Thing That I Missed On The Boat

Pernah terbayang tidak bagaimana bila kita lama berada di laut?
Terpikir ngga, bagaimana para pelaut-pelaut kita mengatasi semua inginnya ketika mengarungi lautan yang luas?
Merasakan betapa lamanya bisa singgah di suatu tempat?
Merasakan bagaimana rindunya pada sebuah daratan yang berpasir?
Yang tidak melulu memandang air saja sepanjang mata melihat?
Nah, Ejie bisa sedikit mencurahkan apa yang mungkin dirasakan oleh para pelaut itu tatkala menjadi SAILORWOMEN at the sea.
Hanya satu yang Ejie kepenginin dan terangkum dalam sebuah gambar πŸ˜€
***
The sailor (doc pribadi)
The sailor
(doc pribadi)

KRI Surabaya 591
September 2012

Tulisan yang ngga konsen. Arrgghh!

Kejadian ini berlangsung di tahun 2012 lalu, ketika Ejie alhamdulillah mengikuti kegiatan kepemudaan, Sail Morotai yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Waktu itu, Ejie ikut dari jalur TNI-AL dimana kami ditugaskan sebagai utusan pemuda bahari untuk Generasi Muda Insan Bahari Indonesia (GM. IBI) pada kegiatan tersebut.

Untuk menuju ke tempat yang telah ditentukan yaitu Morotai, kami memakan waktu perjalanan pulang pergi dengan menaiki kapal tentara tersebut selama kurang lebih 1 bulan. Bisa dibayangkan, apa saja yang kami lakukan di kapal tersebut?

Tidak, aku yang merasakannya ketika itu, tidak merasa bosan sama sekali. Kenapa? Soalnya sudah ada jadwal khusus untuk mengikuti berbagai kegiatan yang sudah terprogram. Jadwal harian ketat yang musti kami ikuti alurnya. Mulai dari bangun tidur hingga malam, saatnya merebahkan diri ke kasur ala pelaut yang menemani kami selama sebulan.

Kegiatan kami antara lain, olahraga pagi, mengikuti materi yang tersedia, mengerjakan ibadah berjama’ah, makan bersama, berdiskusi, olah otak dengan ragam permainan, pentas seni, adu kreativitas, dan lainnya. Di akhir kegiatan malah banyak seni, bermain dan olahraga seperti tanding. Entah diantara pendamping dengan peserta, peserta dengan peserta, maupun crew kapal dengan peserta atau pendamping. Bahkan kami pun mengunjungi beberapa kepulauan Indonesia dalam perjalanan kami mengelilingi Indonesia bagian Timur itu. Semua kegiatan itu dibuat agar kami tak merasa bosan dengan kehidupan di kapal.

Pada perjalanan mengelilingi Indonesia bagian Timur, kami singgah di daratan. Tidak lama. Paling 2-3 hari. Yang tersingkat yaitu, ketika berada dekat dengan Pulau Selayar dan kami tidak diperbolehkan turun ke darat. Rasanya untukku yang sangat ingin menulis itu…. eRRrrrr~ Imagine that! 😦

Okelah, mungkin itu merupakan satu catatan untuk diriku, someday i’ve to be back again in the right time πŸ™‚ , semangat!

***

Hingga menjelang minggu terakhir, aku tidak terlalu memusingkan kejadian apapun di kapal. Semuanya menyenangkan buatku. Mulai dari teman-teman seluruh Indonesia yang kuperoleh. Bayangkan, berteman dengan 400 orang lebih pemuda Indonesia plus pemuda Thailand, Kris dan Rainy serta pemuda Philippine, Darwin yang bersahabat, bagaimana tidak semakin membuatku bahagia. Mengenal person to person, sesekali bercerita tentang tanah kelahiran mereka di saat-saat senggang, diluar jam materi, itu adalah hal yang terindah yang tidak ada bayarannya sama sekali. Takkan terganti kata Marcell. Heeeehhehe….

Jadi, rugi deh kalau tidak bisa memanfaatkan moment berharga di kehidupanmu jika memperoleh kesempatan yang tiada dua. Kesempatan berinteraksi dengan orang banyak, mendapatkan pengalaman luar biasa, memperoleh ilmu yang tidak hanya ada di bangku pendidikan, tapi langsung pada kehidupan nyata. Tepat di hadapanmu. So guys, bersyukurlah!

***

Roti isi kosong :P (doc Kawan)
Roti isi kosong πŸ˜›
(doc Kawan)

Booo!

Pengalaman tak tergantikan itu, tidak selamanya tanpa cacat. Bukan, bukan hal minus tentang pengalaman selama di kapal. Tapi ini lebih kepada pribadi Ejie sih.

Well, akhirnya Ejie mengakui, pernah sangat rindu akan sesuatu ketika berada di kapal. Bukan satu, tapi dua, tiga dan empat! Dan Ejie hanya akan bercerita jujur mengenai satu hal. Ini terjadi di minggu terakhir menjelang kepulangan menuju Jakarta, tetap via laut.

Ejie ini kan tidak bisa makan nasi ya? Jadi selama sebulan itu, memang tidak masalah kalau tidak mengkonsumsi nasi. Yang menjadi permasalahan, semenjak di perhentian terakhir menuju Jakarta, Ejie tidak banyak membeli stok roti, mengingat roti tidak bisa bertahan lama untuk disimpan. Paling hanya 3 hari saja. Belum 3 hari pun, stok roti itu sudah ludes. Karena di kapal, kami saling berbagi. Apalagi dengan isi kamar sebanyak 57 orang. Memang tidak semua penghuni kamar sih saling akrab, kalau sekedar ramai saja, kami bisa menyatu. Namun yang terdekat dengan lorong tempat tidur kami itulah biasanya saling berbagi, apalagi makanan.

Malam menjelang jam tidur, di saat perut mulai keroncongan, biasanya Ejie sering dapat makanan banyak dari dapur. Soalnya, Pak Taufik, bapak angkatku di kapal KRI Surabaya 591 itu, sering melebihkan lauk-pauk dan sayur buatku. Lauk sebanyak itu, mana bisa kuhabiskan sendiri. Bisa begah nanti perutku. Oleh sebab itu, aku pasti akan makan beramai-ramai dengan teman-teman di kamar, R 03 H. Surga banget deh kalau Ejie bawa piring berisi lauk-pauk dan sayur dari dapur ke kamar. Bisa mendadak penuh itu kamar dengan perut-perut yang kelaparan.

Kalau kata Pak Taufik, karena Ejie ngga bisa makan nasi, jadi sering disimpanin makanan biar tetap semangat. Biar ngga lemas. Baik, kan Pak Taufik? Ngga hanya si bapak, terkadang juga crew kapal yang tahu Ejie ngga bisa makan nasi, mengingatkan agar mengambil makanan di dapur kalau lapar. Hahahaaa…. kangen deh Ejie sama suasana kapal itu πŸ˜‰

Lanjut cerita mengenai roti yang ludes ya?

Jadi karena si roti habis, dan Ejie mulai sedikit merindukan makanan daratan, maka dimulailah merecoki grup what’s up (wasap) komunitasku begitu mendapat sinyal untuk berchatting-ria via telpon selularku.

Curhat pertama kulayangkan pada teman komunitas Hithhiker Indonesia (HHI) yang kupanggil Kawan dan Katin. Kepada mereka kukatakan bahwa aku kangen roti.

“Kawan, kepengin banget nih makan roti. Kangen Ejie. Sudah ngences saking kepenginnya. Searching-in gambarnya donk buat Ejie. Stok roti Ejie habis nihh..” itu wasapku.

What? Pengin roti tapi minta searching gambarnya? Beli donk, Jie…. Yeeee.. Dikata laut ada mall apa?!? πŸ˜› Bukan stress kelamaan di kapal kok, tapi Ejie benaran sangat kepengin lihat gambar roti. Wkwkkkk

Mulanya sih, seperti biasa Kawan selalu meledekku, namun akhirnyaa dikirimkanlah sebuah gambar roti seperti permintaanku yang ingin ada isi coklat di dalamnya. Bhaahahahaaa… Mabok ya, Jie?

Triiiiinnngg…

Sebuah gambar roti mampir di wasapku. Banyak, dalam sebuah nampan yang keluar dari panggangan roti.

“Kawaaaaaann, ngga mau yang kecil begitu. Mau yang gede dan ada isi coklat melelehnya deeehh 😦 ” ujarku.

“Bentar, searching,” sibuk dan beberapa menit kemudian, muncullah gambar roti tanpa lelehan coklat. Grrrr… Ngga apa deh. Yang penting rotinya close up. Xixixiii… aneh!

Lalu keinginan ini merambat dan kuposting di grup wasap HHI. Kali ini kepengin spaghetti dan risol yang pernah dibawa Katin waktu kumpul HHI. Parahnya lagi, kepengin kue lumpurnya Kadon sewaktu hitching ke Pulau Biawak, tapi malah ngga kesampaian.

Triing-triiiiiiiiiiiiinngg..

Kedua gambar keinginan itu un muncul berikut ledekan-ledekan yang biasa kuterima dari mereka. Hhhaha.. Biar saja. Toh mereka belum merasakan seperti apa kangen daratan dan makanannya. Setidaknya kan bisa meredamkan rasa tertahan di tenggorokanku ketika itu, bweeeeee..

Wahahahahaaaa separah itukah Ejie rasa kangennya terhadap makanan? Umm, iya! Padahal sewaktu di Sorong, sempat juga lho makan salah satu makanan fastfood disana. Ejie makan es krim dan krim supnya. Ngga ada spaghetti 😦 Mungkin karena sudah lama, jadi rasa kepenginnya parah begitu ya? Disana juga Ejie borong roti dan tetap, ludes di kamar.

Eheemmm.. akhirnya sih kepenginan itu dapat juga meskipun hanya berupa sebuah gambar yang dikirimkan teman-teman komunitasku itu. Roti, risol dan spaghetti,Β  lengkap gambar tersebut tersimpan dalam folder lapar di telpon genggam milikku. Ada ya orang yang begitu? Kenyang via gambar? πŸ˜€ (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s