Day 1: The Journey Has Begun (Jarank Pulang)

Cerita kereta, orang-orang baru, menanti kereta, dan awal perjalanan dari petualangan berikutnya bersama Jarank Pulang. Terdiri dari 6 orang Jakarta dan 1 orang dari Solo Balapan.

image

***

Jakarta, 31 Juli 2014

Senen Bukan Senin

Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika aku bersama rombongan Jarank Pulang, teman-teman gunung akhirnya berhasil keluar dari antrian di Stasiun Senen, Jakarta. Barisan panjang itu merupakan barisan dengan kereta jurusan Kutoarjo, Jawa Tengah.

Wiihh… Antusias dari para pelancong, pemudik atau memang karena arus balik H+1 ya, Stasiun Senen menjadi tumpah ruah dengan tumpukan manusia haus jalur mudik?

Entahlah. Kulihat memang begitulah adanya kondisi ibukota pasca Hari Raya 1435 H. Maklum, aku terbilang jarang melakukan perjalanan panjang setelah lebaran. Jadi lumayan terpesona melihat antrian sepanjang itu.

Baiklah, aku belum tahu mau cerita apa di tgl 31 Juli 2014 yang sudah lewat setengah jam yang lalu saat aku mulai memainkan jemariku diatas keypad ini. Mengikuti alur saja, menuliskan apa yang selayaknya diceritakan 🙂

image

Tiket kereta api yang dipesan secara online seharga Rp 70.000,- yang kupunya, menunjukkan Stasiun Kutoarjo adalah titik pemberhentian kami.

Oia, rombongan kami terdiri dari Qbo, Erore, Kemal, Peppy, Rully dan aku. Seharusnya ada Ade Isni juga dalam rombongan Jakarta ini, tetapi di detik terakhir, ia memutuskan tidak ikut disebabkan suatu hal.

***

Cerita Para Lelaki

Perjalanan dengan kereta sebenarnya punya banyak cerita, tetapi aku malah menggunakannya dengan melengkapi jam tidurku yang hanya 2 jam di hari sebelumnya (30/07). Untungnya aku tidak melewatkan sunrise pagi yang terlihat dari balik jendela kereta.

Sesekali mengintip,  boleh donk. Soalnya posisi dudukku tidak dekat jendela, sehingga agak menyulitkan mengambil gambar. Selain itu ya masih bawaan mata yang enak, sayu-sayu malas dibuka gitu melihat langit yang sedikit berkabut diluar. Hehehhe….

image
Mbak bening (doc Kemal)

Di kereta, hingga siang menjelang tiba di stasiun tujuan, Qbo dan Kemal yang duduk di dekatku dapat cuci mata. Lihat “mbak bening” alias kece begitu deh menurut mereka. Sampai grup ramai tuh dikirim foto si mbak bening yang dicandid Kemal. Ciyeeeehh Kemaaaalll… dapat ngga tuh nomor telponnya? #siuls

Kedapatan juga euy Kemal yang senyum-senyum dan Qbo yang ngumpet-ngumpet ngintipin foto candid kali ya? Naaaahh… Ketahuan yow 😛

image

image

Rupanya dari awal perjalanan, ada seseorang yang kutahu pekerjaannya menggambar di komputer (designer kali ya?) yang berbincang dengan Qbo dan Kemal. Hahaahh… Pantas saja Kemal selalu bilang kalau aku menang banyak soal tempat duduk yang bisa selonjoran dan tidur nyenyak.

Si mas designer yang suka alam ini bercerita banyak tentang hal-hal yang bisa dilakukan jika kita ke gunung.

image

Ia juga menjelaskan tentang “granola” makanan berupa kentang yang sudah diolah sedemikian rupa untuk dikonsumsi jika mendaki. Hanya tinggal memanaskan saja sebelum dimakan.

Menurutnya, hal tersebut bisa membantu mengurangi memasak yang membutuhkan waktu lumayan. Sayangnya, tidak semua orang suka hanya dengan makan kentang bukan?

Bila menjadi teman pendamping nasi, granola mungkin bisa dijadikan salah satu lauknya. Namun menyarankan orang Indonesia yang terbiasa mengkonsumsi nasi yang merupakan makanan pokok, apakah bisa?

image
(doc pribadi)

Ada juga cerita pak polisi dengan senapan laras panjangnya yang mondar-mandir di gerbong kami dan akhirnya duduk dan bercerita -dengan kembali dengan Qbo dan Kemal- tentang apapun.

Posisi duduk mereka yang strategis, sepertinya membuat banyak orang baru yang akhirnya menjadi teman. Demikian pun dengan pak polisi yang bermula dari lagu Iwan Fals yang diputar Kemal melalui MP3 nya.

Hahahhha… Aku terlalu mengantuk untuk bergabung bercerita bersama mereka. Benar-benar puas tidur euy!

***

image

Overload Kutoarjo

Kami tiba di Kutoarjo sekitar pukul 13.00 WIB. Dan taraaaaaaa… Kereta selanjutnya baru akan ada 3 jam kemudian. Waks?! Terus, harus ngapain donk?

Menunggu itu ya ngga membosankan kalau ada yang dikerjakan. Mereka yang semuanya pemakan nasi, tadinya mau keluar stasiun. Khawatir ngga bisa masuk sebelum pukul 16.00 WIB, diputuskanlah duduk-duduk santai di stasiun saja sambil makan cemilan PEA crackers yang dibawa Rully langsung dari negeri panda. Hahahh.. Bohong diinnkk.

image

image

Makan siang yang sudah lewat dari jamnya. Pesanan makan ya beli di warung yang ada disekitar stasiun. Kalau aku ya keluarin nesting dan kompor dah karena ngga bisa makan nasi, jadinya masak mie telor. Ehehehehee…

Bawaan masih pada ngantuk, kami akhirnya tidur. Cuma Erore yang kelihatannya tetap sibuk berkoordinasi dengan Luter, teman Yogya yang akan bergabung di Stasiun Lempuyangan.

image

***

Jemput Luther?

Kereta terus melaju hingga kami tiba di Stasiun Solo Balapan dengan Luther yang sudah bergabung. Dari Stasiun Solo Balapan, kami menyewa kendaraan ke Stasiun Solo Jebres seharga Rp 60.000,-.

Kelang setengah jam kemudian, sampai di Stasiun Solo Jebres dan makan malam sudah memanggil. Makan bakso Mas Gimo saja di depan stasiun seharga Rp 10.000,- per porsinya.

image

Pukul 23.00 WIB, kereta yang mundur 1 jam dari waktu keberangkatannya membawa kami hingga ke Kota Malang, tempat perhentian kedua kami, kaki Gunung Semeru.

***

Kata Ejie

Menikmati perjalanan dengan tidur juga ngga salah kok walau pasti ada saja yang akan berkurang dari memori yang (mungkin) kita inginkan.

Tetapi ya tidak salah juga kalau memanfaatkan waktu dengan beristirahat lebih untuk pemulihan stamina kan? Seperti Rully yang menjadi flu karena di hari sebelum keberangkatan, ia nongkrong semalaman dan kurang tidur. Jadilah kantung mata sembab, hidung berair terus dan harus rajin konsumsi vitamin agar kondisi tetap fit.

image

Putuskan hal yang berguna untuk diri pribadi supaya selama perjalanan, senyum akan selalu menghias wajah kita. Semangat berkelana, kawan! (Jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s