Tidung Island: Jabat Erat Jembatan Cinta

Pernah dengar sih yang namanya Jembatan Cinta.
Atau nonton di televisi?
Lupa Ejie.
Mendatanginya saja baru kali ini.
Tahu ceritanya juga dari salah satu postingan teman, Langlang Bhuwana di grup Backpacker Satoe Warna.
Ada apa ya disana?

***

nyelinap difoto meski hasil tak seperti yang diharapkan. Namanya juga buru-buru minta foto biar ada tanda sudah pernah kesini kan? :) (doc pribadi taken by Heri, the guide)
nyelinap difoto meski hasil tak seperti yang diharapkan. Namanya juga buru-buru minta foto biar ada tanda sudah pernah kesini kan? ๐Ÿ™‚
(doc pribadi taken by Heri, the guide)

Pulau Tidung, Kepulauan Seribu
October 2013

Perjalanan ini bukanlah perjalanan pemenuhan jiwa seutuhnya, melainkan pekerjaan. Seperti biasa, yang sering mengajakku jalan adalah Ricky Merah. Bedanya, ajakan kali ini benar-benar kerja. Tak bisa bermain-main lama menikmati underwater di perairan Kepulauan Seribu. Ky memintaku membantunya menemani teman-teman kantornya yang sekali lagi adalah tamu kami yang akan berwisata ke Pulau Tidung. Tugasku menemani saat para tamu yang juga membawa anak-anaknya bersnorkling, mengambil foto-foto underwater dan darat yang terkadang kuambil secara candid.

Celotehanku ini mengenai salah satu wisata dimana aku menapakkan kaki untuk pertama kalinya di Jembatan Cinta.

***

Senja di Tidung Island yang kuambil sembunyi-sembunyi dari Ky, heheeh (doc pribadi)
Senja di Tidung Island yang kuambil sembunyi-sembunyi dari Ky, heheeh
(doc pribadi)
  • Curi Senja

Senja menggelayut manja, menebarkan sisi romantisnya, membuatku tak habis mengabadikannya. Mesti kucuri-curi waktu sambil mengintip apakah Ky Merah masih berada di depanku dengan sepeda santainya itu? Khawatir kalau aku bakal dipanggil karena kebiasaanku yang nyangkut lama jika melihat sesuatu.

Heheee…
Aku mengambilnya dalam beberapa kali jepretan. Memastikan bahwa aku mengambil gambar yang kusuka. Beberapa pilihan pun tak sungkan kujepret. Didepanku, banyak pula para penggemar senja yang berburu si jingga cantik itu. Mereka berderet di depan sana. Aku terpaksa mencari lokasi lain demi mendapatkan view tanpa terganggu oleh siluet dmereka.

Setelah kudapatkan jingga itu, cepat kukayuh sepeda miniku mengejar Ky yang telah jauh di depan, tak terlihat. Untung keluarga Pak Amin masih di belakang, menjadi alasanku ketinggalan di belakang tadi.

“Kemana tadi?” Ky menyelidik.

“Ejie nungguin anaknya Pak Amin, Ky…. Kan sudah lama ngga belajar naik sepeda, agak kaku dia bawanya, lambat,” kilahku saat ditanya ngilang kemana. ๐Ÿ˜€

***

  • Jembatan Full Cinta

Untuk masuk ke wilayah Jembatan Cinta, per sepeda dikenakan biaya Rp 2.000,- Tetapi kalau ikut paket, sepertinya sudah include (maaf ya, Ejie ngga tahu soal ini. Semua urusan kan Ky yang atur, Ejie dan Weno sudah ada porsi kerjanya masing-masing ๐Ÿ™‚ ). Begitu sampai, sepeda akan diparkir menurut rombongannya. Perlu buat kita berjalan bersama rombongan. Paling tidak, ada guide kita yang menandai/mengenali bahwa kita termasuk dalam rombongannya.

This slideshow requires JavaScript.

Kulangkahkan kaki menginjak sebuah jembatan dengan cat merah jambu pada pegangan naik, lalu menurun. Didepanku tampak jembatan mendatar yang berkelok panjang dengan cat berwarna biru. Katanya, kalau jalan terus hingga ke ujung akhir jembatan, akan sampai pada Pulau Tidung Kecil. Jembatan ini adalah penyambungnya, yaitu Jembatan Cinta.

Menurut orang-orang yang sudah pernah kesana, juga Heri, guide yang memandu kami selama di Tidung, Pulau Tidung Kecil itu tak berpenghuni. Sepi dan tak ada penerang kalau malam. Namun demikian, banyak juga pelancong yang menginap disana dengan mendirikan tenda. Cukup berhati-hati saja sih supaya aman. Jaraknya cukup lumayan jauh, sekitar 800 meter.

Katanya mitos nih, dulu itu di Pulau Tidung hanya memiliki 2 penginapan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Nahhh, untukย  itulah mereka memanfaatkan Jembatan Cinta sebagai penyambung janji bertemunya dua insan tersebut. Lalu mereka akhirnya menikah.

Sepanjang jalan di Jembatan Cinta itu, kita bisa melihat beraneka ikan-ikan kecil dengan air yang berwarna hijau tosca. Bersih. Semakin jauh perjalanan, semakin banyak ikan dan karang yang tampak dari atasnya. Makanya jika malam hari, di jembatan ini lumayan banyak yang memancing ikan disana. Aku, Ky dan Weno yang molor sempat pula berjalan-jalan menikmati malam disana.

Sore dengan senja yang mulai mengisyaratkan pink itu, membuatku melihat sekitar. Tak hanya pasangan muda saja, anak-anak, keluarga, para sahabat, banyak yang menikmati pemandangan dari Jembatan Cinta tersebut. Sore yang cerah, banyak yang berjalan-jalan disana. Sepeda pun diangkat untuk menjelajahi jembatan itu hingga ke ujung. Aku juga penasaran sih, seperti apa akhir dari jembatan ini. Tapi ya ngga mungkin dengan tugasku yang bukan jalan-jalan, tokh?! Bisa-bisa dipanggilin Ky terus saya gara-gara main melulu ๐Ÿ˜›

Terbukti kan, kalau Jembatan Cinta itu bukan hanya diperuntukkan bagi yang sedang dimabuk cinta saja. Siapapun boleh memiliki, menikmati dan menyusuri Jembatan Cinta itu bersama orang-orang terkasih.

***

  • Jodoh dan Loncat Jembatan

Kata orang, jembatan penghubung ini punya cerita. Konon, jika pasangan berjalan bergandengan di sepanjang Jembatan Cinta ini, akan lekat hingga ke hubungan selanjutnya (jodoh). Ngga tahu cerita itu benar atau tidak.

Buat yang masih sorangan (sendiri), ngga perlu khawatir juga sih. Menurut mitos (dan saya benar-benar baru mengetahuinya saat membaca postingan Langlang Bhuwana), katanya melompat dari Jembatan Cinta ini sebanyak tujuh kali, akan menemukan pujaan hati. Aiihhh… benarkah?

Wuadeuuhh
Ejie malah ngga tahu cerita itu pada saat loncat dari jembatan yang tingginya sekitar 5 atau 7 meter itu (tergantung debit air). Lagian ditantangin sih sama Weno dan ditawarin Ky loncat. Yeeeee… Ejie mah jangan disuruh dua kali soal mencoba hal baru yang geliin bikin ser-seran (deg-degan) uji nyali. Bisa bikin ngga nyenyak tidur kalau ngga dicoba. PENASARAN!

Ky yang beraksi memtret Weno (doc pribadi)
Ky yang beraksi memotret Weno
(doc pribadi)

Waktu itu Ejie habis mengambil gambar candid di jembatan, dan begitu melihat seseorang loncat dari ketinggian jembatan itu, Ejie sepertinya ngga asing dengan sosoknya.

“Wenoooooooo….” teriak nyaring.

Weno keluar dari air dan balik teriak, “Kak Ejie, mau nyemplung ngga? Ngga takut ketinggian, kan?”

“Sana Jie, loncat. Ky potoin ini,” Ky malah menganjurkan.

“Ejie berani ngga ya?” cengengesan, nyengir sambil lepasin kamera yang menggantung, kacamata, turunin ikat kepala dan ketawa-ketiwi.

“Si Ejie mah, takut tapi tetap tuh ngebukain segala peralatan fotonya. Sini, aku pegangin barang-barangnya, Jie. Loncat tuh, biar tak fotoin,” Pak Arief, photographer yang juga tamu kami pun mengambil barang-barangku dan bersiaga memotretku.

Dari atas jembatan ini, aku sedikit kebat-kebit melihat tingginya jembatan. Tapi air hijau yang mulai butek akibat loncatan Weno tadi terus memanggilku. Menarikku agar segera lompat kebawah. Agak geli juga dadaku melihat ketinggian ini, tapi kalau ngga dicoba loncat, aku bakal penasaran dan menyesal seumur hidup karena melepaskan kesenangan hati yang jarang-jarang aku temui.

Dapat nih loncat di jembatan ;) (doc pribadi)
Dapat nih loncat di jembatan ๐Ÿ˜‰
(doc pribadi)

“Takuuuuuutt Ky, Pak Arieeeefff….. tapi pengiiiiin,” teriak lagi.

“Buruan loncat, keburu maghrib loh, Jie,” Ky balas teriak dari posisi memotretnya, pun Pak Arief yang sedang bersiap.

“Loncat, Jieeeeee….. Sudah siap niiiiiihh..” Pak Arief memberi kode.

“Takuuuuuuuuuttt…” seruku tanpa sadar kaki sudah bergerak maju. Begitu terasa badan melayang diudara, kuucapkan, Basmallah.

Byuuuuuurrrr…..
Badanku terjun bebas diudara dan mendarat lega di air laut yang hangat terkena sinar senja di sekitar Jembatan Cinta.

“Hiyaaaaaa…. mau lagi Ejie, Kyyyyyy…..” nagih?? He-ehhh…. seru!

“Sudah, maghrib sebentar lagi. Pulang kita, Jie… besok pagi ngulang lagi kalau mau,” ujar Ky. Yaaaaahhh…. ngga boleh manyun. Kalau pak komandan sudah bicara, ngga bisa bantah deh, daripada dipanggilin terus-terusan kan? ๐Ÿ˜€ Yang penting sudah mencoba meloncat dari jembatan tinggi itu demi mengalahkan rasa takut dan penasaran tadi.

***

Called the happiness (doc pribadi)
Called the happiness
(doc pribadi)
  • Genggaman Bahagia

Genggaman kedua sejoli itu cukup membuatku tak bisa mengalihkan pandangan dari mereka. Pasangan berbeda negara ini tampak bahagia dan terus tersenyum di sepanjang jembatan tersebut. Entah dari kapan aku menyadarinya. Tapi jepretan kameraku tak lepas dari kedua tangan yang bergandengan erat itu. Perbedaan selalu menepiskan rasa yang tertinggal. Mengalahkan yang terendap.

Pun aku baru menyadari jepretanku ketika melihat Ky memosting gambar loncatannya bersama Weno di Jembatan Cinta ketika aku mengambil gambar mereka berdua. Ternyata dua sejoli tadi pun ada disana, ikut sumringah dalam jepretan diantara loncatan Ky dan Weno.

Err~
Genggaman hangat yang kuingat
Genggaman bersahabat yang kuingat
Genggaman sabar yang kuingat
Genggaman penuh senyum yang kuingat

Pernah..
Aku pernah berada dalam genggaman itu
Kala itu…
Juga penuh kehangatan

Kini, bertanya pada angin yang berhembus
Kemana gerangan genggaman itu?

#tak ingin kehilangan genggaman hangatnya (jie)

***

Look at them, smilling on the brigde (doc pribadi)
Look at them, smilling on the brigde of love
(doc Ky taken by me)
The couple (doc pribadi)
The couple
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Tidung Island: Jabat Erat Jembatan Cinta”

    1. hai asus…. salam kenal ๐Ÿ™‚

      boleh, boleh….. seru kok disana.
      kalo mau loncat mah jangan sekali datang langsung 7 kali loncat….. hahhaa keram juga ntaran.

      ya beberapa kali datang donk kesana biar bidadarinya senang ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s