Menit Berharga

Perlahan jaket biru putih dengan celana pendek orange itu menghilang dari pandangan.
Aku masih tetap berdiri menatap kepergiannya di eskalator yang mengantarkannya ke atas sana.
Linglung, sedikit bingung, tak tahu harus melakukan apa selanjutnya.
Hingga akhirnya…
***
(doc pribadi)
(doc pribadi)

Cengkareng, Bandara Soekarno-Hatta
December 15th, 2013

50 MENIT MENJELANG KEBERANGKATAN~

KAMI berjalan cepat melintasi zebra cross di Terminal 1b ini, menggenggam erat tangan gemuk itu tanpa berani menatapnya. Memasuki kantor penerbangan dimaksud, berbicara sebentar pada customer servicenya, mengambil kertas print yang diberikan, lalu bergegas mendekati batas keberangkatan dan meminta izin mmengantarkan gadis kecil disebelahku pada wanita berkerudung yang tengah bertugas di pintu tersebut.

Aku diizinkan masuk untuk mengurus boarding pass keberangkatan si jaket biru putih disampingku ini. Ia belum berani mengurus segala sesuatunya sendiri. Keberangkatan kali ini merupakan perjalanan keduanya sendiri, tanpa ditemani orang dewasa.

“Adiknya jalan sendiri saja? Kenapa ngga ditemani? Liburan ya, mba?” petugas counter Sriwijaya Air itu tersenyum. Aku mengangguk.

“Ditunggu sebentar, nanti akan ada petugas UM service yang mengantarkan si adik,” tambahnya.

10 menit berlalu…

“Mba, ngga telat nanti? Kok belum ke atas?” was-was. Waktu hampir mendekati pukul 15.00 WIB.

“Ngga kok, mba, sebentar ya saya panggilkan. Orangnya belum ada nih,” si mba petugas beranjak mencari petugas UM service, sedikit khawatir.

Petugas dimaksud datang dan segera mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan keberangkatan gadis kecil disampingku.

DONE. Mereka selesai dan berjalan ke batas pengantar, airport tax.

Ia menyalamiku, menciumku, memelukku, erat, dan melambaikan tangannya. Aku diam, tak ingin membuat suasana menjadi tak enak.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

***

TERCENUNG.. itu yang terjadi. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Terdiam? Yapp, hanya memandang lurus pada bayangan yang semakin menghilang di kejauhan. Ingin memanggilnya kembali, ingin memeluknya kembali. Sekejab, hanya sekejab. Aku ingin, namun tak kuasa. Lidah yang terasa kelu, mata yang mulai berkaca, tak satupun kalimat yang keluar dari sudut bibir kaku itu. Hanya memandang dan berharap ia turun memelukku sekejab. Tapi keinginan itu tak jua menghampiriku.

Kosong??

“Permisi,” sebuah suara menyadarkanku. Aku bergeser dari posisi berdiriku, lalu berputar. Mengarahkan langkah beratku ke jalan keluar yang sudah ada.

Kupandangi tangga dan eskalator di kiri jalanku, tak ada. Ia tak ada. Tertunduk dan melangkah terpekur menghitung keramik krem berbintik yang kupijak. Ahhh… deretan bangku itu mengajak langkah berat ini kesana. Tertulis “Tempat duduk untuk Lansia”. Di bangku itu, tak hanya Lansia (lanjut usia, red) yang duduk disana. Remaja, anak-anak dan orang muda pun ada.

Kuhempaskan diriku di bangku paling ujung kanan, dekat counter bus Damri yang akan kunaiki. Tarif harga Damri terpampang dari Rp 30.000,- hingga Rp 65.000,- tergantung wilayah yang dituju. Aku malas membelinya. Seluruh persendianku lemas, aku hanya melihat kesibukan orang-orang yang lalu lalang di hadapanku. Belum ingin pulang. Aku masih menanti panggilan akhir dari pengeras suara agar meyakinkan bahwa ia sudah terbang ke tujuannya. Bingung  bagaimana menghubunginya, karena ia tidak membawa ponsel kesayangannya yang hilang beberapa bulan lalu. Hhhhh… entah bagaimana menghubunginya nanti jika ia telah tiba disana. Aku tak hafal nomor penjemput yang memang sudah terlupakan dari memori terbatasku ini.

Nomor yang selalu menakutkanku bila melihatnya. Nomor yang sangat tak ingin kuingat sama sekali dan aku berhasil. Nomor yang aku tak mau tahu angka berapa saja yang ada. Sewaktu mengisi formulir pengantaran untuk kategori di bawah umurpun, aku tidak tahu, nomor berapa yang harus ditulis, sehingga sosok berjaket biru putihlah yang mengisi kolom nama dan nomor telpon si penjemput. Aku lupa!

***

KUTEBARKAN pandangan melihat sekitar, sepi. Hanya porter, petugas bandara, petugas penerbangan dan beberapa penumpang yang masih berada disekitarnya. Beberapa menanti jemputan yang belum datang.

Aku masih duduk, membuka salah satu sosial media yang ada untuk meninggalkan pesan pada saudaranya agar menghubungiku jika sosok berjaket biru putih tadi tiba disana. Untuk memastikan bahwa ia telah sampai dan dijemput orang yang tepat. Tapi seperti biasa, aku akan mendapat jawaban yang lama dan jangan ditunggu jika ingin tahu.

***

SATU SETENGAH JAM KEMUDIAN~

PANGGILAN akhir telah berlalu, posisi dudukku pun telah berubah. Ponsel yang kucharge telah cukup daya. Kerumunan orang di kiri dan belakangku pun telah usai. Crew Band Rif yang semula berada di dekatku pun mengangkat barang terakhirnya ke trolley yang ada. Sepi.

Kutoleh kepalaku ke belakang, dan jejeran troley telah rapi kembali persis di sebelah tempat pengambilan bagasi yang ada di kanan-kiriku ini.

Aku beranjak, berjalan ke arah pintu kedatangan. Keringnya tenggorokan membuatku ingin membasahinya dengan secangkir es krim berlapis coklat sebelum pulang. Di kanan pintu kedatangan, aku membelinya, lalu melangkah menuju antrian bus Damri tujuan Pasar Minggu, di depan sana.

***

UNTUKMU YANG TERBANG~

Terima kasih selalu menungguku pulang kerja.
Terima kasih atas catatan di buku harianmu yang sedikit kuintip pagi tadi, tentang kepergianmu meninggalkanku.
Terima kasih atas setiap rasamu yang tersimpan karena menyayangiku.
Terima kasih untuk setiap kesabaran yang aku tahu kamu memendamnya untuk tidak melukaiku.
Terima kasih karena kamu terlalu baik untuk aku.

Sementara aku……

Maafkan aku yang sangat tidak sempurna untukmu.
Maafkan aku yang tidak bisa melengkapi kekosongan jiwamu.
Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi inginmu akan seseorang.
Maafkan aku yang terlalu sering tidak menampakkan “rasaku”.
Maafkan aku yang tidak lagi seperti katamu “sehangat dulu”.
Maafkan aku yang terlalu dingin untuk sekadar kamu peluk.
Maafkan aku…..
Maafkan aku yang tidak mampu berkata-kata untuk menghapuskan segala salah dan minusku.Maafkan aku, sayang..

Melangkah tanpa rasa. Melepaskan asa, mengharap sebuah deringan telpon setibanya gadis kecil berjaket biru putih dan bercelana pendek orange itu di tempat tujuan. Entah untuk berapa lama, aku tak tahu…..

Biasanya, sia-sia mengharapkan deringan telpon yang kuinginkan. Memimpikan sebuah pesan singkat saja jika ia berada jauh disana, mungkin tidak usah, karena hanya akan ada air mata dari sudut aliran mataku ini saja di tiap malam kesendirianku ini.. 😦 (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “Menit Berharga”

    1. salam kenal leyla…

      kalau diterusin jd novel, harus banyak baca tulisan teman-teman lain buat tambah kosakata nih ejie.

      tapi, ada teman yang bilang, tokoh dan danpendalaman materi belum dapat, menurut leyla gmn ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s