Pari Island: Impian Pantai Pasir Perawan

Sisi lain dari Pulau Pari adalah Pasir Pantai Perawan.
Bila malam menjelang, bisa dipastikan semua orang yang lelah bermain air di siang hari, akan ada disana. Kenapa?
Eia, dan Ken adalah teman laut, kamera dan ngobrolku semalam penuh.
Ayookk cerita, Ken πŸ™‚

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Pulau Pari September 27, 2013 Pukul 20.00 WIB

  • Lokasi Favorit Barbeque Malam

Pantai yang kami tuju malam itu melalui rumah-rumah penginapan yang tersedia. Penerangan yang tak seberapa, tak masalah buat kami. Masih ramai orang berlalu-lalang. Tak sampai 20 menit berjalan santai, kami tiba di sisi yang aku belum pernah mendatanginya. Menurut Niken, kalau malam hari, orang-orang biasanya barbeque disana. Bakar ikan, udang, cumi dan makanan laut lainnya.

Untuk barbeque-an, kita akan duduk lesehan diatas pasir pantai yang dialas terpal besar sesuai kapasitas per rombongan. Sajian barbeque yang terdiri dari makanan laut, biasanya didampingi sambal irisan dari cabai rawit yang diberi kecap. Sedap!

Ken dan aku duduk di bale-bale bambu yang ada di depan warung pemandu wisata kami, menunggu para tamu kantor yang kami bawa. Iya, itu saatnya barbeque-an. Letih tapi senang seharian tadi snorkeling di dua pulau sekitar Pulau Pari dan 1 pulau mampir untuk berfoto dan menemani anak-anak bermain air di pinggirannya. Di sekitarnya banyak terdapat saung-saung mirip gazebo tempat duduk yang terbuat dari bambu. Ada pula yang hanya sekadar tempat duduk menikmati pemandangan Pulau Pari yang tampak dari Pantai Pasir Perawan.

Selain itu, warung-warung penjual makanan dan minuman pun tersedia lengkap. Jaraknya hampir berdekatan. Bagi yang ingin berolahraga, lapangan bola voli pantai juga ada. Ehh, waktu kunjungan kami kesana, malah ada yang memanfaatkan moment untuk foto prewedding di pinggir pantainya dengan peralatan kamera yang lengkap.

Lapangan bola voli pantai (doc pribadi)
Lapangan bola voli pantai
(doc pribadi)

Karena pantai yang lumayan luas, beberapa rombongan membentuk plot tempat tertentu. Sambil menunggu hidangan laut disajikan, mereka mengisi waktu dengan mengadakan games, bercerita maupun bernyanyi. Ramai. Seperti Ken dan aku yang tidur-tiduran di pasir pantai tersebut menemani anak-anak tamu yang selalu mengajak kami bermain.

Karena barbeque nya masih lama, Erore akhirnya mengajak kami ke pinggiran pantai di sudut lain, mencari lokasi mendirikan tenda. Sedangkan Ky dan Weno menunggu kedatangan tamu di lokasi barbeque.

Kami berjalan dalam kegelapan diantara pelancong Pulau Pari. Asiiiiikk.. penginnya Ejie nih. Tidur dalam tenda, di pinggir pantai, dengarin deburan gemericik air yang terbawa ombak?? Wuaaahhh…. ingat dermaga-bintang-jatuh laaaaaa…. ahhaah

Ihh, ternyata bukan hanya kami yang berniat nenda di pinggir pantai. Sepertinya lokasi tersebut memang ditujukan bagi para pelancong yang tidak menyewa penginapan. Beberapa tenda sudah terpasang rapi di bawah lampu yang berjajar di tepian pantai. Kami mencari lokasi yang masih kosong, terselip diantaranya, dekat sebuah pohon yang wo-ooooo….. berduri! Ketusuk Ejie -_-

***

Tenda sudah berdiri diapit oleh teman-teman baru yang juga nenda. Karena masih ada tugas, jadilah kami kembali ke lokasi barbeque menemani para tamu. Bercerita, berfoto, bermain dan tertawa.

Tak terasa, barbeque yang tak kelar-kelar karena porsinya banyak, akhirnya selesai juga. Penuh perut kami πŸ˜€ . Malam mulai larut dan begitu anak-anak sudah mulai tepar, bergantian mereka mulai pulang ke penginapan yang tak jauh dari Pantai Pasir Perawan. Bisa cepat sampai kok kalau naik sepeda mah.

***

  • Tenda, Pasir dan Kami

Kami berlima, Ky Merah, Niken, Erore, Weno dan aku leyeh-leyeh menikmati malam bertaburkan bintang. Bintang terus ya? Ho-ohhh, sepertinya bintang selalu menemani kemanapun perjalananku. Ihh, Ejie kan sudah lama kepengin banget bisa tidur beralaskan pasir pantai. Dan kesampaian! Senang kali laaaaaahh…

Found the sand of u (doc pribadi)
Found the sand of u
(doc pribadi)

Pasir Pantai Perawan ini bersih, putih dan bulir-bulir pasir keringnya halus, begitu menempel di kulit. Kami tidur-tiduran di pasirnya. Tetap saja, untuk melindung kepala, matras dibentangkan. Cemilan, minuman dikeluarkan sebagai teman bercerita malam itu. MP3 pun bersenandung. Lama bercerita, Ky, Erore dan Weno akhirnya tertidur juga. Ken dan aku yang sudah tertidur duluan, gantian terjaga. Kami menikmati malam sambil terus bercerita. Tentang perjalanan, kisah, langit, alam, kamera dan tak lupa ngemil! Heheheee…

This slideshow requires JavaScript.

Ken, impian lagi yang terwujud nih,” awal cerita dalam tenda.

“Kenapa, Jie?” tanyanya.

“Kepengin tidur di pasir pantai, menghadap langit penuh bintang. Bangun tidur, pagi-pagi buka tenda, yang terlihat itu sinar matahari pagi dengan debur ombaknya, Ken. Pasti segar banget ya?” lanjutku. Itu impian terendapku.

“Iya, Jie. Ehh, Ejie sudah pernah lihat foto di blogku yang dari tenda ngga? Seperti yang Ejie bilang… ada di blogku, Jie..” Ken melihatku.

Senyum, “Sudah, Ken… makanya kebayang mulu ituuuu.. Kira-kira besok pagi gimana ya, Ken?”

“Semoga cerah, Jie…” Kemudian kami bercerita tentang, haiiyaaaaa….. banyak euy, termasuk bintang? Iya, Ken terus bertanya tentang bintang yang membuatku bingung menjelaskannya. Hhh Ken, tanyakan langsung saja padanya, biar aku tak perlu menjawab. Biar aku tak perlu merasa, dalam keinginanku itu pun, ingin ada bintang disini, saat ini, kini, juga bersama. Hahaaa… tapi takkan mungkin, kan? Err~ sudahlah.. Akhirnya kami terlelap ketika waktu telah beranjak dinihari dan mulai merasa dingin dengan angin laut yang menerpa. Tendalah tujuan kami saat itu dan sleeping bag (SB).

***

  • Hujan Tak Diundang

Entah jam berapa itu, rasanya Ken dan aku sudah tertidur memimpikan pagi. Tiba-tiba saja Ky,Β Erore dan Weno buru-buru menyerbu masuk dalam tenda. Berebut tempat. Bhahaahaaaa… ternyata hujan rintik gede (besar) mengganggu kenyamanan tidur malam mereka di pasir pantai tersebut. Kami sudah tak peduli tidur serabutan 1 tenda berisi 5 orang, karena memang hanya membawa 1 saja. Tak menyangka kalau akan datang hujan.

Weno yang mengantuk parah asal tidur di dekat kaki Ejie, coba Ejie bangunkan. Susah!

“Weno, ntar kesepak (ketendang) kaki nih. Posisinya benarin atuh biar muat dan ngga keinjak nanti,” setengah ngantuk.

Weno hanya nyeracau (bicara tak jelas).

“Wenoooooo…” tuh kaaaann.. jadi keluar kebiasaannya Ejie, teriak biar Weno bangun.

Malas, diangkatnya badan dan pindah di pojokan bersebelahan dengan Erore yang juga ngantuk. “Iya,” lalu tdur. Okeeee, yang penting ngga menghalangi saja. Kami semua kembali terlelap hingga pagi menjelang.

***

  • Ceria Pagi

Aku lupa, pagi itu terbangun karena apa ya? Oia, kalau tidak salah, kebelet pipis dan belum shalat shubuh. Jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB dan hari masih sedikit gelap. Mungkin akibat hujan mendadak semalam.

Sekembalinya dari musholla, kami memasak sarapan. Tak lama, para tamu kecil kami menghampiri dan jadilah aku dan Ken kembali menemani. Mereka kami ajak hunting foto dan jadi model pagi kami.

Di pagi hari, baru kelihatan mangrove yang tumbuh di depan tenda kami. Di kejauhan pun tampak pohon mangrove yang sudah jadi. Karena air surut, tak terlalu tinggi, jadilah terlihat pasir pantai itu seperti undakan yang bertumpuk, membentuk bukit-bukit kecil. Begitu hari mulai terang, undakan tadi tak terlalu kelihatan karena air sudah mulai naik meski tetap saja laut itu terbilang dangkal buatku yang dikerjai para bocah itu πŸ™‚ .

Tak habis-habis keceriaan pagi itu. Aku yang didaulat untuk menemani mereka berenang, pasrah, mau tak mau mengganti baju kembali. Hahahaaaaaa… berenang di air dangkal?? Omigosh! Ckcckckkkk….. dasar anak-anak yang tak kenal lelah! Mereka tetap saja tertawa riang.

Sepanjang perjalanan kami menyusuri air dangkal, kami bergandengan, merayap, berenang cantik, melekin mata di air laut, lihat tanaman laut, bertemu kepiting yang sembunyi di balik pasir laut, mengintip daun-daun layu di laut dangkal, latihan tahan nafas, latihan melotot dalam air, waaaaaahhh… banyak euy! Sesekali aku gantian menggendong mereka. Manjanya kanak-kanak kan biasa tuh. Meladeni mereka bercerita yang terkadang membuatku tak habis pikir. Sebenarnya aku tengah ngobrol dengan orang besar atau anak-anak ya? Pemikiran mereka jauh diatas rata-rata seorang anak. Pandangannya terhadap alam, laut, lingkungan serta sesekali mengenai kehidupan. Ampuuuuuuunnn…..

Heii, bukan aku saja yang dikerjain. Ken juga Erore akhirnya menyusul dengan menyewa perahu yang ada disana. Dan ketiga bocah yang bersamaku, mulai usil menggoda Ken dan Erore yang berada diatas perahu dan tak mengganti baju basah. Wahhahaaa… Ken dan Erore menyusul kami, soalnya kami mainnya jauh hingga ke perbatasan pohon mangrove di tengah. Dan begitu sampai di pinggir pantai kembali, gantian Ky yang habis-habisan dikerjai anak-anak tersebut. Hmmm…. Pantai Pasir Perawan memang penuh cerita. Dan foto-foto berikut bisa menjadi bahan cerita selanjutnya. πŸ˜€ (jie)

***

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Pari Island: Impian Pantai Pasir Perawan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s