Makassar: Cukup Lima Ribu ke Museum La Galigo (3)

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)


Benteng Fort Rotterdam atau Benteng Pannyua (Benteng Penyu) yang Kak Agus, Rizela dan aku masuki, berisi beragam ruangan.
Dari sekadar jalan-jalan di luar saja, kami melanjutkan mengitari sisi yang mengarah ke sebuah museum yang juga berada disana.
Mari lanjut bacaaaaa….

***

Sebelum berjalan ke Museum La Galigo. Hormaaaaaattt graaaakkk... (doc Kak Agus)
Sebelum berjalan ke Museum La Galigo. Hormaaaaaattt graaaakkk…
(doc Kak Agus)

Before:
samalona-the-tosca-beach/
makassar-benteng-fort-rotterdam-penyu-nan-abadi-2/

***

Foto Benteng Fort Rotterdam & Museum La Galigo: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.278911172226391.64690.100003225317995&type=3

***

Sandar KRIΒ  Surabaya 591, Makassar
September 2012

Segelintir Kisah La Galigo

Puas berteduh dan bercerita, kami berpisah dengan Kapten Wendi yang harus mengkoordinir teman-teman Sail Morotai yang berantakan kemana-mana. Heheheee… bukan asal berantakan, namanya juga sedang penasaran Makassar, kan? Wajar sih kalau pada mencar jalan-jalannya. Nah, Kapten Wendi dan crew kapal yang bertugas, tetap wajib memantau keberadaan teman-teman tersebut. Namun kami diberikan batas waktu untuk berwisata kok.

Kami (bertiga) berjalan ke arah sebuah museum yang ada disana. Museum La Galigo namanya. Jajaran tiang penyangga yang ada disana tersusun rapi dengan warna krem kalemnya. Lantai keramik berwarna hitam yang bersih dan kinclong, menandakan pengelola pun selalu memperhatikan keadaan sekitar benteng berikut isi di dalamnya.

Museum ini diberikan nama La Galigo atas saranΒ  seorang seniman. Berikut cerita lengkap mengenai museum tersebut —-> http://www.museumindonesia.com/museum/5/1/Museum_La_Galigo_Makassar

La Galigo ini menempati dua deret bangunan yang ada di dalam Benteng Fort Rotterdam. Bangunan pertama yang ada di sebelah utara adalah bangunan tertua di antara bangunan lainnya. Bangunan ini didirikan sebagai rumah tinggal bagi Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Cornelis Speelman. Sedangkan ruang senjata dan ruang mandor kepala serta kediaman bagi ahli bedah terletak di bagian belakangnya.

Cek saja kalau mau lebih detilnya. Ejie kan bercerita atas apa yang tampak oleh mata saya, dan terys terang memang ngga ngulik-ngulik sampai ke dalam museum juga. Melihat bangunan yang bersih, terawat dan kinclong saja, mataku segar, bagaimana jika masuk kedalam ya? Seperti apakah?
*ishhh… telaaaaaatttt πŸ˜›

Ini ada lagi cerita mengenai sejarahnya Museum La Galigo. KLIK/ saja πŸ™‚

Katanya sih, di dalam museum itu, jika ingin mengambil gambar, harus meminta izin terlebih dahulu. Dan kita ngga bisa sembarangan menyentuh koleksi yang terpajang disana. Kenapa? Kan koleksi di museum merupakan benda-benda yang mempunyai nilai bersejarah. Lah kalau yang masuk pecicilan seperti saya, gimana ya? Berantakan nanti di dalam sanaaaa… hahah

Nah, bagi pengunjung yang ingin masuk ke museum ini, cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000,- saja. Murah, bukan? Museum La Galigo buka setiap hari mulai pukul 08.00 WITA sampai 15.30 WITA.

***

Bersama teman baru dari daerah yang sama, Sumatera :) (doc Kak Agus)
Bersama teman baru dari daerah yang sama, Sumatera πŸ™‚
(doc Kak Agus)

Teman Sumatera

Oia, di museum ini, kami bertemu teman baru yang ternyata tak jauh-jauh dari tempat dimana Kak Agus dan Zela berasal, Sumatera. Berdua. 1 dari Sumatera dan 1 lagi Jakarta. Kami pun terlibat percakapan mengenai Sail Morotai yang tengah kami jalani. Kembali, Ejie sudah lupa nama kedua teman baru ini πŸ˜€ . Mereka terkesima mendengar penjelasan kami yang mengarungi lautan dan “hidup” di kapal selama hampir sebulan! Xixxiiii… Memang sih, berkisah pengalaman kapal itu memang tiada akhir deh. Bakalan menyesal kalau dalam hidup ngga mau sesuatu hal yang berbeda dari sebelumnya yang pernah dilakukan. I mean, like traveling with ship, a biiiiiiiiigg ship, you know laaaahh πŸ˜‰

Teman itu selalu ada dimana-mana ya? Kami bertukar nomor kontak agar sewaktu-waktu bisa saling memberi kabar. Dan siapa tahu kan ada ajakan jalan dari mereka? Karena tahu ngga, mereka itu kerja di salah satu penerbangan lho? Lumayan tokh??
#dasar Ejie, otak jalan-jalannya ngga bisa ditahan apa ya?? wahaahahahhha

Dapat pin dari sayaaaa...... (doc Kak Agus)
Dapat pin dari sayaaaa……
(doc Kak Agus)

***

Souvenir Makassar

Di dekat pintu museum, tersedia aneka souvenir yang bisa dibeli oleh pengunjung. Hasil kerajinan tangan para pengrajin Makassar. Mulai dari gantungan kunci, kain tradisional seperti adat (baju bodo), kain sarung, pin, kipas, dan lainnya tersedia. Tinggal pilih dengan varian harga yang tercantum.

Ehh, kalau boleh pilih, Ejie mungkin lebih suka membeli pernak-pernik tersebut di toko oleh-oleh yang ada diluar benteng. Kata orang-orang, yang terkenal itu di Jalan Somba Opu. Lebih banyak varian barang-barang, warna dan tentu saja harganya. Ummm… tapi Ejie sedang tidak berminat leh-oleh sih, jadi ya juga ngga tertarik kepengin beli juga.

***

Untuk perjalanan ke benteng ini, Ejie dan teman-teman tdak mengeluarkan uang sepeser pun. Baik kendaraan hingga masuk ke dalamnya. Alias, gratis. Alhamdulillah. Jadi ini termasuk perjalanan Rp 0,- as a hitchhiker in Makassar. Yippiiiiiiiiiieee πŸ˜‰

Ceritanya singkat saja ya? Soalnya memang tidak banyak yang kami explore di dalam sana. Selain terbatas waktu yang kami miliki karena janji pada Komandan Joni, kami juga harus segera pulang ke kapal sebelum waktu berjalan-jalan ditutup. Kalau terlambat tiba di waktu yang ditentukan, ada saja yang akan dikenakan sebagai denda keterlambatan. Yuk, mari pulaaaaaannngg…. (jie)

Thank to:

  1. Komandan Joni yang sudah mengantarkan kami keΒ -benteng-fort-rotterdam-penyu-nan-abadi-2/
  2. Kendaraan Komandan Joni yang kami tumpangi
  3. Kapten Wendi yang menemani kami ke dalam benteng
  4. Counting —–> Rp 0,- HUREY!

***

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

18 thoughts on “Makassar: Cukup Lima Ribu ke Museum La Galigo (3)”

    1. ahahhaaa…
      iya chris, maklumlah, itu perjalanan 2 th yang lalu. ngga langsung ejie tulis, dan catetan ejie udah ngilang entah kemana. penyakit lupa ejie muncul, sedangkan nama dan kontak mereka itu ada di HP ejie yang rusak -_-

      pas banget klop kan lupanya, chris?? :X

    1. heheeheeee… iya, singkat. Ejie bingung. soalnya ngga explore ke dalam museumnya khoiruddin.

      salam kenal dan makasih ya ud blogwalking πŸ™‚
      sambilan baca yang lain jg silahkan.

      cek yg seru2 di kategori perjalanan Rp 0,- atau Hitchhiker Indonesia (HHI)

      1. Ohhh… hihhhi

        Bnyk jalan menuju Roma, kan eru?
        Dare to dream, it will happen πŸ™‚

        Ejie cm bs bilg begitu sih.
        Coba baca2 tlsn ejie di kategori Rp 0,- atau hitchhiker indonesia.
        Mungkin bisa jadi solusi jln menuju Roma.

        Atau cek di about hitchhiker indonesia, blog ejie deh ru…

    1. Ya gpp lah.. menghargai sstu yg bersejarah, kan tugas kita jg. Biar penerus kita nnt jg tw bgmn kisah bgsa ini.
      #tsaaahh.. gaya bahasa ejie

      Hmm.. penasaran. Smg ada kesempatan lg liat baju perang itu ya, rotua πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s