Aku Milik Allah

Tulisan ini tidak menjauhkan arti IBU dalam hidupku. Tetapi apa yang kualami dari pelajaran hari ini, aku mengakui bahwa AYAH pun mempunyai peranan penting dalam perjalanan kehidupanku. Meski ia (ayah) jauh dari impian seorang anak yang mengidolakan ORANGTUA idamannya ketika kecil. Kehidupanku selanjutnya mengatakan, PAPA adalah TEMAN yang melindungiku.
LILIN Aku teringat kalimat kababay Chandra Bayu ketika aku habis "DIINTEROGASI" teman-teman TENDA 13.. (doc pribadi)
LILIN
Aku teringat kalimat kababay Chandra Bayu ketika aku habis “DIINTEROGASI” teman-teman TENDA 13 di BK, Sharinah Thamrin.
(doc pribadi)

***

Kejadian itu membuat otakku sakit. Rencana untuk kerja hari ini tetaplah kujalani, meski tidak sesegar sebelum kejadian tadi. Aku menitipkan kunci kamar pada papa. Baru kali ini aku menitipkan kunci kamar tersebut. Sebelumnya aku merasa tidak harus mengunci kamar, bahkan sampai menitipnya. Namun kali ini, aku merasa perlu melakukannya. Bukan karena aku tidak ingin membawa serta kunci tersebut, tetapi lebih kepada, aku takut lupa dimana terakhir kali memegang atau meletakkannya. Mengingat kadar lupaku yang sangat overdosis dan tidak bisa ditolerir oleh akal sehat yang normal.

Iya, lupa yang kerap menggangguku, takut datang dan terpaksa tidur di luar kamar. Meskipun masih terbilang dalam rumah, tetapi jika bukan di kamar sendiri, bisa kelimpungan nanti mencarinya.

***

Dulu aku merasa, papaku ini galak, sangat disiplin, dan kalau belajar matematika sama papa, sering membuat lelehan air mata mengalir deras di pipiku. Iya, aku yang memang tidak berteman dengan angka, karena sering membuatku pusing, takut jika harus berhadapan dengan papa membuat pekerjaan rumah (PR) matematika. Mendingan sama mama. Dibantuin jelasin pelan, diajarin sampe kadang kalau sudah mengantuk, mama juga bantuin lanjutin buat PR nya 😀 (jangan dicontoh ya? heehhhehe).

Dulu, apa-apa selalu sama mama. Buat aku, mama itu tempat mengadu yang paling baik. Mau cerita tentang sekolah, teman-teman, pun tentang papa yang galak, ya sama mama. Aku ngga pernah cerita pacar, karena memang agak susah suka apalagi jatuh cinta. Sering diledekin sih sama teman-teman. Soalnya, teman laki-laki nya itu banyak banget tapi ngga satupun yang jadi pacar. Semua hanya teman saja. Mereka sudah seperti kakak atau saudaraku saja. Lebih cocok buatku. Karena teman-temanku itu menjagaku.

Dulu, kalau minta uang jajan sekolah, maunya minta sama mama. Kalau sama papa, agak pelit sih. Ditanya detil mau jajan apa, naik kendaraan angkutan ke sekolah berapa, dan blaaaa…. blaaa… banyak! Malas kan kalau banyak pertanyaannya? Yang paling gampang, ya minta sama mama.

Tapi itulah papa. Pelit bukan sembarang pelit. Pelit tapi mengajarkan. Kenapa? Karena dari pertanyaan berbelitnya itulah, aku memperoleh banyak pelajaran.

Aku bisa mengatur keuanganku sendiri waktu sekolah. Aku bisa mempunyai usaha sendiri waktu sekolah. Aku menyewakan buku-buku cerita koleksiku pada teman-teman. Uang hasil menyewakan buku, biasanya kuputar lagi untuk membelikan buku-buku baru incaranku. Kalau kurang, biasanya papa yang akan menambahinnya. Jadi misalnya harga buku Rp 50.000,- dan aku mau beli 3 buku, tetapi uang yang kupunya kurang, papalah yang akan menutupi kekurangannya. Papa memberikan tambahan tanpa pernah meminta sisanya.

Iya, dulu aku mempunyai perpustakaan kecil yang masih tetap awet hingga sekarang. Walau tidak ada lagi yang namanya menyewakan buku cerita, tetapi buku-buku hasil usahaku itu, masih tersimpan dan terpajang rapi dalam buffet buku di ruang keluarga papa.

Dulu, dari hasil pertanyaan berbelit papa, aku juga bisa berjualan kartu lebaran dan kartu ulang tahun buat teman-temanku. Mereka akan memesan dan minta dibuatkan design ala-ku. Tentunya seperti konsultan designer kini, aku juga melakukan tanya jawab, seperti apa kemauan kartu pesanan klienku itu. Dan semuanya hasil jerih payahku yang dimodali dari uang jajan yang kutabung sedikit demi sedikit.

Ahh… papa, terima kasih ya untuk semua pelajarannya.

Dan kini, di saat hari ini aku merasa sendiri, aku menyampaikan isi terdalamku pada papa, dihadapannya, tadi, setelah kejadian itu. Baru kali ini, aku merasa bahwa papa mendengarkanku (sebagai anak).

“Papa, maaf ya…. kalau papa nanti ngga ada lagi, kami (panggilanku untuk diriku dalam keluarga, red), takut, pa…” lalu hanya air mata yang mengalir di sudut mata ini.

Mungkin tanpa dijelaskan lebih lanjut, papa tahu ketakutanku itu mengenai hal apa. Seorang ayah atau ibu, pertalian darahnya tentu kuat. Terkadang kita tidak bisa menjelaskan panjang lebar tentang hal yang terjadi, tetapi saat berbicara dengan mereka, melihat dari mata saja, mereka akan tahu apa yang berkecamuk di dalam bathin anaknya. Hebatnya orangtua yang diciptakan Allah untuk memberikan kedamaian dalam hidup anak-anaknya.

Aku hanya diam tanpa berani menatap papa.

Papa bertanya, “Tadi ditendang?”

Kembali hanya air yang mengalir.

“Yang sabar ya?” ia memberikan tangan rentanya pada pipiku dan hanya tisu yang mampu mengeringkannya berkali-kali. Itupun hingga tisu terakhir, tak ada yang bisa menghentikan aliran air tersebut.

Kami mengobrol banyak. Dan saat itu, aku baru merasakan bahwa benar, kasih orangtua itu memang tiada batasnya. Sesalah apapun seorang anak, senakal apapun seorang anak, sedurhaka apapun seorang anak, orangtua memang hal terindah yang kita miliki.

Jika ada kalimat dalam peribahasa Indonesia seperti ini:

“Kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah”

Lalu bagaimana dengan kasih ayah?? Apakah ada peribahasanya? Jika didalam Al-qur’an saja hanya ibu, ibu, ibu, lalu ayah.

Aku menghormati keduanya dalam kadar yang berbeda, dengan apa yang kurasakan pada apa yang terjadi dalam perjalanan hidupku beberapa tahun ini. Kehidupan yang banyak kujalani. Dengan beragam karakter manusia yang berbeda-beda. Dengan pelajaran yang kulalui sesuai penalaranku. Dengan setiap tambahan ilmu, pengetahuan, pembelajaran yang kuperoleh dari hasil “Sekolah Hidupku”. Aku selalu mendapatinya untuk kumaknai.

Kemudian, di kala seorang anak menghujat ayahnya, dimana ada orang lain yang juga terikat darah yang sama dengannya, apakah bisa berdiam diri seolah-olah dia hanya hanya lahir dari rahim seorang ibu tanpa ada peran ayah? TIDAK. Kita lahir atas dasar keberadaan kedua orangtua kita, bukan? Jika hanya mengakui salah satunya, aku tidak tahu, terbuat dari apakah hatinya hingga mampu mengucapkan kalimat tidak pantas terhadap orangtuanya? Hanya Allah yang bisa memilahnya.

Papa yang kini tidak segagah dulu
Papa yang kini cungkring
Papa yang kini kian memutih rambut di kepalanya
Papa yang kini tidak lagi segalak dulu
Papa yang kini lebih menerima anak-anaknya yang kian bisa semaunya
Papa yang kini berjuang untuk kehidupan anak terakhirnya
Papa yang kini ….

Ahhh… sering kudengar alunan ayat-ayat Al-qur’an saat aku pulang larut. Kadang, saat pulang ke rumah dan gelap, aku mendengar papa mengaji. Menghentikan langkahku sesaat untuk naik ke kamarku di ruang atas. Malu, karena mengajiku tak pernah berhasil khatam. Malu, kalau ketika pulang ke rumah, aku belum mengerjakan shalat Isya. Dan malu karena sering menyusahkan papa dalam hidupku.

Jika selanjutnya, papa menenangkanku akan pertanyaan ketakutanku kalau papa tidak ada, dan aku menangis, SALAHKAH??

“Dengar ya. KEMBALIKAN SEMUANYA KEPADA ALLAH. Jangan takut. Semua di dunia ini adalah milik Allah. Kita juga milik Allah. Jadi apapun yang akan terjadi, percayakan hanya kepada Allah. Kamu milik Allah…”

Papaaaaaaaa…….
Maafin kami yaaaaaa… Mau cepat-cepat selesai libur shalatnya, pa. Mau minta maaf pada Allah. Mau mendo’akan papa dan mama juga semua agar selalu dilindungi Allah. Agar semua selalu diberikan kebaikan lisan dan perbuatan. Agar semua selalu berada dalam damai dan tidak ada pertengkaran duniawai yang selalu membuat KEPALA SAYA SAKIT!

Papaaaaaaaaaaaaaa……
Semoga papa selalu diberikan kesehatan hingga akhirnya tugas papa selesai menjaga kami, para anak perempuan papa.
Semoga kami bisa selalu ingat, bahwa papa selalu ada untuk kami.
Semoga papa dan mama selalu dijaga olehNYA pula.

Saya sayang papa mama saya walau saya tidak bisa mengatakannya secara langsung. Saya hanya bisa menitipkan pesan sayang saya pada mereka melalui do’a padaNYA. Semoga Allah mendengarkan apa yang tersirat dalam bathin dan hati ini untuk kedua orangtua saya. AMIN YRA.

Maafin kami ya pa, ma…. untuk semua salah dan dosa yang pernah tercipta. Terima kasih papa, AKU MILIK ALLAH… (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

11 thoughts on “Aku Milik Allah”

      1. Haha santai ajaaa… Aku mah, suami jg santai. Mau ketemu dmn yuukk. Mlm ini ke rmh jg gpp. Ini lg ngobrol ada tmn abangku jg, jd sama2 dong..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s