Cikuray 2nd Time: Lautan Pendaki Penuhi Rambutan – 1

Terlambat datang, kerjaan kantor yang membuatku tak bisa tepat waktu.
Ditunggu teman yang menanti karena aku yang tak kunjung tiba.
Kendaraan yang sepi karena tak juga menemukan arah tujuan.
Bertemu puluhan pendaki, lalu terminal mendadak penuh!
Huwawwww….

***

Cikuray 06 AM (doc pribadi)
Cikuray 06 AM
(doc pribadi)

Terminal Kampung Rambutan, Jakarta
Januari 31th, 2014

Malam terus bergelut, hujan pun seakan tak ingin berhenti hingga disana. Erore temanku yang menunggu di Terminal Kampung Rambutan tak henti-hentinya menanyakan posisiku. Sementara teman-teman lainnya, Ky, Anja dan Ncyis sudah lebih dahulu berangkat. Aku telat karena pekerjaan kantor yang tak dapat kutinggalkan. Aku tak ingin meninggalkan PR untuk kemudian dikerjakan di minggu selanjutnya dengan badan dan otak yang letih. Tak apalah aku pulang sedikit larut namun selesai tugas kantorku. Tapi disisi lain, teman mendaki menunggu kedatanganku.

Waktu hampir menunjukkan tengah malam, kendaraan yang akan kunaiki belum juga tampak. Sepi kendaraan memang daerahku kalau sudah lewat dari pukul 23.00 begini. Sabar, mungkin ini adalah awal perjalananku.

Masih berbicara dengan Erore disudut telpon ketika akhirnya aku naik kendaraan coklat bertuliskan KR-Rambutan. Legaaaaaaa….

***

Halte transjakarta Terminal Kampung Rambutan ini lagi yang mengingatkanku akan kehadirannya yang menjemputku ketika itu. Masih teringat jelas dimana ia berdiri. Ahh sudahlah, garis bayangannya tak lagi hadir disana. Celingukan mencari Erore, dan melihat lambaian tangannya.

Kami bertemu berikut teman Ky yang juga bergabung. Sama sepertiku, Ronal terlambat datang karena baru pulang kerja. Kami segera mencari bus yang bisa membawa kami ke garut, tempat pertemuan dengan tim yang sudah jalan.

Mengarah ke terminal di dalam. Olalaaaaaa…… terminal malam ini sungguh penuh pengunjung. Memang, esok merupakan hari libur panjang. Pastinya tidak hanya terminal yang menjadi favorit bagi para pemudik, pelancong dan pencari rezeki memenuhi tempat-tempat seperti ini.

Mataku menelusuri tempat berteduh yang cukup luas itu. Sepanjang mata memandang, yang tampak adalah lautan manusia. Tak hanya itu, kami bertemu puluhan pendaki yang memanfaatkan momen hari libur nasional itu untuk berlibur menikmati alam.

Puluhan pendaki? Ho-ohhh…. Ramai! Lihat kanan, kiri, depan, belakang, mentoknya hanya pendaki saja. Penuh! Wakaakakkkkaaaaa…. Iya, wajah-wajah itu kukenal. Akrab. Seperti biasa, terlibat pembicaraan yang tak bosan-bosannya. Apalagi kalau bukan tujuan pendakian, berapa banyak yang ikut dengan masing-masing tim, bertemu si anu, si ini, wuiiihh… ceritanya serulah mereka itu.

Yang tak berubah yakni, jika aku melihat sekumpulan teman-teman perempuan yang bergerombol, ketawa cekakak-cekikik bersama, mungkin hanya aku yang menikmati kumpul dan berbincang dengan para lelaki. Ahaahahah…. payah si Ejie ini. Cewek atau cowok sih? Bukannya bertegur-sapa dengan para perempuan, malah nongkrong cerita kumpul sama lelaki.. πŸ˜› Yeeee…. ngga ada larangan, kan?

***

Padatnya jumlah pengantri kendaraan membuat kami hanya bisa duduk dan bercerita. Kemudian saling berkoordinasi dengan sesama pendaki untuk menyewa 1 kendaraan bus yang searah. Iya, waktu yang semakin mendekati dinihari ditambah hujan yang sepertinya tak rela melepas kepergian kami sekadar menghirup udara sejuk alam, membuat kami memutuskan kongsi (patungan) menyewa kendaraan.

Bus kami peroleh. Erore, Ronal dan aku pun ikut bergabung. Mungkin karena butuh pula, maka harga kendaraan naik dari harga biasanya. Kami harus membayar Rp 60.000,- per kepala. Hujan mengguyur deras dan Erore menyarankan kami segera naik ke bus yang dimaksud.

β€œEjie, langsung naik, cari tempat duduk,” perintah Erore. Aku paham dengan perkataannya. Mataku melihat tumpukan pendaki yang mengantri di pintu bagasi, ingin memasukkan carrier mereka kedalamnya, namun hujan lebih gesit membasahi tanpa berpikir segera masuk dan memangku saja carriernya daripada berbasah-basahan di luar bus.

Hap! Aku loncat dan memilih tempat nomor 2 dari belakang serta menyelipkan carrierku di bangku diantara kedua kaki. Untung saja aku memakai sandal gunung, jadi bisa melepaskan dan melipat kakiku agar tak terganggu oleh carrier dan terlindungi dari dinginnya udara. Kututup lubang pendingin diatas kepalaku dan memastikan bahwa aku aman dari dingin. Ahhh, kembali kelebatan bayang itu mengingatkanku pada kebiasaannya yang kerap menjagaku dari dingin. Tidak, tidak, aku sendiri, harus kuat! Kukerjapkan mataku untuk menghilangkan rasa hangat di sudut mata itu.

Kuangkat kepala dan melihat rombongan pendaki yang ramai mulai sadar bahwa menunggu antrian di bagasi, sia-sia. Selain basah karena hujan, tempat duduk pun keburu penuh πŸ˜€ .. Koordinasi tim pendaki yang membawa banyak pasukan dilakukan. Erore, Ronal dan aku yang hanya bertiga sudah santai di tempat duduk masing-masing. Aku bersebelahan dengan Ronal. Kami bercerita apapun. Canda mulai mengisi bus. Tak lama, kami pun telah terombang-ambing di perjalanan impian menuju gunung yang tercipta dalam mimpi kami masing-masing.

Yapp, mimpiku yang dipenuhi teman-teman ceria yang selalu membuat hidupku penuh canda. Mimpiku yang berisi gelak tawa penuh ledekan keluarga di dalam tenda. Mimpiku yang memenuhi otak malam menghadirkan sejuta kerinduan pada mereka yang selalu membuatku merasa bahagia. Mimpiku yang dipenuhi langkah, jejak, kaki, panggilan, canda. Iya, mimpiku yang diwarnai oleh gunung dengan cerahnya langit diatas puncak sana. Serta mimpiku yang juga dihiasi olehnya yang selalu saja ada menemaniku dimanapun. Ahhh…. KAMU! ^_^

Iyeeeeesss…. mimpi ngegunungnya, nanti lagi ya ceritanya. Tangan dan pundak saya sakit nih. Besok deh cerita lagi. Lanjut kerja, mariiiiiiii… πŸ˜‰ (jie)

Β ***

Bus pendaki?? Ramai kaliiiiii.... (doc pribadi)
Bus pendaki?? Ramai kaliiiiii….
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s