Ciremai Linggarjati: Tanjakan Seru Penuh “Woo” [2]

Pendakian terus berjalan.
Tim depan yang terdiri dari Ricky Merah, Erore dan Dodik tetap saja ngebut.
Sementara tim belakang dengan SIPUTnya adik gunung, tetap ditemani Abe, sweaper kriwil dengan kaki panjangnya itu dan hampir ngga pernah duduk kalau Ejie istirahat pinggang.
Tanjakan-tanjakan selanjutnya ini, semakin yahud!
Asiiiikkk…
***

Before:
ciremai-linggarjati-cibunar-pangalap-jalur-hati-bahagia-1/

Foto2 bisa klik dimari —> https://www.facebook.com/media/set/?set=a.434286170022223.1073741875.100003225317995&type=3

***

Ciremai Via Linggarjati
Agustus 31st, 2013

Catatan waktu perjalanan versi Ejie si Kaki Lambat:

  1. Tanjakan Seruni-Bapa Tere                                           : 2 jam

***

(doc Ricky Merah)
(doc Ricky Merah)
  • Tanjakan Seruni yang SERU

Dari Pos Pangalap, kami meneruskan pendakian. Kali ini Tanjakan Seruni dengan ketinggian 1.825 Mdpl.

“Abe, ini yang namanya naik…. naik…. ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekaliiiiii…” cempreng ihh 😛 . Abe ketawa aja dari tadi yak?!? Masih untung juga ngga tutup kuping Abenya, Ejieeee… Huuuu….

Wiiiii…. manjat-manjat ya? Agak lupa Ejie, hehee.. Ejie ingat, di Seruni itu banyak akar-akar yang bisa dijadikan pegangan untuk membantu kita naik. Bisa di kanan atau kiri, pegangan akar itu mah ada saja.

Yang seru itu kalau turunan, Ejie ngerasa bisa seseruan ala tarzan gitu deh. Gelantungan atau raplingan di akar yang panjang itu. Karena seru itu kali makanya nama di tanjakan tersebut Seruni. Mungkin kalau diteruskan menjadi, SERU NI[h]. Xxixiiixi…

Sewaktu jalan pulang itu Ejie di depan, katanya boleh ambil jalan manapun karena tetap mengarah jalan keluar [bawah]. Ternyata yang diambil itu, jalan yang banyak perosotannya. Lalu Erore yang melanjutkan jalan di depan selanjutnya. Kata Ky Merah berdasarkan info orang yang ditemui, tanjakan seruni itu ada 3 pilihan. Katanya jangan ambil yang paling kiri (kalau mau turun) karena ya begitu, seterusnya akan  main perosotan atau raplingan, waaaahh… tetap saja SERU! 😀 Kita mah ketawa-ketawa pas turunan di seruni.

Itu SERU NI[h] (doc Ricky Merah)
Itu SERU NI[h] walau masih belum terlalu nanjak dan jalan masih lebar.
(doc Ricky Merah)

Tanjakan seruni itu, tanahnya coklat dan banyak undakan-undakan besar yang menyerupai anak tangga.  Dengan kemiringan yang cukup membuat kepala bertemu lutut, itu posisi kalau kita dari bawah mau mendaki ke puncak. Rasanya, beruntung ya untuk orang yang berkaki panjang seperti Abe. Bebas melangkah! Sedangkan Ejie, berapa banyak kata, “Hup…” untuk mencapai tanjakan diatas Ejie, meraih akar yang tersedia sebagai pegangan serta naik dengan ayunan badan keatas. Terkadang dengan bantuan kaki atau lutut dengan separuh berlutut jika tanjakan terlalu tinggi. Hahaaa… rada was-was juga kalau celana panjang Ejie bakal sowek (robek) pas manjat-manjat akar gitu. Ngga lucu kan ada Abe di belakang Ejie waktu sowek??
*jitakin yang ketawa! Jangan dibayangin! 😛

Saran Ejie, gunakan sarung tangan. Soalnya, lumayan membuat tangan kita baret-baret (apa ya namanya?) dan sakit seperti terseret juga. Oia, tetap pergunakan masker yaaaaa….

Di tanjakan seruni, keringat Ejie ngalir lumayan banyak deh. Tapi segar. Ngga gerah, soalnya terhalang dengan tumbuhan pepohonan yang cukup lebat di hutan itu. Cuaca mendukung sejuk karena menjelang sore.

***

Ini tim depan dehhh.. (doc Ricky Merah)
Ini tim depan dehhh..
(doc Ricky Merah)
  • Cerita Bapa Tere

Ejie ngga terlalu tahu ada apa sebenarnya di Pos Bapa Tere ini. Kebiasaan Ejie sebelum naik gunung itu, tidak pernah berusaha mencari tahu apa yang pernah, sering terjadi pada sebuah gunung. Tidak ingin terganggu dengan hal-hal yang akan menyurutkan langkah, Ejie lebih baik mempersiapkan diri saja untuk mendaki.

“Ejie, sebaiknya kita agak cepat jalannya,” Abe menghitung-hitung lama perjalanan. “Kalau mau sampai Pangasinan, sebelum gelap, sebelum jam 6 sore, Jie. Kalau sudah gelap mah sebaiknya istirahat dan melanjutkan perjalanan esok. Itu kata temanku di pendakian terdahulu.”

“Kenapa, Be?” tergelitik, cuek, tetap jalan.

“Katanya kalau kita jalan dalam keadaan gelap, akan berputar-putar disitu saja. Jalan di tempat yang itu-itu saja,” terang Abe.

“Terus kenapa dikasih nama Bapa Tere, Be?” masih saja si Ejie ini.

“Mending nanti saja, Jie, cerita bagian itu, ya?” tawar Abe.

Ejie terus berjalan, mengerti. Hmm… tetap positif kok. Semua kan berpulang pada bagaimana niat kita dalam mendaki, bukan? Jika kita terus positif maka seperti itulah yang terjadi, demikian sebaliknya.

Perjalanan yang menurut teman-teman berat, entah kenapa ya aku merasakan sesuatu yang berbeda. Lebih tulus dari sebelumnya. Kaki meskipun lambat, tapi terasa lebih ringan dari biasanya. Mulut tetap saja mengoceh seperti apa adanya aku yang jika diajak berbincang, akan banyak cerita yang bisa keluar dari mulut ini. Lebih sabar dari biasanya. Lebih menerima dari biasanya. Aku tidak keberatan ditunggu di pos manapun. Kali ini pun, Ky Merah sudah bilang di Pangalap tadi bahwa akan bertemu di Pos Bapa Tere.

“Ketemu  disana ya? Makan siang kita nanti..” ujar Ky Merah. Aku dan Abe mengiyakan dan mereka pun melesat, menghilang.

Mind set. Ingat perkataan Prof. DR. Basith di kapal Sail Morotai lalu, bahwa apa yang ada dalam pikiran kita itu adalah managemen otak kita dalam mengolah pikiran. Membalik, mengeluarkannya dari sebuah kotak dan mengembangkannya. Pikirkan hal berbeda dari yang biasa. Mungkin itu yang terjadi padaku di Ciremai. Ejie tak tahu pasti. Yang jelas, Ejie sangat menikmati tanjakan, pendakian panjang yang ada di Ciremai. Ejie suka!
*dan kembali kangen Ciremai 😉

Mind set lagi. Ejie ingat kalimat Bintang, melakukan sesuatu itu, sebaiknya ikhlas. Walau Ejie jujur kangen, mendaki Ciremai ini ngga ada beban kecuali isi ransel yang terasa di pundak. Beban ini, hati ini, lebih kepada “kosong”. Ngga bisa blang kosong itu apa, yang Ejie paham, berada pada kesendirian yang tak sendiri. Beban rasa meluap entah kemana. Ngga ada pikiran lain, kecuali kepengin ketemu bintang disana. Itu saja, kurasa cukup menguatkan langkah kakiku terus menapaki jalanan penuh tanjakan itu. Putar haluan bahwa ia, selalu menemaniku dalam sepi meski tak hadir fisik disisi.. (^_^)

***

(doc Ricky Merah)
(doc Ricky Merah)
  • Tanjakan Woooo…. Bapa Tere

Jika bisa mengembalikan ingatan terbatasku ini, menuju Pos Bapa Tere, kata yang selalu terucap adalah, “Woooooo…. kereeenn.. asiiik!”

Kenapa?

Tiap kali Ejie menengadahkan kepala, kata itu selalu secara spontan keluar tanpa bisa kucegah. Ejie selalu merasa takjub pada tanjakan-tanjakan menuju Bapa Tere ini. Mantab! Padahal di tanjakan seruni tadi sudah terasa seru ya walaupun jalannya lambat. Bagaimana di perjalanan Bapa Tere ini, terlebih dengar Ejie yang “Wooooooo….”

(doc Ricky Merah)
(doc Ricky Merah)

Hihiiih… kadang Ejie berhenti sejenak hanya sekedar melihat tanjakan-tanjakan selanjutnya di depan Ejie. Takjub?? Iya! Kagum? Iya juga! Ejie senang lihatnya. Untungnya Abe itu berdirinya dibelakang Ejie ya, jadi dia ngga akan melihat Ejie yang kadang suka senyum-senyum sendiri cengok ngiler dengan tanjakan keren di depan Ejie. Hheee…

Sebelum 4 bulan libur ngegunung, jalur-jalur pendakian seperti ini bisa membuat mata Ejie melek 90% dari kantuk yang biasanya kerap menyerang kalau jalannya membosankan. Tapi disini, Ejie ngga bisa selincah biasanya karena masih adaptasi mendaki setelah libur. Ahh, tetap saja Ejie suka kok. Allah itu menghadirkan banyak rasa pada Ejie di Ciremai. Sayang, ngga ada adik gunung yang sibuk juga kurang Bintang gunung yang ngga mau menjejakkan kakinya bersama Ejie. Hanya Abe, teman baru yang berkali-kali Ejie ucapkan minta maaf karena lambat.
*maaf lagi ya Abe… piss 😀

Ketika kami beristirahat karena kembali kaki Ejie butuh istirahat, kami mendengar sebuah teriakan yang memanggil. Rasanya dekat. Ini sudah keberapa kalinya ya, aku dan Abe beristirahat di tempat yang ternyata dekat dengan pos yang dijanjikan untuk bertemu dengan tim depan.

“Ejieeeeeee……” suara Ky Merah.

“Iyaaaaa…” aku menyahut.

“Sepertinya sudah dekat, Jie… Yuk, jalan. Ngga jauh kok,” Abe mengajak.

Semangat…. “Makan ya kita, Abe?” perutku terasa lapar.

Abe tertawa. Dan semangat itu kembali meneruskan hingga kakiku melangkahkan ke tanjakan cengok “Wooooo…” berikutnya.

15 menit kemudian, seperti mendengar suara-suara orang berbicara diatas kami.

“Ejieeee…. lama ya? Buru!” perintah Ky.

“Iyaaa, udah mau sampai ini,” jawabku.

“Mau minum apa, Jie?” tanya Ky lagi, di kejauhan.

“Teh hangat ya kyyyyyyyyyyyyyy…..” teriak seperti biasa dan ketawa!

***

Pohonnya tinggi-tinggi dan batang pohonnya besar serta langit biru yang cerah. Suka suasananya. (doc pribadi)
Pohonnya tinggi-tinggi dan batang pohonnya besar serta langit biru yang cerah. Suka suasananya.
(doc pribadi)
  • Touchdown Bapa Tere, Istirahat Ke-3

Pukul 14.20 WIB

Triiinngg….. triiiiiiiiiiiiiiiiingg….

Pada belokan di kanan yang akhirnya sampai di sebuah batang pohon besar, Abe yang berada di depan Ejie, senyum lebar tanda lega kembali mampir di sudut bibirku. Tampak Ky Merah yang sudah siap dengan kamera di tangannya dan Dodik bersamanya.

“Ejieeee… Abee.. lihat siniiiiiiiii…” cekrek! Ky Merah memotret kami.

Wah, Ejie langsung saja menjatuhkan badan, kebiasaan kalau melihat pohon besar, kepengin meluk dan tiduran! Soalnya dari bawah tadi, banyak beberapa batang pohon yang pengin banget Ejie pake buat selonjoran kaki dan rebahan, tapi ngga bisa karena ingat janji ketemu di pos-pos yang sudah ditentukan. Sekarang saatnya meluuuuuuuukkk….. Ahahaaha….

 

Uwoooo… seperti kondangan saja rasanya. Semua makanan dan minuman sudah tersaji rapi di batang pohon besar itu. Gelas 4 warna tersedia. Aku meliriknya, “Teh pesanan Ejie, Ky? Kok bisa pas kayak yang Ejie mau ya? Ejie mau gelas yang pink yaaaaa…. dibawah tadi kan sudah yang hijau,” sambar gelas dan meneguk secangkir teh hangat buatan teman-teman sayang. Gleekk… gleeeeekk… Hangat menjalari kerongkongan kering dan perut dinginku. Hmmm…. terima kasih ya?

“Ejie makan dulu. Kita sudah,” Erore menambahkan. “Tuh, cabenya.”

“Sebanyak ini? Mana Ejie habis….”

“Berdua Abe, Ejieeeee… siapa juga yang masakin buat Ejie sendiri. Ge-er amet,” ledek Ky.

“Ishhhhhh….. kalian ini.. Ya sudah, yuk, makan kita Abeeeeee,” nyam-nyam…. mie hangat plus sayuran dan isian sosis menghampiri kami yang kelaparan.

Kami lumayan lama beristirahat disini. Soalnya, Ejie bisa puas foto-foto. Ada langit, pohon, bunga, jalur yang tampak dari pohon besar ini, batang pohon besar, dan makanan prasmanan ala kondangan itu. Wakakaakaaa….. Terus, kita shalat.

“Ejie shalat sekarang saja, biar ntar tinggal jalan. Ejie duluan sama Abe, kita beres-beresin barang, nanti nyusul,” arahan Ky seperti biasa.

“Okeeeee….”

Karena shalatnya ngga jama’ah dan pakai matras Ejie bergantian, jadilah Ejie kepengin shalat diatas batang pohon besar itu.

“Ejie coba dulu tahiyat akhirnya, bisa ngga? Nanti jatuh,” kata Erore.

Ejie praktekin, “Bisa nih Erore…”

Baiklah, saatnya berterimakasih pada Allah. (jie)

***

Catatan Ejie:

Waktu shalat, rasanya Ejie senyum. Selesai shalat, berdo’a sebentar dan Ejie mengucapkan banyak hal diatas batang pohon itu. Terima kasih Allah, Ejie sayang teman-teman…

***

#pada Bintang, Ciremai ini pelajaran…. KANGEN! 🙂

(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
Beres-beres perlengkapan, lanjut jalan. (doc pribadi)
Beres-beres perlengkapan, lanjut jalan.
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

8 thoughts on “Ciremai Linggarjati: Tanjakan Seru Penuh “Woo” [2]”

  1. Hati2 di gunung ciremai jie, jangan berbuat yg macam2, jaga kelakuan, jaga bicara. Konon berdasarkan cerita paman dan bibiku yg tinggal di cirebon, di ciremai itu ada sesosok perempuan berambut putih panjang sampe ke tanah dan Nyi Pelet pun tinggal di gunung itu. Makam musuhnya nyi pelet (aku lupa namanya…Kyai…???) itu makamnya ada di wilayah sebelum Linggarjati.
    Aku orang cirebon tepatnya diperbatasan cirebon-kuningan (RS. Paru-paru).

  2. Team-nya menyenangkan ya Jie. Eh tapi kalau melakukan pendakian memang jarang dapat team yang nyebelin juga sih 😛
    Ngomong-ngomong soal celana sowek, aku pernah ngalamin di Merapi tuh. Gara-gara kepeleset dan akhirnya meluncur di medan berbatu dalam posisi duduk, celana sampai bolong deh, untung kebetulan bawa cadangan 😀

    1. semua teman menyenangkan buat ejie, chris… 😀
      yg penting kl mendaki ada 1-2 yg paham kondisi badan dan kaki ejie saja, itu sudah cukup kok.

      celana sowek, wlwpun bolong, tp yg dr cikuray, pertama kali sowek, tetep aja ejie pake. suka dikomen temen, ejie pake celana sowek, tp ejie ketawa aja. trus ejie cerita aja sejarah soweknya. hhihihi….
      *males dibuang, sayang, chris…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s