Cerita di Balik Canopy Trail Cibodas TNGGP

The canopy trail (doc pribadi)
The canopy trail
(doc pribadi)
Jari-jariku sibuk mengetik pencarian Canopy Trail yang berada di Cibodas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Mungkin ada beberapa halaman yang tertera di google search, tetap saja, ulasan mengenai Canopy Trail itu sungguh sangat minim. Entah mengapa aku tak menemukan kisah seru yang ada tentangnya. Berdasarkan rasa penasaran inilah, aku yang sebelumnya pernah melihat postingan foto teman, langsung teringat untuk mengajak Kang Iman (teman bu guru Hamid) ke TNGGP. Tanpa rencana seperti biasanya? Yeaap! That’s me!

***

Foto canopy bisa lihat di —> https://www.facebook.com/media/set/?set=a.554325558018283.1073741947.100003225317995&type=3

***

Cibodas
April, 2014

TOURING?

Menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Cibodas bermodalkan kendaraan beroda dua, ternyata cukup membuat pegal. Kepergian yang mendadak dan seharusnya dilakukan weekend pada minggu selanjutnya pun akhirnya dijalani. Sayang, hujan menjadi hambatan saat itu membuat kami terpaksa harus menghentikan perjalanan untuk berteduh. Alhasil, maghrib, baru sampai di Cibodas.

Mengingat malam yang semakin larut, jika diteruskan memaksa ke Canopy Trail, tidak ada juga yang bisa dilihat, percuma kan? Untuk dokumentasi pun rasanya sia-sia. Maka diputuskanlah bermalam di basecamp pos resort kehutanan wilayah Gunung Putri TNGGP hari itu agar bisa melanjutkan perjalanan Canopy Trail keesokan harinya. Kami ditemani pak Apih yang kebagian bertugas menjaga di pos resort malam itu.

***

Sunrise cantik! Beberapa hal tidak membutuhkan editan. Justru keasliannyalah yang semakin syahdu untuk selalu dirindukan :) *untuknya (doc pribadi)
Sunrise cantik!
Beberapa hal tidak membutuhkan editan. Justru keasliannyalah yang semakin syahdu untuk selalu dirindukan 🙂
*untuknya
(doc pribadi)

PILIHAN PEDAS

Adzan shubuh memanggil, membawaku untuk segera bersiap-siap. Aku yang terlalu bersemangat mungkin terbawa penasaran, inginnya ya cepat-cepat saja ke Canopy Trail. Ternyata, kondisi pagi yang belum sepenuhnya cerah, tetap saja harus menahan keinginanku itu.

Daripada bengong, aku naik ke lantai atas dimana terdapat 1 ruang untuk teman-teman pendaki yang akan naik Gunung Gede via jalur Gunung Putri memperoleh informasi pendakian sebelum ke pos yang berada di atas. Menangkap sunrise cantik dari balik jendela basecamp, melihat antusias para pendaki yang bersemangat naik setelah beberapa bulan menanti dibukanya kembali pendakian karena operasi bersih. Hahahaaa… susah ya kalau main ke areal pegunungan, melihat mereka saja, aku ngences. Bahh!

Aku dihadapkan pada pilihan yang diberikan oleh Kang Iman. Pilihan pertama, main di Canopy Trail, Curug Ciwalen dan tektok Gunung Gede. Sedangkan pilihan kedua, ke Situs Megalitikum Gunung Padang, Canopy Trail dan Curug Ciwalen. Jika saja punya waktu yang panjang, tentu aku akan pilih semuanya. Tetapi karena belum pernah ke situs, aku pun menjatuhkan pada pilihan kedua.

Aaaaakkk … pedas! Ejie mau keduanyaaaaaaa..
*cekokin sambal! 😛

***

Peta Penunjuk Jalan (doc pribadi)
Peta Penunjuk Jalan
(doc pribadi)

THE CANOPY TRAIL

Pukul 12.06 WIB

Siang yang terik, tak sedikitpun terasa menyengat. Angin sepoi yang berhembus menyejukkan rasa, dipayungi rimbunnya pepohonan di kanan kiri jalan yang kami lalui, menemani langkah lambat kakiku. Yapp, perjalanan dimulai. Kami melewati jalur lama yang menurut si akang sudah tidak dilalui. Kalau dilihat memang sudah tidak banyak yang melaluinya. Papan penunjuk peta/jalur yang ada pun sudah rusak dan ditumbuhi oleh tanaman rambat di sekitarnya. Sayang juga sih sebenarnya.

Aroma hutan terasa sekali. Pepohonan, dedaunan, plang keterangan hewan, tumbuhan, kilometer perjalanan, jembatan kecil penghubung pun masih tampak jelas meski jujur, kurang terawat. Semua masih jelas terlihat. Aliran air dari curug pun mengalir diantara jembatan kecil yang kulewati. Udaranya segar. Suka! Aku melongokkan badanku, membaca tiap keterangan plang yang kulewati dan menanyakan beberapa tanaman yang tak kuketahui pada Kang Iman.

Pertigaan (doc pribadi)
Pertigaan
(doc pribadi)

Kata Kang Iman, di sekitar sana masih banyak hewan-hewan yang dilindungi di wilayah TNGGP seperti burung, kera berekor panjang (lutung) juga macan tutul yang masih ada! Wohoooooo…. keren ya? 🙂 Selain itu, masih banyak tanaman obat-obatan yang bisa dimanfaatkan lho.

Enam menit kemudian, kami sampai pada sebuah pertigaan. Jika mengambil kiri dari arahku berdiri, maka akan berjalan ke bawah, sedangkan di kananku akan menuju ke arah tangga tempat orang berjalan ke Curug Cibeureum. Sedangkan di depanku, inilah perjalanan menuju ke Canopy Trail, idamanku. Hhaaaaa…

Dan tiga menit setelahnya, taraaaaaaaaaaa……… sampailah di Canopy Trail incaranku sejak lama!

Pos Canopy (doc pribadi)
Pos Canopy
(doc pribadi)

Antusiasku sedikit kendur ketika melihat tempat itu. Aduhh, sayang sekali ya? Tempatnya jelas sepi, karena memang tidak ada seorangpun yang kujumpai ketika main kesana. Posnya pun tidak ada penjaganya. Pintu pos terkunci dan debu yang menempel pun jika disapu dengan jari, cukup wuiihh! Too bad.

Sebagai pengunjung yang hanya bisa memasuki kawasan Canopy Trail dengan ditemani oleh guide, tentu aku merasa sedikit ‘sedih’ sih melihat kondisi wisata dengan potensi yang menurutku bagus seperti itu, tidak terawat dan terlihat kurang diminatikah?? Rasanya ya ngga mungkin. Wong aku pas melihat di foto teman saja, matanya langsung kepengin loncat kesana kok. Lah, kalau kenyataannya tidak seperti yang kubayangkan, harus bagaimana ya? Maksudku dari sisi pos penjagaan dan jika dilihat dari potensi wisatanya lho ya?

Mataku terarah pada tulisan yang terpampang di kaca pintu pos. Jembatan gantung ini, hanya bisa dilewati maksimal 300 kg/5 orang saja.  Canopy Trail atau jembatan gantung ini dibangun pada tahun 2010 dengan panjang lintasan 130 m dengan lebar 60 m di atas ketinggian 40 m diatas permukaan tanah. Kemudian diresmikan pada bulan Maret 2011 oleh Menteri Kehutanan.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Canopy Trail tersebut berbahan dasar bordes aluminium, sling baja dan anting-anting behel serta  atap shelter dari Hollow, serta mampu menampung 5 orang hanya  dalam satu kali trip. Banyak manfaat dengan dibangunnya jembatan gantung di lokasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini, diantaranya adalah bagi pengunjung dapat menikmati indahnya alam hutan hujan tropis ini dari ketinggian 40 m.

Berada di ketinggian jembatan itu, hanya tumbuhan yang tampak di bawahnya. Gemericik air mengalir bisa juga dilihat dengan jeli jika kita benar-benar memperhatikannya dengan seksama (baca: KEPO – kepengin tahu, red).

Alhamdulillah, tidak ada ketakutan saat menjejakkan kaki diatas jembatan gantung yang begitu dipijak berupa baja yang diatur sedemikian rupa. Goyang? Iya donk… kan digantung.. 😉 Diantaranya ada tali hijau yang sama dengan pemandangan sekitar. Duduk di jembatan sejenak untuk menikmatinya juga seru. Menyenangkan dan adem!

@Canopy Trail Taken by Kang Iman (doc pribadi)
@Canopy Trail
Taken by Kang Iman
(doc pribadi)
Pohon besar di kedua sisi (doc pribadi)
Pohon besar di kedua sisi
(doc pribadi)

Ehh, kepikiran kepengin tidur di jembatannya. Ngeri-ngeri sedap euy…. bhahahaahaaa… Panas, tapi ngga panas, disebabkan banyak tumbuhan hijau di sekelilingnya membuat angin selalu saja berpihak pada kami yang mensyukuri alam pemberian-NYA.

Oia, dari pintu masuk awal jembatan serta di ujungnya, terdapat 2 pohon besar sebagai penyangga dan penyambung jembatan untuk menyeberang. Pohon-pohon itu, entah bagaimana, aku tak habis pikir bisa menyangga jembatan tersebut. Dan buatku, orang yang berpikiran untuk membuat jembatan ini tentu lebih asik lagi kali ya? Heii, tentu saja yang terhebat itu adalah DIA yang menciptakan pohon besar sebagai penyambung agar si pemikir yang merealisasikan jembatan ini bisa membuatnya. HUREY!

***

ENDAPAN PERTANYAAN

Whoop!

Pertanyaan muncul belakangan dan Kang Iman yang aktif berkegiatan di TNGGP pun membantu menjawab apa yang mengendap di benak Ejie dengan pemahamannya. Menurutnya, pertanyaan ini seharusnya Ejie utarakan kepada pihak pengelola setempat waktu Ejie main ke TNGGP. Heheheee… karena sesuatu juga lain hal yang menarik perhatian Ejie ketika itu, Ejie ngga fokus bertanya pada pak Endah (Polhut), pak Ace dari PEH (Pengelola Ekosistem Hutan) dan abah Arip (Polhut) dan baru ingat sekarang. Lain kali, Ejie main lagi deh kesana buat tanya biar ngga penasaran.

Berikut pertanyaan yang dijawab Kang Iman atas endapan pertanyaan Ejie:

Tanya : Kenapa sih, canopy itu ngga dijaga di posnya?

Jawab: Pos penjagaan disesuaikan dengan fungsinya. Jadi jika ada wisatawan datang, baik lokal atau domestik tahu kalau pengelola memiliki system penjagaan dan pantauan yg baik. Tapi itu pun jika memang ada pengunjung, mereka standby di pos canopy.

Tanya : Memangnya jalan ke arah canopy ngga dibuka lagi ya?

Jawab: Untuk akses atau track ke arah canopy itu Ejie sudah lihat seperti apa. Sebetulnya Canopy Trail itu masuk dalam wilayah konserfasi utama taman nasional. Hal ini berkaitan dengan tumbuhan obat dan tanaman endemik sekaligus merupakan bagian wilayah habitat binatang buas yg dilindungi pemerintah. Artinya tempat mereka bersarang dan ada disekitar wilayah Canopy Trail. Banyak juga binatang lain yang hidup dan sengaja berada di sekitar canopy. Tentunya akan sangat menggangu jika pada masa perkembangan atau reproduksi mereka ada banyak aktifitas manusia. Harus dengan pemandu atau pengelola jika ingin wisata disekitar Canopy Trail.

Tanya : Terus kenapa peminat ke canopy hampir ngga ada? Apa memang sudah ngga layak buat dikunjungi lagi?

Jawab: Sebetulnya bukan kurang peminat, tapi promosi C anopy Trail agak kurang. Di tambah lagi dengan kondisi wilayah canopy saat ini juga butuh banyak rehab bangunan dan tata ruang yang lebih sistematatis. Sejauh ini pihak pengelola fokus pada wisata lain seperti Curug Cibeureum, karena akan ada rencana perbaikan lahan untuk wilayah canopy dan sekitarnya. Jadi pengelola tidak akan membuka wisata canopy jika tidak terlalu banyak pengunjung. Wisatanya memang cuma jembatan gantung dimana biaya wisata canopy lumayan mahal.

Keterangan canopy trail (doc pribadi)
Keterangan canopy trail
(doc pribadi)

Hmm… Ejie baru mengerti apa yang dijelaskan Kang Iman itu, terkait pada tulisan yang tertera di papan pinggir jalan menuju canopy. Disana tertulis fungsi canopy itu sebagai sarana penelitian arboreal dan stratifikasi tajuk vegetasi.

***

SUARA SEORANG EJIE

Sebagai penyuka keindahan alam, aku sih inginnya keindahan yang sudah tercipta itu, tetaplah memerlukan perawatan yang  bisa dikontrol, walau Ejie tahu, pasti tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk pemeliharaan jembatan gantung tersebut. Tetapi, bisakah jika sesekali, wilayah di sekitar canopy ini ikut dalam operasi bersih juga? Tidak perlu banyak orang kan untuk membersihkannya? Cukup dengan berjalan ceria saja sambil menikmati alam yang sudah diberikan, bisakah sesekali diagendakan (meski hitungannya tertutup) agar tetap dalam pandangan segar, terawat dan tidak terkesan ditinggalkan? BISAKAH?

Mungkin tidak harus setiap saat dibuka untuk umum akses ke canopy ini, mengingat penjelasan Kang Iman yang terkait dengan ekosistem, pertumbuhan dan perkembangbiakan hewan maupun tumbuhan yang ada di sekitarnya. Jika diagendakan dan dikontrol maksimum berapa kepala yang bisa masuk untuk sekadar menikmati keindahan yang tersedia di canopy, kan bisa juga dipakai untuk membantu biaya perawatan jembatan gantung tersebut. Jadi, potensi wisata yang sudah tersedia, selayaknya tetap dapat menarik minat wisatawan dan tetap terawat dengan baik, kan? BISAKAH BEGITU?

Lalu, berjalan-jalan sembari melakukan operasi bersih, dan menyediakan tong sampah di beberapa spot terlihat, atau kalau perlu per rombongan 5-10 orang membawa trash bag yang digantungkan pada daypacknya (repot untuk kebersihan, boleh kan? 🙂 ) serta memberlakukan semangat tidak membuang sampah sembarangan, semoga sih bisa selalu menyadarkan tiap pribadi bahwa alam juga perlu dijaga. Berlebihan ngga sih Ejie??

Well, well…..
Untuk perjalanan dan petualangan tanpa rencana kali ini, Ejie mendapatkan cerita baru yang tidak hanya berupa cerita kosong. Tambahan pelajaran, aroma hutan yang damai dan iya! Pemandangan yang hanya tertangkap oleh kamera hatiku yang terjawab dalam kesendirian.. 😀 SEMANGAT EJIE!! (jie)

***

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

29 thoughts on “Cerita di Balik Canopy Trail Cibodas TNGGP”

  1. sebenarnya ada hikmahnya juga canopy trail itu sepi pengunjung….coba kalo rame..kan nggak bakalan bisa pose narsis aneka gaya…apalagi duduk2 di tengah2 canopy….iya kan…iya dong….
    keep happy blogging always,,,salam dari Makassar 🙂

    1. hai hariiiiii…

      iya, bener. tapi yang pasti utk ekosistem pertumbuhan di tanaman dan hewan yang ada disana juga sih. makanya di akhir cerita, ejie baru ngerti, kenapa canopy itu rada sepi pengunjung.

      tengs ud blogwalking ya hariiii 🙂

    1. ooo… ini siti yg komeng “asik” di fb yak?!?
      waaahh.. ud nongol aja dimarih 🙂 makasi yak ud blogwalking.

      ayo kesana, asik kok. tapi jangan lupa izin ke pengelolanya yaaaaaa…

  2. Ide bagus tuh jie..di akhir catatan ejie…
    Ejie bisa jadi motor untuk adakan kegiatan opsih di sekitar wilayah canopy..tenang jie lagi lagi saya siap untuk bantu mediasi pada pihak pengelola..
    Kita mulai dari tangan kita jie’
    Alam membutuhkan kita seperti kita butuh pada alam..
    Keep spirit jie..
    Salam lestari

    1. aaaakkk…
      akaaangg.. salah ngga nih ejie nulis? tetiba PM fb ejie penuh permintaan utk canopy-an. jadi enak deh kang menulis 🙂 pastinya ejie bakal ngerepotin akang nih buat nemenin tmn2 yg mau main kesana.

      akang beneran mau mediasiin bikin opsih sambil jalan2 di sekitar canopy? ejie mau kang. hayuklah diatur kang. biar lebih terawat dan sayang aja rasanya kalo terbengkalai kek itu.

      boleh kan kang?

      1. i’ve NO PLAN, win…

        mei cm minggu terakhir yg ejie bisa. soalnya ngambil freelance sabtu-minggu 🙂
        makanya ejie ngejer tulisan lagi ni sedang edit dan masukin foto. udah kebanyakan PR nulisnya -_-

        win kmn mei?

      2. mantab mei nya winny. ngeriiiii jauh2 mainnya euyy ahhahaaa

        udah kepending 1 tahun win bukunya -_-
        belum ada kemajuan, jalan mulu soalnya. padahal udah diingetin deh ejie. disuruh libur jalan2…

  3. Wah mbak ejie satu misi sama saya, ingin melestarikan alam indonesia dan wisatanya, saya mau da rencana backpaker keliling indonesia, buat ngeliput, atau nulis, alam, budaya, adat istiadat dan wisata tiap tempat di indonesia.. Klo mau gabung atau mbak ejie butuh temen traveling, hiking atau semacamnya bisa kontek saya.. 085693893833, pin BB 73fa9315

    1. Hai Kenny,

      Ini ada bantuan jawaban dari Kang Iman yang ajakin ejie ke Canopy Trail. Ejie copas saja yaaaa…

      1. Kalo dari Depok naik kereta, turun Bogor trus naik angkot ke Ciawi.
      2. Dari Ciawi naik bus arah puncak turun di RS Cimacan Cibodas.

      3. Atau naik angkot ke terminal kp.rambutan, trus naik bus Marita atau Parungjaya jurusan Cianjur, turun di cimacan cibodas..
      4. Dri RS Cimacan naik angkot ke atas ke balai TNGGP lgsung ke tempat registrasi pos pendakian di resort Cibodas.

      Kira2 begitu, Kenny…

      Have ya main Canopy nya 🙂

  4. ternyata udah dari tahun 2011 yaa di resmiinnya.. baru dapet kabar dari maret tahun lalu (kalo gak salah) ada canopy trail disini dari pihak pengelola.. entah mungkin baru dipublikasikan atau gw yang baru tau yaa.. hehehee.. ya tapi mudah2an gak ada orang yang ga punya otak buang sampah sembarangan disekitar situ ya.. biar habitat “mereka” ga rusak.. 🙂

    1. sebenarnya sudah pernah dibuka dl, mas. tp krn memang bnyk yg dilindungi, jadilah tempat ini ngga terlalu publish. dan sejak tulisan itu keluar, lalu ejie saran ke pengelola utk kebersihan dll, mulai katif kembali canopy nya, mas..

      semoga tetap terpelihara deh canopy dan lingkungannya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s