#GetStranded #Celebes: Keluarga Kampung Berua

 

Sungguh lukisan alam tiada tara, ciptaan KUASA yang apik. Saat yang tepat untuk merenggut semua kebahagiaan meski dimulai dengan leyeh-leyeh yang berkepanjangan dan memperoleh kebahagiaan lain di ΒΎ hari. Langit dan alam yang mendukung, membuatku mengucap syukur tiada akhir.
Let’s full the feel, mate…

Pagi ceria di Kampung Berua (doc pribadi)
Pagi ceria di Kampung Berua
(doc pribadi)

***

Maros, Sulawesi Selatan
17 Juni 2014

Pukul 05.30 WITA

Kaget ketika sayup-sayup terdengar kokok ayam dari suara yang ku kenal. Kubuka sedikit mata dan derap-derap kaki melangkah di rumah panggung yang terbuat dari kayu ini menyadarkanku. Sigap, aku duduk dan mematikan alarm yang entah sudah berapa kali berbunyi. Kukucek mata dan…. astagfirullah, hari sudah terang! Kubereskan perlengkapan tidur, mengambil sikat gigi, bersih-bersih sekadarnya, lalu meraih perlengkapan dokumentasi yang telah kupersiapkan dari semalam. Sedang off shalat nih, dapat bonus lagi dari Allah, amiiinn….

Segera saja aku bertengger di balkon kiri dekat tangga turun rumah Daeng. Membidik kamera ke arah gundukan bukit-bukit dihadapanku mencari sunrise yang sudah mulai terang. Tinggal menunggu bulatnya saja. Hissshh… benar-benar kesiangan ternyata aku. Tak mendapat warna orange yang biasanya ada di langit cantik itu. Okeee tak apalah. Mungkin karena letih setelah seharian kemarin aku soft trekking di beberapa gua Maros.

Baru di pagi ini aku melihat keindahan Rammang-rammang yang tenar di luar sana. Rumah panggung, sawah menghijau, bebek, ayam, anjing, kucing, sapi, semua menyatu dengan suasana pedesaan seperti cerita yang kerap aku baca dalam komik. Hijau terang dan penuh warna! Subhanallah….

Lumayan lama aku duduk di ketinggian rumah Daeng itu. Segala aktifitas pagi yang riuh-rendah dengan kehebohan karena kepulangan sang kakek dan nenek, ayah ibu Daeng Beta, merupakan 1 kesempatan yang sangat jarang mungkin bisa dilihat oleh orang awam seperti kami dari luar Kampung Berua.

Kemesraan, perasaan sayang seorang ibu kepada anaknya dalam balutan pelukan kasih, yang aku tak ingin mengabadikan. Kutahan keinginan mengarahkan kamera pada nenek dan Daeng. Tidak, nuraniku mengatakan, hal seperti itu bukanlah untuk diekspose, karena sepengetahuanku, ada batas toleransi dan etika dalam mengambil suatu gambar, meski itu bisa dikatakan sebagai moment. Terlebih mungkin pula dengan pakaian yang dikenakan nenek, membuatku menahan jepretanku. Kesempatan yang mungkin akan sangat jarang aku temukan kembali. Hmmm… tidak semua moment kan baik untuk dibagi?

***

Keluarga Daeng Beta dan mate. (doc pribadi)
Keluarga Daeng Beta dan mate.
(doc pribadi)

Nenek ditemani para cucu serta keluarga, mengantar hingga ke β€œparkir” (sebutan Daeng Beta terhadap perahu yang ditambatkan disana. Lebih kepada dermaga kecil, red). Parkir kecil perahu itu terbuat dari daun rumbia, yang biasa digunakan sebagai atap. Tempat pijakan kami pun terbuat dari batang-batang pohon yang ada disana. Alami dan belum tersentuh aneka β€œkepentingan” yang biasanya sering terjadi bila memajukan suatu pusat wisata.

Berjalan diantara petakan sawah dan empang itu, rasanya berbeda ya? Sudah lama aku memimpikannya. Bermain becek-becekan sawah, tapi hari itu tidak kulakukan. Melihat keakraban keluarga di hadapanku itu, jauh lebih berarti rasanya. Aku jadi semakin merasa dekat.

Istri Daeng yang kupanggil ibu pun dalam waktu singkat, akrab denganku. Ibu yang menemaniku bercerita malam sebelum tidur, memberikan camilan kue bolu saat tahu aku tidak bisa makan nasi, ibulah yang menghabiskan malam bersamaku. Layaknya ibu dan anak, ia menceritakan seputaran kue bolu kepadaku.

Nah, begitu keluarga Daeng lengkap, aku meminta mereka untuk berfoto keluarga. Daeng Beta senang dan berulang kali memintaku untuk memfoto ia dengan kedua orangtuanya itu. Dan sang ibu pun memeluk sayang anaknya.

Ibu, selalu saja begitu ya jika sudah menua. Apalagi jika tinggal berjauhan dengan anak, sementara ibu mengikuti suami yang menetap di Kalimantan.

Kami mengantarkan kakek dan nenek hingga naik ke perahu. Mereka menggunakan 2 perahu. Perahu pertama berisi nenek, kakek, ibu, anak serta cucunya yang ikut mengantar. Perahu kedua berisi Daeng dan saudaranya. Saling melambaikan tangan dengan keluarganya yang hanya mengantar di parkir kecil, lalu menghilang di balik bukit batu karst yang menyerupai karang-karang laut penanda pintu masuk Kampung Berua.

Di parkir kecil, tersisa, aku, mate, Nirma dan Ariel, yang masih terikat saudara dengan keluarga Daeng. Sudah ketahuan Nirma lebih dekat padaku dan Ariel dekat dengan mate. Kami seperti mendapat adik disana yang kira-kira hampir setipe dengan karakter masing-masing. Iya, Nirma yang lumayan kalem dan Ariel yang agak tengil, cocok mendapat kakak seperti mate ku. Sama tengilnya. Waakakakakka..

Pagi itu, karena Daeng mengantarkan orangtuanya, maka kami hanya bermain disekitar Kampung Berua saja. Menikmati cerianya hari. Panas, tapi tidak terik. Pagi itu aku mendapat banyak penglihatan baru. Bukan hanya bermain saja, tetapi juga mengenal alam sekitar. Suasana pedesaan memang sangat kental disini. Udara yang segar, hijau dimana-mana, alam bersahabat dan langit biru yang mendukung. Apalagi yang kurang?? Jalan-jalan!

Selalu, bagian yang kusuka adalah menemukan banyak hewan-hewan dalam perjalananku. Ayam yang mengantri, rombongan bebek yang membasuh badannya, belalang hijau yang hinggap di jaring sawah, capung yang beterbangan, kicauan burung-burung, serta embun pagi yang masih berada diatas padi yang terhampar rapi. Wuaaaa…. karunia yang tak terbayangkan bisa berada disana.

Menurut Daeng, hanya ada 15 kepala keluarga di Kampung Berua, semuanya bersaudara. Waktu masih awal dulu, hanya hitungan 4-5 kepala keluarga saja. Bisa dibayangkan, seperti apa kampung ini dulunya? Sepi, mungkin. Jarak rumah tinggal antara 1 dengan lainnya cukup jauh. Hampir semua rumah berbentuk panggung. Dibawah biasanya dimanfaatkan sebagai tempat memelihara hewan (kandang), kamar mandi luar dan peralatan bercocoktanam.

Di depan rumah Daeng juga ada sebuah pot panjang sederhana yang terbuat dari bambu. Kata Fitri, anak Daeng Beta, pot panjang itu digunakan untuk menanam sayuran misalnya sawi. Cara membuat pot tersebut diajarkan oleh mahasiswa yang PKL di Kampung Berua.

Pagi itu kami disuguhi sarapan camilan kerupuk pangsit dan susu. Sayangnyaaaaaa… aku dan mate tidak ada yang senang minum susu putih. Dan bahagianya, kami punya adik kecil yang kami suruh minum susu putih tersebut. Hhahhah… aman dan tidak menyinggung kan?

Hhh… waktu yang berjalan sangat lambat atau Daeng yang pergi terlalu lama ya? Kakiku sudah gatal kepengin jalan-jalan. Cerita Daeng semalam tentang gua yang berada di belakang rumah, bendungan, lorong berbatu, telaga, bukit karst dan lainnya, sudah membuatku membayangkan apa yang bisa kuperoleh. Belum lagi langit yang mendukung. Aih, aiiihh…

Memandang jauh persawahan dan hewan ternak di depan sana sembari menjepretkan kameraku. Aku mulai gelisah. Mate menangkap kegelisahanku. Ia berbicara dengan Kak Tina, anak Daeng Beta. Entah apa yang mereka bicarakan hingga mate memanggilku.

β€œEjie, mana perlengkapan dokumentasi dan gadgetmu? Kita boleh ngecharge nih,” ia mengambil peralatan gadgetnya..

Setengah melongo, baru tersadar dengan apa yang dimaksudnya. Cepat aku bergerak mengeluarkan semua peralatan pendukung tulisanku itu. Pembicaraan dari semalam dengannya adalah, apakah kami akan menemukan tempat untuk menyuplai baterai kamera dan gadget? Soalnya seharian kami menggunakan semuanya termasuk power bank.

β€œKaper tadi bicara sama Kak Tina?” kepo (kepengin tahu, red).

β€œAku jelasin maksud kedatangan kita kemari, Jie. Bukan sekadar jalan-jalan tapi untuk kepentingan menulis juga. Mengangkat wisata Rammang-rammang. Karena tahu begitu, Kak Tina langsung kasih izin buat ngecharge,” gaya slow dengan kacamata setengah turun, peaceeeeee…

β€œAlhamdulillah…”

***

In the morning fresh (doc pribadi)
In the morning fresh
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s