeni setiap pertanyaanku yang mungkin tidak sedikit. Banyak tersurat dalam format SMS. Ahh… ada ya orang yang sebegitu sabarnya menerima pertanyaan-pertanyaan dari orang sepertiku?

Kata teman-teman sih, aku ceriwis, kebanyakan ngomong, suka ketawa, kerjanya jalan-jalan gratisan melulu, sering bikin ngiri dengan postingan foto-foto, de-el-el…

Padahal, sudah 4 bulan ngga bisa kemana-mana hatiku senang. Hanya berkutat di Jakarta saja. Bermain dengan keramaian kota dan hiruk pikuknya serta kemacetan.

Hal berbeda yang terjadi bila aku berhadapan dengannya. Bisa diam berapa banyak bahasakah?
#lemparin kamera!

Bukan, bukan karena aku tak mampu berucap, tapi lebih kepada aku tak berani melihatnya secara langsung. Takut? Bukan juga. lalu apa? Lebih kepada segan, tampaknya. Kenapa? Ada satu nilai lebih padanya yang aku tak tahu harus berlaku seperti apa. Bak bunga putri malu, tersentuh lalu menguncup, mungkin seperti aku.

Kesabaran! Iya, itu dia!

Ingin bisa bercuap-cuap gambreng bila bersama teman-teman, hal itu tak bisa terjadi bila bersamanya. Ingin bisa usil laiknya aku pada teman-temanku, hal itu pun tak mampu aku berlakukan padanya. Tapi ingin… Pembawaannyakah?

Ketenangan! Benar, itu pun dia!

Bercerita apapun boleh, tak dilarang. Bertingkah kangen ala aku pun, biasanya ia cuma mengeluarkan 1 hal yang membuatku luruh, senyum! Ahahaaa… aku suka senyum dan tawanya itu. Sungguh!

Ramah dan nyaman! Naaaaaa…. itulah dia!
*pinjam bahunya doooonnk (^_^)

Hanya itu jawaban yang pas untuknya. Kesabarannya membuatku tak mampu beralih pandangan, hanya padanya.. 🙂

***

  • Touring Mendadak

Pukul 06:05:56 WIB

“Mau touring, Jie?” smsnya masuk.

“Mas mau pergi lagi? Dengar mas jalan mulu, cuma bisa nganga. Hhhh…. lesu mas pergi terus,” aku membalas smsnya.

Kangeeeeennn mas!
#ketok diriku

“Ehh, ini mas lagi di jalan (lagi) ya?” lanjutku.

“Lagi di rumah,” singkatnyaaaaa….

“Katanya mau touring? Sama teman-teman mas atau sendiri?” tetap bertanya.

“Begini loh, aku niatnya mau ngajak Ejiee, tapi Ejiee dari tadi ngga ngerti-ngerti.”

Aku masih membalas dengan kalimat panjang tanpa ngeh apa maksud smsnya. Dan tiba-tiba, aku terdiam, lalu…

“Ehh, bentar mas. Baca ulang.”

Tik… tok.. tiiiikk… KETOK EJIE!

Cepat-cepat kubalas pesannya, “Mas ngga salah tulis? Ajak Ejie?” tak percaya.

“Ngga tuh.”

Dasar Ejie! Masih saja mengajukan pertanyaan hingga akhirnya…..

“Terlalu banyak pertanyaan yang sama. Tanya saja sama orang disitu arah Jalan Raya Bogor mana,”katanya.

Keder!

“Maaf mas… Mas ngga lagi marah kan? Ngeri Ejie bacanya,” ciut.
#mikir lagi

8 menit kemudian aku membalas pesannya, “Ejie packing, mas..”

“Okeyy..” pesanku disambut.

Aku prepare dadakan. Tak banyak yang kubawa sesuai dengan list yang diberikannya. Kalimatnya yang perlu digarisbawahi adalah sarung tangan dan jaket. Jika sudah begitu, tentu tempatnya mengajakku itu bakal aku butuhkan guna melindungi diri dari hawa dingin. Sarung tangan itu kurapikan dan letakkan di urutan paling atas dalam daypack hijau favoritku bila bersamanya, agar memudahkan meraihnya saat kuperlukan nanti.

Segera beresin kamar, mandi dan segar. Asiiiiiiikkk….

Kriiiiinng… telponku berdering, darinya!

“Iya, mas.. sudah. Sebentar lagi berangkat. Ngga tahu, Ejie kan ngangkot. He-ehh.” menjawab seperlunya coz i’m in hurry 😀

Ambil tas, cabut HP dari charger, isi air minum dalam botol, matikan televisi, tutup jendela, raih jaket dan kriiiiiiinng…. Aku loncat, kaget.

“Ya mas? Aduuuuhh….. Ejie lupa taruh dimana. Ngga tahu, mas kalau harus nyari lagi,” klik. Aku yang tiba-tiba jadi gelagapan kalau harus mencari barang disaat mendadak dan yakin, ia pasti akan sampai lebih dulu di lokasi yang ditentukan. Mana berani aku mengambil resiko mencari barang yang ditanya dan membiarkannya menunggu lama. Ngga enak Ejie, ngangkot pula. Heheheee…

***

Pukul 09:31:12 WIB

Teriknya mentari tak kupedulikan. Pedas menyentuh kulit tanganku tak kurasakan. Hanya ingin sampai di dekatnya saja. Aku tak tahu ini rasanya seperti apa. Campur aduk!

Kenapa memang?

Sudah lama. Sudah sangat lama aku tak seperti hari itu. Benarkah?

Yapp!
1 tahun kurang 5 hari kedepan, minus tak cukup 1 hari karena temannya, minus 2 hari 2 jam karena temanku saat tanjakan penantian, kepedihan hatiku yang tak bisa bersamanya. Tangga penyesalan, jejak dan lompatan akar hati yang tertinggal.
#lupakan Ejie, ia mengajakmu. Wake up!

Membayangkan hanya berani di angan. Berucap padanya, takkan mungkin bisa terealisasi.

Hooo?? Kok bisa?

Tentu. Karena kesibukannya, aku hanya bisa memendam dan mengadukannya saja pada Yang Maha Tahu.

Kadang aku ucapkan saja dalam pesan-pesan panjangku pada dirinya. Mungkin dia bosan atau mungkin juga malas baca semua pesanku itu, aku tak tahu. Karena memang, ia tak pernah mengatakan apapun mengenai hal tersebut. Tidak mengomel, tidak marah tak tentu, tidak membalas kalimat panjangku dengan perkataan yang menyudutkanku. Ia hanya menanggapinya dengan SABAR!
#adem kan aku?

2 kali ganti angkot ditambah menunggu yang agak kosong karena dari tadi, penuh terus deh. Mana ini? Bisa telat Ejie.. eRrr~

“Tungguin Ejie, mas…” bathinku.

Hitung…

30 detik kemudian, sebuah kendaraan berwarna coklat tanpa hidung bertuliskan KR berhenti di depanku, hoplaaaah…. loncat duduk di depan biar ngga ribet urusan tas kotak ini. Hhaha

***

  • Where R U?

Pukul 10:15:28 WIB

Pasar Rebo seperti arahannya. Dari halte busway aku menunggu dan menanyakan posisinya, ia mengarahkanku mencari. Adakah clue? Sama seperti petunjuk pertama yang dberikannya. Aku pun bertanya pada bapak yang berada disampingku.

“Nyeberang, mba. Halte ke arah Bogor disana,” tunjuk bapak yang berpakaian putih biru dan topi Satpam itu.

“Terima kasih, pak,” aku menyeberang.

Bertanya lagi, lagi, dan lagi.

“Mas dimana?” jika aku bisa menjerit. Takut dan sedikit kalut.

Ahh, sedih…. masih bisa ketemukah? Masih adakah kesempatanku untuk menikmati senyumnya? Aku sudah lama tak melihatnya. Aku sudah lama tak menatapnya. Terlambatkah jika tak bertemu dengannya, kini?????

Kuangkat kepalaku, melihat matahari yang semakin tinggi, menenangkan diriku sendiri bersandar pada sebuah tiang disana. Kulihat segala arah. Halte? Ini halte, itu juga, disana pun begitu. Yang mana? Aku tak ingin kehilangan 1 tahun kedepan kembali tanpanya. Menghabiskan 5 hari kedepan untuk menggenapinya? Masih adakah waktu untukku?

Sekali lagi bertanya dan berjalan. Aku akhirnya menelpon.

“Mas, dimana sih?” tak berani banyak bicara. Hopeless? Aku tidak mau! Berharap ia masih ada disana, menungguku.

“Jalan terus, Jie… Lurus, maju lagi,” klik.

Singkat tanpa menjelaskan patokannya apa dan tanda lainnya.

Aku berjalan, menunduk dan menendang-nendang yang berada di dekat kakiku. Kertas, botol, gelas mineral, batu, entahlah… Masih jauhkah? Dimana dia??

“Ejiee… Ejieeee,” sebuah suara yang kurindukan.

Aku menoleh dan… tertunduk. Tak berani menatapnya. Aaaaarrgh! Seperti apa bisa kukatakan? Atau harus berteriakkah? Tidak. Aku duduk, diam dan menunggu. Lemaaaaaaaaaasss…….. persendianku melemah. Pandanganku sedikit nanar saat itu. Untung saja ia menungguku di halte, jadi aku bisa menenangkan gemuruh di dadaku. Ombak yang gantian menendang-nendang jantungku. Beeehhh… kacau!

Terus menunduk sampai helm itu bertengger dikepalaku dan naik ke motornya.

“Pegangan, Jie…” aku masih takut hingga di satu jalan dimana kami sedikit lega dari kendaraan lainnya, diraihnya tanganku agar berpegangan.

***

Pada hati nyaman yang sabar:

Aku tak bisa mengatakan apapun… meski banyak yang ingin aku sampaikan. Tapi bisa kupastikan, hari itu, jiwaku dipenuhimu. Perjalanan sepanjang jalan yang diisi oleh cerita petualanganmu, membantuku membuka suara hingga akhirnya aku menyadari bahwa hari itu adalah nyata.

Terima kasih ya… masih ada untukku walau aku tak tahu seperti apa rasamu. Cukup aku memintamu pada-NYA.. (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

4 thoughts on “Setahun Minus Rindu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s