Perosotan Air di Curug Bibijilan

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Curug atau air terjun mempunyai keunikan tersendiri. Jatuhan airnya yang kadang berupa beberapa undakan, kerap menarik perhatian. Curug yang satu ini, kalau lihat di blog lain, warna airnya kehijauan, cantik. Tetapi waktu aku dan teman-teman Hitchhiker Indonesia (HHI) main kesana, airnya tidak hijau. Walau begitu, curugnya tetap saja menarik.
Keceriaan di air terjun (doc Titin Edriati)
Keceriaan di air terjun
(doc Titin Edriati)
***

Before:

time-for-playing-hhi-to-buniayu-prolog/
jempol-lumpur-buniayu-rasakan-seratus-ribu-edisi-kua-buniayu-starting-point/
jempol-lumpur-buniayu-rasakan-seratus-ribu-edisi-kua-buniayu-the-hitching/
jempol-lumpur-buniayu-rasakan-seratus-ribu-edisi-kua-buniayu-the-basecamp/
jempol-lumpur-buniayu-tim-rusuh-kakak-adik-buniayu/
senyum-ceria-nicky-berhitchhiking-buniayu-jakarta/

***

Sukabumi
Februari 2nd, 2013

Seluncur menurut definisi dalam kamus bahasa Indonesia online adalah olahraga di atas es dengan cara berjalan atau meluncur  menggunakan sepatu berpisau di bagian bawahnya (Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/seluncur/mirip#ixzz33lfXfPdX). Mungkin lebih kepada bermain es skating diatas salju ya untuk ukuran luar negeri. Kalau dalam bahasa sehari-hari daerah di Indonesia, lebih tepat diartikan kepada main perosotan.

Perosotan bisa dilakukan di pasir, di air, di rerumputan dengan padang yang luas, turunan sebuah jalan yang bukan untuk kendaraan umum menggunakan alas seperti papan, kardus atau koran, misalnya. Permainan seperti ini kerap dilakukan di desa atau daerah (bukan ibukota). Soalnya, di masa kecil, aku biasa bermain seluncur atau perosotan itu, di rumput dan pasir. Bedanya, seluncur lebih kepada kita berdiri, sedangkan perosotan, posisi kita duduk. Bisa sendirian atau membonceng teman di belakang kita. Harus mahir mengendalikan alat yang menjadi alas kita pas turunan kalau ngga mau nyungsep ke semak-semak jika ada di sekitarnya. Bahkan bisa lecet (luka kecil seperti tergores, red) di beberapa bagian tubuh kita. Hahahaaa… pulangnya kalau ngga menempel itu daun yang mirip duri serta tidak sakit atau celana yang kotor oleh debu pasir setelah bermain, aku pasti ngumpet, walau mama ngga akan marah karenanya.

Kenapa Ejie bercerita tentang seluncur? Mari baca tulisan sederhana tentang sebuah curug berlokasi di Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat, di Indonesia tercinta ini.

***

Namanya Air Terjun Bibijilan. Dalam bahasa Sunda artinya bermunculan dari dalam perut bumi (gua) membentuk aliran air dan kolam-kolam kecil. Curug ini satu komplek dengan Goa Buniayu. Setelah puas bermain goa dengan perjuangan setelah adu cepat melewati lumpur yang membenamkan (rata-rata) sepatu boots teman-teman Hitchhiker Indonesia (HHI), coreng-moreng muka dengan lumpur basahnya, kami pun menuju ke curug.

Menuju ke curug itu tidaklah jauh, sekitar 20 menit, karena hampir di setiap kesempatan kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Mengambil momen kebersamaan. Tanah basah coklat yang kami lalui di turunan bukit sekeluarnya dari Goa Buniayu, menambah deretan panjang noda coklat yang sebelumnya sudah banyak menempel di wearpack kami. Apalagi kalau bukan karena keisengan teman-teman yang suka menciprati kakinya ke tanah yang ada genangan airnya? Hahahaa… harus waspada terhadap segala kemungkinan de banditos deh kalau ngga mau menjadi sasaran empuk tanah mereka.

Berjalan ke arah curug, kita akan melalui hutan pinus yang tinggi menjulang dengan batang kurusnya. Tanahnya tidak lagi basah, tetapi lebih lembab. Mungkin karena memasuki areal curug, suasananya lebih kepada damai. Entah, sesuatu yang menenangkan menelusup ke jiwaku. Perasaan yang terbiasa menikmati perjalanan itu hadir. Aku menyukainya. Selain melihat cerianya teman-teman, alam di sekitar pun mendukung. Bersyukur aku bisa menempatkan rasa yang sebelumnya tak pernah ada selain monoton. Rasa ini, ehhh…., kenapa jadi sesi colongan curhat nih? Kwwkwkkk… Haishhh.. kembali ke pokok cerita curug, Ejie!

Air Terjun Bibijilan memiliki ketinggian sekitar 100 m dengan airnya yang dingin dan sejuk. Kalau Ejie baca-baca di tulisan blog yang ada pada om google, airnya berwarna hijau tosca meluncur dari bebatuan kapur.  Tetapi, waktu kami menyambanginya, air tersebut, tidaklah sehijau seperti yang ada di beberapa blog lainnya. Mungkin kondisi kedatangan juga mempengaruhi cuaca kali ya? Dan ketika itu, air terjun, tidaklah hijau tosca.

Kami waktu itu berkunjung di bulan Februari. Mungkin memang tidak rezeki melihat hijau tosca ya? Heheheeee.. tak apalah, tetap senang karena bersama teman-teman yang seru! Seingat Ejie sih, 25 orang yang ikut berpartisipasi di acara yang diadakan oleh HHI ini. Ramai tak terkalahkan oleh suara berisik gelak tawa dan keusilan di setiap kesempatan.

Air terjun tampak dari ats. (doc Titin Edriati)
Air terjun tampak dari ats.
(doc Titin Edriati)

Curug bertingkat ini dapat didaki hingga puncaknya. Harus hati-hati jika tidak ingin tergelincir diantara bebatuan tersebut. Lumayan licin soalnya. Kita juga bisa main seluncuran lho di curug itu. Nah, kalau musim hujan, kunjungan ke curug agak dibatasi karena debit airnya yang tinggi dan cukup deras.

Sebuah pertigaan dengan plang yang menempel di batang pohon pinus bertuliskan “Selamat Datang di Wana Wisata Curug Bibijilan” hampir terlewatkan. Aku tidak melihatnya, saking senangnya menikmati perjalanan. mungkin aku merupakan skian dari orang terakhir yang masih di jalan, karena hampir sebagian lainnya sudah mulai bermain air disana.

Jujur saja, aku tidak terlalu tahu rencana awal perjalanan kesana. Soalnya di komunitas kami HHI tidak selalu membeberkan daerah mana yang akan menjadi tujuan kedatangan kami. Penasaran! Semuanya pun berupa kejutan-kejutan di tiap perjalanan yang kami lakukan. Kami selalu saja diberikan ilmu penasaran untuk menebak-nebak, kemana kami akan menuju? Jadi seru kok sebenarnya. Karena semakin tidak banyak pertanyaan, semakin seru rasanya. Entahlah, mungkin itu rasa yang hingga kini selalu menjadi ketertarikanku bila melakukan perjalanan wisata. PENASARAN yang baik!

Kiri jalan pada pertigaan arah dari Goa Buniayu, sebuah rumah kecil tempat mengaso (istirahat, red). Rumah berupa ruang kecil menyerupai gazebo dari kayu beratapkan daun rumbia biasa dipakai orang yang lalu lalang untuk sekadar melepaskan penat. Kami melewatinya karen air terjun sudah terdengar cukup dekat. Pastinya sudah memanggil kami untuk segera bermain disana.

Aku mengikuti arah suara panggilan dan ketawa teman-teman di bawah sana. Menuruni curug jangan terburu-buru, karena licin dan tampak lumut di sisi bebatuan yang juga menjadi tangganya. Pegangan tangganya pun sudah tidak terlalu baik. Di beberapa bagian malah tidak ada pegangannya. So, watch your step, guys if you’re going down.

Tampak undakan dari Air Terjun (Curug) Bibijilan. (doc Titin Edriati)
Tampak undakan dari Air Terjun (Curug) Bibijilan.
(doc Titin Edriati)

Aliran air terjun ini, diapit oleh hutan. Banyak tumbuhan hijau disana. Jika kita mengambil dari atas, maka akan tampak ketinggiannya. Kadang juga sering digunakan sebagai arena panjat tebing dan flying fox. Waktu itu kami tidak mengambil paket rappelingnya, hanya ingin bermain di airnya saja mengingat perjuangan hitchhike kami untuk bisa sampai ke kawasan Goa Buniayu ini cukup melelahkan (baca edisi KUA Buniayu). Lain lagi bila kita mengambil gambar dari arah bawah, akan terlihat undakan demi undakan dari air terjun ini. Subhanallah… ciptaan Allah memang tiada duanya, ya? 🙂

Sebuah pancuran air yang keluar dari balik besi penutup air keluar menyembur kemana-mana membasahi kami yang berjalan menuruni tangga. Pancurannya lucu, kadang terlihat seperti sebuah sayap. Kabay, Kadon dan Katin berfoto disana. Aku yang terlambat datang segera bergabung dengan teman lainnya. Aku mencoba main di pancuran deras itu, namun berulang kali semburan airnya masuk ke telingaku membuat jera dan tak ingin mencoba lagi.

Kulihat rombpngan lainnya sudah mendapatkan posisi terbaik masing-masing. Sepertinya sudah betah saja. Aku pun melirik sebuah batu kosong di dekat Bram dan Om Harr yang sedang membersihkan boots dan wearpack. Kuhampiri dan tiduran di batu lebar yang datar untuk menikmati air yang mengalir terus membasahi wearpackku ini. Ya, hampir semuanya mencuci baju, sepatu boot dan kaus kaki yang kami gunakan bemain lumpur di Goa Buniayu sebelumnya, di curug itu. Sebagian malah bermain seluncur di aliran curug yang deras dan mengantarkan pada sebuah genangan yang menyerupai kolam. Bisa berenang dalam jarak pendek lho?!? Aku melakukannya dan SEGAR! Ahahahahahh…

This slideshow requires JavaScript.

Karena aku adalah urutan kesekian orang terakhir yang sampai di curug, jadi, pada saat hampir semua sudah naik keatas, aku yang masih asik bermain air, seluncuran dan berenang, terpaksa dipanggil “paksa” dan dijemput bapak yang mengguide kami. Kabunda yang bersamaku serta dua orang teman lainnya pun mengajak untuk segera bergegas pulang mengikuti langkah teman-teman.

Perjalanan itu, tak harus selalu mahal untuk bisa menikmatinya. Bersama teman-teman ceria dan budjet yang minimal pun, akan terasa lebih berarti karena penuh dengan candaan.

Bersama keluarga HHI. (doc Titin Edriati)
Bersama keluarga HHI.
(doc Titin Edriati)

Allah menciptakan langit dan isinya untuk dapat kita nikmati. Syukurilah pemandangan mata yang menyejukkan hati dan raga dengan turut melestarikannya. Ingatlah untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Karena dengan kepedulian kita, lestari alam merupakan aset bagi pertumbuhan dan perkembangan bumi ke depan. Hijaulah negeriku Indonesia! Semangat berkelana, teman-teman 😉 … (jie)

***

Bermain dan mencuci wearpack di curug. (doc Titin Edriati)
Bermain dan mencuci wearpack di curug.
(doc Titin Edriati)

(doc Erick Samuel)

(doc Erick Samuel)

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s