Ciremai Linggarjati: Cibunar-Pangalap, Jalur Hati Bahagia [1]

Lama ngga ngegunung, beberapa perubahan terasa.
Terutama bagian paha, betis dan kaki.
Wah, ini mah kelamaan mendep depan komputer.
Latihan kurang, lancar camilan, iya. Wkkwk…
Melalui jalanan yang menipu mata pula.
Haiiisshhh…. Cocok kali laaaaaahh 😛
Baca yuk!
***

Ciremai Via Linggarjati
Agustus 31, 2013

  • Catatan Diri

Porsi naik per pos:

Speed          = 45
Endurance = 70
Breathing   = stabil

Touchdown Pos Pangasinan lokasi tenda, pukul 19.15 WIB malam, 1 jam lebih setelah 3 orang teman lainnya sampai duluan dan tenda yang telah berdiri di belakang plang “PANGASINAN” dan aku yang ditemani seorang sweaper, teman baru, Abe.

***

Diatas adalah catatan diriku yang sudah tercatat 4 bulan kurang lebih tak naik gunung. Gunung Ciremai merupakan gunung kedua di bulan Agustus yang coba kudaki setelah di minggu sebelumnya mendaki Gunung Guntur.

Kenapa lama sembunyi? Bukan sembunyi. Kesibukan dan beberapa agenda lainnya memaksaku memendam keinginan untuk mendaki, melaut maupun ngebolang kemanapun. Tak juga bisa sembunyi-sembunyi ingin jalan kemana-mana hatiku senang. Ada sebuah tanggungjawab yang tak dapat kuabaikan sehingga harus meminggirkan asaku berkelana.

Dan kini, kerinduan akan gunung, terbayar. 2 gunung, 2 minggu, teman yang sama juga berbeda, keduanya kulakukan dengan menikmati setiap jengkal langkah penuh warna dan cerita. Tak kupungkiri bahwa kembali ke alam adalah pemenuhan sebuah hasrat yang terkungkung. Jiwa yang lepas, menghirup udara gunung, pemandangan yang menyegarkan mata, kembali merasakan dedaunan, ilalang, tanah, pasir dan kerikil. Ahh.. semua yang ada disana, membuatku bersemangat penuh.

***

  • Rambutan-Kuningan

Pukul 20.50 WIB

Seperti yang dijanjikan, aku sudah berada di Terminal Kampung Rambutan tepat sebelum jam yang ditentukan. Masih 10 menit, kuisi waktu dengan mencharge HP di sudut warung langganan tempat berkumpul. Belum terlihat Ricky Merah dan Erore.

Kukabari posisiku pada Ky yang masih di jalan tol juga Erore yang sudah di Pasar Rebo. Sebentar lagi mereka tiba. Benar bertiga saja?

Pukul 21.30 WIB

Tim pendakian ketahuan juga nih. Terdiri dari Ricky Merah, Erore, Dodik dan Abe, teman baru. Okeeee… berlima! Kami siap berangkat biar bisa cepat beristirahat di bus.

Pukul 22.00 WIB

Perjalanan dimulai dengan bus Setia Negara yang baru jalan sejam kemudian. Udara kota yang panas, membuat kami gerah di bus, tetap saja mata yang lelah akan tertidur.

Aku yang diapit Ricky Merah dan Dodik dalam satu bangku, sebelumnya telah minum obat batuk, langsung saja tertidur dengan nyenyaknya. Entah sudah berada dimana posisi waktu itu. Aku tak terlalu memperhatikan.

Tersentak dalam nyenyak, mengagetkanku. Dingin menjalari kaki, kuusap dan segera menyelimutinya dengan jaket hijauku. Hhh… dimana Bintang?? Tak adakah? Kulirik jam tangan stainless yang menunjukkan pukul 02.53 WIB. Masih lamakah? Semua terlelap dan kembali aku merapatkan bola mataku.

***

  • Dimana Pom Bensinnya?

Pukul 04.10 WIB

“Ejie… bangun. Turun..” suara Ky membangunkanku. Kaget. Kucolek Dodik. Kupanggil Erore.

“Sudah sampai ya, Erore?” masih nanar, ngantuk berat. Sepertinya kami belum sadar penuh. Sementara Ricky sudah turun dan menurunkan carrier dari bagasi.

“Ayoo.. turun,” Ricky Merah menegaskan.

Tergopoh-gopoh, kami meninggalkan bangku kaku itu.

Bus pergi, kami bengong. Ternyata Ricky dan Erore juga Abe yang sebelumnya sudah pernah mendaki Ciremai, lupa tempat turun!! Bhahaahaaha……. Aku jelas nyengir melihat mereka yang kebingungan dengan tempat turun menuju pos pendaftaran.

“Aku ingat banget di depan itu ada mini market, pom bensin dan rumah makan. Kok ngga ada ya?” Ricky Merah clingukan.

“Jadi, kalau dulu ada, sekarang kemana itu Ky mini market, pom bensin dan rumah makannya?” celetukku dan kami tertawa setengah mengantuk.

“Aku juga bukan turun disini waktu itu,” timpal Erore.

Abe gantian bertanya pada bapak yang sebelumnya sudah ditanyakan oleh Ricky Merah, tapi sebal karena ngga mengerti bahasanya.

“Masih jalan ke depan sana. Sekitar 300 meter,” Abe meneruskan keterangan dari si bapak.

Daripada menunggu, diputuskan kami berjalan ke arah batas Bandoroso Wetan mencari pom bensin, mini market dan rumah makan.

Kami menemukan pom bensin yang [mungkin] dimaksud oleh Ricky Merah. Entah benar atau tidak, tapi kami segera bebersih dan shalat shubuh. Lumayan bisa charge HP [lagi] dan sikat gigi deh.. 😀

Selesai shalat, kami meneruskan perjalanan mencari mini market ketika akhirnya sebuah angkutan kota berwarna kuning bersedia mengantarkan kami hingga ke pos pendaftaran dimaksud, setelah menunggu kami membeli keperluan logistik.

***

  • Tanpa Adik Gunung

Alhamdulillah, menurut perhitunganku, keinginan mendaki Gunung Ciremai ini rasanya hampir setahun yang lalu dilakukan teman-teman nanjakku, 17 Agustus 2012 tepatnya dan hanya beberapa orang saja, tidak ramai seperti biasanya. Waktu itu, Ejie diajakin juga, tapi rasanya belum siap banget hati, mental dan fisiknya. Lalu, seiring berjalan waktu, bertemu beberapa teman yang juga mengusulkan untuk ke gunung yang sama, begitu seterusnya.

Bahkan, adik gunung yang akan menemaniku kesana pun sudah berkali-kali tanya, “Nyak udah sudah siap Ciremai? Ngga boleh lewat jalur yang mudah ya? Biar Nyak terbiasa dan latihan juga. Harus via Linggarjati. Nanti Anja temanin, Nyak… “

Untuk menjawab pertanyaannya, aku memerlukan waktu yang cukup lama mempersiapkan hati, fisik dan mental. Terutama lebih kepada mental. Soalnya aku ngga mau menyusahkan teman-teman yang menjadi teman mendaki kalau kesana. Makanya lama baru bisa terlaksana naiknya. Akhirnya, kesiapan itu datang juga.

“Ejie siap, Njaaaa…. kapan kita naik?” tanyaku suatu hari.

“Kapanpun Nyak mau,” blaaa…. blaaa.. dijelaskannya apapun yang menyangkut kesanggupan kaki lambatku jika mendaki. “Kabarin Anja kalau Nyak mau naik.”

Dan terlaksana! Tanpa Anja…… Karena ada kerjaan diaaaa 😀 Maafkan Ejie, ya Anjaaaaa.. Semangat sayang tetap ada kok.

***

Jalanan aspal yang menipu mata, haishhhh.... (doc Ricky Merah)
Jalanan aspal yang menipu mata, haishhhh….
(doc Ricky Merah)
  • Tipuan Tanjakan Trekking

Menunggu pendaftaran, kami sarapan dan repacking muatan masing-masing carrier. Menjelang jam buka pendaftaran, orang yang ditunggu tak kunjung dating, akhirnya kami memutuskan menitipkan uang pendaftaran pada bapak dan ibu di warung sebelah pos yang mendo’akan pendakian kami.

Trekking dimulai dengan langit bersahabat. Mungkin karena musim kemarau, udara terasa panas. Awal perjalanan, aku hanya mendengarkan celotehan teman-teman saja mengenai kondisi jalur yang aku tak tahu sama sekali. Melalui persawahan penduduk, pemandangan yang disodorkan berupa lahan terbentang hijau bergradasi.

Terkecoh!

Wuaaaaahh… ternyata tanjakan latihan yang dimaksud teman-teman adalah jalanan aspal yang lumayan HU-HAH buatku yang masih merasakan pegal pada pahaku setelah mendaki Guntur.

Mulanya jalanan datar saja ketika sampai di ujung sebuah belokan kiri, bhuahaaahaahaa…. Naik rek jalannya. Dan mendaki, mendaki, mendaki! Beeeewww…. Untung kakiku aman. Pakai ilmu siputlah dimulai, biar lambat asal selamat. *ingat Anja yang ngga ikut, SIPUT?? 😛 Lambat, tinggal tunggu panggilan Ky saja nih ntar. Bakal panjang. Untung juga ngga ada Berto yang lebih parah kalau Ejie lambat jalan.
Iiihhhh…. Mulai deh si kaki lambatnya kumat. Ditungguin suruh cepat, tetap saja paling belakang. Nungguin Ejie mah kesueeeeeennn!

Perjalanan dari pos pendaftaran ke tempat pengambilan air minum sekitar 15-20 menit dan 30 menit buat Ejie.

Ujung jalan aspal ini adalah pos [atau gardu] yang memisahkan jalanan aspal dan mulai tanah mendaki. Disisi kanan akhir aspal, merupakan tempat pengisian air minum. Ada warung juga disana kalau masih mau makan.

Ejie ngga foto perjalanan pendakian yang dimulai dari pos bawah ini. Lagian, memory card nya ngga bisa ngebaca deh. Padahal dari pos pendaftaran, Ejie sudah foto-foto trekking awal lho. Malah ngga bisa dibuka pas di computer, hiikkss..

Kondisi musim kemarau di Gunung Ciremai via Linggajati ini, tanah lebih kering, berpasir dan debu beterbangan kemana-mana. Sebaiknya gunakan masker. Karena hawa tak terlalu dingin, aku hanya mengenakan kaos lengan pendek saja. Tetapi syal, sarung tangan tetap tak lepas dari perlengkapan rutinku. Syal yang lebar bisa dijadikan pelindung kepala dari sinar matahari kok, jadi aman.

Ladang kopi yang kami lalui ini, jalannya kecil. Hanya muat 1 badan, bisa juga dipaksakan untuk berdua, tapi sempiiiiiiiittt (ingat cerita pulang. Nanti ahh ceritanya… #kedip-kedip). Jalan yang sempit tak mengurangi semangat yang… kenapa naik-naik terus ya? Memutar, sedikit landai, naik lagi dan terus. Ugkhhhh… inikah Ciremai? Uuuyyeeah..

Jujur, karena perjalanan ini panjang, Ejie tak berusaha menyempatkan diri memotret apapun, lebih kearah menikmati perjalanan, trekking, dan alam saja disamping kaki Ejie yang lambat. Ejie perkirakan, Ky Merah, Erore dan Dodik yang duluan di depan kami menunggu di beberapa meter kedepan, jadi kalau terlalu lama khawatir mereka menunggu Ejie yang saat itu disweaper-in Abe. Sebelum naik, Ejie sudah dipesan supaya tidak sampai gelap dalam perjalanan ke lokasi tenda yang ditentukan, karena lagi-lagi Ejie selalu lupa bawa headlamp.
*maaf ya ky…..

Ejie selalu ingat tuh pesan Ky Merah waktu di Gunung Gede via jalur Putri tahun lalu yang bilang, “Mungkin teman yang jagain Ejie mampu jagain, tapi Ejie juga harus perkirakan keinginan tubuh yang ingin beristirahat. Ada batas tubuh kita itu lelah, Jie. Jadi usahakan Ejie pun bisa memprediksi tubuh Ejie, jangan sampai kelamaan di jalan.” Kira-kira ya seperti itu nasihat Ky Merah.

***

Di pos ini, tim kita ngaso. Sayang, foto yang Ejie ambil ngga bisa dibaca komputer. Sim Card nya rusak. hhhh.... (doc Ricky Merah)
Di pos ini, tim kita ngaso. Sayang, foto yang Ejie ambil ngga bisa dibaca komputer. Sim Card nya rusak. hhhh….
(doc Ricky Merah)
  • Catatan Waktu Kaki Lambat

Catatan perjalanan yang Ejie lakukan versi kaki lambat dari pos bawah adalah:

  1. Pos Cibunar- Leuweung Datar-Condang Amis = sekitar 2 – 3 jam.
  2. Kuburan kuda-Pangalap                                    = sekitar 1,5 – 2 jam.

– Menuju Condang Amis

Yeayyy.. sampaiiiii :D Ejie senang ketemu 3 teman lainnya yang sudah duluan tiba. (doc Ricky Merah)
Yeayyy.. sampaiiiii 😀
Ejie senang ketemu 3 teman lainnya yang sudah duluan tiba.
(doc Ricky Merah)

2 jam itu lama ya? Bisa jadi, tergantung bagaimana kita menyikapinya saja sih. Perjalanannya lumayan lama sih kata Ejie. Soalnya tetap saja naik selalu. Teman-teman yang sudah melaju duluan bilang pada Ejie setelah beberapa meter bertemu, “Pos Condang Amis, kita ketemu ya, Jie?”

Okeeee…. Maafin Ejie ya Abe, selalu lambat.

Sebenarnya kaki Ejie ngga apa. Hanya sesekali butuh istirahat dengan naikin kaki ke tempat yang sedikit lebih tinggi. Biar ngga pegal. Dan pinggang Ejie ini sakit kena ransel yang rasanya ngga pas. Padahal, ejie biasa pakai ransel ini. Memang bukan keril sih, soalnya Ejie mengukur kemampuan juga sih. Antara bawa tas gede tapi ngga mampu jalan lama dan gengsi, atau bawa tas sesuai kemampuan dan mulai belajar bawa semua perlengkapan sendiri (biasanya juga begitu, tapi ada titipan beberapa di adek gunung atau Ky 😀 ) tanpa menyusahkan teman (tetap titip 1 botol air minum 1,5 L ke Abe, heheeheee).

2 jam pertama menuju Condang Amis, Ejie benar-benar latihan kaki dan atur pernafasan. Kaki yang masih terasa berat karena rasanya setiap jalan yang dilalui itu terus menanjak, menyesuaikan dengan medan yang ada. Selanjutnya adalah pernafasan yang, ehhh…. tumben Ejie ngga kepedasan walaupun nanjak. Padahal dalam 4 bulan terakhir, baru 2 kali dengan waktu terdekat Ejie nanjak. Alhamdulillah.. Ejie bisa. Nafas Ejie stabil dan ngga ngos-ngosan. Eia, selama perjalanan, Ejie terus bercerita pada Abe (tepatnya mungkin cerewet bawel ya, Be? 😛 ), mungkin itu juga salah satu Ejie ngga ngerasa capek, kepedasan atau letih. Hahaaaa… Yakaleeeeeee

Sampai di Condang Amis waktu Ejie intip jam tangan, menunjukkan pukul 10.00 WIB. Karena foto di kamera Ejie ngga bisa kebaca, jadilah Ejie tanya beberapa foto di Ky Merah (sudah izin si empunya untuk tulisan Ejie ini. Thank’s Ky…)

– Menuju Pangalap

(doc Ricky Merah)
(doc Ricky Merah)

Sewaktu jalan dan tiba di lokasi ini, Ejie tanya sama Abe, “Memangnya disini ada kuda yang dikubur ya, Be?”

“Mungkin, Jie… aku juga kurang tahu sih. Waktu kesini, aku juga kurang perhatiin, soalnya fokus sama perjalanan. Maklumlah, pertama kalinya itu… heheehe,” cerita Abe.

Kata Ky Merah, dari Condang Amis ke Kuburan Kuda itu sekitar 1 jam, berarti Ejie bisa ditambahkan 1,5 jam lebih deh. Perbedaan perjalanan antara tim depan dan Ejie itu bisa setengah jam atau 1 jam gitu deh biasanya. Maklum kan? 😀

(doc Ricky Merah)
(doc Ricky Merah)
  • Horeeee…. Kangen!

Yang Ejie ingat itu, dan sesuai dengan foto di kamera Ejie, sampai di Pangalap pukul 11.18 WIB. Jadi kira-kira, berapa lama perjalanan Ejie? Waaakakaak… cukup sampai ketiga teman Ejie membuatkan hot chocolate dan Erore yang bisa tertidur sembari menunggu kedatangan Ejie dan Abe yang menemani Ejie.

Etapi, begitu Ejie sampai disini, Ejie senang deh. Ngga tahu kenapa. rasanya kangen mereka bertiga yang jalannya ngebut! Tapi ya, hampir di tiap pos yang Ejie samapai itu, selalu ceria deh.

Kebanyakan dari yang Ejie baca komentar teman-teman yang sudah, jalur susah, agak rawan, bikin nangis, pengen pulang dan blaa… blaa… eheeemm… Alhamdulillah, kenyataan itu rasanya berbanding terbalik dengan yang Ejie rasakan ketika itu. Kok bisa?

Menurut hatiku, mungkin karena Ejie sudah terlalu kangen gunung juga BINTANG disana. Sudah terlalu lama memendam rasa. Sudah harus kembali mencarinya diatas sana. Sudah harus kembali menghirup kesegaran alam, dedaunan, rumput, pepohonan dan hijaunya alam. Tak terkira!! Ejie kangen berat, BINTAaaaaaaaNG….. hohoooo

Rasanya selalu dapat spirit baru! Menyegarkan rasa, menghilangkan pegal.  Ciremai ini, walaupun jalurnya panjang,sepertinya Ejie bahagia terus. Ngga ada tuh ngedumel. Hati Ejie juga plong dan lempeng saja disana. Soalnya Ejie sudah ngarep lihat bintang diatas sana, Pangasinan tempat kita akan nenda malamnya. Ahhhh… Ejie senang! Ngga sabar ya?? Heii…. kudu sabar kata BINTANG Ejieeeee…
*kangen BINTANG! asiiiiikkk… 😀

Di Pangalap ini, istirahat lumayanlah sampai kami bisa bersantai, makan kue lebaran Erore, ketawaan sama Abe dan Dodik, juga belajar foto manual sama Ky.
*Aaaaaaaakk! Belum maksimal Kyyy belajarnyaaaaaaa….. Mau lagiiiiii xixixiii

Vegetasi di jalur menuju ke  pos-pos itu banyak kok dan rapat. Jalan juga sudah tidak terlalu sempit seperti di bawah. sudah mulai melebar dan  lapang. Melewati hutan cemara, pepohonan, akar, bebatuan, pasir yang berdebu, tanah padat. Sesekali ada tanah lapang yang hampir seperti pos, padahal bukan. Mungkin sekedar untuk tempat beristirahat, atau barangkali bisa dijadikan tempat mendirikan tenda jika perjalanan terasa melelahkan. Tiap pendaki punya keinginan menikmati perjalanan sesuai waktu yang dibutuhkan, iya kan?

Naaaahhh…. Ejie rasa ceritanya cukup sekian dulu ya? Nanti Ejie lanjutkan lagi deh. Otak’e mumet sodara-sodaraaaaaaa… 🙂

***

Arah datang dari bawah Pos Pangalap. (doc pribadi)
Arah datang dari bawah Pos Pangalap.
(doc pribadi)

Transport & makan per orang (keberangkatan) khusus Ejie:

Kp. Rambutan – Kuningan                                                              : Rp 55.000,- (non AC)

Angkot Bandorasa Wetan – Pos Pendaftaran Cibunar         : Rp 5.000,-

Sarapan                                                                                                 : Rp 3.000,-

Pendaftaran                                                                                        : Rp 10.000,-

Totalnya hitung sendiri yoooww…. Ejie ngantuk udahan iniiiihh.. 😀 (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “Ciremai Linggarjati: Cibunar-Pangalap, Jalur Hati Bahagia [1]”

  1. Hello Ejie, apa kabar? Lama aku gak mampir ke sini ternyata banyak cerita baru 🙂
    Soal mendaki dengan lambat, komentar teman Ejie ada benarnya sih. Aku dulu kalau pas mendaki juga selalu jalan paling belakang, jadi sekalian jadi sweeper.
    Btw, itu foto terakhir koq nyungsep gitu sih Jie?

    1. Hai chriiiiisss….
      ejie banyak bgt pen diceritain chris. udah usahain nyolong waktu buat nulis, tapi knp wkt rasanya kurang ya? belum lagi harus balapan posting foto2 di fb. hiihhhhihii… yg nagih foto bnyk sampe kadang bnyk yg telat ejie tag-in ke teman2.

      itu temen ejie bisa disesuaikan tempat utk segala komennya, chris..
      jika perlu galak, baik, komen yg halus atau tegas, dia bakal lakuin sesuai gmn ejienya. bukan mksd marah, tp buat ejie malah sebuah semangat. heehe

      iya, itu udah ejie puter, tetep aja begitu.
      udah ejie kecilin pixelnya, tetep aja begitu. knp ya chris?
      bantuin saran donk??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s