Makassar: Benteng Fort Rotterdam, Penyu Nan Abadi [2]

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)


Ngga bosan deh cerita tentang petualangan selama di Sail Morotai 2012 dengan teman-teman yang kukangeni itu.
Kenapa?
Bukan hanya berganti teman yang jumlahnya 430 orang dan agak sulit mengingat nama satu-persatu lho… melainkan mukanya juga harus aku ingat-ingat biar kalau papasan lagi, ngga lupa! Hihiii…
Kisah kali ini tentang kami yang terdiri dari Kak Agus, Rizela dan aku yang jujur, KEPO banget sama Makassar.
Maklum, pertama kali menginjakkan kaki disana 🙂 .
Yuuukk, bacaaa…

***

In front of Fort Rotterdam (doc Kak Agus)
In front of Fort Rotterdam
(doc Kak Agus)

***

Before:

https://ejiebelula.wordpress.com/2012/11/01/samalona-the-tosca-beach/

***

Cek album foto FB —-> https://www.facebook.com/ejie.belula.jie/media_set?set=a.278911172226391.64690.100003225317995&type=3

***

Sandar KRI Surabaya 591
September 2012

Sebelumnya, maaf yah, Ejie itu selalu saja menyelipkan “lupa” hampir di setiap tulisan Ejie. Bukannya disengaja, tapi memang kadar otakku yang tak bisa menyimpan banyak memori. ini terjadi beberapa tahun belakangan ini sih.. Sekejab bisa tiba-tiba raup entah kemana. Tapi kalau urusan yang berkaitan dengan petualangan, aku bisa mengingat dengan mudahnya. Soalnya perasaan riang selalu saja mengikuti langkah kaki lambatku ini 😉 . Seperti sewaktu aku bermain di tangga-tambang-kri-surabaya-591 yang sederhana, atau dimanapun angin membawaku bersama teman bernama petualangan.

Cerita di benteng ini pun sama. Ejie lupa deh tepatnya tanggal berapa berada disana. File dokumentasi foto asli sepertinya lenyap di PC lama yang terkena virus. Jadilah Ejie bercerita berdasarkan foto-foto yang ada di album facebook saja, namun tak mengurangi rasa dan memori Ejie sewaktu jalan-jalan disana kok.

***

Rp 0,- Kendaraan Komandan Joni?

Ejie boleh bilang, jalan-jalan ke Benteng Fort Rotterdam ini termasuk kategori hitchhiking dan Rp 0,-. Soalnya gratis kendaraan ke lokasi. Kenapa bisa? Bagaimana ceritanya?

Seharusnya Kak Agus, Rizela dan aku itu ikut rombongan yang semula sudah berjalan-jalan bebas menikmati keseruannya di kota Makassar itu. Tetapi karena kami survey lokasi snorkeling dan diving di 3 tempat yaitu 3 pulau spearmonde samalona-the-tosca-beach/ Lae-lae dan Khayangan (2 terakhir belum ditulis malah. Sabar menanti ya? 😉 ) untuk sore hari nanti, jadilah tersisa kami bertiga di kapal. Terus terang, kami sempat bingung waktu itu karena belum paham daerah dan tetap berniat pergi jalan-jalan.

Begitu kami sudah di tangga kapal, berpapasan dengan Komandan Joni (Komandan KRI 591) dan menanyakan tujuan kami yang mau kemana. Seperti biasa, Ejie kan cerewet yah kalau bertanya-tanya soal jalan dan tempat wisata, maklum ngga sempat searching-searching karena otak sudah dipenuhi ingin menjelajah lautan dan penasaran sama underwaternya gitu deeehh. Ahaahahah…. Disamping itu, ada Zela yang juga sama, saling timpal untuk urusan ngomong. So, there we are. Got the hitchhiking’s car! Yapp, mobil dinas Komandan! Horeeeee……

Kebetulan, Komandan Joni ada pertemuan dan melewati daerah benteng tersebut, jadilah kami ikut dan diturunkan disana. Mau tahu ngga? (Iyaaa! Hehehehee) Komandan Joni mengatakan pulangnya kami boleh menumpang kendaraan beliau kembali untuk balik ke sandar kapal. Ayeeeee… Gratis pulang pergi wisatanya. Ini hitchhiking tanpa jempol namanya, lebih ke obrolan.

“Terima kasih, Komandan….” serentak kami bertiga mengucapkan kalimat tersebut.

“Iya. Jangan lupa kabarin saya kalau kalian sudah selesai melihat-lihat ya? Kalau ngga lama, nanti bisa bareng saya ke kapal,” Komandan mengingatkan.

“Baik, Ndan!” tegas.

“Tuh, ada Kapten Wendi juga disana. Sama-sama saja kalau ingin melihat-lihat,” ujar Komandan Joni.

Kami tersenyum dan sekali lagi mengucapkan terima kasih sembari turun dari kendaraannya. Menghampiri Kapten Wendi dan temannya (mungkin dari Makassar ini). Menyapa, ngobrol sebentar dengan teman Kapten Wendi yang akhirnya pamit pulang, kami yang kehausan dan kelaparan, mencari makan di depan benteng yang tersedia banyak makanan. Lalu kami berempat masuk ke dalam benteng.

***

Cantik ya di dalamnya? Seger euy mata melihat pemandangan ini... (doc Kak Agus)
Cantik ya di dalamnya?
Seger euy mata melihat pemandangan ini…
(doc Kak Agus)

Cerita Ejie Untuk Fort Rotterdam

Gerbang benteng (doc Kak Agus)
Gerbang benteng
(doc Kak Agus)

Sebenarnya kami tidak masuk kedalam ruangan-ruangan dalam benteng Fort Rotterdam ini. Hanya berjalan-jalan di sekitaran luarnya saja. Menikmati kontrasnya antara warna langit yang biru, rumput yang hijau, coklat juga marun dari bangunan-bangunan yang ada di dalamnya, serta warna merah dari cerianya bunga-bunga yang terhampar di sekelilingnya. Sungguh pemandangan indah ya? Cerah mataku melihatnya.

Hohoooo…. meski begitu, ya ampuuunn… sinar matahari siang itu, terik banget. Puanase puoooolll, maaaaakk! (Panas sekali, red). Untung saja, aku pakai kapuchong (jaket dengan kupluk = topi tanpa pet di belakangnya, red) yang melindungiku dari panasnya mentari. Ehh, tetap saja kadang kalau berpose, aku melepaskan kapuchongku itu 😀 .

Memasuki pintu utama yang mempunyai 2 gerbang besar dan mungkin 3x lebih dari tinggiku itu, kita akan melihat luasnya benteng tersebut. Melewati bangunan yang mempunyai bentuk seperti terowongan lebar dan sejuk! Banyak angin berhembus jika berdiri disana. Suka!

Dalam terowongan?? :D (doc Kak Agus)
Dalam terowongan?? 😀
(doc Kak Agus)
Tugu singa (doc Kak Agus)
Tugu singa
(doc Kak Agus)

Kami berjalan lurus saja mengikuti Kapten Wendi. Berhenti disatu sisi dimana ada sebuah tugu bergambar singa yang bersebelahan dengan sebuah plang bertuliskan, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar. Kalau aku pikir, seharusnya kami memasuki setiap ruangan yang ada disana ya, kenyataannya tidak. Kami berfoto sejenak disana bersama Kapten Wendi, bercerita, berteduh dibawah pohon rindang yang dapat melihat ke segala penjuru arah.

Hahahaaaa.... gaya terus! (doc Kak Agus)
Hahahaaaa…. gaya terus!
(doc Kak Agus)

Mataku memperhatikan sekitar. Jepretan demi jepretan yang kulihat, kutangkap berbekal kamera Kak Agus. Lalu Kapten pun bercerita sedikit sepengetahuannya saja. Yaaa.. kupadankan dengan beberapa bacaan mengenai benteng ini yang teringat olehku saja, hha..

Benteng yang terletak di pantai barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini, dulunya bernama Benteng Ujung Pandang. Berganti nama menjadi Benteng Fort Rotterdam karena pendudukan Belanda ketika itu. Selaiin itu, Belanda memanfaatkan benteng itu untuk menampung rempah-rempah Indonesia bagian Timur.

KIKA: Kapten Wendi dan Kak Agus (doc Kak Agus)
KIKA: Kapten Wendi dan Kak Agus
(doc Kak Agus)

Menurut info, bentuk benteng yang segi lima ini, seperti penyu yang akan turun ke laut. Makanya dalam bahasa Makassar disebut Benteng Pannyua (Benteng Penyu). Letaknya yang berada di tengah kota, membuat wisatawan mudah menjangkaunya. Taxi, angkutan umum maupun fasilitas pengantaran hotel akan dengan mudah mengantarkan jika ingin berkunjung. Untuk masuk ke lokasi benteng, pihak pengelola tidak mengenakan tarif apapun, gratis.

Bangunan benteng ini tampak kokoh dengan puluhan ribu batu-batu tebal coklat hitam persegi panjang yang tersusun rapi. Batu-batuan ini alami. Ini ada salah satu cerita menarik tentang sejarah benteng, tinggi benteng, hingga ke ukuran batu-batu yang ada di Benteng Fort-Rotterdam ini lho?? Ckckkkk…

Cerita lengkapnya sih bisa cek disini —> http://id.wikipedia.org/wiki/Fort_Rotterdam. Banyak kok kalau disearching. Tentang sejarahnya pun ada. Kalau Ejie menuliskan seperti yang sudah ada, mending copy paste saja kan? Jadi, Ejie bercerita sederhana ala kacamata minus saya saja yeeee….

***

Pintu gerbang benteng tampak dari atas (doc Kak Agus)
Pintu gerbang benteng tampak dari atas
(doc Kak Agus)

Diatas Benteng

Mengarah jalan pulang, aku yang selalu penasaran, melihat sebuah anak tangga yang mengarah ke atas.

“Kak, kita ke atas sana yuk…. pengin lihat nih, ada apa disana?” itu cemprengnya saya.

“Kan kelihatan Jie. Ada tiang dan sepertinya gersang. Mau kesana?”

“Mauuuuuuu…..” berbarengan aku dan Zela menjawab, lalu kami berjingkrakan kesana. Ahhh, kangen nih sama Zela. Dia itu kalemnya cool banget. Kami hampir sealiran darah dunia silat sih dibanding Ndan Hikmah dan Cia yang setipe dalam hal, molor! wkwkwkkkkkk…… peace keluarga-kecil-kucing-laut. Miss u gals..

Letaknya itu sebelum pintu masuk tadi. Keluar pun melewati pintu yang sama. Di kanan pintu keluar, ada undakan menuju ke atas. Beuhh.. panasnyoooo…..

Seperti yang dikatakan Kak Agus tadi, diatas memang panas. Hari memang cerah dengan warna langit yang tetap membiru indah. Lengkungan panas itu semakin terasa disambut oleh gersangnya suasana diatas benteng. Hanya rumput yang berwarna coklat yang tersisa diatas sana, berbeda dari pemandangan di benteng bagian bawah tadi. Reruntuhan bangunan tampak hanya sedikit. Kami berdiri diantara 2 pilar yang sudah terkikis zaman. Mungkin dulunya, tempat kami berdiri itu merupakan sebuah ruangan. Ada undakan di depannya.

Bersama si cantik Zela di atas benteng atas. (doc Kak Agus)
Bersama si cantik Zela di atas benteng atas.
(doc Kak Agus)
(doc Kak Agus)
(doc Kak Agus)

Dari atas benteng, kita bisa melihat luasnya benteng dibawah (masih dalam lingkungan dalam). Apa saja yang terlihat. Ihh… sepertinya aku melewatkan beberapa bangunan. Sebuah bangunan di sekitar Bastion Buton dimanfaatkan Dewan Kesenian Makassar. Bangunan lainnya merupakan ruang tinggal Pangeran Diponegoro yang ditawan Belanda hingga tewas. Sedangkan bangunan lainnya dipakai sebagai galeri seniman Makassar. Tapi ngga sempat lagi kalau mau berkeliling, ingat janji pada Komandan Joni soalnya.

Lalu jika melihat ke arah sebaliknya, tampak pintu gerbang, halaman depan benteng, pemandangan aduhai di depan sana yang sudah memanggil-manggil agar segera dikunjungi. Apalagi kalau bukan pulau-pulau indahnya yang sudah kami survey pagi tadi. Tuuuu kaaann….. jadi ingat janji untuk bersnorkeling sorenya.

Ya, ya, yaaaa…… sekali lagi, kupandang seluruh Makassar sejauh mata memandang, Pantai Losari, gedung-gedung entah dimana itu berada, tempat jajanan, hiyaaaa… banyak juga ya yang bisa dilihat dari atas benteng?

Oke, saatnya kami pulang untuk menepati janji ke spearmonde samalona-the-tosca-beach yang tjakeph!! Huwaiyooooo…. let’s go, friends 😉 (jie)

***

Thank to:

  1. Komandan Joni yang sudah mengantarkan kami ke -benteng-fort-rotterdam-penyu-nan-abadi-2/
  2. Kendaraan Komandan Joni yang kami tumpangi
  3. Kapten Wendi yang menemani kami ke dalam benteng
  4. Counting —–> Rp 0,- HUREY!
Bareng Kak Agus (doc Kak Agus)
Bareng Kak Agus
(doc Kak Agus)
(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

16 thoughts on “Makassar: Benteng Fort Rotterdam, Penyu Nan Abadi [2]”

    1. Gpp lah win… pandangan cerita kita kan beda 🙂
      Ejie jlnnya itu 2 th yg lalu, win.. baru nulis skrg, hohohooo

      Ejie mw baca tulisan winny ttg benteng penyu ini kl ud publish yaaa..

      1. Msh mundur nih baca diawal smp scroll down!
        Keren win… ejie ke tmpt2 itu hitchhike win, by myself 🙂 tp ga masuk, lwt aja.. 0:s
        #lanjut baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s