#GetStranded #Celebes: Mutiara Gua Istana

Salah satu keindahan dalam gua. (doc pribadi)
Salah satu keindahan dalam gua.
(doc pribadi)

Tidak sengaja juga aku bisa masuk ke gua ini, karena memang tujuannya hanya akan masuk satu gua saja yang berada tepat disebelahnya. Berdasarkan penasaran, aku meneruskan langkah memasuki kawasan itu tanpa ditemani travelmateku.

***

Bantimurung, Maros
16 Juni 2014
Pukul 14.16 WITA

Pintu masuk Gua Istana yang ditumbuhi oleh tanaman. (doc pribadi)
Pintu masuk Gua Istana yang ditumbuhi oleh tanaman.
(doc pribadi)

Pintu masuknya tidaklah luas. Aku harus hati-hati menapakkan kaki karena selain batu, jalannya juga berupa tanah merah yang licin. Bukan habis diguyur hujan, tetapi lebih kepada daerah yang sedikit lembab berikut jatuhan air dari atas langit-langit gua tersebut. Sampai saat aku menuliskan Gua Istana ini, belum satupun kutemukan tulisan berkaitan atau informasi yang menerangkan tentang gua ini. Ada satu blog yang menceritakannya, tetapi hanya ditulis bahwa gua tersebut buntu jadi tidak terlalu diulas. Beruntung, aku salah seorang yang bisa masuk ke dalam gua itu, karena banyak hal baru yang kulihat.

Belum terlalu jauh kami memasuki gua itu, Pak Ale berpesan agar aku harus melangkahkan kaki hati-hati karena agak licin. Tanahnya tidaklah terlalu basah, tetapi tetesan air, jelas telihat dari lubang-lubang yang ada pada tanah disekelilingku.

Pandangan yang kulihat langsung di 5 menit pertama, tertumbuk pada sebuah kilauan yang ada di tanah. Apa itu? Aku segera menghampiri dan hoplah! Berlian! Ehh, ataukah mutiara?? Hihiiii… bukan donk. Yang kulihat itu adalah hasil dari jatuhan air pada dinding atas gua yang menciptakan sebuah ornamen berupa butiran yang terlihat seperti berlian berasal dari endapan bening tetesan air.

Beautifull, right? (doc pribadi)
Beautifull, right?
(doc pribadi)

Istilah yang biasa dijumpai dalam gua antara lain:

  1. Tetesan air dari atas dinding gua yang jatuh menuju ke bawah dan tumbuh disebut stalagtit. Hal ini disebabkan tetesan air yang membentuk endapan bening disebut mineral kalsit.
  2. Tetesan stalagtit yang jatuh ke lantai akan membentuk dekorasi disebut stalagmit.
  3. Bersatunya stalagmit dan stalgtit kemudian membentuk dekorasi tersendiri disebut coloumn atau pilar.
  4. Flowstone atau batu air terbentuk dari milyaran tetesan air yang mengalir dan menyelubungi bongkahan batu atau tanah.
  5. Shawl atau drapery merupakan dekorasi mirip selendang atau gordyn yang terbentuk dari tetesan air mengalir pada dinding gua. Terkadang tembus cahaya dan menimbulkan warna.
  6. Helectic terbentuk dari tetesan air mengalir melalui alur kecil sebagai akibat gaya kapiler. Pembentukan dekorasinya menyalahi gaya gravitasi.
  7. Cave pearl atau mutiara gua terbentuk saat kerikil terselimuti oleh mineral kalsit pada lantai sebuah gua.

*bisa lihat di gispala.wordpress.com/2011/05/04/mengenal-ornamen-ornamen-goa/

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Mungkin hampir sama seperti gua-gua lain yang pernah kukunjungi keadaannya. Banyak stalagtit dan stalagmit didalamnya. Hanya bentukan-bentukan yang tercipta saja berbeda.

Oiya, dalam Gua Istana, aku mendengarkan suara-suara jangkrik. Dan jangkrik coklat yang kujumpai disana, lumayan besar hampir serupa belalang. Mereka pun tak begitu saja menghilang dalam kegelapan gua, karena aku berhasil menangkapnya dalam jepretan kamera meski sedikit sulit. Harus mengambil foto berkali-kali agar diperoleh gambar yang diinginkan. Etapi, walau sudah berusaha, gambar yang dihasilkan selalu saja goyang. Selain mengatur napas saat mengambilnya, pencahayaan yang jelas kurang, sangat berpengaruh. Hmmm.. Masih harus banyak berlatih mengambil gambar dalam keadaan gelap.

Jangkrik di Gua Istana ini ukurannya berbeda dari jangkrik biasa. Cukup besar dari yang semestinya. Bewarna hitam kecoklatan dengan sungut antena di kepalanya serta kaki yang panjang.

Selain itu, aku juga menemukan, apa ya namanya, mungkin flowstone atau batu air. Semula kukira itu seperti genangan air dalam stalagtit, tetapi setelah kupegang, ternyata keras dan agak mirip lelehan lilin yang telah mengeras.

Untuk melihat dan memotret di dalam gua, aku sangat bergantung pada sinar senter. Jadi ketika akan memotret, aku minta minta tolong pada Pak Ale untuk menerangi objek yang kumaksud. Kadang memang over eksposure jadinya, hehhehe….

Kami sampai disebuah lorong yang agak menjorok ke dalam. Aku melihat, jalannya lebih sulit dibanding tadi, sebab lumayan berbatu dan licin. Disana lebih gelap dan Pak Ale tidak mengizinkanku melanjutkan perjalanan ke dalam. Katanya terlalu bahaya, cukup jauh setengah jam lagi untuk tiba di ujung gua. Itu kalau jalannya bisa cepat. Disamping itu, perolehan udara juga berkurang karena dinding yang lebih rendah dari yang kami jalani waktu itu. Pak Ale sedikit khawatir denganku. Ia memutuskan memutar badan, kembali ke mulut gua luar agar bisa melanjutkan telusur Gua Mimpi yang berada persis disebelahnya.

Jalan menuju Gua Istana yang mengerucut lebih kecil. Agak riskan jika melanjutkan hingga ke ujung gua. (doc pribadi)
Jalan menuju Gua Istana yang mengerucut lebih kecil. Agak riskan jika melanjutkan hingga ke ujung gua.
(doc pribadi)

Ada 1 kejadian lucu di dalam gua saat aku akan merekam sebuah dinding pilar membentuk gordyn dan mengeluarkan suara berbeda jika diketuk. Karena mate tidak ikut, Pak Ale lah yang merekamku untuk menerangkan bunyi-bunyian tersebut. Tapi apalah daya, hasilnya tidak seperti inginku. Waahahahaaa…. Pak Ale bingung berurusan dengan tablet yang kubawa dan kami tertawa karena ternyata mengenalkan gadget itu agak sulit ya kepada orang yang terbiasa hidup dengan kesederhanaan alam. Biar deh, aku sudah merekamnya dalam hati kok..
#wink

Ehh, mau tambah donk kejadian lucunyaaaaaa….

hasil jatuh dalam gua Istana :D (doc pribadi, taken by Pak Ale)
hasil jatuh dalam gua Istana šŸ˜€
(doc pribadi, taken by Pak Ale)

Jadi, waktu masuk ke dalam gua kan Pak Ale sudah bilang supaya aku berhati-hati tuh. Naaaahh, di tempat yang sama saat akan keluar, Pak Ale kembali mengucapkan hal yang sama karena jalan keluar yang lumayan licin. Aku yakin bahwa aku sudah lewat jalur yang aman dari licin, tetapi entah karena apa, aku, akuuuuuuu…. akakakaakakaaaa…. GELI! Aku jatuh terpeleset di tempat itu dan tertawa nyengir sejadinya. Pak Ale gesit menangkap aku yang terpeleset, namun tak menyelamatkan lutut, tangan serta sandal gunung yang sudah lebih dahulu mencium tanah coklat becek tersebut. Beruntung aku mempersiapkan diri dengan kaus kaki, dekker dan legging yang menutupi betis. Alhamdulillah aman, hanya celana yang kotor.

Pelajaran yang bisa kupetik dari perjalanan Gua Istana adalah, alam memberikan nuansa berbeda ketika kita menikmatinya, tetapi sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Apa hubungannya? Ya diambil hikmahnya doooonnkk…. bahwa tiada yang sempurna di dunia ini. Begitupun dengan kita yang telah berhati-hati dalam hidup. Intinya, kesalahan kadang membuat kita belajar untuk memperbaiki diri, jadi persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk suatu hal yang tidak disangka.

#apa sih, Jie?? šŸ˜›

***

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s