#GetStranded #Celebes: Rammang-rammang Kala Malam

Sempat foto disini ;) (doc pribadi)
Sempat foto disini 😉
(doc pribadi)

Sore mengangkat lingkaran langit yang merona.
Senja berpagut manja, menelurkan warna langit khas Indonesia bagian Tengah.
Biru menyamarkan keabuan, berpadu jingga dan putih.
Lalu meredam dibalik kelabunya awan, tenggelam meninggalkan kesan mendalam.

***

Bantimurung to Rammang-Rammang
16 Juni 2014
Pukul 17.30 WITA

Kami meneruskan perjalanan ke area selanjutnya, destinasi yang menjadi inti dari #GetStranded #Celebes yakni Rammang-rammang. Aku mendapat beberapa contact person Rammang-rammang dari teman-teman yang mengetahui perjalananku. Seluruh contact person yang ada di ponsel, kuberikan pada mate yang memang bertugas menelpon semua tujuan dan dengan siapa kami bisa bertemu.

Adalah Daeng Beta, penduduk Kampung Berua, Rammang-rammang yang akhirnya menjadi pilihan mate untuk menerima kami disana. Iya, kami memang berencana bermalam disana karena hari semakin gelap.

Aku banyak bertanya pada Om Ridho, teman Makassar Backpacker yang menginformasikan agar kami membawa bahan makanan jika akan bermalam. Sayangnya, dalam perjalanan kami tdak menemui pasar. Alhasil, kami memutuskan makan malam di warung terdekat dari Rammang-rammang. Makanan kilat pesanan kami seharga Rp 31.000,- hanyalah 2 buah ceplok telur, 2 buah mie goreng, 1 piring nasi, 1 botol teh dan 2 botol air mineral, cukup untuk menutupi perut yang keroncongan. Bekal biskuit dan roti yang kubawa, bisa untuk sarapan dan makan esok hari.

Cerita punya cerita, ibu warung yang bernama Jamilah, bekerja di Kantor Kepala Desa Rammang-Rammang dan masih ada pertalian saudara dengan Daeng Beta. Mengetahui kami akan bermalam di Kampung Berua, Bu Jamilah membantu kami menyampaikan maksud kehadiran tersebut.

Ternyata dari warung Bu Jamilah ke jembatan Dermaga Rammang-ramang tidaklah jauh. Kisaran menit. Begitu sampai, kami disambut Daeng Beta yang ternyata telah menunggu kedatangan kami sejak sore. Dan Adi yang mengantarkan kami hingga bertemu Daeng Beta, rupanya teman sekolah anaknya Daeng. Ohh… dunia 😉

***

Pesona Malam Sungai Pute dan Keluarga Daeng Beta

Pukul 18.20 WITA

Apa yang sih yang bisa menjadikan sebuah perjalanan menjadi indah? Aku bisa menerka apa yang ada di pikiran anda yang membaca tulisan ini. Tapi, pernahkah merasa sebuah perjalanan melewati sungai dengan deru mesin motornya yang kencang, perahu kayu yang bisa dikatakan sampan, duduk menjaga kesimbangan badan dikarenakan tidak adanya penyangga perahu layaknya jukung yang ada di belahan Indonesia Barat, Lampung?

Atau pernahkah naik perahu kecil dengan gemerlap gemintang yang penuh diatas kita? Mencium aroma hutan bercampur air sungai, melihat kilauan cantik dari kumpulan kunang-kunang yang bergerombol di pohon dalam kegelapan malam, serta dihembus semilir angin sepoi-sepoi?Sebentar, kunang-kunang? Seberapa banyakkah?

Tuuuuhh kaan.. belum pernah melihat kunang-kunang sebanyak yang tampak oleh mata minusku di Sungai Pute, Rammang-rammang kan? Cantik lho.. Aku rasa, kami berdua sangat menikmati malam tenang di atas Jolloro (perahu kecil) yang membawa kami hingga ke Kampung Berua. Aku dan mate saling tunjuk dimana terlihat kumpulan kunang-kunang cantik yang mengerubungi sebuah pohon dengan dedaunan yang padat. Kerlap-kerlipnya membuat kami berteriak tertahan. Dari satu pohon ke pohon lain, sungguh sebuah pemandangan yang sangat langka bisa dijumpai pada sebuah kota besar layaknya Jakarta yang penuh dengan gedung tinggi menjulang.

“Seperti pohon natal!” seru mate.

Huwaaaahh! Tiada perjalanan malam seindah hari pertama kami di #GetStranded #Celebes. Aku pun, tiba-tiba merasa menjadi makhluk romantis yang seketika itu juga meluncurkan pesan langit berbintang bagi semua orang melalui gadget di tanganku. Aku terlalu menikmati keindahan pemberian-NYA ini tanpa terpikir untuk mengabadikan maupun merekamnya. Menyimpannya dalam endapan relung terdalam.. Love you, Rammang-rammang…..

Menyusuri Sungai Pute di malam hari, tidak jauh bagi penduduk yang terbiasa dengan kondisi tersebut. Gelap juga bukan merupakan masalah. Lampu penerang yang berasal dari senter, menemani malam indah tersebut.

Kami tiba di Kampung Berua pukul 18.30 WITA. Saat itu berpapasan dengan orang yang akan ke jembatan dermaga. Karena gelap, kami hanya saling menyapa dan bertukar sedikit cerita. Daeng telah selesai menambatkan perahunya dan memandu kami menuju rumahnya.

Kue dan teh hangat (doc pribadi)
Kue dan teh hangat
(doc pribadi)

Rumah panggung dengan kamar mandi luar tepat berada dibawah kiri rumah Daeng. Kalau dari arah datang, letak kamar mandinya ada dekat tangga di sebelah kanan belakang. Kamar mandinya hanya beratapkan rumbia dengan anyaman daun pohon rumbia saja, seperti membuat ketupat. Seekor anjing unik peliharaan Daeng dan 2 ekor kucing, menyambut kami. Kami pun diperkenalkan kepada keluarga besar Daeng Beta. Saat itu ada ibu dan ayah Daeng Beta yang rencananya akan pulang keesokan harinya (17/06). Maka jadilah ajang kumpul keluarga yang aku belum paham bahasa dan artinya menjadi perbincangan seru malam itu.

Mate yang kelelahan segera tertidur begitu ibu Mariama, istri Daeng Beta menggelar alas tidur untuk kami. Terbatas namun tak mengapa. Kami beristirahat di ruang tengah dengan pemandangan langsung mengarah pada ribuan bintang di atas sana. Aku yang belum mengantuk, akhirnya mengobrol dengan Daeng dan istrinya. Kusampaikan maksud kedatangan serta keinginan eksplore Rammang-rammang. Daeng mengatakan bahwa esok, ia akan mengantar ayah dan ibunya ke Pelabuhan di Makassar.

“Saya usahakan pulang cepat, jadi bisa antar jalan-jalan melihat Kampung Berua ini,” ujarnya.

Ibu yang ikut menemaniku bercerita, menyuguhkan kue dan secangkir hangat sebagai teman pengganjal perut, karena akhirnya, ibu tahu bahwa aku tidak bisa makan nasi. Hehehehhh.. Dan malam itu dipenuhi cerita Daeng tentang tempat wisata yang ada di sekitar bukit Kampung Berua itu. Hhhhh… tak sabar menanti esok memandang dan menggali keindahan Kampung Berua.

“Pagiiii… segeralah menjemput 🙂 ,” bathinku berharap.

Kerjab mata setengah mengantuk, memandangi gemintang dan bulan dari balik kaca nako rumah Daeng Beta. Lembaran buku berisi catatan perjalanan dan sebuah pulpen, seketika melunglai seirama kuapan terakhir yang kuingat mengantarkan dalam lamunan nyenyak panjang malam itu. (jie)

***

Flying in the boat, feel free for that moment :) (doc pribadi)
Flying in the boat, feel free for that moment 🙂
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s