Terbangkan Hati, Tatap Paragliding

Before:

obrolan-dalam-hujan/
ratusan-hari-menyepi/
setahun-minus-rindu/

Masih edisi touring nih…
Kali ini mataku tak lepas memandang apa yang ada diatas sana.
Pandangan dari awal keberangkatan perjalanan sejuk ini.
Tulisan singkat tentang keinginanku menjelajah udara..

#tetap ingin bersamanya 🙂
***
Ituuuu... disana! (doc pribadi)
Ituuuu… disana!
(doc pribadi)

Puncak-Jakarta
Next Day

Perjalanan pulang yang dinaungi sinar matahari yang bersahabat mungkin takkan sesejuk seperti di Puncak ini. langit cerah di atas kepala kami. Bintang tetap sabar melalui kemacetan yang sedikit menghambat perjalanan tersebut.

“Ini akan macet terus sampai ke bawah lho, Jie?” Bintang bersuara.

“Lama donk, mas?” balik bertanya.

Aku tidak terlalu mendengar jawabannya sih, soalnya sudah sibuk memotret sana-sini melihat pemandangan yang tak ingin kulewatkan sedikitpun. Melihat apa sih, Jie?

Itu lho…. dari awal berangkat ke Puncak, bukan hanya mataku yang menangkap orang yang melayang diatas sana, tetapi kameraku! Ahhh… sayang, tak bisa terlalu fokus mengambil gambarnya karena motor yang bergerak dan penerbang pun bergerak mengikuti arah angin berhembus. Penasaran! Itukah Paralayang/paragliding ?

Mendung mengiringi, suka lihatnya :D (doc pribadi)
Mendung mengiringi, suka lihatnya 😀
(doc pribadi)

Sebenarnya ketika berangkat, Bintang menunjukkan tempat paragliding itu padaku. Tetapi karena kam sambil lewat dan tak berhenti, juga aku yang keasyikan melihat jalan didepanku, tidak mengambil gambar dari tempat tersebut. Pun saat pulangnya. Aku terlalu asyik memperhatikan langit dan orang yang terbang diatas sana, sehingga tidak lagi bertanya dimana tempat paragliding yang kami lewati.

Aku masih menyimpan keinginan untuk bisa bermain-main dengan udara diatas sana. Makanya mataku tak lepas memandanginya. Ketika seseorang dengan ransel besarnya melewati kendaraan kami, Bintang bilang kalau tas itu isinya adalah parasut yang dipakai untuk terbang.

“Mas sudah pernahkah?”

“Belum.”

Singkat ya? Hahahaaaa…. tak apalah, aku tetap suka kok dengan jawaban singkatnya. Soalnya dia sibuk fokus dengan pandangan kedepannya dan harus sesekali menyelip diantara beberapa kendaraan agar tak terlibat dalam kemacetan panjang.

“Tasnya besar banget ya mas? Apa isinya?” membandingkan dengan carrier gunung. Sepertinya ransel itu jauh lebih besar. Entah dengan beratnya. Di dalamnya itu pasti termasuk peralatan terbang juga dan kamera mungkin! Hahahaa… boleh donk buat tanda kalau kita sudah pernah “melayang” di udara 😉

“Isinya ya parasut yang dipakainya itu, Jieee…” ujarnya.

“Hmmm….” manggut-manggut dan melihat si penerbang yang mengendarai motor tersebut menghilang di kejauhan.

Kembali, aku mengamati dan berulang kali mengarahkan kamera poketku pada penerbang diatas sana. Seperti apakah rasanya? Kepengin euy Ejieee…. Kapan ya bisa kesampaian terbang seperti itu?

Dulu, tahun 2012, Ejie pernah hampir ikut paragliding. Mungkin kesempatan belum menghampiri, Ejie ngga jadi deh ikut acara teman yang mengadakan jalan bareng untuk terbang. Waktunya padahal hanya sehari, tak lama. Tetap saja pekerjaan terpaksa memundurkanku dari keikutsertaan paragliding tersebut. Rezeki belum menghampiri, tak apa….

Setahu Ejie, untuk ikut paragliding itu harus pesan jauh-jauh hari dulu. Belum tahu bagaimana rulesnya sih… tapi setidaknya ya begitu informasi dari teman. Bagi orang awam yang belum pernah sama sekali, sepertinya juga ada tandem (berdua, teman terbang yang lebih ahli-red). Selain itu, Paragliding ini juga ada sekolahnya lho. Bisa baca di link ini, sekolah-paralayang-paramotor-terbang-tandem.

Mmph… sinar yang tadi menyapa, kini mulai surut tertutup awan. Tak lagi seceria tadi. Meredup? Mendungkah? Sepertinya iya. Kulayangkan pandangan ke atas sana. Masih sama. Para penerbang itu masih saja menikmati alamnya yang bebas di angkasa meraih berjuta impian dan rasa yang terangkum dalam genggaman udara di langit sana. Tak terusik oleh langit yang mulai sedikit memudar sinarnya.

“Nanti sekali-sekali main paragliding sama mas, mauuuuuu…” itu hanya bathinku saja yang berteriak menyatakan keinginanku bersamanya. Hihiii….. Jika saja ada kesempatan, bintang mau dan ada waktu??
#tunjuk paling tinggi Ejieee..

Etapi, boleh kan ya berharap? Ejie mau ahh kalau di kasih kesempatan untuk bisa jalan bareng lagi. Ngga hanya di gunung dan laut, tapi mau terbaaaaaaaaaaannngg…
#let’s pray!

Hati yang tak pernah lelah menantikan semua kebaikan dirinya, menerbangkannya pada uluran benang yang tak tampak, hanya terasa oleh bathin yang mengharap. Tak hanya menatap langit, namun menatapi punggungannya yang kukuh, yang lama tak kulihat, jauh maupun dekat. Kini, ada dihadapan. Bintang di langit meski mendung diatas sana, selalu bersinar sejuk dalam jiwaku. Menerangi segenap do’a ku padamu yang sabar.

Bintaaaaaaannngg….. kalau semua kesibukan sudah teratasi, bolehkah? Ayok terbang di langit! 🙂 (jie)

***

#dan hariku penuh senyum untuknya, sayang bintangku!

Aiiihh.. mau sama bintang disanaaa *wink (doc pribadi)
Aiiihh.. mau sama bintang disanaaa *wink
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s