Stasiun Lampegan & Situs Megalithikum Gn. Padang (INDONESIA) : Terowongan Pertama yang Sepakat Tanpa Nasi

 

Situs Megalithikum Gunung Padang (doc pribadi)
Situs Megalithikum Gunung Padang
(doc pribadi)
Tempat yang dulunya Ejie kira sebuah gunung yang harus didaki. Namun untuk kesana, harus melewati beberapa ujian ajakan jalan bareng yang gagal. Diajakin Ken atau Pak Agus Bandung ya dulu? Ngga bisa join. Diajakin Kayun, gagal juga karena ngga ada teman motorannya. Lalu diajakin Ramdan hitching, tetap gagal juga. Tiga kali gagal, ngga berhadiah piring cantik deh (apa sih 😛 ). Akhirnya berangkat NO PLAN adalah keputusan selanjutnya, dan BERHASIL!
Horeeeeee…..
Gerbang masuk menuju ke situs. (doc pribadi)
Gerbang masuk menuju ke situs.
(doc pribadi)
***

Foto bisa lihat di:
https://www.facebook.com/ejie.belula.jie/media_set?set=a.556302711153901.1073741948.100003225317995&type=3

***

Before:

cerita-di-balik-canopy-trail-cibodas-tnggp/
kesendirian-curug-ciwalen-tersembunyi-diantara-curug-cibeureum/

Cibodas-Gn. Padang
April 2014

Perjalanan ini kunamakan Pegal Bokong. Lho?!? Iya, soalnya setelah menempuh perjalanan dari Jakarta dengan kendaraan roda dua bersama Kang Iman, dan beristirahat di pos resort kehutanan TNGGP, lalu paginya lanjut ke tujuan Situs Megalithikum Gunung Padang ini melelahkan. Padahal hanya duduk manis saja di boncengan motornya, tapi pegal. Soalnya jok motor memang sudah tipis dan belum diganti. Ya wajar saja kalau pegal bokongnya -_- haahahahaahh

Baiklah kita bercerita.

***

Perjalanan Secara Umum

Psttt.... hati-hati jalan disini. (doc pribadi)
Psttt…. hati-hati jalan disini.
(doc pribadi)

06.00 WIB
Kami memulai perjalanan dari pos resort kehutanan Gunung Putri, TNGGP pagi itu dengan langit cerah dan sinar matahari yang bersahabat. Entah, jalan mana yang dilalui Kang Iman, tapi aku mengenalinya. Biasalah, buta peta banget kalau hanya duduk manis. Terima beres sampai di tempat saja deh 😉 .

07.29 WIB
Mulai memasuki wilayah Gunung Padang. Ejie ngga sengaja sih foto daerah yang kami lalui dan setelah cukup jauh dari jalanan tersebut, akang baru cerita. Menurut akang, daerah tadi lumayan rawan. Banyak ‘bajing loncatnya’.

Sebaiknya kalau mau ke Gunung Padang, pagi hari dimana akses kendaraan masih mudah. Menuju ke Gunung Padang, ada angkot dan ojek.

Transportasi dan Biaya:

  1.  Angkot hijau
    Beroperasi pagi hingga sore sekitar pukul 16.00 WIB. Tidak sampai ke akhir Situs Megalithikum Gunung Padang yang dituju, tetapi mungkin bisa menyewa angkot ini. Harganya ya dinegosiasikan saja dengan pak supirnya.
  2. Ojek
    Pangkalannya tidak banyak. Sebelum daerah rawan, ada satu pangkalan ojek dimana kita bisa menyewanya. Dan disepanjang perjalanan agak sulit mencari ojek lainnya. Terkadang ada juga 1-2 yang mangkal agak di kebun teh, tapi entah menunggu orang sewa atau memang bisa disewa ketika itu juga.
    Menurut akang, sewa jasa ojek lumayan harus menyiapkan keuangan juga. Harganya kisaran Rp 30.000-50.000,- per orang. Soalnya jauh juga perjalanan ke situsnya. Tapi hati-hati ya? Jangan berjalan sendirian, lebih baik ya ada teman kalau memang mau ngojek. Daerahnya tidak terlalu ramai.
  3. Bawa kendaraan pribadi atau sewa kendaraan dari awal perjalanan
    Mungkin lebih baik begitu. Lebih fun dan ringan biaya. Bisa sharing cost.

Kondisi Jalan
Memasuki areal menuju Gunung Padang, kita akan dihadapkan pada pemandangan alam segala rupa. Memang untuk ke tujuan dimaksud, sebaiknya dilakukan tidak di musim penghujan. Karena ketika Ejie kesana dengan langit yang mendukung dan udara cerah, semua pemandangan alam itu terbayar meski pegal bokong 😀

Nah, sayangnya, jalan disana itu banyak yang rusak. Aspal tidak mulus dan lumayan berlubang serta berbatu. Jadi berhati-hatilah bila berkendara. Jalannya pun naik turun.

***

Lintasan Rel Kereta Stasiun Lampegan

Arah masuk stasiun. (doc pribadi)
Arah masuk stasiun.
(doc pribadi)

08.00 WIB
Dalam perjalanan, akang menunjukkan sebuah rel kereta yang terlihat dibawah dari tempat kami berjalan. Ehh, di tempat seperti itu, ada stasiun kereta juga ya? Karena belum tahu, akang mengajakku berkenalan dengan Stasiun Lampegan, namanya.

Stasiun Lampegan terletak di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Cinjur, Jawa Barat. Berjarak sekitar 8 km ke Situs Megalithikum Gunung Padang. Stasiun yang dibangun pada tahun 1882 ini adalah sebuah cagar budaya nasional. Pernah ditutup pada tahun 2001 dan difungsikan kembali tahun 2010 akibat tanah langsor yang menutup terowongan mulutnya sehingga kereta api dari arah Sukabumi hanya bisa sampai stasiun ini.

Untuk lengkapnya, silahkan baca Stasiun_Lampegan dan Terowongan_Lampegan 

Waktu sampai disana, suasana masih sepi. Hanya beberapa orang saja yang ditemui. Penjaganya pun tidak ada. Dan bertemu pak satpam pun, diakhir kunjungan.

Ejie lumayan penasaran dengan terowongan di depan sana. Baru ingat, kalau Niken dan Chyntia pernah berpose siluet di terowongan itu. Karena sepi, entah mengapa, Ejie hanya berani berdiri dan mengambil foto di depan mulut terowongannya saja.

Taken by Kang Iman (doc pribadi)
Taken by Kang Iman
(doc pribadi)

Kalau dilihat dari pondasi, bebatuan, rel kereta dan kondisinya sih, semuanya terkesan kekar. Kebersihan dari stasiun sampai ke mulut terowongan juga patut diacungi jempol. Terawat, itu yang terlihat oleh mata Ejie.

Ejie mengambil beberapa gambar, mematut, berjongkok dan tentulah minta tolong Kang Iman buat motoin saya. Narsis? Boleh donk 😛

This slideshow requires JavaScript.

***

Flintstone di Gunung Padang!

08.27 WIB
Perjalanan dari Stasiun Lampegan ke Situs Megalithikum Gunung Padang sekitar 15 menit (kalau dengan motor). Pemandangannya tetap sama. Melewati jalan yang berkelok, pohon karet, kebun teh, jajaran perbukitan di sepanjang jalan dan bunga kuning yang berpadu dengan rerumputan. Segar! Dan ahhh… ada 1 tanaman seperti dandelion yang Ejie lihat, tapi tidak bisa memotretnya. Sayang sekali. Padahal jajaran tumbuhan yang kalau tertiup angin itu tampak bagus karena akan berderet merunduk bersamaan. Ringan dan tampaknya mudah terbawa angin. Hmmm.. cari rombongan tumbuhan itu di tempat lain saja nanti…

Yeyeeeee…. lalaallaaaaa..

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Kami sampai di pintu utama bertuliskan Situs Megalithikum Gunung Padang.  Situs ini berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. “Bangunan” kompleks situs ini, luasnya kurang lebih 900 m². Terletak pada ketinggian 885 mdpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Bisa baca di link berikut —> http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Gunung_Padang.

Lucu deh. Ingat sama permainan PS yang si puppy di film 101 Dalmatian main loncat-loncatan di atas situs. Hha.. Ejie mengambil gambar sebentar, lalu melanjutkan masuk ke arah pintu masuk dimana terdapat loket wisata dan Ejie merasa ada di film kartun Fred, adeuuuuhhh… Ejie lupa tuh film kartun yang bersahabat dengan dinosaurus.

Kami datang kepagian ya? Penjaga loket belum ada, padahal ada yang baru keluar dari pos di dalam. Mungkin bergantian jaga. Ejie menunggu sebentar sembari melihat-lihat. Beberapa menit karena belum ada juga penjaganya, Kang Iman mengajak untuk naik ke atas, dan pulangnya akan mampir untuk membayar biaya wisata.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Ehh, Ejie baca-baca http://www.indonesia.travel/id/, rupanya Situs Gunung Padang secara astronomis ternyata berharmoni dalam naungan bintang-bintang di langit. Analisis dengan planetarium yang dilacak hingga ke tahun 100 M menunjukkan bahwa posisi Situs Gunung Padang pada masa prasejarah menunjukan berada tepat di bawah langit yang lintasannya padat bintang berupa jalur Galaksi Bima Sakti. 

Wihhhh… pas banget yah? Ejie kan suka langit, dan waktu kesana, langit sedang cantiknya memancarkan biru deh. Bahkan katanya, untuk melihat langit indah malam hari bermandikan milyaran bintang dimana tepat di tengah Galaksi Bima Sakti yang dikawal rasi Serpens dan Aquila, situs ini mewakili dunia bawah dan atas. Malam cerah di bulan Juli dapat dipilih untuk waktu yang sempurna. Menanti sang bintang saat malam Bulan Purnama bersama reruntuhan yang berusia 2500-4000 SM. Wooooww… keren ya?! 🙂
#coba senggol mpril, ky merah, rikik ken dan katom biar bisa moto bareng disana..

***

Pintu masuk bercat hijau dan Kang Iman berjalan ke kiri dimana terdapat sebuah air dalam sumur kecil. Kata akang, biasanya sebelum naik ke situs, orang kerap mencuci mukanya terlebih dahulu disana. Baiklah, ikut saja.

Sumur kecil (doc pribadi)
Sumur kecil
(doc pribadi)

Untuk ke atas, ada 2 arah tangga yang bisa dilalui:

  1. Tangga jalur kiri
    Masih batu alami dengan pegangan penyangga juga bercat hijau. Tangga ini rapat dengan luas sepanjang kaki kita dengan batu-batuan panjang yang tersusun dan kadang sedikit tidak beraturan. Agak curam karena seperti tegak lurus naik ke atas. Tidak ada pemandangan lain yang bisa dilihat selain pepohonan dan daun.
  2. Tangga jalur kanan
    Terbuat dari semen, sedikit landai, lumayan lebar juga dengan pegangan penyangga bercat hijau. Pemandangan disisinya adalah perbukitan, kebun teh dan alam.

Kami mengambil jalur tangga kiri yang masih batu alami. Karena lembab, terkadang ada batu yang agak licin. So, watch your step, guys.

Hmmm… dari jalan ini, Ejie sudah memperhatikan, ada aneka semut disana. Tidak mau melewatkan, mulai deh ambil kamera dan cekrek! Ejie juga melihat belalang besar, capung, lalu yang serupa dengan kupu-kupu, apa ya namanya? Heehehhhhe….

Ejie yang sudah lama tidak mendaki atau berat badan yang bertambah ya? Rasanya tinggi sekali dan lama? Gosh… kalau ada Ky, Erore dan Anja disini, pasti bakal ledekin Ejie jalan keong.. 😛

“Kang, sampai ke atas tangga semua??” penasaran.
“Iya, Jieeeee…” jawabnya.
“Berapa lama keatasnya?” hal yang pantang kutanyakan jika traveling, keluar juga untuk pertama kalinya.
“3 jam,” santai sambil foto-foto dan ngacir duluan jalan ke atas.

Haaaaaa??? Waks?! 3 jam?? Ishhhhh…. nyesel kan bertanya. Tahu begitu mah, Ejie diam saja tadi ngga usah tanya-tanya lama jalannya. Arrggh! Tangganya mau diganti jalan tanah biasa dooooooonnnkkk…… Mana betah 3 jam jalan tangga? Tiba-tiba ingat lagi deh turunan Gunung Lawu via Cemoro Sewu yang full tangga dan semua pada ngebut jalan turun menyisakan 4 orang yang bermasalah dengan kakinya termasuk Ejie! HAISHH!

Segarin mata (doc pribadi)
Segarin mata
(doc pribadi)

Mendongak dan tak melihat si akang. Ihh.. benar sudah ngibrit dia. Ngga ada tuh di depan Ejie. 3 jam ya?? Baiklah, sabar adalah pelajaran yang pernah kuterima darinya.

“Jika terasa jauh, jangan terus mendongakkan kepala menunggu ujung yang dinanti tiba. Tebarkan pandangan, nikmati sekitar, Jie… Lihat, banyak yang bisa Ejie temui selama di perjalanan biar ngga terasa jenuh,” suara itu menemani.
*kibas poni, jalan…

Ketika asik melihat kerumunan semut di tangga atasku, heiii! Sudah sampaikah? Si akang sudah duduk mencari tempat istirahat disela bebatuan situs yang ada. Waaahh, benar, ngga terasa!

“Kang, ini sudah sampai? Katanya 3 jam?” bloonnya kambuh.

Sampai setelah 3 jam? Lie... hahahaa (doc pribadi)
Sampai setelah 3 jam? Lie… hahahaa
(doc pribadi)

Hhaahah… oke, mari berteduh di rimbunan pohon besar yang pertama Ejie jumpai. Kuarahkan mata ke segala penjuru sejauh mataku memandang. Iya nih, berasa di permainan PS puppy 101 Dalmatian. Jadi ini yang namanya Situs Megalithikum Gunung Padang ya?

Batu-batu berupa kotakan berwarna hitam dan coklat pekat. Ada yang mendatar dan ada yang berdiri dan setengah miring. Aku bermaksud mengambil air minum ketika mataku menangkap kelebatan, apa itu? Kadal? Rupanya di situs ini, cukup banyak hewan-hewannya ya?

Ejie teringat lagi saat hitchhiking by myself dan berkunjung ke Jawa Tengah, Candi Prambanan. Disana juga ada petakan bebatuan yang seperti ini. Entah reruntuhan atau memang bangunan yang belum jadi. Persis seperti situs megalithikum ini. Tapi disini, hampir semua hingga ke atasnya, bongkahan batu itu semua tidak membentuk sebuah bangunan sedikitpun. Tetapi per petakan yang terlihat dan per undakan, tampak bagian-bagian yang menunjukkan untuk apa batuan itu.

Kang Iman menunjukkan sebuah bagian yang menurutnya itu adalah petakan untuk sebuah masjid yang akan dibangun. Terlihat dari 2 batu yang merupakan sebuah pintu masuk. Aku tak ingin menjejakkan kaki melangkah masuk ke areal (jika itu adalah masjid), karena merasa badan kan harus bersih kalau masuk ke masjid 🙂 .

Bagian dimana seharusnya berdiri sebuah tempat beribadah. (doc pribadi)
Bagian dimana seharusnya berdiri sebuah tempat beribadah.
(doc pribadi)
Pohon pintu. Cakep kan? :) (doc pribadi)
Pohon pintu. Cakep kan? 🙂
(doc pribadi)

Si akang mencari tempat favoritnya (karena sudah pernah kesana sebelumnya). Sementara Ejie mulai keluar tuh kepengin tahunya. Berjalan, mengejar seekor kadal lucu yang sepertinya mau difoto, tapi bermain petak umpet denganku. Hahahaa… ada-ada saja. Kayaknya, dia mengarahkan Ejie untuk berjalan ke undakan atas.

Dari bawah tadi, Ejie mengambil jalan tangga di kiri, lalu naik ke punden berundak atas pun Ejie lewat jalan kiri. Jalannya berupa tanah liat (tanah merah) dan sedikit basah. Hati-hati kalau berjalan dan tanahnya licin. Dan ada sebuah pintu dari dua batang pohon yang Ejie jumpai di punden berundak menuju ke atas lho. Lucu deh…..

Tapak harimau yang jelas terlihat di salah satu batu di situs. (doc pribadi)
Tapak harimau yang jelas terlihat di salah satu batu di situs.
(doc pribadi)

Kang Iman kembali menunjukkan sebuah tapak harimau bercap jari kakinya di sebuah batu yang ada, padaku. Whoaaaa… cool, right?!

Oia, kita juga tidak boleh sembarangan naik diatas batu/menhir yang berdiri karena alasan keselamatan. Kata akang sih, jaga-jaga kalau kita naikin, batunya jatuh kena kita. Karena batu-batu itu besar dan berat lho. Kan kalau buatan orang zaman dahulu kala, keukeuh batunya sudah ketahuan keras dan kuatnya seperti apa.

Kembali si akang sibuk dengan tempat favoritnya dan Ejie yang lagi-lagi melihat banyak hewan yang ditemui. Entah berapa lama Ejie menunggui memotret si capung hijau dan merah yang bermain di pegangan bambu dekat saung bambu disisi kanan. Mereka berkali-kali hinggap di pegangan itu dan tidak terganggu dengan kehadiran Ejie yang sibuk memotretnya dari berbagai sudut pandang.

Atau berlama-lama dibawah terik matahari yang semakin garang, Ejie betah jongkok melihat dan memotret kerumunan semut merah dan hitam yang sibuk bekerjasama mengangkat makanan mereka ke sarangnya.

Kalau Ejie perhatikan, dari tadi, banyak lho barisan semut yang temui. Rata-rata mereka bahu-membahu saling bekerjasama mengangkut makanan dan entah apa yang mereka perbincangkan. Suka lihatnya. Kalau boleh tiduran disana, ikut melihat kesibukan dan mendengarkan percakapan mereka ya asik juga kali. Hahahaaa….. NGAYAL!

Satu lagi yang membuatku semakin berseri-seri sebelum akhirnya naik ke saung pandang betingkat diatas sana adalah, akhirnya Ejie menemukan sebuah areal yang menyatakan KESEPAKATANNYA UNTUK TIDAK MAKAN NASI!! Hahaaayy… memang ada yahh?? Moso siiiihh? Aakakakkka… ada, donk. Dan Cuma di Situs Megalithikum Gunung Padang lho yang SEIYA dan tidak bermasalah dengan kebiasaanku TIDAK MAKAN NASI. Horeeee…. horrrreeeeeeeee… akhirnyaaaaa..
#peluk batu/menhir di dekatku 😉

Yabadabaduuuuuu.... SEPAKAT TAK MAKAN NASI! Hureeeyyy ;) (doc pribadi)
Yabadabaduuuuuu…. SEPAKAT TAK MAKAN NASI! Hureeeyyy 😉
(doc pribadi)

***

Pulang

09.24 WIB
Kami berjalan santai dan turun melalui jalan tangga yang sudah disemen. Pemandangan berbeda yang lebih luas dari sisi tangga batu alami. Kembali barisan semut kujumpai dan kupotret. Dan tiba dibawah, waktu sudah menunjukkan pukul 09.32 WIB. Penjaga loket sudah ada dan aku segera membayar biaya pengunjung sebesar Rp 2.000,- per orang.

Ejie masih mengingat-ingat loket yang seperti di film kartun yang, oiaaaaa… Ejie ingat! Loket ini seperti film The Flintstone (The Flintstones merupakan sebuah serial animasi Amerika Serikat yang tayang tahun 1960 hingga 1966. Serial kartun ini diimunculkan pertama kali pada 30 September 1960 dengan mengambil slot penayangan di ABC, red). Kan suka mengkhayal dulu kalau nanton kartunnya, kepengin bisa melihat situs begitu. Memang ada apa ya batu-batu menhir begitu di dunia ini? Dan Ejie suka dengan kata-kata, YABADABADUUUUUUUUUUU….. 😀

Hhh…
Perjalanan ke situs ini juga menyenangkan kok buatku. Soalnya selain teringat film-film kartun, permainan PS, Ejie juga dapat pelajaran nih dari para hewan yang ada disana. Lho, kok hewan? Iya….

Nih, Ejie kasih tahu ya?

  1. Kadal
    Menunjukkan jalan yang Ejie lalui agar tidak sembarangan menginjak dan Ejie pun sampai pada plang bertuliskan “Dilarang naik ke atas batu/menhir yang berdiri”. Lalu akang memberitahu alasannya.
  2. Kupu-kupu atau sejenisnya
    Menunjukkan pada Ejie tanaman berwarna yang bikin Ejie ngga bosan karena harus naik tangga yang Ejie kira 3 jam naik.
  3. Semut
    Mengantarkan Ejie pada plang SEPAKAT TANPA NASI dan belajar kesabaran juga kerjasama dalam hal apapun. Bahwa segala hal yang dikerjakan bersama akan terasa lebih ringan, bersahabat dan hasilnya akan kelihatan. Mungkin tidak semua kita bisa meminta pertolongan orang lain. Ada kalanya, kesendirian itu membuat kita jauh lebih mandiri dan tidak selalu mengharapkan bantuan. Jika mampu mengerjakannya, lakukan. Tetapi jika dalam suatu pekerjaan tim, bahu-membahu itu perlu. Is that right, guys?
  4. Capung
    Sendiri dan berteman. Capung merah aku ibaratkan perempuan, capung hijau aku ibaratkan laki-laki. Tidak dalam pengartian lebih dalam berhubungan, tetapi kepada pertemanan.
    Capung merah yang terbang bermain sendiri. Hinggap kesana dan kemari. Dari sendiri, bersama rombongannya, lalu ditemani capung hijau dan akhirnya bermain terbang bersama. Mungkin begitu juga dalam kehidupan. Terkadang sendiri, disaat lain, kita juga membutuhkan teman yang bisa menerima dan mengajak kita kemanapun.
  5. Anjing
    Nah, pas banget nih setelah Ejie berjemur di panas matahari motret capung dan semut, lalu seperti ada naluri yang memerintahkan agar segera naik ke saung bertingkat, ehhh…. anjingnya nongol, booo…. waakakaka…. Ejie kan takut anjing, tapi keknya anjingnya baik sih. Dia seakan menjaga sesuatu. Melihat ke segala arah, memperhatikan bahwa keadaan aman. Sesuatu berkata seperti itu padaku ketika di saung bertingkat.

Terpenting adalah di situs tersebut Ejie suka dengan kebersihannya. Di beberapa spot disediakan tempat sampah, bahkan sapu lidi yang ada disebelahnya menandakan seringnya areal situs ini dijaga kebersihannya dan dirawat wilayahnya. Hanya dengan Rp 2.000,- lho bagi pengunjung lokal dan Rp 5.000,- bagi pengunjung asing, kita turut berperan serta menjaga kelestarian alam di sekitar Situs Megalithikum Gunung Padang.

Ayooo…. jangan buang sampah sembarangan dan tetap semangat berkelana, ehhh… 😛 (jie)

***

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

20 thoughts on “Stasiun Lampegan & Situs Megalithikum Gn. Padang (INDONESIA) : Terowongan Pertama yang Sepakat Tanpa Nasi”

    1. uwawwww…
      kejutan ada mba sary di blog ejieeeee 🙂
      *sumringah

      mau mba ajarin ejie nulis ikut2 bnyk latihan dan lomba2 blog di KEB. mau ketemu juga atuuuuhhh ..
      *banyak maunya nih ejiee 😛

  1. Amponn ni cewek keren banget ya! habis main ‘ayun ambing’ dari Cibodas langsung ke Gunung Padang? ckckckck, malu saya mah kalah sama orang Jekarteh, mau ke gunung Padang masih rencana dan wacana doank! maklum emak2 rempong *ngelesss!

    1. hai kembali Siti Aisah 😉

      sebenernya, tulisan ejie kebalik.
      awalnya malah ke stasiun lampegan-gunung padang dl, trus ke canopy lalu ke curug ciwalen. itu adalah pilihan kedua yang ejie ambil setelah diberi pilihan sama Kang Iman.

      tapi karena feelnya dapat di canopy dan ciwalen duluan, lampegan dan situs, nulisnya terakhir. heheeh…

      mamaci yah mak Aisah udah mau blogwalking dimarih 🙂

  2. Ternyata Gunung Padang udah dikelola bagus ya? Dulu sepengetahuan saya masih “liar” belum terurus, belum ada pos retribusi ala Flintstone seperti itu, hahaha.

    1. halo mawi… makasi udah blogwalking
      hohooo… ejie baru kali pertama sih main ke gunung padang, jd kl yg dl ngga tau saya 🙂

      tulisan mawi ttg situs yg dl kesana ada ngga? liat donk…

    1. kl disana dilarang makan nasi, mungkin bisa bikin kotor pekarangan yg bersih disana. ada bale bamu tempat kita bisa menyantap makanan kok. ada saung bertingkat juga di sebelahnya tempat kita memandang ke segala penjuru. lalu di bawah pohon pun ada tempat duduk adem terlindung.

      mgkn begitu, prima…
      tak ada yang bisa menjelaskan (guide mksdnya), jadi itu kesimpulan ejie sendiri saja.

      salam kenal dan tengs ud blogwalking ya primaaaa 😀

  3. hi jiiee.. boleh ya share pengalaman juga 🙂

    saya ke lokasi ini tahun 2016 sekitar bulan maret, karna salah estimasi waktu jadi sampe sana sekitar jam 3-4 sore (gak asik banget kurang lama explorenya). harga masih belum berubah.. masih tetap 2000 rupiah untuk wisatawan domestik. untungnya disinii banyak guide yang siap kasih penjelasan sama apa yang kita tanyain.

    kurangnya akses ketempat ini tuh penerangannya.. balik dari lokasi udah mau gelap dan penerangan cuma lampu motor aja.. 🙂

    1. boleh mas sakti…
      makasih ni share lampegannya.

      kl kesana, enaknya masih pagi, mas. udara sejuk dan langit cakep banget, mas. banyak yg bisa kita lihat dan eksplore juga loohh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s