3S Tektok: Bonus Sunset dan Ujian Sindoro – Part 4

Jika di Gunung Sumbing, langit tak berpihak pada kami ketika berada di puncaknya maupun saat turunan, kami tak kecewa.
Karena Allah Maha Adil.
Yapp, kecerahan itu diberikan pada kami di Gunung Sindoro.
Langit cantik yang memaparkan warna-warni sunset di turunan menjelang pos 4.
Tak hanya senang, melainkan juga bagian dimana aku akhirnya menangis dan terpaksa memakai jasa ojek gendong.
What?!?!??
Check this one out, guys…
***
Gunung Sumbing tampak dari Gunung Sindoro. Senja yang cerah menemani perjalanan turun gunung keluarga bawel. (doc pribadi)
Gunung Sumbing tampak dari Gunung Sindoro. Senja yang cerah menemani perjalanan turun gunung keluarga bawel.
(doc pribadi)

Before:

3s-tektok-siput-di-sindoro-part-1/
3s-tektok-bukit-berlipat-sindoro-part-2/
3s-tektok-wisuda-s2-part-3/

***

Turun dari puncak (doc pribadi)
Langit cerah menemani turunan dari puncak
(doc pribadi)

Gunung Sindoro
Oktober 11, 2013

16.44 WIB

Mereka yang ngebut (doc pibadi)
Mereka yang ngebut
(doc pibadi)

Teman-teman pendaki lainnya yang tadinya bersama keluarga bawelku sebelum kedatanganku di puncak mengatakan agar jangan terlalu lama berada di puncak, karena hari akan gelap. Mengikuti saran tersebut, kami merapikan peralatan dan segera turun. Seperti biasa, mereka selalu menyuruhku jalan duluan walau pada akhirnya, tetap saja akan terkejar oleh kaki-kaki ngebut mereka. Kini, aku sudah menempati posisi seperti biasa, berada di urutan paling belakang.

“Ejie, jangan lama. Ngga pakai foto-foto lagi ya? Nanti keburu gelap. Ejie kan susah jalan. Kakinya juga sakit, tambah susah jalannya kalau sudah gelap, Jieee…” Ky mengingatkan.

“Iya, Kyyy….” sahutku.

Bandel! Sesekali masih curi-curi ambil gambar dari belakang. Hehehee

Kami terus menuruni lereng dan berjumpa kembali dengan Yoko dan Loli.

“Loliiiii… kenapa baru sampai sekarang?” langsung cerewet.

“Iya, aku lama jalannya, Jie,” Loli tertawa.

“Keong, Jie… maklumlah,” sambung Yoko. Kami tertawa.

“Mau ngecamp diatas ya?” pertanyaanku mengarah pada Yoko.

“Iya,” jawabnya.

Erore bersama Yoko dan Loli (doc pribadi)
Erore bersama Yoko dan Loli
(doc pribadi)

Bercerita sebentar dan mengambil foto bersama Erore sebagai kenangan (deuuuhhh… Ejie lupa deh FB nya apa tuh namanya. Padahal sudah dikasihtahu 😀 ), kemudian kami berpisah. Aku dan Erore melanjutkan perjalanan menyusul ketiga teman didepanku.

***

  • Senja Hatiku

17.11 WIB

Ketika menuruni lereng menuju pos 4, tampak di depan kami garis-garis senja yang mulai menunjukkan semburatnya. Kuning dan pink! Holaaaaa….. senja perlahan mulai menyapa, teman-teman…

Kami yang tak memperoleh langit cantik di Gunung Sumbing kemarin, tentu saja tak melewatkan alam yang disuguhkan Sang Pencipta di Sindoro itu. Ky yang kakinya juga sakit sebelah kanan dan tetap bisa jalan ngebut, malah asyik memotret senja yang menghampiri. Bukan Ky saja, tetapi Erore, Anja dan Rishad. Termasuk aku! 😉 Ngga mau ketinggalan moment laaaahhh…. ahahahhah. Mumpung semua pada terpaku pada indahnya senja. Ayoookk…. berburu sunset yang menggairahkan!

Candid keluarga bawel :P (doc pribadi)
Candid keluarga bawel 😛
(doc pribadi)

Mereka yang tengah asyik mengabadikan senja, sementara aku yang berada di belakang, sibuk meng-candid mereka. Lensa kameraku yang tidak bisa mengambil jarak jauh, kuakali dengan zoom pun hasilnya tetap saja kurang. Yaaahhh… tak apalah. Namanya juga candid-istilah ngeles sedikit, bolehlah haii- diperbolehkan kalau mengambil gambarnya tak sempurna, tokh??! 😛

“Ejieeeeee…. jangan jauh-jauh, jangan lama moto di atas. Sini ke bawah,” Ky terus mengingatkan.

“Iyaaaaaaaaaa,” kukejar mereka dengan menahan lutut di turunan. Nyeri terasa euy lututnya. Kaki kecekliknya juga. Tapi lebih baik tak usah terlalu dipedulikan kali ya biar ngga terbawa sugesti sakit.

***

Senja semakin indah. Jepretan demi jepretan memenuhi memori kamera kami masing-masing. Tak terasa sudah berada di post 4. Mereka pun sudah bergantian berfoto di batu besar yang ada di pos tersebut.

Kembali aku di urutan akhir. Agak ngilu berdiri di batu itu, karena kondisi angin yang lumayan kencang, langit senja mulai menempati ujung waktu peraduannya. Warna pink pun sudah mulai berubah menjadi senja kekuning dan keoren-orenan dengan latar biru dongker yang apik. Kami bergegas turun.

Urutan terakhir difoto dan inilah hasilnya. Ga asik banget siyy... *mewek (doc pribadi taken by Ky)
Urutan terakhir difoto dan inilah hasilnya. Ga asik banget siyy… *mewek
(doc pribadi taken by Ky)

“Erore, fotoin Ejie warna senja itu laaaah….” kamera sudah masuk dalam tas Ky. Ky tak memperbolehkanku untuk mengambil gambar apapun lagi karena matahari sudah semakin terbenam, sementara perjalanan kami masih panjang.

“Agak sulit, Jie. Tapi ngga tahu hasilnya bagus atau ngga. Erore pakai kamera handphone, Jie,” ujarnya.

Aku melirik Erore dan pandanganku berpindah pada langit dramatik di belakangku itu.

Belum pernah moto langit senja dengan warna itu, pengin…” bicara sendiri.

“Jalan, Jie. Kemalaman nanti. Ingat kaki Ejie tuh,” Ky seperti menangkap apa inginku, namun meredamnya. “Simpan di memori saja warna langit itu, Jie. Akan teringat kok,” tegasnya.

Aku nunut (patuh, red) walau tetap saja masih sangat memandangnya lebih lama. Penasaran!

Kami terus berjalan melewati padang, bebatuan, entahhlah. Aku sudah tidak ingat lagi urutan-urutannya berada dimana, melewati apa, sudah sampai jalur yang mana, tak tahu. Yang kuingat, terus mengikuti Anja dan Rishad yang berada di depanku, sedangkan Ky dan Erore di belakangku. Ya, kami bertukar posisi. Karena kakiku yang sakit dan lambat, Ky tak membolehkanku berada di belakang. Menurutnya, akan tambah lama nanti jalanku. Jadilah mereka mengapitku. Dan berjalan lancar.

***

  • Jalur Diskusi

18.12 WIB

Kenapa rasanya turunan ini semakin terjal ya? Beda dengan jalan naik tadi. Disini jalan yang kami lalui terasa begitu banyak bebatuan dan kerikil. Jalan dimana aku menjejak pun pasirnya licin. Terkadang terseret diantara bebatuan.

“Ky, jalannya kenapa beda ya dari waktu kita naik?”

“Anja ambil jalan di tepian sepertinya, Jie. Ikutin saja, nanti juga kembali ke jalan semestinya,” terang Ky.

Turunan ini sepertinya juga melatih kesabaran ya? Karena kalau terburu-buru dalam keadaan gelap begini, aku jadi merasa kurang sabar. Banyak rasa ngga enaknya. Bukan situasi karena gelapnya. Soalnya aku kalau berjalan di tempat gelap, agak susah melihat secara awas mengingat mataku yang minus. Belum lagi ditambah kaki yang nyut-nyutan asoy gitu deh. Harus berhati-hati nih.

Kami turun sambil becerita dan tertawa. Kadang cekakak-cekikik kalau ada yang ngebanyol. Sesekali juga beristirahat melegakan kaki, mengisi perut dengan cemilan atau sekadar minum.

Di kesempatan lain, kami bercerita tentang lanjutan kami dalam target perjalanan 3S ini. Iya, setelah Sumbing-Sindoro, kami memang harus menyelesaikan 1 gunung lagi yang termasuk dalam hitungan tektok (naik turun gunung tanpa ngecamp-red), yaitu Gunung Slamet via Bambangan.

Gunung Slamet via Bambangan adalah akhir dari tektok kami, dimana ngecamp disana adalah tujuan kami. Eheeeemmm…. mengingat kondisi kakiku yang tak mungkin untuk melanjutkan pendakian kesana, akhirnya pembicaraan ini adalah topik yang kami bahas. Turun Gunung Sindoro sambil berdiskusi, kami lakukan. Hahaaaayyy….

Keinginan kuatku untuk tidak ikut ke tujuan akhir 3S yakni Gunung Slamet, bukanlah karena malas. Tapi lebih kepada aku yang memikirkan kondisi kesehatan kakiku. Anja saja tidak yakin dengan keadaan kakiku itu, dan Erore pun yang ingin belok ke Gunung Prau. Sedangkan KY? Kakinya yang juga sakit itu, apakabar?? Naaaah… kalau belok ke Prau ikutan Erore, Ejie mauuuuuu…. hohhooho.

“Jadi kita mau menginap di basecamp Sindoro dahulu atau jalan sekarang sesampainya di basecamp lanjut ke Slamet?” Ky mengajukan pilihan.

“Ejie ngga mau ikut ya, Ky? Kaki Ejie ngga kuat deh, Ky,” kataku.

“Nyak itu harus istirahat kalau masih mau naik gunung lain lagi,” Anja menyarankan. “Jangan maksain. Prau juga diragukan deh.”

“Heheheee… memang ngga bisa juga ya, Nja?” nawar.

“Mau naik lagi ngga kakinya?” harga mati! Mingkem Ejie, lalu mengangguk, nunut.

***

  • Ujian 2S dan Tangisan

Diskusi ini seperti tak berkesudahan menemani perjalanan turun gunung kami. Hingga suatu ketika, saat Anja agak ngebut jauh di depan dengan Rishad dibelakangnya, Ky yang masih bercerita bersama Erore dengan aku yang nimbrung (ikut, red) komentar, tiba-tiba nyeletuk, “Ejie ngga mau ke Gunung Slamet, Kyyyyyyyyyyy……” panjang dan GUBRAK!!

Seketika itu juga, kakiku tergelincir, menginjak kerikil pada pasir berjalan di bidang yang sempit. Batu besar di kiri jalanku tak berhasil kuraih sebagai pegangan. Aku seolah masuk ke dalam legoka dalam yang menambah parah keadaan lutut dan kakiku kiriku.

Tergelincir dan tanpa diduga sama sekali, urat lutut kiri bagian kanan dalam seakan ditarik keluar dari tempurungnya. Berbunyi keras seperti peringatan kaki padaku, tanpa berdaya apapun, aku terjerembab jatuh dengan kaki kiri terlipat ke belakang, dan kaki kanan yang meluncur ke depan disertai teriakan yang kuingat hanya, “Kyyyyyyyyyyyyy……………”

Untuk pertama kalinya di gunung, aku menangis karena KAKIKU dan JATUH!!

Bukan jatuh biasa dan masih terngiang ucapan Anja sebelumnya, “Kakinya masih mau naik gunung lagi ngga, Nyak?”

HWUAAAAaaaaaaaa…… 😥
Nangis kencang Ejie waktu itu. Ngga peduli jelek, ngga peduli pada sakit, hanya kepikiran pada kakiku yang jelas tak ingin terjadi apapun padanya. Ejie cuma nangis, nangis, nangiiiiiiiiiiiiiiiiisssss….. Hwuaaaaaaaaaa…… mewek super jelek itu.. 😦

Ky yang kakinya juga sedang sakit otomatis melompat ke depanku. Was-was? Erore pun demikian.

“Njaaa…. Anjaa….. balik sini! Nyak loe nih jatuh, Njaaaaa…” Ky berteriak. Mungkin kalau keadaannya tak seperti itu, kami bakal tertawa ngakak dengar teriakan Ky menyebut “Nyak”, tapi ini??? Aaaaa…. aku masih nangis. Lelehan air mata itu penuh menggenaingi pelupuk mataku. Menutupi penglihatanku hingga agak mengabukan pandangan. Kuusap dengan sarung tangan yang berlumuran tanah dan pasir. Kucel, pasti.

“Kaki Ejie, Ky…..” nangis bleber (berantakan). Malu ihh Ejieeeeeee.. 😦

“Coba kedepanin dulu. Pelan-pelan, Jie,” Ky mengarahkan. Auuuch! Ngilu, nyeri, sakit, ngga tahu deh apalagi. Lupa Ejie! Lalu Ky meregangkan otot kaki Ejie, mengurutnya sedikit. Setelah agak tenang, aku dituntun berdiri.

“Kuat kan, Jie?” Ky memastikan.

“Kuat, Nyak?” Anja ikut bertanya. Aku cuma mengangguk walau sebenarnya lumayan nyeri. Kupaksakan melangkah jika tak ingin berjalan semalaman di jalur trekk panjang Sindoro ini. Anja menuntunku.

SEJAM KEMUDIAN~

Haishhh…. masih jauhkah? Hal yang tak pernah kutanyakan jika berada di gunung. Aku mulai merasa tidak enak pada teman-temanku. Terlebih Anja yang terbiasa jalan cepat. Hhhhh…. Maafin Ejie ya teman-teman..

***

  • Ejie Ngambek?

Berulang kali kukatakan pada mereka agar jalan duluan saja turun ke bawah. Toh selama turunan ini, kami banyak berpapasan dengan para pendaki yang mau summit dinihari dan masih banyak juga yang mencari posisi untuk ngecamp. Sindoro kali ini ramai pendaki. Melihat hal itu, aku tak mengapa bila sendiri. Tapi dasar kami semua keras kepala. Semua bertahan dengan kehendaknya masing-masing.

Aku yang berkeras tak mengapa bila ditinggal sendiri. Mereka yang berkeras tak ingin meninggalkanku dengan alasan kaki Ejie yang parah, jalan susah, malam yang semakin larut, perempuan dan tak baik meninggalkan teman yang sedang sakit.

Keinginanku sederhana sebetulnya. Aku memikirkan mereka yang mau tektok ke Gunung Slamet. Jika tetap bersamaku, kapan mereka bisa beristirahat? HAH! Sepertinya ego mulai menguasai. Inikah ujian selanjutnya?????

***

Pada puncaknya, dalam perjalanan selanjutnya, kami banyak diam, khususnya aku. Hanya langkah kaki saja yang terdengar.

Kesal karena aku menyusahkan mereka. Kesal karena aku memperlambat waktu istirahat mereka. Kesal karena aku tak bisa jalan cepat, malah semakin parah. Jalan yang diseret, kaki tertatih, turun yang landai pun aku harus membantu mengangkat kaki kiri agar dapat turun, dan mencari pegangan ranting, rumput atau pohon agar terbantu. Tak mau dituntun, tak mau menggunakan trekking pole, tak mau dipapah, tak mau digendong juga supaya cepat samapi di bawah. Tak mau apapun! Kesal, kesal pada diriku sendiri!!! Dan aku menyimpannya dalam hati. Sedih..

Hingga aku akhirnya berhenti, duduk, dengan maksud mereka tetap meneruskan perjalanan, tanpa aku. Sengaja juga duduk lama sampai badan terasa dingin pun kutahan. BATU! Ingat omongan Ky kala meledekku. Kali ini, BATU itu sengaja kubuat, biar mereka jalan duluan dan bisa beristirahat di basecamp.

KENYATAANNYA, mereka pun ikut duduk, beristirahat. Aaaarrghh… bukan itu yang aku mau, teman-teman. Aku lihat Anja dan Ky yang mengisyaratkan, mungkin tentang aku yang mendadak menjadi pendiam. Tapi aku malas. Kudiamkan saja.

“Ejie marah ya sama kita?” Ky bertanya, sabar.

Aku menggeleng.

“Ayo jalan lagi, Jie, nanti dingin lho. Tambah malam pula,” lanjutnya. Again?!! Ejie sebal pada kalian yang membuatku menangis karena kebaikan kalian itu.

Ejie ngga mau ditungguin, Ky, Erore, Nja, Shad….. kasian kalian itu kan mau lanjut gunung lagi. Ejie cuma nyusahin, mau jalan sendirian sajaaaaa…. hikss,” perwakilan bathinku.

Erore yang akhirnya meredamkan suasana. Ia mengambil sikap, yang lain jalan, Erore menemaniku. Kembali, Erore seperti biasa adalah jawaban akhir dalam menemani turunan. Mau tak mau, aku mengikutinya. Tapi entah kenapa, si BATU tadi masih saja ada. Aku menolak dituntun Erore yang mau menolong dimana aku selalu mengangkat lututku jika turunan. Ngilu kakiku! Tapi tetap tak mau menerima pertolongannya. Ahh Ejieeeeee…. kenapa keras kepala?!?

Kalau ingat semua kejadian di Sindoro itu, aku suka sedih. Makanya buat Ejie, mereka itu adalah keluarga bawel gunung yang aku sayang. Jahat ya Ejie waktu itu. Bukannya cerita, Ejie malah pendam semuanya sendiri karena ngga mau menyusahkan mereka. Padahal saat itu, mungkin Ejie sudah menyusahkan mereka ya? Ahhh… Ejie jahat! 😦

***

Entah waktu sudah menunjukkan pukul berapa saat itu. Aku sudah tidak mempedulikannya lagi. Yang kutahu, beberapa kali aku dan Erore berpapasan dengan pendaki lainnya. Beberapa kali pula Erore menjelaskan kondisiku pada pendaki yang bertanya. Beberapa kali pula, kami menemui tenda yang dipasang agak menjorok kedalam disisi jalur karena pos 3 dan pos 2 yang penuh dengan tenda para pendaki yang bermalam disana.

Aku pun sudah tidak mempedulikan jalan dihadapanku, karena aku berjalan setengah tertidur sambil tetap tertatih. Iya, mata setengah menutup, antara sadar dan tidak, aku berjalan. Kadang aku terduduk kala ngilu dan sakit berbarengan terasa. Di satu saat, Erore menjelaskan kondisi kakiku dan mengantri lewat, bergantian dengan pendaki yang akan naik, aku tertidur sejenak di pinggiran jalur. Kadang dipanggil, kadang juga dicolek pendaki agar terbangun. Sudah ngantuk berat, tapi ngga bisa beristirahat karena masih di jalur. PR banget harus turun ke bawah… hueeee 😦

***

Sepertinya kami sudah melewati pos 2 yang aku juga tidak terlalu menggubris pendaki yang bertukar cerita pada Erore. Ingin berhenti, ngaso, tapi karena semakin larut, dan tetap mengingat teman lainnya yang ngebut, aku tak mengasihani diriku. Sebentar saja menunggu Erore, lalu lanjut jalan lagi. Egoiskah?? Maafin Ejie ya Erore…

***

  • Pilihan yang Terpaksa

“Mas… mana mas yang kakinya sakit?” sekonyong-konyong seseorang berteriak dari arah bawah menghampiri kami. Aku cengok banyak. Terbangun dari kantuk yang menyerangku. Erore langsung mengambil alih percakapan karena aku belum terlalu ngeh dengan apa yang terjadi.

Ihhhh…. mereka itu, ternyata Ky, Anja dan Rishad sudah sampai di pos bawah. Mereka memanggil jasa ojek gendong untukku tanpa kompromi lagi denganku?? Whaaaatt?!!!!?! Aihh… aiiihhh… tadi waktu masih jalan bersama saja, aku ogah saat mereka bergantian lempar jawab soal siapa yang bisa menggendongku, dan kini mereka memanggil ojek gendong?? AKU HARUS BAGAIMANA?

***

2 kali pak ojek gendong berhenti.

Agak ngeri juga karena si bapak berlari seperti membawa carrier saja. Penerangan yang hanya menggunakan headlamp besar, berlari sembari sesekali membetulkan letak headlamp yang terpasang di keningnya karena turun dan meminta maaf karena terpaksa membawaku berlari dalam gendongannya.

Pasrah? Cuma itu sih yang bisa kulakukan. Iya, mengalah pada pilihan teman-temanku itu. Mengalah pada batu yang tersisa dalam diriku. Mengalah pada kaki dan lutut yang sakit. Mengalah pada malam yang beranjak tak mengenal waktu. Mengalah pada tatapan beberapa pendaki yang melihatku ketika kami berpapasan berlari menuju ke pos 1. Mengalah pada desiran angin malam yang menerpaku dalam balutan kain sarung kotak itu. Mengalah pada ahh sudahlah. Aku mengalah pada kalian, teman-teman.

“Kalau Ejie terus berjalan seperti itu, kita sampai di bawah bisa jam 2 pagi, Jie..” terngiang ucapan Ky, berusaha menetralisir keadaanku yang jelas membuat drop hatiku ketika kami beristirahat dalam diam. Kuhapus air mata yang jatuh tanpa dapat kucegah. Diam-diam dan menahan agar tak terdengar oleh mereka. Untung aku duduk di tempat yang rimbun agak tertutup pohon dan menjauh dari  mereka. Maafin Ejie, Kyyy…

***

KEMUDIAN…..

Aku langsung dinaikkan pada sebuah motor. Erore tetap menyusul dengan berlari di belakang bersama seorang bapak lainnya. Aku tiba di Pos 1 dan Ky pun turut bersamaku ke rumah mas Radi, orang yang bertanggungjawab di basecamp Sindoro. Ky harus ikut karena akan diurut juga kakinya. Sementara teman-teman lain pulang ke basecamp dengan ojek.

Begitu sampai dan bertemu dengan ibunya mas Radi yang mengurutku, aku banyak diam, cengok dan TERIAK saja akibat kakiku yang dibejek-bejek dan Ky puas tertawa melihat aku yang dipijit. Ugkhhhh…. sebaaaaaallll Ejieeeeeeeeee..

***

Oktober 12, 2013

Catatan saja ya?

  1. Ky dan Ejie nginap di rumah mas Radi karena pagi harinya harus diurut ulang sama ibunya mas Radi.
  2. Nangis lagi gegara di interview Ky soal kejadian diam turun gunung. Kata Ky, ngga boleh pendam apapun biar semua permasalahan tuntas dan lega tanpa ada beban di pendakian selanjutnya. Jadi Ky bisa share ke teman-teman lainnya gitu apa yang terjadi pada Ejie tadi malam. Ejie kenapa, Ejie ngambek, Ejie maunya bagaimana, Ejie seharusnya begitu, etc. TUNTAS kan Ky?
  3. Pulang ke basecamp jalan kaki bareng Ky. Katanya, ngga boleh manja. Harus dilatih kakinya biar ngga kaku.
  4. Sampai basecamp. Aku berlari ke arah teman-temanku dan hahaaaha…. sudah kangen dan peluk mereka! Haiyyaaaaa…. Ejie merasa bersalah pada kalian, teman-teman…. Maafkan Ejie ya? 🙂

***

  • Kata Ejie

Memilih teman gunung itu ngga mudah sih menurut Ejie. Boleh kok merasa 4L, Lo Lagi Lo Lagi. Boleh juga bertukar-tukar teman perjalanan. Tapi kalau buat ngegunung, mencari teman yang saling mengerti itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, susah. Perlu berkali-kali jalan dan mendaki bersama untuk bisa mengenal seperti apa sesungguhnya teman yang mengajak kita. Seperti apa teman yang takkan meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Seperti apa pula harus mengambil keputusan di saat yang dibutuhkan demi kebaikan seluruh tim dalam pendakian.

Aku, mungkin memang tidak seperti teman-teman lain yang hebat dalam mendaki. Aku juga memang tidak jagoan yang namanya lari di gunung, karena kakiku tak memungkinkan untuk itu. Aku memang kerap lambat jika berjalan di gunung. Aku memang tidak kuat mengejar para dengkul racing. Aku pun selalu diteriakin kalau berjalan terlalu lama, apalagi kalau sudah ada kamera dalam genggamanku. Aku memang ngga punya dasar-dasar mendaki layaknya teman-teman lain yang ikut MAPALA.

Aku hanyalah penikmat alam ciptaanNYA seperti yang ditularkan Bintang padaku. Mungkin karena pembawaannya, ia yang mengajari, ia yang selalu mengisi ingatanku akan alam terlebih gunung, beginilah aku adanya. Hanya penikmat. Lalu Ejie di gunung itu seperti apa ya??

Ummmm.. mendingan ngga usah tahu Ejie itu seperti apa ya? Ajakin dadakan saja Ejie ngegunung. Sudah dulu ya, Ejie janjian sama teman-teman Hitchhiker Indonesia (HHI) nih, katanya pada ulangtahun mau traktirin Ejie makan TANPA NASI. Bhahahaaa… (jie)

***

COST PER ORANG, turun Sindoro (khusus Ejie):

  1. Ongkos ojek                         : Rp 15.000,-
  2. Ongkos ojek gendong     : Rp 35.000,-
  3. Ongkos urut                         : Rp 25.000,-
  4. Makan malam                     : LUPA
  5. Sarapan pagi                        : FREE

***

#untuk bintang disana, pelajaran berarti ~ too much speechless being there..

Ky, Anja dan Erore (doc Ky taken by Rishad)
Ky, Anja dan Erore di Puncak Gunung Sindoro dengan kawah di belakangnya
(doc Ky taken by Rishad)
Dengan latar Gunung Sumbing di belakangnya (doc Ky taken by me)
Dengan latar Gunung Sumbing di belakangnya
(doc Ky taken by me)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “3S Tektok: Bonus Sunset dan Ujian Sindoro – Part 4”

    1. hai nafis…. salam kenal yaaaa
      makasi ud blogwalking dimari

      sindoro ya baru sekali itu langsung tektok, nafis.. heheeh
      ujiannya yang nilai itu siapa ya?
      umm.. kl kata ejie mah, nilai naiknya oke. turunnya mgkn bnyk merah ya nafis? 😛

      jatuhnya bikin kacau beliau siiiii…. hohhhooho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s