Edisi Resepsi Papandayan: The Trekking Day [3]

Menghadiri sebuah resepsi adalah hal biasa.
Yang menjadikannya tidak biasa, jika melangsungkan resepsi di tempat yang tidak semua orang bisa mendatanginya.
Mungkin yang tidak biasa ini diperuntukkan bagi teman-teman dengan minat yang sama, seperti mendaki gunung.
Naah, ikuti kelanjutan cerita Ejie ya?
Seperti apa sih resepsian di gunung terpilih, Papandayan itu?

***

Irwansyah _ Dee Naa, sang pengantin yang hobby mendaki gunung. (doc pribadi)
Irwansyah _ Dee Naa, sang pengantin yang hobby mendaki gunung.
(doc Irwansyah)

Before:
edisi-resepsi-papandayan-hitchhiking-z-to-cileunyi-1/
edisi-resepsi-papandayan-cv-pelaminan-irwansyah-dee-naa-2/

***

Gunung Papandayan
February 22nd, 2014

Posting Resepsi

Postingan di sosial media dari salah satu pasangan pendaki yang telah melaksanakan pernikahannya di Lamongan yaitu Irwansyah-Dee Naa, tanpa sengaja terbaca olehku. Dan tahukah berapa banyak komen yang ada termasuk komen saya?? Bisa menjadi ramai, karena postingan tersebut menyatakan tentang sebuah resepsi santai dengan kemping ceria bersama teman-teman pendaki. Pendakian resepsi nikahan? Iya! Ramai? Ho-ohh!

Ejie perlu scroll down di timeline yang bersangkutan untuk mellihat berapa banyak komen yang masuk dalam setiap postingan yang dilakukan sang manten Irwansyah (Irwadi Hidayat). Hasilnya?? Wooooo… Selalu 50 komen lebih. Itupun ada di beberapa kali postingan. Hahaaaaa… jago yah? Dan rata-rata memang yang senang alam sih yang komen, hhe…

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Bagaimana acara ini tidak mengundang minat, kalau teman-teman pengantin ini sebagian besar adalah pendaki, pecinta, dan penikmat alam? Entah berapa banyak yang akhirnya meng-iya-kan bakal datang menghadiri resepsi yang dipastikan berlokasi di Gunung Papandayan itu. Buat saya sih, undangan Irwansyah ini bagus juga, karena kan menyambung tali silaturahim dengan teman-teman. Alasan lain, dari kami yang sangat jarang bertemu, resepsi ini mempertemukan kami kembali. Selain itu alasan klasiknya adalah menambah daftar teman-teman baru yang menyukai alam.

Untuk mengkoordinir agar teman-teman pendaki bisa ikut hadir, maka dibuatlah beberapa meeting point yang memudahkan bertemu dan bisa bergabung, yakni:

1. Meeting point 1, Kampung Rambutan warung indah, jumat malam jam 21.00.
Naik angkutan om Yudi kumis, angkot isi 10 orang. Karena di rambutan ramai, pemberangkatan dicicil setiap 10 orang. Angkot booking 4 buah.

2. Meeting point 2, SPBU Tanjung Garut, Sabtu dini hari jam 2-4 pagi.
Semua yang dari Bandung naik bis join di angkot ke Cisurupan. Dari Cisurupan, dioper ke pick up menuju Camp David.
*note: saat ini, semua angkutan massal, dilarang naik ke basecamp. Angkutan yang boleh pake pickup Cisurupan.

3. Meeting point 3, basecamp Papandayan/Camp David.
Yang motoran ketemu disini. Setelah daftar administrasi, kumpul bersama, mulai pendakian. Target Pondok Saladah. Diupayakan mendirikan tenda bersama dan rombongan membentuk huruf O.

Cakep kan infonya? Lalu pada kenyataannya?? Hampir sama, tapi sih lebih seruuuuuuu….

***

Parkir Papandayan dan Deteksi Pendaki

Hari itu, seperti yang telah disepakati waktunya dengan komen panjang di sosial media, akhirnya berkumpullah para penggondol carriers di tempat yang disepakati, Papandayan!

Wohooooo….

Pada saat kedatangan saya dan Ky yang sebelumnya menempuh perjalanan dengan hitchhiking-z-to-cileunyi-1/ dan tidak bergabung dengan teman-teman lainnya yang berangkat bersama dari Terminal Kampung Rambutan, tercatat 49 orang pendaki yang telah didaftarkan oleh Irwansyah di pos masuk Papandayan. Lumayan banyak ya?

Berikut catatan Ejie setelah tanya langsung pada Irwansyah dan beberapa teman yang Ejie konfirmasi setelahnya:
1. 49 orang pendaki terdaftar
2. Tambahan setelahnya yang menyusul dari Jakarta dan Bandung di hari yang sama, Sabtu (22/02)3. Hadir di hari H, Minggu (23/02)

Teman-teman dari Jakarta, berkumpul di meeting point yang disepakati yakni Terminal Kampung Rambutan dengan membawa 3 pick up. Sementara dari Bandung -+ 12 motor, solois Jakarta berkendaraan roda dua, menempuh dengan berhitchhiking 2 orang. Di hari berikutnya (resepsian) menyusul lagi 1 kendaraan pick up dari Jakarta dan teman Bandung Freediving yang juga hadir disana, entah berapa orang lagi penambahannya.

Daftar pendaki yang terdata ketika Ky dan aku datang pagi itu. (doc pribadi)
Daftar pendaki yang terdata ketika Ky dan aku datang pagi itu stelah rombongan Jakarta dan Bandung tiba terlebih dahulu.
(doc pribadi)

Ckckkkk…. bisa terbayang seperti apa ramainya Gunung Papandayan waktu itu, ngga? Itu baru rombongan batik yang menghadiri resepsi lho, belum pendaki yang bersama teman-teman lainnya yang juga punya acara kemping disana. Bahkan, ada 1 teman baru yang akhirnya kenalan sama saya setelah baca tulisan Ejie sebelumnya dan melihat foto-foto di sosial media tersebut. Teman baru ini pun bilang, bahwa pada resepsian itu, ia bersama teman-temannya memang berada disana. Seru, kan? 😀

Mungkin kalau di total, jumlah keseluruhan yang menghadiri resepsi tersebut bisa mencapai 60-70 orang pendaki kali ya? Hhahaaa… bukan jumlahnya sih bagi kami saat itu, tetapi lebih kepada kebersamaannya. Is it right?

Oia, hitung juga rombongan Ase yang sudah datang dan nanjak duluan. Juga ada teman-teman dari Jarank Pulang, Q-bo dan Panjul yang ikut hadir. Ahh.. sungguh pendakian yang membuat kangen! Kangen teman-teman lama yang sangat jarang Ejie jumpai. Soalnya Ejie ngga bisa lama-lama disana 😦 .

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Raining Day

09.15 WIB

Namanya juga pendakian ceria, jadilah kami yang telah berkumpul di parkiran Gunung Papandayan tersebut, say hello first satu sama lain. Seperti yang saya bilang, semua memang beberapa ada yang jarang bertemu (kek saya). Makanya, begitu kumpul disana, saya terus-terang langsung berisik (banget) sih. Menyapa semua orang yang saya kenal lama dan tentunya berkenalan juga ala saya yang asal nyeplos. Heheheee… salam kenal ya teman-teman baruuuu… maaf cerewet dan berisik juga cempreng! Ahaahahahhh

This slideshow requires JavaScript.

09.45 WIB

Aci dan Destiar (doc Irwansyah)
Aci dan Destiar
(doc Irwansyah)

Pendakian dimulai dengan berdo’a bersama lalu trekking santai. Banyak juga deh yang belum Ejie kenal waktu itu. Tapi senang saja ketika disapa, semuanya menyahut dengan tanda persahabatan, SENYUMAN… Buat Ejie, itu langkah yang baik.

Nih, Ejie jadi kenal sama si pembawa kerupuk yang seplastik gede (besar) namanya Jim Lalu ada om Rudy yang fenomenal deh yang selalu dibicarakan, akhirnya Ejie juga ketemu. Pengantin wanita pun, deena,  Ejie kenal disini. Dee Naa lah yang memberikan informasi mengenai PERTEMUAN-irwansyah-dee-naa-2/ dibantu suaminya.

Siapa lagi yak? Oia, Aci dan adeuhh… Ejie lupa deh sama teman astriy yang satu itu, tapi Ejie ingat wajahnya. Padahal Ejie kan kenalan sama mereka pas lagi jalan. Maaf ya teman, Aci…. Ejie susah mengingat. Karena dalam waktu bersamaan, si lupa bisa langsung datang juga (-_-). Heiii… Ejie penasaran sih nama teman Aci ini, so balik badan, buka-buka album foto yang penuh dengan kontibutor pendaki tersebut. Nama temannya, Destiar. Jempol ngga Ejie, Ci??

Nah, Ejie juga ketemu teman-teman freediving lho.. ada coach saya Esa dan Prem si petualang Saka yang bombastis! Cihuuuuyyy…

This slideshow requires JavaScript.

10.10 WIB

Pendakian ohh pendakian. Hahaaaa… rada meremin hati sih waktu kaki Ejie melangkah disana. Ini adalah jejak kedua dan 1/8 Ejie di Gunung Papandayan. Ceritanya nanti ya? Kan lagi fokus cerita tentang resepsi Papandayan saja 😉 .

Seluruh rombongan yang ada, memulai perjalanannya. Iring-iringan batik yang menarik pemandangan ini mulai menyebar ke lapisan jalur bebatuan yang menghampar penuh dengan warna coklat, putih, hijau dan kekuningan di depan sana. Aiiihhh… Papandayan ketika itu, cantik dimataku.

Pagi itu, langit masih cerah. Sempat juga diwarnai dengan birunya langit. Sementara asap-asap putih mengepul dari balik kawah yang ada di Papandayan. Perjalanan terus berlanjut. Ada yang langsung menuju ke Pondok Saladah, tujuan kemping ceria resepsian ini. Namun beberapa juga ada yang berbelok ke sebuah danau indah berwarna yang tak hijau bening seperti yang Ejie pernah lihat di album foto teman. Meski begitu, warna hijau lumut yang disajikan hari itu, sungguh menghilangkan penasaran Ejie akan danau tersebut sih. Terima kasih ya Ky, mau direpotin temanin kami yang belum pernah ke danau tersebut.

Kami yang bermain di danau:

1. Ky
2. Mpril
3. Kayun4. Ade
5. Katom
6. Kangmang
7. Tata
8. Saya

11.30 WIB

Puas bermain, makan, berfoto dan bercanda, kami melanjutkan perjalanan menuju Pondok Saladah. Tadinya Ejie pikir, dari danau ke trekking awal pendakian itu dekat, ternyata, oalaaahh… lumayan juga ya? Padahal kalau melihat sepintas sih, ngga jauh-jauh banget.

Langit mulai memutih. Awan menutupi biru. Sedikit mulai mendung dan rintik hujan pun menyapa kami. Bergegas mempercepat langkah. Begitu kami sudah mulai sedikit berada pada ketinggian, hujan mengguyur. Ahahahaaaa…. asiiiikkk hujaaaaannn. Suka, tapi kedinginan.

Ejie ingat jalan yang harus menggunakan sedikit tenaga karena di tahun 2012 lalu, Ejie perlu memanjat. Ehh lalu, Ky mangajak kami mengitari jalan yang landai dan tak perlu memanjat. Alhamdulillah. Hujan, ngeri licin saja sih… Saolnya, tanah disana kan juga bercampur dengan tanah merah yang lengket kalau hujan. Bisa dipastikan Ejie bakal meluncur terus-terusan kalau manjat (lihat kaki, pakai sandal gunung dan bukan sepatu seperti yang disarankan Ky waktu berangkat. BANDEL!).

(doc pribadi)
(doc pribadi)

***

Get Lost??

12.20 WIB

Berjalan dan berjalan mengitari Hutan Mati. Berapa lama ya kami disana? Karena hujan sudah mulai deras dan kabut menutupi pemandangan kami, alhasil, alhamdulillah kami berputar disana.  Sudah usaha mencari tanda pita petunjuk, entah kenapa kami tidak menemukannya. Karena jalur yang akan kami cari itu adalah sebuah jembatan penyambung untuk ke Pondok Saladah.

Lalu, hujan mengguyur semakin asoy. Maknyus dinginnya! 😀 Tadinya mau neduh di flysheet, begitu dibentangkan, mendadak hujannya berhenti, gagal deh buka tenda masak mie hangat penenang perut keroncongan. Ishhh… padahal Ejie kalau berhenti lagi sudah ngga kuat sama dingin.

Alhamdulillah, kami akhirnya berhasil menemukan tanda dan jembatan penghubung. Horeeeee…. tenda.. tendaaaaaaaa…. Kami sampai di Pondok Saladah ketika beberapa teman yang telah sampai disana, hampir semua sudah mendirikan tenda dan memasak. Dapur umumkah?? Yap, yaaap! Asap masakan mengebul dari tenda dapur umum tersebut juga dari tenda-tenda pendaki yang kelaparan. Hujan memang anugerah terdahsyat untuk panggilan bernama perut ya teman-teman? Hhaha…

Ehemmm… Ejie ngantuk nih. Besok lanjut lagi ya ceritanya. Ngga kuat mata saya, pengin istirahat deh. Ditunggu cerita selanjutnya, mau kan? 🙂 (jie)

***

(doc Katom Yoichi)
(doc Katom Yoichi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s