Edisi Resepsi Papandayan: Hitchhiking Z to Cileunyi [1]

(doc by Erick Samuel)
(doc by Erick Samuel)

Ajakan ky ke Gunung Papandayan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman pendaki, Irwansyah-Dee Naa, kusambut.
Meski sudah pernah kesana dan mengalami hal yang tidak terlupakan.
ehehee… ceritanya buat ejie dan cukup bintang saja deh.
Sekarang bukan mau  cerita gunungnya, tapi Ky nih.

***

Ky dengan kendaraan pertamanya, tujuan Jakarta-Tol Kopo, Bandung. (doc pribadi)
Ky dengan kendaraan pertamanya, tujuan Jakarta-Tol Kopo, Bandung.
(doc Ky)


Jakàrta
February 21st, 2014

AJUAN HITCHHIKING

Ada apa dengan Ky?

Namanya Ahyudi Ricky. Biasa kupanggil Ky Merah. Ky kan jago ngegunung. Dengkul racing, bawaannya segambreng lebih tinggi dari kepalanya. Kalau ditimbang, isi carriernya mungkin bisa lebih berat dari badan langsingnya itu.

Ceritanya nih, ada yang aneh pada Ky kali ini. Kemanapun kami berpetualang (biasanya bersama Anja dan Erore juga, paling sering), sharing cost diutamakan olehnya. Tidak seperti biasanya, Ky seorang pendaki yang sangat backpacker ini mengajukan satu permintaan yang cukup membuatku melongo.

Haa? Kenapa? Ky aneh ya? Hi-ohh, iya!!

Hmm.. cukup membingungkanku ketika menerima whatsappnya yang mengatakan (skip ajakan mendaki, tapi..) fokus pada kalimat selanjutnya.

“Ejie, kita hitchhiking, ya?” pesannya itu membuatku tanpa sadar mendadak bersin-bersin dan tersedak air putih yang tengah kuminum.

Uhuuuk! Cepat kutaruh gelas minumku dan sekali lagi membaca pesan itu sebelum akhirnya membalas pesannya.

“Ngga salah baca ya Ejie, Ky? Benar mau hitchhiking?” Balasku dalam pesan singkat itu.

“Iya, hitchhiking ya, Jie? Nanti dari Cileunyi, motoran ke Papandayannya,” sambungnya.

“Hahahaaa… bisa pingsan Ejie tahu Ky mau hitchhiking,” masih takjub.

“Yaaahh, ngga percaya,” jawabnya. “Ketemu dimana dan jam berapa?” tambahnya. Ky yakin sekali dengan ucapannya itu.

Baiklah, kusebutkan tempat bertemu dan kami menyepakati pukul 20.00-21.00 WIB sebagai jam bertemu di lokasi.

***

HARI PERJUANGAN

Aku mendahulukan mempersiapkan diri karena tahu, teman-teman yang akan ikut hitchhiking kali ini adalah mereka yang bisa tidur selama di perjalanan.

Siapa saja yang ikut?
1. Kavri, teman hitchhiking sejak 2012 lalu. Aku belum pernah 1 tim dengannya. Menurut Katin, Kavri mudah terlelap jika di perjalanan.
2. Ricky merah, teman dan guru mendaki yang sangat backpacker. Hehee… aku kerap melihatnya tidur jika kami melakukan perjalanan.
3. Inyo, teman baru, belum kenal dan belun tahu seperti apa karakternya.

Jum’at itu aku pulang cepat dari kantor agar dapat mengambil 2 kesempatan incaranku. Service motor yang terbengkalai seminggu ini dan tidur sebelum hitchhiking. Keduanya alhamdulillah terlaksana dengan baik.

Kusetel alarm di ponsel, dan meng-off-kan semua jaringan seluler agar dapat tidur berkualitas meski hanya terhitung 1 jam saja mengistirahatkan mata dan tubuh.

Di waktu yang telah terjadwal, aku terbangun mendengar alarm yang berbunyi. Sigap, mandi, shalat lalu packing ala kadarnya. Xixiiixiiix… iya, Ejie belum packing apapun dari kemarin. Tapi sebelum tidur tadi sudah mempersiapkan barang apa saja yang akan dimasukkan dalam daypack kotak hijau itu.

Mengecek pesan masuk dalam ponselku dan okeeeee… Kavri rupanya tidak jadi bergabung hitchhiking bersama. Haap! Selesai shalat, aku segera menuju tempat yang dijanjikan, Pasar Induk Kramatjati. Begitu bertemu, aku sedikit bingung melihat Ky yang hanya datang sendirian.

“Ky, mana temannya?” tanyaku heran.

“Ngga jadi, Jie. Teman Ejie juga mana?” balas bertanya.

“Hahahaaa… ngga ada juga, Ky. Sakit dia. So, kita saja nih yang hitchhiking?”

“Ya ngga apa. Tapi Ky mau shalat dulu, Jie. Dimana ya?”

Aku mengajaknya ke pos langganan tempatku biasa berhitchhiking jika waktu tak banyak dan kejepit hari kerja. Meminta izin pada bapak penjaga untuk shalat dan berhitchhiking, lalu Ky pun shalat. Awal yang baik untuk memulai suatu perjalanan perdananya, meminta perlindungan Allah untuk keselamatan. Terima kasih, Ky…

***

20.45 WIB

Tak lama sesudah Ky shalat, kami berbincang pada bapak penjaga di pos. Adeuuuhh.. Ejie lupa lagi namanya. Sepertinya harus tanya pada Ramdan nih. Dia yang selalu ingat nama-nama orang yang kami temui di perjalanan. Hahahaaa… maaf yah? Begitu mataku memperhatikan plat kendaraan yang lalu-lalang di depan kami, seorang satpam, Pak Firdy asli Jawa Timur menghampiri kami dan berbincang. Rupanya keberadaaan beliau ini memberikan rezeki pada kami.

Sebuah kendaraan Mitsubishi L300 yang tengah berhenti di pintu keluar pos, menepi. Kutanyakan apakah boleh kami menumpang ke Bandung.

“Iya, boleh. Silahkan, mbak,” kata si bapak.

“Saya berdua teman, pak,” ujarku.

“Ngga apa. Tapi hanya sampai Kopo saja. Saya ngga ke Cileunyi,” jelasnya.

“Oke, pak…”

Aku dan Ky naik kendaraan tersebut tanpa lupa mengucapkan terima kasih kepada bapak di pos dan pak Firdy, sang satpam.

Perjalanan dimulai. Seperti biasa, aku mengawalinya dengan memperkenalkan diri kepada pengendara yang telah bersedia mengajak kami di kendaraannya.

Si bapak yang bernama Dede (42), sehari-hari bekerja mengantarkan sayur sawi dari Kopo ke Jakarta. Terhitung 8 tahun belakangan ia mengantarkan sayur tersebut. Selain mengantar ke Pasar Induk Kramatjati, Pak Dede juga mengantar sayur ke Muara Angke, Jembatan Lima dan Serang. Kadang ke Bogor. Muatan kendaraannya sebanyak 2,5 ton rata-rata (hitungan per mobil)

Menurutnya, kendaraan khusus sawi dari daerahnya itu sekitar 30 mobil yang keberangkatannya sudah ditentukan. Minimal kendaraan yang masuk dari Kopo ke Pasar Induk bisa mencapai 20 mobil sayur. Banyak ya?

Aku sempat menanyakan alasan Pak Dede mengangkut kami. Ia menjelaskan panjang, “Sebelumnya saya belum pernah ngajak orang yang mau menumpang, mbak. Agak ngeri. Soalnya kan ngga tahu bagaimana karakter orang yang ditumpangin. Banyak kejadian ngga baik  di jalan. Mbak pasti mengerti seperti apa. Dan kalau tadi saya ngga lihat mbak dan mas izin atau mengobrol dengan Pak Satpam dan berdiri di pintu karcis, mungkin saya agak ragu menerima mbak dan mas naik mobil ini.”

Benar juga sih. Rata-rata, orang yang ditumpangi akan berkata demikian. Mungkin tidak hanya kami sebagai orang yang menumpang saja akan merasakan hal tersebut, pengendara pun sama. First feeling, adalah hal utama antara penumpang dan pengendara yang bisa dirasakan pada saat nego, menurutku. Untuk bisa tahu apakah kendaraan itu baik selama perjalananmu di dalam kendaraannya, Ejie hanya bisa menyarankan, seringlah latihan hitchhiking, 🙂 …..

Tidak terlalu banyak sih yang bisa Ejie bicarakan dengan Pak Dede, mengingat ia yang terus berkoordinasi dengan teman-temannya yang masih berada di Pasar Induk untuk memberikan info seputar perjalanan. Karena waktu berangkat, daerah Karawang sempat macet, sehingga ia dan teman-temannya agak terhambat di perjalanan, demikian dengan waktu kepulangannya.

23.40 WIB

Tol Kopo, dan berakhirlah perjalanan kami dengan Pak Dede. Kami mengambil foto bersama Pak Dede sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanannya pulang. Terima kasih Pak Dede.

Touchdown Kopo. (doc pribadi)
Touchdown Kopo.
(doc Ky)

***

PELOTOTIN Z dan SEBUAH BMW

Lumayan lama lho, kami berdiri di pintu gerbang Tol Kopo ini. Semenjak awal aku sudah tahu kalau Kopo terbilang lama untuk mencari kendaraan. Aku berpikiran simpel saja, yang penting keluar dari Jakarta dahulu deh. Urusan sambung kendaraan, ya mikirnya bagaimana nanti saja. Tokh rezeki ngga akan kemana kan? 🙂

Tujuan Kopo-Cileunyi. Ky sabar juga ya nungguin kendaraan :) (doc pribadi)
Tujuan Kopo-Cileunyi. Ky sabar juga ya nungguin kendaraan 🙂
(doc pribadi)

Alhamdulillah ya? Di saat aku selalu buta peta, selalu saja memperoleh teman yang mengerti arah. Demikian dengan Ky. Ia sangat hafal arah mana dari pertigaan serta arus balik di depan dan belakang pintu gerbang tol tempat kami berdiri. Ky mulai paham dengan apa yang kuperhatikan sejak awal. Ia pun mencari-cari plat kendaraan yang sekiranya melalui Cileunyi, tujuan kami. Jadilah plat Z adalah idola mata kami malam itu.

“Ky, jadi kita utamakan yang platnya Z yah?” aku selalu lupa arah plat-plat kendaraan.

“Iya, Jie. Z kan ke wilayah Jawa Barat. Pasti akan melewati Tol Cileunyi,” terang Ky.

1 jam kemudian dari berdirinya kami di pintu gerbang tol Kopo…

“Zzzz….. zeett dah, mana ya kendaraannya? Kita berdiri di tempat yang benar ngga ya, Jie?” lucu Ky. Sabar, tapi dia memikirkan harus istirahat juga kalau mau ngegunung. Apalagi kami berencana tektok (naik lalu turun gunung kembali di hari yang sama, red). Memang seharusnya punya waktu yang cukup untuk beristirahat sihh.. ^_^

Aku tertawa melihatnya. Habis mau komen bagaimana ya selain bilang, “Sabar ya, Ky… Kan mau hitchhiking kata Ky..”

Alhamdulillah, aku sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini. Jadi biasanya, aku hanya bisa tersenyum sih kalau ada yang pada masa perdananya, mungkin antara sabar dan ingin mendapatkan kendaraannya diantara rasa penasaran serta semangat, mencoba meredamkan kebosanannya dengan sedikit mengeluarkan uneg-unegnya. Aku maklum kok. Dan menurutku, Ky cukup sabar menghadapi situasi demikian. Tidak banyak mengeluh dan ia cenderung optimis dapat kendaraan. Terlihat kok dari caranya yang mau bergantian memegang tulisan “NUMPANG” yang kubuat dari rumah.

“Iya, Jie…” kami tertawa dan setelahnya, Ky tampak menikmati hitchingannya. Mengisi waktu dengan bercerita apapun. Sesekali aku sharing pengalaman hitchhiking juga dengan Ky.

Hitungan selanjutnya, sebuah sedan BMW (yang tak sempat kudokumentasikan karena harus NEGO) yang tadinya telah maju hingga mendekati gerbang tol, bergerak mundur. Ky melihat itu dan berkata padaku, “Ejie! BMW mundur! Cepat, Jieeee…”

Mataku yang sedari tadi memperhatikan kendaraan Z, mendadak bergerak menoleh ke arah datangnya mobil berplat B itu. Aku berlari menghampiri dan BMW pun berhenti. Kami berbincang sejenak dan si bapak bertanya, “Mau kemana, nak?”

“Cileunyi, Pak,” jawabku singkat.

“Yaaaa…. sayang sekali, nak. Bapak mau ke Jakarta. Maaf ya? Kalau searah, boleh ikut sih…” ramah.

“Ngga apa, Pak. Terima kasih sudah menawarkan tumpangannya, Pak,” senyum. BMW yang kulupa menanyakan namanya namun ingat platnya, B 1206 NA, meski tak sempat kufoto itu berlalu.

Eh iya, setelah kejadian BMW ini, Ky berinisiatif untuk menyobek kardus belakang bertuliskan Bandung untuk dituliskan “CILEUNYI” agar memudahkan pengendara melihat tujuan menumpang kami. He’s got the point from learning at night. Nice job, Ky (y).

Dan sekali lagi, aku khususnya kembali berucap, bahwa hitchhiking (menumpang) itu tidaklah perlu malu. Tidak sedikit orang baik kok yang mau menawarkan bantuannya untuk mengajak kita naik dalam kendaraannya jika searah. Tidak sedikit juga kendaraan bagus dan keren yang dengan “percaya”nya mencoba berinteraksi dengan kita, Hitchhiker Indonesia, bertanya arah dan tujuan.

Makanya, kalau mau menumpang itu, bukan hanya asal saja, tetapi niat baik, penampilan dan tutur kata saat nego pun harus dipertimbangkan agar orang yang bermaksud baik pada kita terkesan dan tidak ragu menawarkan bantuannya. Setujukah?? 😉

***

Kang Andri, pengusaha yang bersedia mengajak kami hingga ke Cileunyi. (doc pribadi)
Kang Andri, pengusaha yang bersedia mengajak kami hingga ke Cileunyi.
(doc pribadi)

KENDARAAN KE-2, PENGUSAHA KONVEKSI

02.00 WIB

Beewwwww…. lumayan manyun juga ya menunggu 2 jam mencari kendaraan tumpangan kami. Dari yang anteng, berpindah tempat mencari kendaraan. Dari jongkok, berdiri (itu aku 😀 ) sampai kebelet pipis! Naaaahhh… itu kami berdua! Akaakakakaakk… untung saja, di pintu tol tersebut ada toilet yang bisa ditumpangi, kalau ngga, Ky sudah menyuruhku untuk pipis ala gunung saja dibalik semak-semak.
*ishhhhh…. ketokin Ky pake fin! 😛

Hei, penantian kami tidak sia-sia. Seorang bapak baik hati di kumpulan truk yang ngaso (istirahat, red) di depan kami, sedari tadi memperhatikan keberadaan kami, Ky dan aku. Ia menghampiri dan berbincang dengan Ky dalam bahasa Sunda yang tak kumengerti.

“Apa katanya, Ky?” penasaran.

“Si bapak mau menolong kita, Jie. Jadi nanti kalau ada kendaraan yang berhenti tujuan Cileunyi, dia kasih tahu,” jelas Ky.

Tak lama, sebuah kendaraan Suzuki berplat D pun menepi di warung yang tak jauh dari kami. Tiba-tiba si bapak memanggil kami dan memperkenalkan kami pada orang yang juga baru dikenalnya. Kami pun bersalaman dan menyampaikan maksud tujuan kami.

Kang Andri sang pengusaha konveksi. (doc pribadi)
Kang Andri sang pengusaha konveksi.
(doc pribadi)

Horeeeee…. gayung bersambut dan ia, Kang Andri (38), si pemilik kendaraan yang pengusaha konveksi pun bersedia mengajak kami dalam kendaraannya. Alhamdulillah, pecah telor untuk sampai di Cileunyi juga akhirnya. Kami pun menjemput temannya yang akan ikut bersama Kang Andri menuju Majalaya, ehh, benar ngga ya? Arrgghhh… Ejie lupa, Ky.. Kemana tujuan si Akang ini?? Adeuuuhh.. aaadeuh! Maaf yah, tunggu jawaban dari Ky yang bisa bantuin Ejie soal ini. Oiya, sama nama Mamang yang kita jemput di rumahnya itu lho Ky, yang nemanin Kang Andri, 😀

Ahh… ahhh… intinya, perjalanan Ky dan aku berakhir di Cileunyi. Tak lupa kami mendokumentasikan Kang Andri dan Mamang di kendaraan yang telah kami tumpangi tersebut juga mengucapkan terima kasih.

Umphh.. Ejie juga mau ucap terima kasih buat Ky Merah yang sudah bersedia menawarkan diri untuk berhitchhiking bareng Ejie. Jangan kapok ya Ky kalau hitchhiking lagi… (Kenyataannya sih Ky ngga kapok, malah ngajakin pulang dengan hitchhiking kembali. Tetapi karena Ejie harus latihan freedive, jadilah kami mencar pulangnya.)

Ehh, bentar doooonnkk..
Setelah ini, tulisan Ejie tentang pasangan pendaki, “Irwansyah” Irwadi Hidayat dan Dee Naa yang melaksanakan resepsinya di Gunung Papandayan, lhoooo.. Jadi tetap ikuti perjalanan Ejie dan Ky di edisi selanjutnya ya teman-temaaaannnn…. Uuuuuuu yeaaayy!! 😉 (jie)

***

Kang Andri, Mamang dan kami yang sampai di Cileunyi. Makasiiiii.... (doc pribadi)
Kang Andri, Mamang dan kami yang sampai di Cileunyi. Makasiiiii….
(doc pribadi)
(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Edisi Resepsi Papandayan: Hitchhiking Z to Cileunyi [1]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s