Hitchhike Demi Gear Selam

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Aaaaakkkk!!
Panik kehilangan hal yang penting, pernahkan?
Panik ketinggalan hal yang sangat disukai, sudahkah?
Panik melupakan hal yang selalu bersama kita, mungkinkah?
Panik jika kehilangan kesayangan kita, adakah??

Mamaaaakk…. putar badan demi menjemput sang impian.
#blushing
(doc pribadi)
(doc pribadi)

***

Toko Outdoor Edge
Simpang Hek, Kramatjati
Februari 24, 2014

Sepulang dari tektok -Resepsi-Gunung Papandayan-, aku dan Ky berpisah di Cileunyi. Ky pulang ke Jakarta, sedangkan aku masih ingin lanjut latihan freedive di kolam UPI, Bandung bersama keluarga Bandung Freedive yang selalu ku kangeni.Β Aku latihan bersama Kadon dan Sawat, teman hitchhikingku (lupa deh belum ditulis keknya πŸ™‚ )

Oia, aku dan Kadon, pulang ke Jakarta itu juga dengan cara hitchhiking. Sungguh minggu yang full hitchhiking ketika itu. Dari rencana awal naik gunung yang terkaget-kaget dengan keinginan Ky untuk hitchhiking-z-to-cileunyi-Β ke Bandung. Lalu pulang ke Jakarta pun, aku masih melakukan hal yang sangat kusukai itu. Ahaahahha…..

Ceritanya, sesampainya di Jakarta, aku dan Kadon berpisah, karena arah pulang yang juga berbeda. Kadon ke arah Bundaran HI, aku ke arah Pondok Gede. Ehh, sewaktu kendaraan yang kunaiki mengarah ke Simpang Hek antara arah Pasar Rebo dan Tamini Square, aku melewati toko outdoor teman, Muhammad Budiman BrosΒ namanya. Ia kupanggil Kakak Bros.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.20 WIB dan pagi harus masuk kerja, namun mata yang mendadak segar terkena angin jendela angkutan umum tadi, kembali membuat mataku nyalang. Mataku menangkap sosok Elin yang duduk di luar toko dari kaca mobil. Kuhentikan dan bergegas turun. Ada kakak Bros juga! Jadilah kami bercerita panjang mengenai apapun. Yaaaaa… khususnya tentang resepsi pernikahan Irwansyah Deenaa di Papandayan. Kuletakkan dry bag kuning berisi perlengkapan dasar menyelam berupa masker, snorkel dan fin di sisi kiri toko luar tempat kami duduk mengobrol.

(doc pribadi, taken by Elin)
(doc pribadi, taken by Elin)

Aku masih mengobrol dan sesekali asik berfoto-ria dalam toko tersebut, ketika tersadar jam telah menunjukkan pukulΒ  01.00 dinihari. Aku memutuskan pulang ke rumah. Kakak Bros mengantarkan hingga ke pangkalan mobil KR biasa ngetem (antri menunggu penumpang, red).

Kulambaikan tangan pada kakak Bros dan menatap jalanan yang sedikit terasa sepi. Begitu melewati jembatan penghubung antara Hek dan Tamini Square, sesaat aku tersadar. OMG, dry bag kuuuuuuuuuuuuuu…… PANIC, YESSSS!!

Kuhentikan kendaraan begitu sampai di depan halte transjakarta Garuda, depan Tamini Square. Mataku mencari-cari kendaraan untuk mengulang balik ke toko kakak Bros, dimana aku melupakan tas berisi peralatan renangku. Ohh noooooo…. otakku mulai berpikir macam-macam. Kalau kakak Bros lupa mengambil dan menyimpan dry bag ku itu, huwaaaaaaaaa πŸ˜₯ Jujur deh, mewek aku sembari (terpaksa) jalan kaki ke arah jembatan karena tak juga ada kendaraan yang lewat. Yang terpikir olehku hanya satu. Harus secepatnya tiba di toko kakak Bros demi gear kesayanganku!

“Gear, ohh.. gear….. Tunggu aku!” bathinku.

Ihhh, lumayan juga euy jalan ke Hek. Lumayan ngos-ngosan karena aku tahu tubuhku sangat kurang beristirahat 3 hari itu. Tapi bayangan mengenai dry bag ku lebih berpengaruh ketimbang lelahnya kaki dan lainnya. Sebuah mobil pick up biru yang kulihat dari arah datang tol, memacu untuk segera memberikan jempol hitchhikingku. Aku bisa memastikan, pengendaranya pasti akan ke Pasar Induk Kramatjati dan lewat Simpang Hek tujuanku.

Mobil berhenti dan hap! NEGO ala Hitchhiker Indonesia! Hahaahhihhehooo…

(doc pribadi)
(doc pribadi)

“Selamat malam, pak. Saya mau numpang ikut ke Simpang Hek saja, bisa?” tanyaku.

“Ohh, boleh nak, kebetulan bapak juga mau ke pasar induk dan lewat sana. Silahkan, tapi ngga rapi lho mobilnya, nak. Maklum, mobilnya buat angkut sayuran,” si pengendara membersihkan tempat duduk dari koran yang kurasa digunakan sebagai alas bagi sayur-sayurnya nanti.

“Nda apa, pak. Terima kasih,” ujarku.

Mobil pun jalan dan kami bercerita singkat. Bapak berusia 45 tahun bernama Danil, biasa mengambil sayur di Pasar Induk Kramatjati untuk kemudian diantarkan kepada agen-agen sayur langganannya di 2 tempat pasar yang terdekat, yaitu Pasar Kramatjati maupun Pasar Pondok Gede. Ia biasa mengantar sayur sawi dan kol.

“Kenapa numpang, nak? Sepertinya sangat jarang saya temui orang yang menumpang dan berbicara seperti anak ini. Kebanyakan kalau numpang ya cuma bilang mau numpang dan main lompat saja di bak mobil belakang, nak. Bahaya, tapi sepertinya orang tidak peduli hal semacam itu. Ngga takut?” ia menerangkan dan bertanya sambil tetap memperhatikan jalan di depannya. Terburu-buru tampaknya si bapak.

Aku menjelaskan apa yang seharusnya dan biasa kulakukan saat hitchhing. Menceritakan mengenai komunitas hitchhikerku, tapi tidak sempat menceritakan panjang lebar karena perjalanan sudah berakhir. Tumpanganku memasuki tujuanku.

“Pak, saya turun di depan. Tapi boleh foto depan mobil bapak yaaaaaaa…” pintaku.

“Iya, boleh. Silahkan saja.”

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Setelah mengambil gambar, aku pun mengucapkan terima kasih dan pak Danil segera berlalu menjemput setoran sayur-mayurnya. Ya Allah, rezeki itu memang selalu ada saja ya? Aku bersyukur. Segera berlari ke toko outdoor dan menjumpai Kakak Bros serta Elin yang melongo melihat kedatanganku yang tiba-tiba.

“Tadi sudah aku sms, Jie. Kusimpanin tuh dry bag mu biar besok bisa diambil. Kenapa datang sekarang? Naik apa? Cepat banget?” tanyanya heran.

Aku menjawab pertanyaannya kemudian menceritakan hitchhiking singkat dan kakak Bros cuma bilang, “Buset lu, Jie…” (jie)

***

(doc pribadi, taken by Kakak Bros)
(doc pribadi, taken by Kakak Bros)
(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “Hitchhike Demi Gear Selam”

  1. Ohh yaa gw tau, yg tengah malem masih buka yaah hihihihi, deket nasi uduk betawi, coba mampir ke rumah Ejie. Deket ini mah dari rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s