Makassar: Pulau Khayangan, Tosca yang Tak Bisa Kayang

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Jelajah pulau-pulau spearmonde di Makassar kembali dilakoni. Bersama sejumlah teman-teman sail dan crew KRI Surabaya 591 berikut komandan, kami menyambangi 1 diantara 2 pulau lainnya. Pulau Khayangan adalah pilihan kami.
Sssssttt… ayok ikut Ejie melihat-lihat πŸ˜‰
(doc pribadi)
(doc pribadi)
***

Before:
makassar-pohon-kering-ala-korea-di-pulau-lae-lae/
samalona-the-tosca-beach/

Foto bisa lihat di link:
https://www.facebook.com/ejie.belula.jie/media_set?set=a.276797199104455.63977.100003225317995&type=3

***

Makassar
September 2012

Dermaga kayu Khayangan (taken by Rizky Dwi, doc pribadi)
Dermaga kayu Khayangan
(taken by Rizky Dwi, doc pribadi)

Tujuan kami menjelajahi jajaran pulau-pulau cantik yang terkenal di Makassar, diantaranya -Pulau-lae-lae/, Pulau samalona-the-tosca-beach/ dan Pulau Khayangan tercapai. Bersama boat karet yang menghantam kami di lautan Makassar hingga menjerit-jerit kesenangan tak berpengaruh pada kami yang haus akan pulau-pulau yang terbentang di Indonesia.

Perjalanan susur pulau kami terhenti di 1 pulau yang juga tak terlalu luas. Sekitar 1 ha dengan jarak Β± 0,8 km dari Kota Makassar atau 15 menit perjalanan dengan boat/kapal nelayan yang disewakan dari pelabuhan di depan Benteng Fort Rotterdam. Dari pulau itu, terlihat Kota Makassar di kejauhan.

Pulau Khayangan termasuk dalam wilayah Bulo Gading, Makassar, Sulawesi Selatan. Dulunya Makassar terkenal dengan sebutan Ujung Pandang. Dan Pulau Khayangan ini, dulu disebut Marrouw atau Meraux.

Boat karet berwarna hitam milik TNI AL berisi 15 orang (lebih) itu menepi di sebuah dermaga kayu di Pulau Khayangan. Dermaga sederhana dengan 3 atap berjajar di atasnya. Disekelilingnya terdapat ban-ban bekas yang dijadikan tambatan untuk perahu nelayan atau boat yang bersandar. Supaya tidak menabrak juga kan pada saat akan bersandar, hheehe… Oia, sewaktu kami menyandarkan boat, sebuah boat lain pun tiba. Mereka membawa air dalam dirijen dan tong besar. Sepertinya air bersih yang disupplay dari daratan ke pulau tersebut.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Tak banyak pernak-pernik lainnya tampak di dermaga kayu berwarna coklat berpenyangga cat biru pada tiang-tiang atapnya. Sebuah lampu jalan penerangan di malam hari pun hanya terlihat satu saja di tengah-tengah dermaga dengan umbul-umbul beberapa bendera sebagai penyemaraknya.

Derakan kayu dermaga terdengar ketika kami berjalan diatasnya. Langkah-langkah itu membawa kami kepada pasir yang dari kejauhan tampak putih, namun setelah turun dari dermaga, di pesisir pantainya, justru gradasi kecoklatan. Pasirnya lembab. Tapi jika pandangan mengarah ke tempat lain, memang pasir putihlah yang terlihat dan kering.

This slideshow requires JavaScript.

(taken by Zela, doc Zela)
(taken by Zela, doc Zela)

Kami melewati tangga semen yang sudah rapi dibawah sebuah pohon rimbun. Sebenarnya bisa mengarah terus dari dermaga, berjalan di lindungan atap adem yang ada. Tetapi aku lebih memilih berjalan diantara pasir tepi pantai Pulau Khayangan. Mulai bermain air walau sekedar membasahi kaki hitamku yang sudah 3 mingguan terkena angin laut dari atas kapal KRI Surabaya 591 itu. Kakiku ini, ingin segera menyelam di air hijau itu, tapi larangan Komandan Joni yang berpesan untuk menahan diri agar tidak nyemplung hingga sore nanti di Pulau Samalona, kuindahkan. Terkadang, menahan diri itu baik untuk sesuatu yang ingin diperoleh. Hheeee..

Sepi. Iya, tidak banyak pengunjung yang datang ke pulau itu ketika kami berkunjung kesana. Mungkin juga karena hitungan weekday ya, jadi ya cukup mengertilah dengan keadaan tersebut.

Aku yang terakhir menghampiri teman-temanku yang sudah sibuk berjalan-jalan di sekitar Pulau Khayangan, mendatangi satu tempat yang kelihatannya seperti sebuah tempat untuk hiburan rakyat. Ada sebuah panggung hiburan yang lumayan luas. Kami berfoto-foto disana. Lihat saja gaya Una, Hikmah, Kak Boimin, Ari, Kak Agus, Rizky, Zela, Fahim, aku dan yang di belakang lensa, aku lupa. Sepertinya sih Varhan. Hahhaaaaa…

(taken by Varhan, doc pribadi)
(taken by Varhan, doc pribadi)

Pulau yang memiliki pemandangan alam indah dengan pasir pantai yang putih bersih ini, sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap layaknya sebuah resort. Di antaranya penginapan, restoran, panggung hiburan, gedung serbaguna, tempat memancing, taman bermain anak-anak, dan sarana olahraga.

Selain bisa menikmati berbagai aktivitas seperti bersantai di tepi pantai, berolahraga air jetski maupun memancing, para pengunjung juga dapat bersnorkeling atau melihat aneka ikan laut hias di sejumlah aquarium yang ada di sana. Bahkan tulang-belulang ikan yang besar pun, ada lho yang diakuariumkan πŸ˜€

Zela dan tulang-belulangnya. Woooo?? :D (doc Zela)
Zela dan tulang-belulangnya. Woooo?? πŸ˜€
(doc Zela)

Fasilitas untuk olahraga juga tersedia di pulau Khayangan. Bermain bola, volley pantai, basket maupun tenis meja bisa menjadi pilihan.

Informasi yang aku dapatkan dari bapak-bapak yang duduk santai di sebuah warung kopi dimana para crew kapal duduk santai, di area yang lain, flying fox, outbond zone dan playground pun ada. Dari mereka pun kuketahui bahwa untuk makan disana jika menginap pun harganya standar, Rp 15.000,-. Itu kalau sekarang belum naik ya? Soalnya Ejie kesana kan waktu tahun 2012. Wihihiii…

Nah, gimana? Sudah menentukan KAPAN MAU KEMANA belum? Atau mau seperti Ejie saja, NO PLAN IS MY PLAN. Mau kemana-mana tanpa perlu pusing dengan tiket promo, janjian ngetrip, takut tiket hangus, dan lainnya?

Cuma mau mengingatkan saja, teman. Bahwa dimanapun kaki melangkah, ingatlah selalu untuk menghargai alam yang memberikan nafas dan segarnya mata kita memandang mereka. So, tetap menjaga kebersihan ya? Jangan membuang sampah di sembarang tempat.

Hijau, biru, tosca. Aihhh… hanya itu saja yang menggenai otak berkelanaku yang penuh akan lautan ini. Semoga masih akan ada kesempatan, keberuntungan serta rezekki yang juga akan singgah, berkunjung dan membawaku menuju pelosok indah negeri ini. Daaaaaann.. semangat berkelana ya sahabaaaaaatt… πŸ˜‰ (jie)

***

Thank to:
1. Komandan Joni and the crew
2. Boat karet, kendaraan kami menjelajah pulau-pulau cantik di Makassar
3. Teman-teman sail dan teriakannya
4. Counting for the island –> Rp 0,- YEAYY!

***

Olahraga dan wisata jetski yang ada di Pulau Khayangan. (taken by Zela, doc Zela)
Olahraga dan wisata jetski yang ada di Pulau Khayangan.
(taken by Zela, doc Zela)
(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “Makassar: Pulau Khayangan, Tosca yang Tak Bisa Kayang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s