#GetStranded #Celebes: Penantian Explore Rammang-Rammang

Dan jika keberuntungan itu tak kunjung tiba, apalah daya kini menanti.
Dan jika sekejab itu nikmat menjelang, tak ada yang takkan menolaknya.
Yes! Lucky has come…

Sarapan pagi sehat, 2 gelas susu dan camilan pangsit. (doc pribadi)
Sarapan pagi sehat, 2 gelas susu dan camilan pangsit.
(doc pribadi)

***

BEFORE:

getstranded-celebes-sayur-nenek-berua/
getstranded-celebes-keluarga-kampung-berua/
getstranded-celebes-rammang-rammang-kala-malam/
getstranded-celebes-susur-gua-bantimurung-behind-the-scene/
getstranded-celebes-dongeng-dalam-gua-mimpi/
getstranded-celebes-mutiara-gua-istana/
getstranded-celebes-main-tubing-di-bantimurung-bulusaraung/
getstranded-celebes-petualangan-leang-leang/
getstranded-celebes-ayo-makan-pallu/
getstranded-celebes-kue-maros-yang-asing/
getstranded-celebes-camilan-khas-malengkeri/
getstranded-celebes-sop-saudara-batas-kota-maros/
getstranded-celebes-catatan-contact-person-dan-biaya-perjalanan-per-orang/
getstranded-tsel-kaget-itinerary-makassar/

Kampung Berua, Rammang-rammang
Teras Bambu
17 Juni 2014

Berita Baik

Hari semakin siang dan tidak ada tanda-tanda bahwa kami bisa segera mengeksplore Rammang-rammang. Aku gelisah dengan waktu yang terus berjalan. Bagaimana bila aku tidak mendapatkan apapun? Mate sepertinya tahu, kami berbincang mendiskusikannya.

Bale-bale bambu tempat kami bersantai memang strategis mendatangkan kantuk yang mendera. Sudah lama tidak merasakan hal seperti itu di kota besar yang penuh hiruk-pikuk. Kami tertidur.

Diantara tidur yang setengah nyenyak, aku terbangun mendengar deringan telpon. Ya ampuuunn… klien kantor! Ahahahahh… Hebat, di tempat yang tertutup dengan lembah berbukit seperti ini, aku masih bisa mendapatkan sinyal untuk saling berkabar dengan orang yang jaraknya ribuan kilo jauhnya. Liburan, tetap saja tidak bisa sepenuhnya melepaskan tanggung jawab pekerjaan. Aku berkoordinasi dengan teman di kantor dan minta dipersiapkan apa yang dibutuhkan klien. Beberapa kali kami berkomunikasi dan akirnya selesai. Ingin melanjutkan tidur, tapi tak bisa. Kulihat mate masih santai dan tidur. Uring-uringan, kubalikkan badan beberapa kali dan mungkin karena otak yang lelah, akhirnya tertidur.

Suara-suara yang terdengar dan sekali lagi deringan telpon dari kantor membuatku terbangun. Kuangkat telpon dan berbicara dengan orang diseberang sana. Selesai. Kutolehkan kepalaku dan kenal dengan suara yang berbincang dengan Kak Tina.

“Mau kopi Berua?” seseorang berbaju biru menawarkan secangkir kopi yang masih mengepul.

Aku tidak terlalu mengindahkan tawarannya, “Kakak yang semalam ketemu di parkiran perahu, kan?”

“Iya. Baru kelihatan wajahnya. Ini ngga mau jalan-jalan ya? Jauh-jauh dari Jakarta cuma dipakai buat istirahat saja?” tanyanya.

“Ya ngga, Kak. Daeng belum pulang dan kami harus menunggu,” jawabku, “Tak adakah yang bisa mengantarkan kami berkeliling?” aku berharap.

Kak Tina dan orang berbaju biru yang kutahu kemudian adalah saudara dari Daeng Beta, bernama Kak Kama berbicara dalam bahasa Makassar yang tak kupahami. Dari bahasa tubuh dan ucapan yang kudengar, mereka membicarakan maksud kedatangan kami. Lalu Kak Kama menunjukkan sebuah gambar dalam kamera ponselnya.

“Sudah pernah kemari?” ditunjukkannya beberapa foto. Aku menggeleng dan menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya aku berkunjung ke Kampung Berua. Ia memperlihatkan foto lainnya dan menanyakan apakah kami mau kesana? Tentu saja tidak 2 kali kutolak tawarannya, karena itulah yang aku tunggu dari pagi tadi.

“Ayo Kak, langsung saja jalan. Sambil diceritain apa saja yang akan kita kunjungi nanti,” aku menyerbu, membangunkan mate dan segera bergegas.

“Boleh, ayo bersiap,” Kak Kama pun tidak sungkan melihatku sigap.

***

Berua Diantara Karang

Pukul 13.30 WITA

Gemuruh hati dipenuhi, penasaran!
Perasaan baik yang kerap ada jika memulai hal baru, suka!
Langit yang cerah, panas namun sejuk.
Alam menyambut keceriaan kami, hureeey!

Daeng dan jolloronya (doc pribadi)
Daeng dan jolloronya
(doc pribadi)

Bunyi mesin perahu kecil yang disebut Jolloro ini mengantarkan kami menyusuri Sungai Pute yang siang itu terlihat, ckckkkk… Allah Maha Pencipta! Warna yang sempurna di keterlambatan kami berkeliling Rammang-rammang.

Jika keluar atau masuk Kampung Berua, maka kita akan dihadapkan pada dua lorong bebatuan karst yang mengapit sungai, menandakan sebagai pintu masuk Kampung Berua. Nah, karena kami tiba di Kampung Berua malam hari dan tidak terlalu kelihatan apalagi bisa mengambil gambar, siang inilah aku benar-benar terlongong melihat keindahan batu karst yang mengapit tersebut.

Kenapa ya dari kemarin, aku merasa berada di dasar lautan? Setiap tempat yang kami singgahi, rasanya sedang menyelami dasar lautan dengan karang-karang indah disepanjang mata memandang. Tuhan memang peng-create yang sempurna. Dan aku merasa beruntung, mendapat kesempatan melihat lautan Maros di daratan 😉 .

Lihatlah! Meski siang itu panas, tapi angin semilir yang mengiringi perjalanan susur sungai itu, memberikan kesejukan yang damai. Tatap ke atas dan akan tampak langit biru dengan awan putih yang berarak. Dan jika menebarkan pandangan kea rah sekitar sungai, pepohonan yang mirip tumbuhan kelapa sawit juga mangrove yang sudah beranak-pinak dengan akar yang banyak, memberikan warna tersendiri dan menambah kecantikannya. Atau itu yang namanya pohon bakau? Entahlah, aku hanya menikmatinya saja.

Kak Kama mengajak kami berkeliling ketiga tempat berbeda. Karena waktu yang tak banyak, Kak Kama mengingatkan agar kami mengambil gambar sesuai porsinya. Tanyakan bila ada yang tak jelas padanya mengenai tempat-tempat tersebut dan ia akan menerangkan dengan sepengetahuannya. Dan petualangan #GetStranded akhirnya tertuang dalam bentuk e-magz yang telah publish beberapa saat lalu. (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s