cerita jiwa

Patahan Ingatanku

Kangen nulis?? Iya!
Sudah lama juga rasanya ngga menuangkan otak mumet ini.
Menulis buat Ejie itu seperti menyambungkan rasa kangen padanya, ehh….
Jujur, sangat membantu dan lumayan terobati juga sih.. πŸ™‚
Ejie ada cerita deh tentang patahan-patahan yang hilang.
Apa itu?
Ngga tahu juga, hanya angan yang berkeliling dan hinggap di beberapa tempat serta menentramkan rasa.
Apa sih?!??
Jawabnya, baca saja coretan hati ini..
***
Full of u there :) (taken by Erore doc pribadi)
Full of u there πŸ™‚
(taken by Erore doc pribadi)

Ingatanku tiba-tiba melayang pada beberapa perjalanan tahun lalu yang kujalani. Saat ia – mungkin masih sedikit peduli, menurutku mungkin pula sayang yang tak terucap πŸ˜› – ada untukku, ketika itu….

Patahan yang menari-nari di anganku. Mengingatkan dalam tiap kesabaran yang selalu ada pada jarak pandang hatiku. Tak pernah membuatku bosan – pun hingga kini – meski ia hampir tak selalu ada disampingku. Hanya bisa merasakan. Tak bersamanya saja bisa begitu, bagaimana bila bersama? Ahh… tutup mulut. Hhaaa

Dan satu per satu, ingatan itu membentuk bulatan awan di rongga anganku….

***

Bundaran HI, Kumpul Komunitas

26-05-2012, 08:27:33 AM

“Ok siap!! Kalau ada yang bareng, bilang saja sudah di tag yaaaa…..” salah satu penggalan SMS untukku.

Aaaaaakk!
Jelas, aku yang tak berteman setelah sekian tahun, merasa, “Are you angel of my life?”Β Pertanyaan yang kerap hadir dalam lelap tidurku di kemudian hari setelah bertemu dengannya.

Entah, entah, entah….

Aku hanya menikmati perjalanan hatiku selanjutnya yang penuh dengan senyuman akannya. Iya! Kesabarannya itu memenuhi ruang hati yang kosong, namun tak berani bermimpi karena sungguh terlalu banyak perbedaan yang dengan sadar teramat kupahami. Tak layak, tak pantas, tak sepadan? Namun tak bisa kuhindari…

Kenyataannya setelah sms itu kuterima, kami bertemu di titik yang ditentukan.

“Yuukk, pindah tongkrongan,” seorang teman mengajak, diikuti oleh lainnya. Beringsut dan bergerak. Demikian pun aku dan dia. Tempat kami akan pindah itu sebenarnya tidak terlalu jauh, tetap saja harus sekaligus memindahkan kendaraan yang mereka bawa.

“Aku ikut ya?” salah seorang temanku to the point mengatakan keinginannya ikut naik kendaraannya. Jleb! Diam, hanya itu yang bisa kulakukan. Menunduk dan mencari-cari pengalihan lain dengan ikut cerewet dengan teman lainnya. Tak berani berkata apapun, tak berani melihat padanya secara langsung, ehh… masih mencuri pandang juga walau ngga rela sih. Pengen mewek, tapi memang ngga seharusnya kali ya aku begitu? Hhhhhh… ngga tahu apa itu namanya.

Heiii… sepertinya aku tak salah lihat, ia pun melihatku. Benarkah? Aku tak bisa mengartikan pandangannya, tapi aku jelas merasakan ada gemuruh dalam bathinku. Ingin berontak?? Ngga mungkiiiiiiiiiiinnn….

Aku mengikuti saja tarikan tangan lembut temanku yang mengajaknya naik mobil di parkir seberang. Tertunduk, lesu dan kebiasaanku menendang yang kutemui di jalan sambil tetap menggenggam tangan temanku. Aku kehilangannya sesaat. Tetap saja kuakui, hate that moment.. 😦 HELP!

***

Sad Trekking, Somewhere He Know Where
16–6-2012, 06:10:52 AM

Patahan selanjutnya…

“Ngga dingin disana. Ini aku bawain SB (sleeping Bag) kemarin.” SMS lainnya untukku.

Peduli padaku? Iya, aku merasakannya meski ia tak pernah mengatakannya padaku. Samar, entah apa yang kuharapkan dari rasanya itu. Aman? Iya! Selalu bila ada dia.

Sepanjang ingatanku, ini adalah perjalanan sedihku tanpanya. Tujuan yang sama dengan tim berbeda. Bertemu, berpisah, bisa bersama tapi sedih. Ahh… memang ngga boleh bersama sih intinya.

Entah, entah, entah……..

Jadi ingin ia ada? Kembali kesabarannya menghantam jiwa terdalamku. Toloooooooooonngg…

Dan ketika timku bertemu dengan timnya, aku ingin disana. Rezeki? Sepertinya keberuntungan berpihak sekejab padaku. Tak tahu bagaimana awalnya, timku sudah bersilaturahim terlebih dahulu ke rumah yang dituju. Karena tempat di dalam tidak cukup, aku dapat giliran paling belakang yang akhirnya bisa membuatku bersamanya setelah kunjungan dan obrolan silaturahim tersebut.

***

  • Teras Penuh Bintang

Tanpa kusadar, mungkin itu adalah bintang dengan tatapan pertamaku di langit setelah keinginan tersembunyiku (nanti cerita tentang bintang di tulisan lain yah? hhe).

Mungkin buatnya, disana itu ngga dingin, tapi aku? Tak tahan hawa dingin, apalagi di luar rumah. Suasana yang sepi, malam gelap tanpa penerang dan listrik yang memang (sengaja) tak ada serta udara yang menurutku memang dingin malam itu.

“Kamu dingin?” ia menangkap radar badanku yang mulai menunjukkan tanda-tanda kedinginan. Sigap kan? He-ehh… Suka? Iya!! πŸ˜€Β Tanpa menunggu jawabanku, ia masuk ke dalam rumah tempat ia dan timnya bermalam, mengambil sesuatu.

“Pakai ini, biar hangat,” ujarnya.

πŸ˜₯ Untung ya gelap ngga ada penerangan, jadi ia atau siapapun yang melintas di depan teras itu tak bisa melihat air yang tiba-tiba mengalir hangat di pipiku tanpa sadar.

Tuhan… sampai kapan hal ini ada untuk hatiku? Bolehkah meminta?

Ia benar-benar membawa SB hangat itu! Menyelimuti tubuhku dengan SB yang dijanjikan dalam SMS lalu.

Masih seperti inikah sikapnya jika saja ia tahu aku yang sebenarnya, Tuhan? Pertanyaan yang tak berani kutahu jawabnya.

Perbincangan hangat di teras yang hingga kini masih tersimpan rapi dalam folder hati, ingatan dan bathinku. Takkan melupakan meski ia takkan mengingatnya karena tak penting dan sebaiknya mungkin tak semestinya ada aku dalam kehidupannya.

Mengingat tiap detilnya. Percakapan ringan lengkap dengan cerita dan tawa, sikapnya menjagaku, sesekali merapikan SB yang melorot dari tubuhku kala keasikan bertutur, HUAHHH!
*miss the moment and u!

Pertanyaanku padaMU, RABB:
Kebaikan ini, tidakkah ada untukku? Tak pantaskah? Mengingat kesabarannya…. Sabarkan dan kuatkan aku, Tuhan. AMIN YRA.

  • Genggaman Kali Dingin dan Rumah

Tempat yang sama. Genggaman tangan hangatnya yang menuntun langkah butaku dalam gelap bersama timnya menuju kali malam hari. Mau ngapain malam-malam? Ada yang mau mandi, buang air dan sekadar jalan saja cari angin. Intinya ya bersama. Melihatnya tertawa bersama teman-temannya membuat hatiku berkata, “Ini memang tempat seharusnya ia berada dan bukan aku.” Tawanya itu menunjukkan ia yang semestinya. Berbeda jika bersama timku. Apapun itu, aku suka tawa dan senyumnya.. πŸ™‚

Genggaman hangatnya itu pun mengantarku pulang ke rumah dimana aku bermalam bersama timku yang ramai. Sedikit kaget, soalnya dua orang temanku ternyata menunggu kepulanganku karena was-was aku hilang dari rombongan. Soalnya, aku keseringan nyasar kali ya, jadi ditungguin tuuuuuuhhh… kwkwwww……

Kita ngobrol sebentar di teras sebelum akhirnya ia pulang. AAaaaaaaaakkkk……… ngga mau pisah.. hiiiiikkss 😦

***

Next Traveling
13-07-2012, 19:53:12 PM

“Tinggal belok saja di UKI.. macet di terowongan,” another SMS.

Kami berempat sudah siap, hanya menunggu kedatangannya saja. Hmm… saat itu komunitasku berencana main ke laut. Karena dua hal, maka diambil keputusan dibagi dalam dua kloter keberangkatan, yakni sore dan malam. Kami kebagian kloter malam karena sebagian di kloter malam, rata-rata adalah pekerja yang bisa berangkat setelah aktifitas kantornya.

Di waktu yang dinanti, akhirnya ia muncul dengan senyum sabarnya yang aku suka! Senyum penyemangatku datang! Horeeeee….

Kembali entah, entah, entah………..

Bersamanya membuatku merasa kesabaran berpuluh kali lipat. Nyaman? Pastinya. Ahh, ahhhhh…. ngga tahu kenapa. Kekuatan itu selalu ada saat ia ada. Keceriaan juga bisa bertambah. Kebahagiaan pun tak terkira walau aku bakal menjadi bulan-bulanan ledekan teman-temanku, aku selalu saja bahagia karenanya.. πŸ˜€

***

KINI

Apa yang harus diceritakan????????????? Sepi!!!!!!??! It was a dream, trully in my head!

~Lembaran yang BURAM dan tertumpah NODA~ (jie)

***

#miss u, BINTANG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s