Hitchhike Bandung: Selly, Sedotan dan Lingkungan

Cerita ini bukan tentang makanan, tempatnya atau apa yang kami makan.
Cerita ini tentang seorang teman yang baru saja kukenal dan aku menjadi tersenyum dengan apa yang dilakukannya ketika kami bersama dalam sebuah persinggahan di tempat makan.
Dia adalah Selly.

***

(doc om google)
(doc om google)

Terminal Ledeng, Bandung
January 19th, 2014

“Ejie, nanti disana nginap di rumah Selly, ya?” isi sms Ramdan.

Hoo? Ada tempat bermalam? Padahal aku tak memikirkannya. Jika Ramdan, teman hitchingku mengupayakan tempat bermalam bagi kami, maka kusebut sebagai rezeki, alhamdulillah. Terima kasih, Ramdan.

Bukankah perjalanan tanpa rencana itu indah ya? Semakin indah bila dalam perjalanan itu terdapat kejutan-kejutan di dalamnya. Semakin indah pula bila kita menemukan hal-hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Semakin indah bila terdapat banyak penasaran di dalamnya. Juga semakin indah bila kejutan-kejutan itu memberi dampak positif bagi kita pribadi. Seperti halnya mendapat teman baru, keluarga baru, pelajaran baru, dan lainnya? Nah, Ejie dapat itu di perjalanan hitchhike Jakarta-Bandung kali minggu lalu.

***

SOSOK SELLY

Goa Jepang di Taman Hutan Raya with Selly (doc pribadi)
Goa Jepang di Taman Hutan Raya with Selly
(doc pribadi)

Pendiam dan pendengar yang baik. Itu yang kutangkap dari Selly ketika baru pertama kali bertemu. Di Braga, kawasan seperti Kota Tua-nya Jakarta. Ramdan memperkenalkanku pada teman-teman yang juga baru 2 kali ditemuinya itu. Teman baru yang asik kata Ramdan. Mereka adalah sekumpulan teman-teman backpacker juga yang berdomisili di Bandung. Diantara mereka, Selly yang akhirnya menjadi teman bermalamku. Soalnya akulah yang dititipkan Ramdan di rumahnya.

Pendiam Selly sedikit buyar ketika kami mulai bercerita di rumah Selly, kamar tepatnya. Dan lebih tepat lagi, seperti biasa, akulah yang banyak berceloteh. Saking banyaknya, kami sampai lupa waktu kalau pagi hari, kami janji bertemu dengan Ramdan dan Yudis untuk rencana jalan-jalan kami di Bandung, ke Taman Hutan Raya.

“Kebanyakan cerita nih Ejie ya Sel? Cerewetnya mulai deh..” baru ngeh, waktu menunjukkan pukul 02.00 dinihari.

“Ngga apa, Jie. Senang dengar ceritanya. Cerita kemana lagi, Jie?”

Wihiiihihi… okeee, tambah cerita, khususnya hitchhiking kemana-mana.

Selly ini orangnya mungil, berkacamata dengan rambut tergerai sebahu. Berbanding terbalik jika berfoto bersebelahan denganku. Lucu deh waktu di Tahura. Selly berdiri disampingku, tapi naik diatas undakan yang ada.

“Disebelah Ejie, tapi mau naik, biar ngga kecil,” katanya. Bhaaahaha, Ejie berasa giant deh, Sel.. -_-“

Begitu hasil foto itu jadi, aku benar-benar memperhatikan dan.. hoplah! Fotonya lucu! Looks like….. tengok saja sendiri πŸ˜›

Cerita panjang dua arah itu berakhir ketika waktu hampir menunjukkan pukul 03.00 dinihari. Kami saling mengucapkan salam dan groooookkk… Tidur!

***

Aku bukanlah orang sempurna akan lingkungan hidup. Hanya cukup menyadari arti pentingnya lingkungan hidup bagi kelangsungan kedepan. Dari perjalanan yang sudah aku tempuh, aku mulai mengenal banyak karakter orang. Beragam. Begitu juga saat bertemu Selly.

Selly ini masih kuliah dan juga bekerja. Bukan kantoran yang saklek dengan waktu. Sesekali juga keluar kota jika diperlukan dan tidak bentrok dengan waktu kuliahnya. Ia berkecimpung di lingkungan hidup. Umm… disinilah aku mendapatkan sosok Selly yang akhirnya membuatku mendapatkan dan memutuskan satu lagi tambahan pelajaran dalam hidupku.

***

PESANAN dan PELAJARAN SELLY

Kami bertiga sudah memesan makanan kesukaan masing-masing. Aku melihat-lihat minuman. Antara kepengin jus atau es kopi. Mata yang agak mengantuk membuatku akhirnya memesan es kopi cappucinno saja. Streeepp.. gelas plastik ditutup atasnya lengkap dengan sedotan diletakkan ibu si empunya warung makan di meja dudukku.

“Aku jus mangga saja, Bu,” pesan Selly karena tak ada pilihan lainnya. “Oia, di gelas saja dan jangan pakai sedotan ya, Bu?” tambahnya.

“Mau langsung diminum saja, neng?” si ibu bertanya.

“Iya,” singkat.

Aku mendengarkan percakapan Selly dan ibu. Bukan kepada pesanannya yang membuatku ngiler karena mendengar mangga, tetapi pada permintaannya. Tanpa gelas plastik dan sedotan. Aku memandangi pesananku. Belum kusentuh dan kuminum.Percakapan bathin, hentakan Selly atas pesanan yang membuatku tersadar seketika.

Lingkungan hidup!

Ahhh… si mungil Selly. Aku jadi manyun. Seruputan es kopi yang tadi sudah terasa di mulutku jadi kurang sedap. Aku lebih suka melihat gelas jus mangga tanpa sedotan milik Selly dengan hiasan susu di sekitarnya. Ia duduk di sebelahku.

Aku melihatnya dan mengajukan pertanyaan, “Gelas plastik dan sedotan itu sampah ya, Sel?”

Selly hanya tersenyum dan tertawa. Bodohnyaaaa… aku sudah tahu jawaban itu sejak Selly memesan jus mangga, masih saja bertanya. Ckckckkkk……

Terlihat mudah dan gampang ya? Mencintai lingkungan dimulai dari diri sendiri dengan cara sederhana. Aku jadi ingat. Hampir tiap pagi jika tak berpuasa, aku selalu membeli jus (kalau tak sempat mengolah sendiri di rumah), sebelum tiba di kantor. Kebiasaan minum jus yang tak pernah putus.

Tahukah? Gelas plastik, sedotan dan plastik pembungkusnya selalu ada. Jika dihitung-hitung, berapa banyak sampah plastik yang sudah kuhasilkan dalam seminggu? Kalau dikalikan dalam sebulan? Woooo… Aku baru ngeh. Padahal kalau belanja apapun di mini market, pasar atau toko, aku mengupayakan untuk tidak menerima kantong plastik. Aku selalu membawa tas yang bisa dicuci ulang untuk mengurangi sampah plastik. Kenyataannya, tanpa kusadari, sampah jus dan sedotanku banyak. Errr~

Hal lain, di kantor untuk mencetak laporan intern, aku selalu menggunakan kertas reuse, yang dibelakangnyaΒ  masihΒ  bisa digunakan kembali. Kenapa untuk jus kesukaan, aku tak terpikir sampah plastiknya ya? Pembelajaran dan perbaikan Ejieeee… πŸ™‚

Ejie baru baca nih kalau ternyata 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik dikonsumsi diseluruh dunia setiap tahunnya. Berarti hampir mencapai 1 juta kantong plastik per menit. Jika dibayangkan, (ehh, jangan dibayangkan, karena kenyataannya Ejie pun berlaku demikian) betapa banyak sampah yang dihasilkan dan tentunya hal ini menjadi salah satu penyebab rusaknya lingkungan hidup. Aihh… maafkan Ejie ya? Hmmm… Ejie baru baca juga, kalau 1 kantong itu perlu waktu 1.000 tahun untuk terurai. Wuiiiihhh!

Ejie ingat juga nih tentang hal berikut:

  1. REDUCE (Mengurangi). Meminimalisasikan penggunaan barang/material agar mengurangi sampah.Β Gunakan tempat makan dan minum sendiri. Jika memungkinkan, bertanyalah pada pemilik restoran atau pramusaji, apakah boleh membungkus makanan yang dipesan dengan tempat makan yang kita bawa? Kalau restoran saja boleh, warteg tentunya lebih bisa lagi kan?
  2. REUSE (Memakai kembali). Pilah dan pilhlah penggunaan barang. Hindari pemakaian disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang pemakaian barang sebelum menjadi sampah. Misalnya kantong belanjaan.
  3. RECYCLE (Mendaur ulang). Daur ulang barang yang tidak terpakai, walau tidak semua barang bisa didaur ulang.
  4. REPLACE (Mengganti). Teliti dan gantilah barang yang biasanya kita pergunakan sehari-hari. Jika memungkinkan, pakailah barang yang ramah lingkungan. Misalnya kantong plastik/kresek diganti dengan tas belanja yang bisa dicuci ulang atau keranjang belanja. Sebaiknya tidak menggunakan styrofoam karena akan lama baru bisa terurai.
(doc pribadi)
Kantong belanja ramah lingkungan yang bisa digunakan berulangkali. (doc pribadi)
(doc pribadi)
Styrofoam yang banyak digunakan sebagai pembungkus makanan. (doc pribadi)

NOTE BUAT SELLY: Bantuin Ejie soal ini, Selly…. πŸ™‚

Adalagi nih pelajaran dari Selly.

Ketika akan mengambil foto lansekap dengan kamera pocket, aku mengganti baterai. Selly melihatnya dan bertanya, “Ejie pakai baterai yang pakai ganti buang, ya? Kenapa ngga pakai baterai yang recharge saja?”

“Bukannya baterai yang tidak dipakai lagi bisa ditanam ya, Sel?”

“Bisa, tapi kan tetap merusak lingkungan, Jie… dan ngga bagus buat tanah,” katanya.

Lebih lanjut aku menanyakan mengenai baterai recharge padanya melalui sms hari ini pukul 13.37 WIB tadi.

Berikut jawaban Selly mengenai baterai, “Bahan dasar baterai salah satunya mercuri yang termasuk dalam zat-zat berbahaya. Kalau sudah dipakai, masuknya ke limbah B3 (bisa digoogling daftar zatnya). Kalau dikubur bisa mencemari tanah. Dibakar pun bisa ikut keluar lewat udara. Jadi biar tidak nyampah, lebih baik gunakan baterai recharge yang bisa dipakai berulang-ulang. Cerita panjangnya nanti ya, Jie… aku ada kelas nih.”

***

Pelajaran Ejie:

Hari ini Ejie beli jus dan pakai tempat minum sendiri. Hehehee.. Selain itu, untuk makanan, meski kadang beli sayur dan lauk jadi, Ejie juga membawa tempat makan sendiri.

Sayangi alam..
Sayangi lingkungan….
Sayangi BUMI… πŸ˜‰

Ejie bukanlah orang yang sempurna. Tulisan ini pun tak sempurna. Hanya pembelajaran yang Ejie dapatkan dari sebuah perjalanan hitchhike yang Ejie jalani. Perjalanan serta petualangan yang terselip makna di dalamnya, buat Ejie. Terima kasih Selly….. Semoga janji ini terpenuhi untuk say no to plastic and straw or anything else ’bout the garbage. Amiiinn.. (jie)

***

#to bintang, another lesson for my life..

Pagi ini beli jus menggunakan botol minumku yang corongnya gede. Heheheee (doc pribadi)
Pagi ini beli jus menggunakan botol minumku yang corongnya gede. Heheheee
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

12 thoughts on “Hitchhike Bandung: Selly, Sedotan dan Lingkungan”

    1. heheheee…

      sama kok backpackerborneo…. ejie pun masih belajar juga utk tidak nyampah. pengennya sih bumi tersenyum dengan kesadaran yang dimulai dari diri sendiri πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s