Udeng dan Ikat Kepala Dayu

Membuka album foto itu bikin kangen ya?
Iya, kalau orang yang ada di album tersebut adalah orang yang bersahabat.
Terlebih jika ia tidak memilih-milih dalam berteman. Terlebih jika ia menganggap kita sebagai saudaranya. Terlebih jika ia banyak mengajarkan hal baru pada kita. Terlebih jika ia adalah teman yang tidak hanya memberi, tetapi juga menerima.
Dia memang banyak kelebihannya.
Dia teman yang bersahabat.
Dia pun mengajarkan ikat kepala Bali padaku.
***
Aku, Dayu dan Rainy saat event Sail Morotai 2012 lalu. (doc Ka Agus)
Aku, Dayu dan Rainy saat event Sail Morotai 2012 lalu.
(doc Ka Agus)

Smesco, Jakarta
Desember 16th, 2013

Tentang Dayu

Dayu panggilannya. Aku mengenalnya saat berada di kapal yang mengantarkan pemuda Indonesia dalam event tahunan Kementrian Pemuda dan Olah Raga, Sail Morotai 2012. Dayu adalah peserta sail yang berasal dari Bali. Utusan KAKPN Denpasar, Bali. Dayu ini jago berbahasa Inggris. Ia juga bekerja di sebuah perusahaan swasta yang mengharuskannya berkutat dengan bahasa tersebut.

Perawakannya yang tinggi semampai, sporty, berkulit sawo matang dan rambut panjang bergelombang ini, berkacamata minus. Lebih tebal dari kacamataku. Terkesan serius tertangkap saat mendengarkan materi yang disampaikan, walau sesekali juga kepergok tertidur dengan kacamata yang menggantung diantaranya karena kantuk yang menghadang.

Berkenalan dengannya tidak sulit, karena Dayu juga mudah bergaul. Berbicara dengannya yang kadang keluar logat Balinya itu pun seru. Banyak hal tentang Bali yang diceritakan. Biasanya, di event yang terbilang International ini (karena memang mengundang negara luar seperti Thailand dan Phillipine waktu itu), peserta perwakilan propinsi yang diwakilinya akan membawa pengetahuan seputar potensi wisata dan daerah tempat tinggalnya. Tentu saja hal ini sangat menarik untuk dibicarakan. Demikian, aku.

Aku yang notabene sangat tertarik dengan pesona Indonesia, takkan bosan mendengarkan setiap cerita Β Bali darinya. Aku juga dapat beberapa buku panduan tentang Bali dari Dayu. Bisa dijadikan pedoman buat jalan-jalan disana nantinya. Tapi tanpa buku pun, aku bisa langsung menggaet Dayu sebagai teman perjalananku disana, nanti.

Cerita tentang perjalanan, sewaktu pertama kali melaut dengannya di event Sail Morotai menggunakan KRI Surabaya 591 itu, rasanya, aku tidak terlalu memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan di Bali, terkait keikutsertaanku sebagai peserta di event tersebut. Hampir tak ada waktu untuk bermain di luar jam materi, terkecuali memang saatnya diberikan kesempatan berjalan-jalan dengan waktu terbatas. Kenapa terbatas? Soalnya, setiap perhentian di sebuah propinsi/kota, tidak pernah lama guna mengikuti jadwal yang ada. Itupun, tidak selalu berada di daratan. Kebanyakan perjalanan yang ditempuh dengan kapal besar kepunyaan TNI AL itu memang di laut. Jadilah kami memanfaatkan sedikit waktu yang diberikan ketika berada di darat.

***

Aku dan Dayu berada dalam satu kamar di deck R 03-H. Kamar ini berisi 57 orang. Dengan penghuni sepenuh itu, bisa dibayangkan seperti apa kamar kami itu kan? Perlu adaptasi yang cukup dengan sesama penghuninya. Hahaaaa… sungguh, kamar yang penuh dengan suara!

Dalam kamar itu, tersedia kasur bertingkat ala pelaut, tersusun 3 di tiap lorongnya. Kasur dengan seprai putih tanpa alas kepala itu, harus selalu terllihat rapi setiap saat. Kasurnya bisa rapi, tapi dengan sejumlah orang di kamar itu, berapa banyak tas, koper dan ransel yang berada di dalamnya? Belum lagi dengan persediaan air minum kardus yang mengisi tiap sudutnya. Di tiap kasur, tersedia lampu neon putih panjang sebagai penerang dengan satu colokan kabel (ihh… bahasa Indonesianya apa sih? Ejie ngga tahu nih πŸ˜€ ) untuk keperluan yang berkaitan dengan listrik.

Kasur aku dan Dayu tidak terlalu jauh. Kami sama-sama mengambil posisi kasur paling atas. Kadang agak susah untuk badan kami yang lumayan tinggi. Karena untuk berada diatasnya, terkadang, kami harus membungkuk agar kepala tidak terantuk langit-langit kamar. Keuntungannya punya kasur diatas, jarang dijadikan tempat rumpian karena pada malas naik ke tingkat atas. Jadi aman dan bersih. Heehe

Kami pun berada dalam satu kelompok yang ditentukan ketika itu, membuat kami kerap main bersama. Kebutuhan kelompok juga sih…

***

Tukaran Cinderamata

Sedikit persamaan antara aku dan Dayu, terbilang tomboy. Jika ada penampilan per kelompok yang menampilkan kreatifitas, biasanya kami berdua diberdayakan sebagai laki-laki. Wahahaaaaa… ketawa euy kalau ingat itu. Dandanan ala cowok, tapi harus ada warna keperempuanan. Dan kami ditempatkan sebagai bagian dari laki-laki juga. Lucu!

Ehh, tapi ngga selamanya kami seperti lelaki. Soalnya ada 1 hal yang biasa kami kenakan, yaitu pengikat rambut, mengingat rambut kami sama-sama panjang. Selain itu, topi dan kacamata!

Naaahhh… berbicara mengenai pengikat rambut, aku dan Dayu pernah saling bertukar suvenir. Bukan pengikat rambut, tapi pengikat kepala. Iya, kami bertukar asesoris penghias kepala. Aku adalah pengkoleksi segala kebutuhan yang berkaitan dengan kepala. Aku mempunyai pengikat kepala yang terbuat dari kain dan di dalamnya ada kawat. Pengikat kepala itu hanya untukΒ  membuat simpel penampilan rambutku saja. karena terkadang, kalau kering, rambutku itu suka acak-acakan.

Waktu itu, aku memberikannya pada Dayu saat event sail akan berakhir. Demikian pula Dayu. Ia memberikan kain pengikat kepala yang biasa diikatkan di kepalanya saat materi maupun jalan-jalan ketika di darat. Sebenarnya pengikat kepala kami ini tidaklah istimewa, namun demi mengingat satu sama lain, kami saling bertukar. Tukaran kenang-kenangan gitu deh… πŸ˜€ Sampai sekarang ikat kepala pemberian Dayu itu sudah jalan keman-mana.

Ikat kepala Dayu ini selalu kubawa dalam setiap perjalananku. Ke gunung, laut, atau sekadar jalan-jalan menikmati wisata kota dan kulineran. Dan tidak hanya ikat kepala Dayu saja yang kubawa, tetapi aku punya beberapa macam ikat kepala dan selalu kupakai ala Dayu.

***

Udeng yang sudah jadi, tinggal pakai tanpa perlu menyimpulnya. Kutemukan di Pusat Oleh-oleh Bali, Erlangga 2. (doc pribadi)
Udeng yang sudah jadi, tinggal pakai tanpa perlu menyimpulnya. Kutemukan di Pusat Oleh-oleh Bali, Erlangga 2.
(doc pribadi)

Udeng Bali

Sebenarnya, ikat kepala itu biasanya ada di udeng, semacam penutup kepala yang setengah terbuka, digunakan oleh umat Hindu di Bali. Ikat kepala ini, merupakan sarana yang digunakan saat sembahyang maupun rutinitas adat-istiadat Bali. Udeng dipakai oleh para lelaki Bali.

Udeng ini mempunyai arti yang dalam sesuai dengan penempatan warna dan pemakaiannya.

Pengartian dan kegunaan udeng, bisa baca disini http://sejarahharirayahindu.blogspot.com.

***

Keluarga Dayu yang memakai udeng. (doc Dayu)
Keluarga Dayu yang memakai udeng.
(doc Dayu)

Ikatan Khas

Cara mengikat ikat kepala Dayu itu mungkin bagi yang tidak tahu ceritanya, akan bilang, β€œAhhh… biasa saja itu, Jie… aku juga bisa kok ikat seperti itu.”

Memang biasa saja kok mengikatnya. Tapi Dayu mengajarkan satu hal padaku tentang cara mengikat dengan menggunakan ikat kepala itu. Ikatannya hanyalah simpul biasa seperti kita mengikat sesuatu. Pada simpulan terakhirnya, jangan diikat mati, tetapi buatlah agar salah satu kain pengikatnya itu bisa terlepas dengan mudah saat ditarik ketika akan membuka simpul.

Pada tiap ikatan yang ada, terkandung juga suatu makna bagi orang Bali. Ejie lupa apa itu arti dari tiap tarikan di ujung simpulnya. Ini ada link yang dikasih Dayu pada Ejie tentang simpul pada ikatan kepala (udeng).

Ia juga menjelaskan arti ikat kepalanya.

Kata Dayu, ikat kepala yang kita buat itu, diarahkan ke atas dan harus berada di tengah antara kedua mata, sejalur dengan garis hidung. Artinya hanya satu, menunjukkan Yang Maha Esa. Simpel, mudah namun penuh pengartian luas yang mendalam. Sejak itu, aku kerap mengikatkan segala jenis kain pengikat kepala dengan cara yang diajarkan oleh Dayu. Bukan ingin bergaya atau karena ikat kepalanya, tapi makna yang terkandung didalamnya itu, mempunyai pengertian yang lebih dari sekadar ikat kepala bagiku. Kepercayaan itu tergantung bagaimana kita menyikapinya, kan?

Jika punya pengartian yang baik, terlebih karena Yang Maha Esa, boleh kan menghargai adat istiadat budaya lain? Mengingatkan kepada siapa kita meminta dan berlindung. (jie)

#thank to Dayu yang memberi inspirasi saat mengajarkanku memakai ikat kepala πŸ™‚

***

Bukan udeng yang kupakai, tapi ini adalah kain pemberian Dayu yang kugunakan ala Dayu dengan ikatan kepala yang diajarkannya. Thank Dayu :) (doc pribadi)
Bukan udeng yang kupakai, tapi ini adalah kain pemberian Dayu yang kugunakan ala Dayu dengan ikatan kepala yang diajarkannya. Thank Dayu πŸ™‚
(doc Zela)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

12 thoughts on “Udeng dan Ikat Kepala Dayu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s