Krakatau: Pulau Sebuku yang Kecil dan Hati yang Luas (3)


Perjalanan melarung laut dimulai.
Dermaga Canti ditinggalkan saat masih terlihat kesibukan orang-orang yang bergantian mengangkut tandan pisang dari kapal ke darat.
Sosok-sosok haus laut pun berhamburan ke kapal yang disewa.
Tak sabar bermain angin, menatap indahnya laut di pagi hari.
Pulau pertama yang kami sapa, Sebuku Kecil menjadi tambatan hati kami kala itu.
Juga BINTANG yang menemani πŸ™‚
***
Pulau Sebuku Kecil tampak dari arah datang. (doc Pandu Bocah Petualang)
Pulau Sebuku Kecil tampak dari arah datang.
(doc Pandu Bocah Petualang)

Before :

krakatau-in-my-mind-1/

krakatau-dia-dan-kesabaran-perdana-2/

***

Juni 2012

Dari Dermaga Canti, mereka berebut masuk kapal apa sudah lari duluan ya? Ejie terakhir naik nih. Telat banget deh. Sudah pada ngga sabar sama lautkah?? Sama, Ejie juga! Berhubung dapat antrian toilet ganti bajunya terakhir, jadi naiknya juga terakhir deh. Tak apaaaaa….. Ejie kan ditungguin dia! Asiiiiiiikkk… Uluran tangannya membantuku naik kapal.

Ini baru permulaan, tapi dia sudah mengingatkan, β€œEjie kalau ada apa-apa sama kakinya atau kamu dingin, kasih tahu ya?”

Aaaaaaaaakk… iya, bakal bilang kalau ngga kalah sama keram yang ngga ngerti waktu ya? Ejie pasti bilang kok.
*mata berbinar dari balik sunglassesku… triiiiinng

***

Ngendon di badan kapal, menyesuaikan antara angin laut dan badan. (doc Pandu Bocah Petualang)
Ngendon di badan kapal, menyesuaikan antara angin laut dan badan.
(doc Pandu Bocah Petualang)

Semua sudah siap di kapal, kami berlayar. Bukan kapal besar, hanya kapal nelayan biasa yang mungkin sering disewakan kepada para penggila laut seperti kami ini, wisatawan lokal. Benar ngga ya?

Angin yang berhembus dari atas kapal ini, membuatku tertarik melongokkan kepala ke atasnya. Wuahhh! Ternyata semua pada nongkrong disana, menikmati ombak yang menari terkena hempasan kapal yang melaju dengan bunyi mesinnya di belakang sana. Ikutan ahh… dan ada dia juga, lengkap dengan sunglasses serta buff hitamnya yang kusuka. Haaha.. Ejie suka.. sukaaaaaaaa…
*tutup mata πŸ˜›

Perjalanan dari Dermaga Canti ke Pulau Sebuku Kecil ini sepertinya ngga terlalu lama sih. Ejie masih di dalam kapal, tepatnya di bawah pada bagian yang terlindung dari angin yang rasanya lumayan kencang. Mmm… masih adaptasi sama angin nih, daripada nanti ada apa-apa yang ngerepotin, Ejie sembunyi di dalam deh. Nanti kalau sudah terbiasa untuk ukuran badan Ejie, baru deh keluar dari persembunyian. Maaf ya teman-teman… ngga langsung gabung waktu itu.

Ohh, Ejie ngga terlalu menghitung waktu disana. Laut sudah membutakan jam yang bertengger di pergelangan tangan kiri Ejie. Ditambah angin laut yang menggelitik anak-anak rambut Ejie.

Kangen laut ya? Sangat! Sudah lama ngga santai seperti ini. Laut ini memberikan sesuatu pada hatiku yang terasa plong. Kangen sama udara laut juga. Kuhirup panjang-panjang udara di sekitarku ini. Ahhh… setitik air mengalir ya di sudut mataku.

β€œEjie, saatnya bermain. Janji tak ada kesedihan, kan?” satu suara mengingatkan. Kualihkan pandangan padanya yang sabar, ada dia, terima kasih Tuhan.. Laut, laut, ayoooo.. ajak Ejie senyum atuuuuhhh..

***

Ejie ngga bisa cerita banyak deh disini. Pulau Sebuku Kecil ini terletak di Selat Sunda, selatan perairan Kabupaten Lampung Timur. Seperti namanya, Sebuku Kecil, pulau ini memang tak luas. Hanya sekelilingan saja, itu juga mentok. Pulaunya sepi dan tak berpenghuni. Benar-benar kecil. Walau Ejie ngga terlalu mengelilinginya, karena melirik sedikit dari tengah perairan tempat kami bermain air, jelas kelihatan kok.

Pantai Pulau Sebuku Kecil yang terhampar pecahan karang dan kerang rusak. (doc Ade Q-bo)
Pantai Pulau Sebuku Kecil yang terhampar pecahan karang dan kerang rusak.
(doc Ade Q-bo)

Sebenarnya, pulau ini cerah. Apa mungkin karena kami yang ceria ketika itu? Atau mungkin karena langit memang tengah berwarna cerah? Soalnya waktu foto, semuanya bagus dan sangat mendukung dengan birunya langit. Heheehee

Pulau Sebuku Kecil ini tak bisa dieksplore. Sayang ya? Oia, meski memiliki pasir yang putih, tapi jangan harap bisa berjalan menyusuri pantai dengan telanjang kaki. Lho, kenapa? Banyak karang-karang putih bertebaran dimana-mana. Selain itu, pecahan karang pun banyak, membuat kita takkan leluasa menikmati pantai disini.

Kami dan pantai dengan hamparan karang. (doc Pandu Bocah Petualang)
Kami dan pantai dengan hamparan karang.
(doc Pandu Bocah Petualang)

Hmm.. tapi air lautnya yang hijau tosca bergradasi itu, bikin mata melek deh. Suka banget Ejie sama warnanya. Coba deh perhatiin. Di foto saja bisa sebagus itu warnanya, apalagi aslinya. Ngga nyesal deh Ejie kesana. Itu air benar-benar ngademin seperti dia, ehh.. πŸ˜€

Ejie mahΒ maunya nyemplung, keknya bakal adem di dalam air tosca itu. Panas dengan terik mentari, segar dengan nyemplung di dalamnya. Wohooo..
*kapan boleh nyemplung?

Pantainya yang tersembunyi di balik pecahan karang putih itu, ngga terlalu kelihatan ya? (doc Pandu Bocah Petualang)
Pantainya yang tersembunyi di balik pecahan karang putih itu, ngga terlalu kelihatan ya?
(doc Pandu Bocah Petualang)

Ooooo, airnya ngga terlalu dalam. Memang kami bermain ngga terlalu di tengah, tetap saja ketinggian airnya hanya sebatas pinggang dan jika ke tengah sedikit lagi, baru sebatas dada saja.

OmΒ AbeΒ teman yang paling jago renang, paling banyak jelajah di dasar laut nantinya dan lengkap bawaannya bilang, kalau di Pulau Sebuku Kecil ini, memang ngga bisa nyelam jauh, karena kedalamannya yang memang tidak seberapa.

β€œNanti saja nyemplungnya di pulau sebelah. Disini mah cukup main air dan narsis saja,” sambil gaya. Wuaahahahahhh… dari pertama liat Om Abe itu, sudah keliatan kalau doski itu gape banget difoto. Tampak dari auranya itu, seperti Aura Kasih. Top deh soal gaya depan kameraaaaaaa… hahaaa

Kalau untuk sekadar bermain air dan berfoto seperti keramaian yang terjadi pada kami waktu itu sih, oke saja. Malah makin menjadi deh kalau ngga dibilang sudahan, pindah pulau. Bakal lama cuma gara-gara foto itu.. πŸ˜€

Ketangkap kamera, Chinnn... (doc Pandu Bocah Petualang)
Ketangkap kamera, Chinnn…
(doc Niken Andriani)

Ehh, ada yang lucu!

ChintyaΒ teman jangkung si senyum manis itu. Karena hanya bawa celana pas-pas-an, akhirnya dia buka deh celana panjangnya di depan kita, diiringi dengan tepukan seru dari Tim Uwee. Xixiiiii…. nekad yang bikin geli deh.

Kalau sudah begitu, ngga satu kamera yang diam, semua mengarah padanya! Wkwkkk… maaf ya Chin atas keisengan mereka. Etapi, dirimulah yang memancing di sinar terik begitu πŸ˜›
*piss Chin..

Ehhmmm… dari tadi Ejie tak nampak dimana dia berada? Kemana ya? Wooooo… sibuk motret juga ya? Dia benar-benar memberikan kebebasan padaku untuk berteman dengan semuanya ya? Dan aku ngga tahu kemana ia tadi? Heheeee… ngga apa, aku kan ngga akan ditinggal sendirian kan? Karena tak satupun diantara teman lainnya yang tahu kondisiku.

Aman Ejieeeeee…. amaaaaaaaannn… ada dia di dekatmu tuhh.. πŸ™‚

Sebuku Kecil, terima kasih ya atas airmu yang tosca, juga langitmu yang ceria itu. Sungguh, mata Ejie ngga berair, malah pengin nyeburin badan, tapi ngga jadi. Lain waktu, mungkin ada kesempatan kita bertemu kembali dan berharap ia pun ada bersamaku, ehh…

***

UNTUKNYA:

Tak ada waktu yang habis terbuang percuma tanpamu.

Meski tak selalu dekat, di laut sana, kamu selalu menjagaku.
Meski aku kehilangan bayangmu yang mendadak hilang entah kemana, tapi sudut mataku terus mencarimu dan kamu ada.

Meski mereka riuh rendah penuh dengan suara ramainya, kamu tetap saja tenang disana. Membuat aku pun terus tenang bersamamu.
Seperti tenangnya mataku menatap air laut yang tosca itu, seperti itulah kamu.

Meski Pulau Sebuku itu bilangan pulau yang kecil, aku tak merasa kecil disana. Karena kamu membesarkanku dengan hatimu yang luas tak berbatas.
Tulus menjaga……

Terima kasih ya sudah ada waktu itu, kembali menjagaku… (jie)

#sayang BINTANG yang sabar……

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Krakatau: Pulau Sebuku yang Kecil dan Hati yang Luas (3)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s