AirAsia Terbang di 2.665 Mdpl Indonesia

Bagaimana mungkin sebuah maskapai penerbangan mendarat di salah satu gunung yang ada di Indonesia? Bobot satu buah pesawat yang besar begitu? Adakah pelataran parkir Gunung Papandayan mampu menampung pesawat yang didominasi warna merah tersebut untuk proses pendaratan? Haruskah mendarat di Pondok Saladah yang merupakan camp site para pendaki? Hal yang mustahil akan menjadi mungkin apabila dilaksanakan dengan aroma persahabatan.
Penasaran?? Aku suka!

***

(dok AirAsia)
(dok AirAsia)

Kisah Pertama

Bermain dengan awan, tak mesti terbang menerobos kumpulan awan-awan di langit luas saja, bukan? Menikmati awan yang diiringi warna-warni semburat senja atau bahkan cerianya sinar mentari pagi pun tak hanya bisa dilihat dari balik jendela lonjong atau kotak sebuah kendaraan bernama pesawat terbang. Emmm… Seperti AirAsia misalnya.

Dulu pernah kok aku naik AirAsia, entah di tahun berapa ya? Lupa. Yang kuingat adalah ketika itu aku sedikit melongo dan ngences melihat tiket-tiket masuk kabin dimana yang diutamakan orangtua yang berusia lanjut dan anak kecil. Mereka diprioritaskan untuk masuk ke kabin pesawat terlebih dahulu. Sementara untuk orang seusiaku yang masih gigih, sehat dan kuat, harus mengantri. Aku rasa hal tersebut Β wajar dilakukan.

Naaah.. yang membuatku terkenang dan terkekeh-kekeh yaitu, ketika para penumpang prioritas telah sampai di kursi dalam kabin. Maka entah bagaimana, tiba-tiba saja wuuusshh…. Kaki-kaki penumpang tak berprioritas berlarian termasuk aku yang belum terlalu paham pada apa yang terjadi dan harus dilakukan waktu itu, kecuali ikut berlari. Dan saat kaki telah sampai di kabin pesawat, mataku sekonyong-konyong melihat betapa kursi menjadi tujuan utama para penumpang agar mendapat tempat sesuai yang diinginkan.

Olalaaaa… Baru ngeh aku. Ahahaahhhah.. Ternyata itu tokh yang membuat mereka berlarian. Karena bengong dan sedikit terkena imbas berdesak-desakan, aku tidak mendapat kursi di dekat jendela seperti keinginan anak-anak seusiaku saat itu. Tidak dapat di deretan tengah, tetapi hampir di deretan kursi belakang! Wuaahh!! Kalah gesit, rek!

Sepertinya kenangan yang membekas tentang pesawat airbus AirAsia ya saat berlarian seru itu. Xixixiiii… Pasti yang pernah merasakan berlarian menuju kabin pesawat baru aku deh. Kalau berlari karena takut ketinggalan pesawat sudah sering, bukan??

***

Foto bersama Allstars AirAsia dan TL Wisata Gunung setelah sumbangan dan pembagian alat tulis bagi anak-anak SD dan SMP yang ada di bawah kaki Gunung Papandayan. (dok pribadi)
Foto bersama Allstars AirAsia dan TL Wisata Gunung setelah sumbangan dan pembagian alat tulis bagi anak-anak SD dan SMP yang ada di bawah kaki Gunung Papandayan.
(dok pribadi)

Kisah Tak Tergantikan

Bak mendapat durian runtuh tatkala aku menerima telpon dari salah satu owner travel agent yang membutuhkan seorang guide bagi sebuah maskapai penerbangan. Bukan sekadar pemandu wisata, namun diwajibkan dapat berkomunikasi dengan cabin crew maskapai tersebut. Karena sebagian peserta wisata bukan berasal dari Indonesia. Setidaknya Bahasa Inggris pasif. Tawaran menggiurkan ini tidak kutampik. Bukan karena fee yang akan kuterima diakhir pekerjaan, tetapi lebih kepada apa yang akan kuperoleh di lapangan nantinya.

Pelajaran! Iya, hal yang selalu ingin kumasukkan dalam ransel memori otakku. Menambah perbendaharaan pertemanan sudah barang tentu merupakan list pertama. List berikutnya tentu saja belajar memberanikan diri dalam berkomunikasi dengan orang yang berbeda bahasa dan culture. Biasanya dari pengalaman, bercerita adalah jalan terbaik mendapatkan satu kisah pengetahuan juga link menyangkut apapun.

Heiii… Tunggu! Kisah apa sih sebenarnya ini? Hahha.. kisah ini mengenai aku dan AirAsia. Kisah menggiurkan ini bukanlah sebuah tiket promo melintasi suatu kota, melewati sebuah negara, apalagi singgah di sebuah benua. Ahahahhh… Jauh dari prediksi! Aku memang belum pernah mendapatkan tiket promo seperti teman-temanku yang getol mantengin berjam-jam di depan layar komputer atau laptop untuk mendapatkan tiket begitu. Tetapi tiket istimewa yang kuperoleh sebagai seorang guide, jauh lebih berharga nantinya serta berimbas baik bagiku.

View of Mount Papandayan (doc Cristina Cruz, AirAsia crew)
View of Mount Papandayan
(doc Cristina Cruz, AirAsia crew)

Iya, tiketku ini berupa tiket kesabaran terbang bersama Air Asia menjelajahi ketinggian meter diatas permukaan laut (Mdpl). Mdpl adalah sebutan untuk gunung-gunung yang berada di belahan bumi manapun. Dan keberuntungan terbangku ini, menyusuri cantiknya pemandangan dan jalur yang ada di Gunung Papandayan, Indonesia.

Gunung yang tak hanya memiliki 3 jalur trekking berbeda untuk mencapai camp sitenya ini memiliki ketinggian 2.665 Mdpl. Gunung tersebut mempunyai keindahan wisata tersendiri dengan beragam pemandangan yang bisa dilihat dan dinikmati. Gunung Papandayan ini terdiri dari batu kapur dengan asap vulkaniknya. Sebutan Hutan Mati (Dead Forest) dengan paduan batang pohon berwarna hitam, bisa membuat kita mengucapkan “Waaaww…”.

Terletak di Garut, Jawa Barat, berkarakteristik apik dengan jalur-jalur yang dimilikinya. Gunung tersebut juga sudah beberapa kali memuntahkan lahar panasnya dan 7 kali erupsi. Gunung yang selalu berstatus waspada ini, memiliki banyak bunga abadi edelweiss di Pondok Saladah dan Tegal Alun, padang edelweiss jalan menuju Puncak.

Serunya lagi, aku mendapat tiket terbang di ketinggian pegunungan epic Indonesia bersama maskapai penerbangan AirAsia selama 3 hari. Mendaki gunung maksudnya? Waww lagi? Yoyooyy… asiiiikkk… mau lanjut cerita deh.

***

Siapa bilang Gunung Papandayan bisa disepelekan? Jangan pernah menilai tinggi atau rendahnya suatu gunung, namun takarlah mental lalu kemampuanmu dalam menjejakinya dengan segenap langkah kesabaranmu.

Bukan hanya having fun mencapai puncak gunung saja, tetapi akar dari semuanya adalah bagaimana menjalani dan menikmati setiap proses yang dilalui bersama orang-orang yang terlibat di dalamnya.Β Aku yang tidak mampu trekking cepat layaknya runner di barisan depan dalam rombongan, mendapatkan posisi tengah guna mengapit teman-teman Air Asia.

Tidak gampang lho berperan sebagai guide gunung dengan rombongan sebanyak itu. Tercatat 78 peserta pendakian dari AirAsia dengan 1 orang Team Leader yang dipimpin langsung oleh Adi Setiadi (owner Wisata Gunung, travel agent), 3 orang tim guide, 2 orang tim photographer, 5 orang tim Support dan 2 orang tim administrasi. Menjadi guide maupun bagian dari tim sebuah travel agent bukan hanya keahlian serta kemampuan saja yang diharuskan ada, namun kesatuan jiwa dengan alam, peduli akan sekitar terlebih dengan orang-orang yang menjadi tanggungjawab saat bertugas, juga kesabaran penuh, menjadikan modal utama yang tak hanya memerlukan ucapan, melainkan juga aksi. Disamping itu, kerjasama dalam tim juga antar tim sangatlah perlu. Untuk menjadi tim solid pun diperlukan komunikasi yang baik.

Kami dibagi dalam 3 kelompok, yakni runner (Oji), forerider (aku) dan sweaper (Dana). Beberapa peserta pendakian dari AirAsia akan dengan sendirinya membentuk kelompok sesuai kemampuannya. Sehingga dengan singkat terlihat siapa saja yang berada di wilayah 3 kelompok tersebut. Disamping itu, tim AirAsia juga menyediakan 5 orang guidenya yang juga membackup tugas guide dari travel agent Indonesia.

Pelajaran yang kudapat yaitu, kesabaran yang ekstra penuh saat bertugas mengapit beberapa crew yang juga baru pertama kali mengikuti pendakian, namun mereka bisa konstan berada di wilayah tengah dimana posisiku berada. Aku masih ingat ketika akhirnya ada beberapa yang menjadi akrab denganku. Kami menyebutnya sebagai Glasses Team, soalnya kami semua berkacamata. Hahahahh…

This slideshow requires JavaScript.

Ehh, ada kisah tentang glasses team ini, dimana sepatu salah seorang peserta lepas solnya dibelokan tanjakan setelah Sungai Cisaladah. Untung saja aku selalu prepare membawa sandal gunung, jadi kupinjamkan saja sandalku pada Sweeping hingga kepulangan turun ke basecamp esok harinya di pelataran parkir kembali. She’s very friendly person.
*miss you Sweeeeeeppp πŸ™‚

Xi Erl yang tak menggunakan sepatu selama melakukan trekking. (dok pribadi)
Xi Erl yang tak menggunakan sepatu selama melakukan trekking.
(dok pribadi)

Adalagi Xi Erl (lupa penulisan namanya) yang juga baru pertama kali mendaki. Crew AirAsia berwajah Chinesse ini, menggunakan sandal yang terkenal merknya itu untuk naik gunung. Di beberapa jalur, ia nyaris terpeleset, apalagi sewaktu di jalur Sungai Cisaladah menuju Terowongan Angin, nyaris jatuh tapi sempat kuraih tangannya. Ia menceritakan antusiasnya tentang Gunung vulkanik seperti Papandayan dan pengalamannya naik gunung. Logat Chinnesenya yang masih kental, kadang agak sulit bagiku untuk mengartikan. Makanya aku bisa meminta ia mengulang ucapannya 2 kali selain aku harus berkosentrasi pada jalur yang dilalui oleh para peserta lainnya.

Cerita lain, Kak Nisa yang takut ketinggian seperti gunung tetapi tidak takut terbang bila sedang bertugas sebagai pramugari. Ia jelas bisa membedakan ketinggian tersebut. Ada kalanya ia ingin berfoto sedikit ke tebing tetapi takut dan merasa gamang melihat ke bawah. Aku menyarankan untuk mengambil gambar tidak terlalu dekat tebing agar ia aman.

Kak Nisa pun harus ekstra dilihat karena mengingatkanku pada pertama kali belajar naik gunung. Bedanya aku alhamdulillah bukan takut ketinggian, tapi jalanku yang sangat lambat layaknya siput kata teman-temanku dulu. Hehheee.. Napas, pengaturan napasnya yang harus dikontrol, karena Kak Nisa bilang, ia mudah letih. Aku sedikit banyak membagi pengetahuan yang selama ini kudapat soal trekking padanya. Aku jadi bisa merasakan dan mengerti posisi itu, seperti apa orang yang dulu mensweaperku. Ehh, Kak Nisa semangat lho trekkingnya.

Boy dan Yvonne (doc pribadi)
Boy dan Yvonne
(doc pribadi)

Nah, ada pula leader yang katanya maskot AirAsia soal jalan-jalan wisata tim yang mendaki kala itu, namanya Yvone. Kecil tapi cabai rawit, mungkin ia termasuk salah satunya. Kenapa? Tegasnya itu, didengarkan peserta yang acapkali dipanggil Allstar. Suka dengan ketinggian dan sangat menggilai trekking serta hiking pendakian. Di luar jam tugasnya me-lead, Yvonne pribadi yang seru dan feminin. Ngga akan menyangka mah… wkwkkk

Terlalu banyak kisah yang ingin diungkapkan dan tak mampu dijabarkan. Terlalu banyak kenangan persahabatan yang merekah tercipta hingga sanggup memberikan kesan mendalam pada Allstar AirAsia pada “penerbangan” unik di Maret 2014 lalu.
*simpan di memori otak ranselku

***

This slideshow requires JavaScript.

Tiket Ajaibku dan AirAsia

Pengalaman mendapat tiket promo AirAsia ini, benar-benar memberikan pelajaran yang banyak bagiku. Walau tak terbang kemanapun dengan burung besinya, aku tetap memperoleh kesan dengan “penerbangan dan pendaratan ajaib” tersebut.

Ya, berbekal pengetahuan dan alhamdulillah berbagai serapan pelajaran dari teman-teman gunung yang selalu memberi saran juga kritik, kemudian seringnya melatih diri dengan melakukan pendakian, beberapa crew AirAsia menjadi kisah dan teman seperjalanan yang menyenangkan ketika itu hingga kini. Teman yang mungkin tidak semua orang bisa mendapatkan keberuntungan sepertiku. Keberuntungan yang tidak direncanakan. Keberuntungan yang alhamdulillah selalu hadir di setiap perjalanan dan petualanganku menjelajahi bumi yang indah ini.

Selain itu, keberuntungan lain saat teman-teman pendakian AirAsia berteman dengan unik, mendekat tatkala kami dipisahkan oleh dunia maya, pun masih sering berkomunikasi. Saling berkomentar ataupun chatting merupakan hal yang kami lakukan sebagai sarana komunikasi.

Tak hanya saat mendaki, AirAsia menjadi “tiket promo” bagiku, melainkan ia juga memberikan bonus persahabatan antar negara dengan beberapa crewnya. Disamping itu AirAsia pun menambah “jadwal terbang” mendaki dengan kesabaran yang tidak bisa ditimbang rasa kepeduliannya. AirAsia mengubah hidupku dalam menambah point kesabaran, tentu saja! Menambah makna dalam setiap langkah yang sewajarnya dengan ilmu padi. Bahwa kesederhanaan jauh lebih berarti dalam sebuah persahabatan.

Saw u with my minus eyes.. Sunrise of Mount Papandayan (doc pribadi)
Saw u with my minus eyes.. Sunrise of Mount Papandayan
(doc pribadi)

Menjelajahi kepingan awan, menelusuri bukit bermakna.
Menapaki sejengkal kesabaran, kemudian berbuah manis di relung langit kebahagiaan.

Now everyone can fly, kurasa tak harus melulu saklek berlaku di udara saja. Bahwa darat menjadi salah satu bukti nyata penerbangan di ketinggian 2.665 Mdpl dengan tujuan Pondok Saladah sebagai tempat camp site, berjalan-jalan dibawah guyuran hujan ke Tegal Alun walau gagal muncak disebabkan keadaan alam yang tidak memungkinkan lalu berfoto ceria diantara batang hitam pohon cantik Hutan Mati. Selanjutnya pendaratanku bersama AirAsia dengan safe landing di pelataran parkir basecamp David Gunung Papandayan pun bisa diandalkan. Kami terbang pada Meter diatas permukaan laut (Mdpl). Amazed, right? πŸ˜‰

Terima kasih sahabat, terima kasih AirAsia. Fly safely and keep smile! See you soonΒ AirAsia in my next lucky journey. Yeaaaayy….. (jie)

***

Tulisan ini aku ikutsertakan dalam kompetisi-blog-10-tahun-airasia-indonesia. Semangat!

***

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “AirAsia Terbang di 2.665 Mdpl Indonesia”

  1. Kereen ceritamu terbang dg AA ejie.. aku envy. Beneran deeh.. heuheu.. banyaak banget berkah yg udh ejie dapet di dunia ini yg aku gk dapetin. Tp akunj bersyukur dg hidupku yg juga dikelilingi keajaiban πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s