Dermaga Bintang Jatuh

Bintang lagi?
Melibatkanmu dalam tiap tulisanku?
Bukan disengaja.
Semua itu di luar kendali alam bawah sadarku yang terus menyimpan banyak kenangan dan tak mampu kusingkirkan.
Mereka –i don’t know who– sering berlari-lari, menarik urat syaraf di otakku pada setiap jalur darah yang tersedia hanya untuk melukiskanmu dalam rangkaian kalimat yang terbentang pada sebuah tulisan.
Voila… jadilah kamu kini!
Inilah rangkaian kesabaranmu, bintang…..
***
Hello there :) (doc Pruu)
Hello there πŸ™‚
(doc Pruu)

Pulau Biawak, Indramayu
Juli 2012

  • Melewatkan Senja

04.55 PM

Senja yang terlewatkan olehku, ketika asik berkutat di dapur bersama teman-teman komunitasku mempersiapkan hidangan makan malam. Ada saja yang kami lakukan demi sebuah kekeluargaan. Yapp, menghilangkan rasa kertertinggalan tak menikmati keceriaan indahnya senja di Pulau Biawak itu. Dapur dan memasaklah hiburan kami.

Aku tak kecewa walau senja itu tak bersamanya. Mungkin bukan hanya aku saja yang ingin melihat senyum sabarnya itu. Sesekali tak bersama, tak mengapa kali ya? Meski kini, aku sungguh merindukan kebersamaan itu. Setelah diingat, sedikit banyak di beberapa perjalanan bersama, aku melewatkan moment-moment yang bisa kusimpan untuk diriku. Menyesal tiada guna kan? Dan memang, kesempatan takkan datang dua kali, takkan pernah menghampiriku kembali, KINI dan NANTI.. 😦

Sedikit kehilangan moment namun tergantikan dengan lainnya, itu merupakan keberuntungan bagiku. Moment yang aku dapatkan disaat aku hanya menunggu kapan adanya waktu bersama, dan aku mensyukurinya hingga detik ini. Buatku,Β  mendapatkan moment yang indah dan mungkin hanya akan terjadi sekali semur hidupku, itu adalah luar biasa alhamdulillah.

Perjalanan traveling tanpa rencana, semua berjalan dengan sendirinya. Seperti malam, dinihari dan shubuh ketika itu. Sebuah moment yang… Subhanallah…. Terima kasih, Allah…

Beuatifull sunset that i missed :( (doc Dny)
Beuatifull sunset that i missed 😦
(doc Dny)

***

  • Rencana Dermaga

05.28 PM

Petang yang bersahabat tampak dari wajah-wajah ceria teman-temanku sepulang menikmati mentari yang menyembunyikan sinarnya dibalik batas waktu. Gemuruh cerita terdengar riuh rendah. Ketika tiba waktu santap malam bersama, suara jangkrik malam pun kalah oleh sejuta celotehan berisik mereka, ikut berlomba dengan beradunya sendok dan garpu di piring suapan mereka.

Aktifitas mulai mereda ketika beberapa diantaranya duduk santai, menikmati malam. Kekenyangan rupanya dan letih setelah seharian bermain, hahaahh…. Biarlah, sedikit melegakan karena [inginku] bersamanya. Ngga tahu sih tepatnya mau ngapain?

Temanku, ia dan aku mempersiapkan perlengkapan ngopi, flysheet danΒ sleeping bagΒ (SB). Kami berencana menikmati suasana dermaga Pulau Biawak, tempat kapal nelayan yang kami tumpangi berkeliling tadi pagi menurunkan rombongan berisik kami.

Aku mah senang ke dermaga, pengin lihat bintang.. Kan ada semangatku juga, dia! πŸ˜€

Eheeemm… bicara tentang udara, [mungkin] bukan dinginnya, tetapi lebih kepada angin yang sama saja jatuhnya bisa bermasalah untukku, okeee.. perlengkapan kupersiapkan. Ingat catatan dingin pesanannya dari awal perjalanan di Krakatau dulu. Hafal luar kepala! hheeee….

Terpenting:

  1. SB
  2. Syal
  3. Jaket/sweater
  4. Kupluk/topi pet
  5. Sarung tangan
  6. Kaus kaki

Semuanya lengkap dan lebih penting buatku sih, ada dia di dekatku! Asiiiiiikkkk…
#loncat-loncat hatiku πŸ˜›

***

  • Asa yang Terpenuhi

07.20 PM

Sekali lagi, gelombang hangat itu kembali mengalir melalui genggaman tangannya. Bukan sekadar menghangatkan, namun perasaan aman berada disampingnya membuatku damai. Hohooo… norak ya? Ngga apa deh, memang begitu sih aku, norak dan jelek saja rasanya.. hha

Langkah kaki di depan kami, kurasakan gontai dan terdengar sraaakkk… sreeeekkk… suara sandal yang sedikit diseret. Tak mengapa. Memang pembawaannya begitu kok.

Langkah kedua adalah dia yang berada disampingku, agak di depan. Lirik tangannya yang menggenggam tangan kurusku, mauuuuuu….. mau tangan ituuu.. Oh noooo… tutup mata! Aku sangat hafal, seperti apa tenangnya dia. Ngga mau kasih tahu ahhhh, simpan buatku saja! Waahahaa

07.30 PM

Flysheet dibentangkan, mengatur SB, menyiapkan alat masak untuk menyeduh kopi, duduk, ngobrol dan menikmati suasana dermaga. Senangnyaaaa..

Dermaga luas itu, isinya hanya kami bertiga saja. Ehh, ngga juga sih, karena di ujung sana, ada penduduk lokal yang memancing. Mungkin itu sebagian dari mata pencaharian mereka. Sesekali ada pula bapak-bapak yang lewat di tempat kami duduk. Dermaga yang tak terlalu lebar ini, kira-kira hanya 2 meter jika kami tidur selonjoran kaki.

Angin semakin kencang, kami mulai bersembunyi di dalam kantung tidur agar tak kedinginan sambil masih bercerita dan menikmati langit. Lama-kelamaan, suara-suara di kanan-kiriku sepi. Tak ada celoteh. Heii…. sudah lelapkah mereka berdua? Kuintip dari balik SB ku, senyap. Hanya desiran angin malam dermaga yang menemaniku. Letih memang karena snorklingan seharian tadi dan kakiku yang sempat keram di Pulau Gosong itu, tapi mataku belum mau mengatup.

Kenapa? Ngga bisa tidur?” sisi lain hatiku bertanya.Β Aku menggeleng. Langit itu…Β Ingatanku melayang pada kalimatku, kalimatnya juga, beberapa bulan belakang di chat kami.

“Pengin bisa tidur beratapkan bintang dan langit luas tanpa batas. Pengin makan atau sekadar ngopi saja, blaaa…… bllaaaaa…” ucapku padanya suatu saat.
#off the record ahh… πŸ™‚

Dan aku baru ngeh…..

Ini keinginanku waktu itu. Terkabulkah? Bersamanya? Alhamdulillah… Kukerjabkan bola mataku. Tidak! Ini saatnya tersenyum. Harus bahagia. Lamat-lamat, kuucapkan terima kasih dan do’a pada Sang Pencipta sebelum akhirnya aku terlelap.

***

10.49 PM

Belum lama rasanya aku memicingkan mata ketika telingaku menangkap suara rombongan berisik. Mereka?? Kami bertiga terbangun. Akhirnya ikut pindah, mencari lapak dekat mereka walau tak terlalu ke ujung karena merasa angin lebih kencang di tempat pilihan teman-temanku itu. Kembali tertidur, kali ini dengan jajaran tubuh lebih ramai.

***

  • Dermaga Bintang

11.15 PM

Beberapa kali aku terbangun. Bukan tak nyenyak, tapi aku seperti menanti sesuatu di langit, entah apa itu. Seperti merasa ada yang membangunkanku, mengingatkanku akan bintang-bintang di atas sana. Dan ketika kubuka mata minusku lebih lebar, wauaaaahhh….. otomatis lingkaran bola mataku membesar.

Lihat, langit penuh bintang!

Aku terkagum-kagum tanpa bisa berkompromi untuk segera tidur. Itu dia yang kucari. Ingin kuguncang tubuh disamping kiri agar menyaksikan indahnya jalinan bintang-bintang itu, tapi aku tak tega. Aku bangun, duduk dan sedikit keluar dari kantung tidur yang membungkus tubuhku, memandangnya. Lama. Tubuh yang terbungkus SB itu kukuh dan damai, ugkhh!Β Kualihkan pandanganku pada langit disana.

Bintang, iya, bintang disebelahku, bintang di langit, nyaman yang sama. Kutopang dagu pada kedua lututku, bergantian memandang langit dan terpekur pada gemericik air di bawah dermaga ini. Indah.

Aku berdo’a banyak malam itu. PadaNYA, untukku, DIA, DIA dan BINTANG. Kembali kurebahkan tubuhku sebelum teman-teman lain terbangun.

***

02.35 AM

Angin agak kencang, teman-teman terbangun dan memutuskan kembali ke rumah, tidur diantara hangatnya teman-teman lain. Posisi mereka yang terlalu di tempat lebih terbuka dan terkena angin, membuat mereka merasa dingin. Untungnya kami dapat posisi tidur yang aman. Lebih aman ya aku, karena terbekap oleh posisi mereka berdua yang mengapitku πŸ˜€ Selain itu sih, kedua orang di sampingku ini tak sedikitpun terganggu dengan langkah kaki setengah diseret dari teman-teman ngantukku tadi.

Okeeee…. lanjutkan saja bermalam di dermaga.

***

  • Bintang Impian

03.40 AM

Sinyal-sinyal dingin sepertinya mulai menggangguku. Terduduk dan tak mampu menahan angin yang membuat gigiku bergemelutukan. Dingin? He-ehh… angin laut mulai menampakkan rupanya. Kulihat kanan-kiriku, mereka seperti tak terganggukah atau hanya aku saja yang tak tahan dingin?? Aneh mereka ini. Kulitnya terbuat dari apa ya bisa tahan begitu? Kusabarkan diriku dan menghibur diri dengan memandang langit yang menurutku semakin banyak bintang yang bertebaran.

Ehh, jajarannya seperti membentuk garis, milky way kah? Tak tahulah. Masih separuh mengantuk mataku ini. Disisi lain kulihat jajaran bintang lainnya. Entah berapa lama aku menatapnya hingga akhirnya tak lagi mampu menahan hempasan angin terakhir. Kuguncang tubuhnya dan teman di kananku.

“Bangun donkAyok pulang. Ngga kuat nih, sudah dingin,” sedikit berkemul dalam SB.

Temanku yang gontai setengah ngingo, agak malas bergerak pulang, tapi bangkit juga dia. Sementara ia yang sabar, seperti biasa memang ngga banyak komentar, hanya gigi putihnya yang kelihatan. Suka!

“Kita ngga jadi ngopi nih….” teman kananku itu bersuara, “Padahal semalam kesini kan niatnya mau ngopi di dermaga ya? Jadi tidur deh, ahhahaa…..” Aku nyengir. Kami bersiap-siap. Merapikan barang-barang kami.

Aku yang belum puas melihat langit, terus saja menengadah menatapnya. Tak tahulah apa yang sebenarnya kucari. Bintang di langit yang cerah itu membuatku tak habis berucap dalam hati, hingga tak ada lagi yang bisa kusampaikan padaNYA. Malas-malasan melipat SB yang tak rapi itu, mataku tak lepas dari langit!

***

Tatkala aku sedang setengah menengadah dan menunduk melipat SB, sesuatu, entah, bergerak cepat, putih benderang dengan cahaya terangnya. Tak percaya dan di tengah keragu-raguan, aku berteriak.

“Ituuuu….. ituuuuuuu… yang bergerak. Bintang jatuhkah? Itu bintang jatuh, kan????” nganga pisan!

Menoleh padanya dan memanggil setengah tercekat, “Maaaass…” dan kembali menatap langit.

Uppps! Ia sedang pipis! Dalam keadaan biasa, aku bisa tertawa kalau tidak sengaja melihat orang pipis, tapi ini kondisi berbeda. Tak sempat kusunggingkan bibir untuk tertawa, tapi lebih kepada, aku tak ingin melewatkan moment yang BARU PERTAMA KALI KUTEMUI.
#norak lagi? BIARIN!

Mulut yang tak terkatup, mata kantuk yang membulat, kerjaban pada mata yang sedikit tertutup air yang mengalir dan terhapus oleh kencang angin laut di dermaga tersebut.
#cengeng ya?? BIARIN!

Seumur-umur, baru ini kulihat bintang jatuh. Seumur-umur, aku tak berani mengharapkannya. Seumur-umur, aku hanya bisa melihatnya dalam serial di televisi. Seumur-umur, aku hanya tahu bahwa bintang jatuh hanyalah sebuah cerita, sebuah dongeng dan penghias mimpi. Tapi kini??

Kata orang, jika melihat bintang jatuh, cepatlah mengajukan sebuah permintaan dikala bintang masih menari sebelum jatuhannya di ujung langit pembatas cakrawala. Apalagi kalau melihatnya bersama orang yang disayang. Make a wish! Is it true?!??

Entah benar entah tidak, aku yang tergagap bersuara, antara percaya dan tidak bisa melihat bintang jatuh, hanya berdo’a dalam hati untuk kebaikan. Bukan, bukan berdo’a pada bintang itu, tapi padaNYA yang aku percayai. Hanya padaNYA aku meminta…

Masih terlongong saat kutanya pada teman kananku, “Itu benar kan yang aku lihat? Bintang jatuh kan?”

“Iya,” singkat.

“Terang banget ya sinarnya. Besar dan cerah,” tambahku.

“Iya, aku juga lihat,” katanya.

Aku menoleh pada dirinya dan kudapati senyuman. Ahh…. sungguh, tiada kata lain yang bisa kuucapkan setelahnya. Ingin bersembunyi pada tubuh kukuhnya saat itu, tapi maluuuuuuuuu…

Kemudian, hanya senyum indahnya yang kunikmati di sudut bibirnya itu dengan genggaman kuat hangatnya yang kurasakan karena aku tak diam jejinggarakan senang disampingnya dalam perjalanan menyusuri dermaga, pulang ke rumah.

“Kamu baru pertama kali ya melihatnya?” tersenyum.

“He-ehh… dan ada mas!” benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaanku padanya.

“Terkabul banyak ya keinginannya tidur beratapkan langit dan bintang? Lihat bintang jatuh juga, bonus,” ia menambahkan.

Tuhan, aku hanya ingin ada ia yang sabar disisi…” jawaban atas pertanyaannya yang kusimpan dalam hati dan aku mengganggukkan kepalaku berkali-berkali. Sepertinya senyuman dan bahagia tak mau lepas dariku ketika itu.

***

Terima kasih, menyertaiku malam itu ke dermaga bintang jatuh.
Terima kasih, menemaniku dalam malam penuh bintang.
Terima kasih, ada di inginku berada pada situasi yang aku dambakan.
Terima kasih, menjagaku dalam dingin.
Terima kasih, memenuhi dengan tidur beratapkan langit dengan bintang diatasnya.
Terima kasih, untuk senyum sabarmu yang takkan pernah tergantikan dalam sanubariku.
Terima kasih, bila memang pernah tersimpan sayangmu untukku mesti tak lagi ada.
Terima kasih, selalu menggenggamku dalam hangatnya tanganmu.
Terima kasih, menjadi bintang dalam hati dan jiwaku….

***

Tak bisa menghadirkan langit dan bintang yang tampak oleh mata hatiku, namun menyimpannya jauh di lubuk terdalam untuk satu kenangan tak tergantikan.

Cerita ini entah benar entah tidak, mungkin hanya ilusi saja demi rasa yang tak tersampaikan. Semoga bintang jatuh itu bukan sekadar impian khayalanku saja πŸ™‚ , terlebih ia yang disampingku dengan senyum dan genggaman hangatnya.

#bila bintang pun menyimpan untuk sabarnya… MISS U!

Dermaga Biawak tampak dari atas menara (doc Dny)
Dermaga Biawak tampak dari atas menara
(doc Dny)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s