Hitchhike By Myself: Dago Pakar Atas to UPI

(doc by Erick Samuel)
(doc by Erick Samuel)

Hitchhiking tak selalu harus menempuh jarak yang panjang.
Belajar memberanikan diri mengambil jarak pendek, bisa dijadikan ajang mengulik penasaran, rasa ingin mencoba untuk berhitchhike.
So, i’ll tried this one for my soul.
How’s you?

***

Ayeee... dapat tumpangan gratis ke kolam UPI, Setiabudi ;) (doc pribadi)
Ayeee… dapat tumpangan gratis ke kolam UPI, Setiabudi πŸ˜‰
(doc pribadi)

Tahura, Bandung
January 19th, 2014

Puas menikmati keindahan alam Taman Hutan Raya yang berlokasi di Dago Pakar Atas, Selly, Ramdan juga aku, memutuskan pindah lokasi jalan-jalan.

Tiba di parkiran, agak bingung dengan kendaraan apa yang akan kami naiki. Masalahnya, Ramdan tadi diantar Yudhis yang sekalian mau berangkat kerja lepas. Sedangkan aku bareng Selly karena malamnya bermalam di rumah Selly.

Aku memperhatikan kendaraan di sekitar. Ada angkot (kendaraan umum) disana. Tidak banyak. Hanya 1, 2 saja yang tampak. Itupun tidak ngetemΒ (mobil yag berhenti menunggu penumpang, red), melainkan sewaan dari Dago Bawah. Artinya angkot tersebut akan lama berada disana. Tidak mungkin kami menaikinya. Kuputar pandangan.

Kendaraan pribadi, banyak. Sepertinya juga tidak mungkin. Soalnya pengunjung rata-rata adalah peserta yang mengikuti kegiatan lari lintas alam yang berlangsung di Taman Hutan Raya pagi itu. Kendaraannya pun penuh berisi keluarga atau teman-temannya yang menjadi supporter. Pandang sekeliling.

“Dan, ada mobil patroli Polisi tuh. Sepertinya bisa kalau dicoba menumpang seandainya juga mau turun. Berani ngga nanya, Dan?” pandangan masih kekeuh, tetapi begitu kualihkan pada Ramdan, sepertinya ia tidak menyakinkan. Hanya menunggu.

Aku masih menunggu dan melihat, siapa tahu bisa cari kendaraan buat Ramdan.

Mataku kembali menangkap kerumunan di kiri bawah. Tampak segerombolan orang-orang bermotor dengan mesin kendaraan yang menyala.

“Dan, sana tanya. Bisa ikut ke bawah ngga?” mencoba mengarahkan Ramdan berani bertanya. Ia tidak bergeming.

Baiklah, baiklah….. kuputuskan Ramdan ikut Selly, dan aku yang akan mencari tumpangan ke bawah. Cepat kuhampiri rombongan orang-orang yang menurut firasatku, mereka aman, sebelum tertinggal dan susah mencari kendaraan turun ke Dago Bawah.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

“Maaf pak, ini mau turun ya?” aku memberanikan diri bertanya.
“Iya, teh…” ramah.
“Boleh numpang ikut ke Dago Bawah, pak?” tanyaku lagi.
“Mau kemana, teh?” Ahaa! Sebuah sela untukku. Coba ahhhh…
“Sebenarnya mau ke Setiabudi, UPI, pak. Tapi sampai bawah dan ketemu angkot juga terima kasih,” ujarku.
“Bisa. Ayuk teh, silahkan…”
Sejenak mereka berbicara dalam bahasa Sunda yang tak kupahami seraya bercanda. Tetapi karena beberapa dari mereka memakai seragam, aku merasa aman.

Aku naik di motor RX King, bapak lainnya mengendarai motor manual dan matic. Sementara, Ramdan dan Selly berjalan mengiringi di belakangku.

Lucunya, motor yang kutumpangi dengan Kang Woto pengemudinya, sempat mogok diturunan. Wkwkkkkk…. aku santai saja menunggu. Soalnya belum sampai bawah, belum ada angkot atau kemungkinan tumpangan lainnya. Jalan yang kami lalui pun bukanlah jalan yang luas. Jadi, menunggu saja lebih bijak kurasa.

Greeeeenngggg…. motor akhirnya hidup juga. Lega euy..

Dalam perjalanan ke bawah, cerita mulai mengalir. Dari pertanyaan yang paling sering kudengar, aku membeberkan kisah hitchhiking. Bercerita mengenai komunitas Hitchhiker Indonesia (HHI) ku yang kerap mengadakan event ke suatu daerah tempat wisata dengan cara menumpang. Awalnya rata-rata banyak yang tidak percaya dengan ceritaku bahwa ada komunitas tersebut. Aku memberitahukan mengenai grup di jejaring sosial yang hampir berusia 2 tahun ini. Aku juga bercerita mengenai kegiatan komunitas itu. Banyak deh hingga mengetahui hobbinya yang juga naik gunung, jalan-jalan dan touring. Wiiiiiihhh…

Dari sekian hal yang kuketahui, satu hal yang harus tetap dijaga. Hahahhh.. maaf euy, Ejie ngga bisa bilang. So secret! Ibarat wartawan yang melindungi narasumbernya gitulah. Ejie masih memegang teguh prinsip journalists yang satu itu. So guys, sorry…. couldn’t tell you more bout Kang Woto.

Senangnya lagi, dari hasil pembicaraan yang entah bagaimana mulanya, aku lupa, Kang Woto jadi oke untuk mengantarkanku hingga di pintu gerbang UPI, Setiabudi tempat Ejie akan latihan freedive bersama teman-teman Bandung Freediving (BFD). WHAT?????? Are you sure? Yaap, yaaaaappp……

Then, touchdown UPI!!! Hureeeeeeeeyyyy….. Thank Kang Woto ^_^Β Β 

***

Kata Ejie

Pelajaran apa yang bisa didapat dari sebuah hitchhike singkat dengan 1 kendaraan ini?

Menurut Ejie

  1. Kesempatan
  2. Berani mencoba, jangan takut gagal
  3. Bertukarceritalah dengan “melihat” orang yang mendengarkan
  4. Lucky will follow us
  5. Tersenyumlah…. (jie)

***

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “Hitchhike By Myself: Dago Pakar Atas to UPI”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s