#GetStranded #Celebes: Petualangan Leang-Leang

 

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Lukisan dalam gua? Apa istimewanya dengan cap telapak tangan di Leang-leang?
Berdasarkan cerita seorang teman blogger yang sudah pernah kesana, aku menyambanginya. 
Mari terpana dengan sejarah lautan di daratan di Kabupaten Maros ini, teman.. 😉

***

Jejak Lautan di Maros

Maros, Sulawesi Selatan
16 Juni 2014
Pukul 10.20 WITA

TRANSPORTASI

Perjalanan seru, hadiah (berikut PR #GetStranded) yang kuterima setelah mengikuti lomba blog dari Telkomsel Flash dengan juri Trinity The Naked Traveller, beberapa waktu lalu ini mengantarkan langkahku kembali ke Kota Makassar. Senang? Tentu saja. Dan setibanya di bandar udara Sultan Hasanuddin, aku bersama travelmate segera hilir-mudik mencari informasi dan kendaraan ke tujuan dimaksud.

Dari ke Leang-leang, Kabupaten Maros memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan kendaraan roda dua. Aku dan mate menyewa ojek Rp 100.000,- per orang sehari. Sebelumnya memang berniat naik pete-pete (angkot, red), namun mengingat aku yang tidak terlalu hafal dengan jalan-jalan di Makassar dan menghemat waktu, kuputuskan menyewa ojek.

Beruntung, pengendara ojek yang kutumpangi, Adi, mengerti jalan menuju tempat wisata yang menjadi incaranku. Ia dan temannya, juga mengantarkan kami mencari pengisi perut, wajib kuliner Makassar! Hohoooo… Sop Konro dan Sop Saudara menjadi menu awal kami menginjakkan kaki di #Celebes. Cukup Rp 59.000,- sudah dengan teh dingin pelega tenggorokan.

Usai makan, kami bertolak ke sebuah gua yang berada di daerah Maros. Leang-leang letaknya sebelum Taman Nasional Bantimurung. Jalanan yang dilalui rapi, beraspal. Kalau kuperhatikan, tidak cukup banyak kendaraan umum atau pete-pete yang lalu-lalang disana. Baru teringat bahwa minggu dimana aku menyambangi Makassar untuk #GetStranded #Celebes bukanlah musim liburan. Pantas saja kendaraan menuju wisata di Maros ini terlihat lengang. Ahh… memutuskan sesuatu di saat yang tidak disangka itu kadang menjadikan sebuah anugerah ya? Kok? Heheheee… karena akhirnya, aku merasa beruntung telah memutuskan menyewa ojek untuk perjalananku ini.

Kalau hasil tanya dengan teman-teman yang sudah pernah ke Makassar dan juga tanya pada mbak-mbak di toilet bandar udara tadi, untuk ke Maros diperlukan 3 kali kendaraan. Mari kita ulas.

Bandar Udara ke Leang-leang:

  1. Dari bandara ke pangkalan pete-pete, naik ojek, bayar Rp 15.000,- per orang.
  2. Pangkalan pete-pete ke gerbang Desa Sanlerang, naik pete-pete, bayar Rp 5.000,-  – 10.000 per orang.
  3. Dari gerbang Desa Sanlerang ke pintu masuk Leang-leang, naik pete-pete seharga Rp 10.000,- per orang (kalau ada) dan naik ojek seharga 30.000,- per orang.

Lumayan ya? Itu belum ditambah ongkos ke destinasi selanjutnya lho kalau mau sekalian ke Taman Nasional Bantimurung. Oia, tambah juga dengan waktu menunggu kendaraan umum yang menurut aku di hari bukan weekend, bisa 20 menit. Soalnya jarang ada. Sekali lagi aku bersyukur, terima kasih menyentakku untuk menyewa ojeknya Adi. Aaahahhahh…

CP Adi (ojek) : 0812-43728018

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Sungguh ya, dari awal ditelpon mas Dwika yang mengabarkan bahwa aku menjadi salah satu calon kandidat, lalu kembali mengabarkan bahwa aku lolos seleksi, selalu saja ucapan langit cerah menghiasi segenap otak dan hatiku. Kebiasaan, berharap langit mengiringi setiap langkah petualanganku and it works! I got what i want, alhamdulillah.

Perjalanan dari gerbang Desa Sanlerang ke Leang-leang memakan waktu sekitar 15 menit dengan suguhan pemandangan indah dan menyegarkan mata. Hijau menghampar, biru menyeruak, putih mengiringi ditambah warna tanah kecoklatan serta bebatuan dari jajaran bukit karst yang ada di sepanjang perjalanan menuju Leang-leang, membuat sempurnanya hari. Diatas sana, matahari memantulkan sinar bahagianya, selayaknya aku.

Kami tiba di Leang-leang dan segera mengisi buku tamu. Cukup membayar retribusi sebesar Rp 10.000,- per orang, kami sudah ditemani oleh pemandu wisata, Pak Idris namanya.

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

LEANG PETTAKERE: Jejak Telapak Tangan Kakek Nenek Purba

Leang-leang dalam bahasa lokal artinya gua. Di Leang-leang ini terdapat 2 buah gua yang berbeda, yaitu Leang Pettakere dan Leang Pettae. Jarak dari pintu masuk ke Leang Pettakere adalah 200 meter. Untuk mencapainya, kita disuguhi dengan pemandangan bebatuan yang terbentuk secara alami. Subhanallah, cantik!

Menurut Pak Idris, Leang-leang ini dan hampir seluruh Kabupaten Maros, dahulunya merupakan lautan yang bersatu dengan Laut Jawa. Itu sebabnya bebatuan karst yang terbentuk menyerupai karang-karang yang ada di dasar laut. Indah dan cantik memang.

Hitam keabu-abuan mendominasi hampir seluruh bebatuan yang ada. Kalau diperhatikan lebih seksama, bentuk batunya pun terkadang ada yang menyerupai gajah, kura-kura, kepala burung, dan sepertinya ada yang mirip hewan di zaman purbakala. Entah bagaimana aku mendeskripsikannya, karena semua yang terhampar di hadapanku ini membuatku tak bisa berucap apapun.

Di satu sisi, aku menemukan sebuah lubang cantik yang mirip hati. Haa?? Yakin itu hati? Hahaaha…  iya, saking penasaran, aku sampai merunduk-runduk memperhatikannya dari sudut berbeda dan merekamnya! Mamaaaa… mau hati (nyaaaaa…) ahahahahahh

Kami menghabiskan hampir setengah jam di sekitar jalan menuju Leang Pettakere. Bagaimana tidak? Aku menemukan lautan di daratan! Bercerita, memotret dan merekam.

Menuju ke Leang Pettakere, kami melewati jembatan penghubung yang dialiri kali. Gemericik air dan pepohonan rindang, menyejukkan tubuh, menghantarkan angin berhembus sepoi-sepoi. Sebuah rumah yang dijadikan pondokan bagi para mahasiswa yang sesekali mengadakan kegiatan kampusnya, boleh digunakan dengan mengurus izin bermalam sebelumnya. Kamar mandi terletak di belakang pondokan. Tersedia pula sebuah gazebo tempat berkumpul di luar pondokan disertai halaman hijau yang luas.

Jalan ke Leang Pettakere ini rapi. Ada undakan naik keatas dan sebuah plang bertuliskan kawasan religi, budaya dan sejarah di sisi kanan kita. Dari tempat berdiri, aku sudah melihat indahnya batu karst ini. Coklat kapur yang dihiasi aneka ukiran bebatuan alami, sangat pas dengan warna hijau dari tumbuhan sekitar.

Tadinya, Pak Idris dan mate akan berjalan memutar yang lumayan naik, begitu melihat aku yang berdiri karena terpaku pada karst di depanku, Pak Idris berubah arah.

“Bisa lewat sana juga, Jie. Ada lorong kecil yang bisa dilalui dan jalannya cukup landai,” ujarnya.

Kami mengikuti Pak Idris yang memandu jalan. Hewan-hewan kecil yang tertangkap mataku, selalu saja melambatkan langkahku. Memotret mereka yang bergoyang-goyang di sarangnya. Itu seperti laba-laba karena ada sarangnya halusnya, tapi lebih tipis dan hampir kelihatan seperti nyamuk. Entahlah. Pak Idris terlalu jauh untuk kupanggil.

Keluar dari lorong, tangga ke Leang Pettakerelah yang pertama kali kupandangi. Wooo… lumayan tinggi. Sementara Pak Idris membuka pintu di tangga tersebut, aku dan mate berfoto di tulisan Pettakere.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Leang Pettakere terletak agak ke arah tebing bukit dengan bagian pintu menghadap ke barat. Terdapat lantai yang berfungsi sebagai pelataran gua seluas 1-2 meter. Suhu di dalam gua sekitar 27°C.

Kami menaiki tangga dan memotret lukisan yang ada pada dinding gua. Dari sumber yang kami peroleh saat menyambangi Museum Leang-leang yang masih berada satu lokasi, terdata 1 buah kepala babi rusa, 22 lukisan cap tangan, 6 buah lukisan telapak tangan hingga ke siku, alat batu serpih bilah dan mata panah. Jujur ya, kalau hanya melihat sepintas, aku hampir tak melihat apapun, terlebih dengan telapak tangannya. Mungkin karena jarak diantaranya yang terhalang oleh bebatuan di dinding gua. Sekitar 2-3 kali panjang tangan kita. Tetapi begitu difoto, gambar pada dinding itu terlihat jelas. Dan kalau membaca di Google, hampir rata-rata, warna coklat di sekitar telapak tangan yang ada, tampak jelas, sehingga gambar dindingnya pun terlihat.

“Jadi seperti melihat telapak tangan kakek nenek kita di zaman purba ya, Pak?” gumamku sambil tetap mengarahkan kamera pada gambar-gambar di dinding karst.

Gambar babi rusa yang kulihat, berwarna merah dan hanya setengah badan saja yang terlihat dengan perut gendutnya. Ujung mulutnya yang meruncing tampak terlihat seperti mulut ikan. Pada gambar badan babi rusa, tampak pula gambar telapak tangan orang zaman purba.

This slideshow requires JavaScript.

Di Leang Pettakere ini, kita bisa masuk ke dalam guanya. Itulah gunanya kita mengajak pemandu wisata, agar di tempat-tempat yang memang wajib dilestarikan, kita masih bisa untuk melongokkan badan, melihat dengan jelas dan mengabadikannya dalam bentuk gambar.

“Pak, mau lihat ke dalam gua, bolehkan?” tanyaku.

“Iya. Tapi hati-hati agak licin jalannya karena sedikit lembab. Dan agak merunduk supaya tidak kejedut dinding gua, saya lupa bawa senter,” ujarnya. Aku ditemani Pak Idris, sedangkan mate menunggu di luar karena pegal.

Di dalam Leang Pettakere ini, dindingnya sedikit berwarna hijau karena lumut, sebagian berwarna coklat menyatu dengan tempatku berpijak. Bersih dan aroma tanahnya terasa. Kami berjalan menelusuri gua ke arah kanan, dimana terdapat turunan ketempat layaknya jendela. Karena agak licin, Pak Idris, tidak mengizinkanku mendekat ke jendela. Alhasil, aku men-zoom lensa kamera dan menangkap pemandangan cerah di luar sana.

***

LEANG PETTAE: Dapur Zaman Purba

Kami kembali ke arah pondokan, dan mengambil jalur ke Leang Pattae. Melipir jalan kali yang aliran sungainya tidak terlalu tinggi. Jalan ke Leang Pettae juga bagus. Hanya 10 menit dari Leang Pettakere. Sepertinya tempat wisata ini dipelihara dengan baik, meski pekerja atau pemandu wisata di dalamnya tidaklah banyak.

Kami menaiki anak tangga yang diapit oleh dinding karst. Disini udara lebih sejuk karena rimbunan dari pohon bambu juga tanaman lainnya menutupi teriknya matahari.

(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)

Leang Pettae menurut Pak Idris lebih kepada dapurnya orang zaman purba. Disana terdapat keong atau kerang yang menandakan bekas makanan orang di zaman tersebut. Sama seperti Leang Pettakere, jalannya pun berundak, namun terlihat lebih terbuka di pintu masuknya

Setibanya di depan Leang Pattae, kami disuguhkan pemandangan cantik dari bukit karst. Bebatuan tinggi berwarna coklat terang dengan tanaman hijau merambat yang menjuntai hingga ke bawah, sangat apik. Paduan yang kontras.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Disisi kanan arah datang, akan terlihat plang berwarna merah bertuliskan, “Aku adalah bukti sejarah masa lalu, maka lestarikanlah aku.” Dibawahnya terdapat bekas makanan di masa itu.

Gua bertipe kekar lembaran ini ditandai oleh langit-langit yang sempit dan kurangnya proses travertine dalam rongga gua. Arah mulut gua menghadap ke barat. Suhu di dalam gua sekitar 30°C dengan kelembaban 70°C dalam rongga gua. Dipercaya bahwa 500 tahun lampau, nenek moyang kita menjadikan Leang Pettae sebagai tempat tinggal mereka.

Sama seperti Leang Pettakere, kawasan Leang Pettae pun dijaga untuk menghindari tangan-tangan usil yang tidak menghargai warisan budaya. Pak Idris membuka pintu yang terkunci dan kami langsung melihat sebuah pagar berwarna coklat keorenan memagari sebuah dinding batu yang didalamnya juga terdapat gambar telapak tangan.

Leang Pettae ini lebih lega begitu masuk kedalamnya. Tidak perlu merunduk. Dindingnya pun lebih tinggi dibanding Leang Pettakere. Hanya tanahnya tidaklah coklat muda. Tetapi di bagian yang telah diberi pagar, untuk melihat jejak peninggalan orang zaman purba, kita perlu memperhatikannya dengan seksama, karena sedikit gelap.

Wilayah yang dipagari terdapat gambar telapak tangan dan binatang berupa babi rusa. Karena letaknya lebih kedalam dan gelap, kameraku tidak dapat menangkap gambar yang terlihat dengan mata telanjang itu. Sepertinya harus meneropong dengan penerang, kalau mau melihat jelas. Baiklah, jadi ingat kalimat Ricky sahabat gunungku tentang hal yang tidak bisa kuabadikan dalam sebuah gambar, “Cukup rekam dalam hati saja ya, Jie,” jadi, aku pun melakukannya.
#Triiiinngg…

***

Museum Leang-Leang (doc pribadi)
Museum Leang-Leang
(doc pribadi)

Informasi Gua di Museum Leang-leang

Kedua gua sudah kami sambangi, Pak Idris mengajak kami ke Museum Leang-leang yang masih berada di satu lokasi. Jarak tempuhnya hanya 5 menit. Museumnya berbentuk rumah panggung berwarna coklat terletak di bagian atas rumah. Rumah panggung dengan banyak pondasi itu, dibawahnya bisa dipakai sebagai tempat istirahat karena terlindung dari matahari. Tersedia bangku diantara pondasi.

Jika melihat ke dalam museum, kita akan mengetahui bahwa banyak terdapat gua di Kabupaten Maros ini. Informasi dari Pak Idris, ada sekitar 64 gua yang tersebar dan semuanya mempunyai nilai sejarah.

Didalamnya terdapat peta zonasi gua prasejarah Kabupaten Maros, gua prasejarah Kabupaten Muna di Sulawesi Tenggara, peta sebaran gua prasejarah di Kabupaten Maros, dan benda-benda prasejarah berupa kalung, gelang dan lainnya.

Selain itu ada pula Bukit Bulu Sipong di Kecamatan Bontoa-Maros, dimana terdapat 5 gua di bukit tersebut, yaitu Leang Bulu Sipong 1, Leang Bulu Sipong 2, Leang Bulu Sipong 3, Leang Monroe, dan Leang Cempae.

Museum cagar budaya Makassar ini, cukup lengkap memberikan informasi mengenai gua-gua yang ada di Maros hingga Pangkep jika anda ingin berkunjung ke gua prasejarah.

CP Pak Idris : 0812-42382949

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “#GetStranded #Celebes: Petualangan Leang-Leang”

    1. Itu ejie jalan2nya menang lomba blog, win.

      Iya win… Yuukklah 🙂
      Th dpn insha Allah mau ke Lombok, win. Tapi dg perjalanan yang super sederhana dan ala kadarnya. Maukah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s