#GetStranded #Celebes: Belajar Menenun di Sa’adan To’ Barana

 

Hasil tenun pengrajin Sa'dan (doc pribadi)
Hasil tenun pengrajin Sa’dan
(doc pribadi)

Berbekal peta wisata pemberian Ronald, si empunya rental motor, kami mengarahkan kendaraan sewaan ke arah lebih atas lagi. Penasaran dengan desa tradisional yang katanya, disana ada pembuat kain tenun Toraja. Tetap menyusuri alam pedesaan yang semakin menciutkan badanku, dingin. Oia, dalam perjalanan, kami bertemu dengan turis dari Cheko Republik bernama Thomas. Kami mengajaknya karena setelah ditanya, ternyata tujuan kami sama. Kasihan juga sih, Thomas berjalan kaki jauh dari Batutumonga untuk mencapai Sa’adan, ckckkkk…

***

Sa’dan, Toraja
18 Juni 2014

Sekitar 20 menit dari Situs Purbakala Bori-Parinding/, kami pun tiba dilokasi dengan jarak sekitar 16 km dari utara Rantepao. Lebih mirip sebuah komplek perumahan kalau dilihat dari luar. Tempat ini terkenal karena Tongkoan (rumah tradisional Toraja, red) dan alang (lumbung padi) nya yang merupakan milik Langi’ Para’pak, seorang bangsawan pada zamannya. Disini kita juga bisa melihat para penenun membuat kain tenunan baik dari alat tenun yang menggunakan benang biasa, hingga alat tenun yang menggunakan kapas sebagai bahan utamanya yang dijadikan benang. Alat tenun tersebut adalah unuran.

Kami bertemu Ibu Turu, penenun  yang sedang membuat tenunan Toraja dengan motif pak borong-borong. Dijelaskan ibu, bahwa untuk membuat 1 lembar kain tenun dengan benang biasa, dibutuhkan waktu sekitar 2 minggu dan masa pengerjaan 3 jam dalam sehari. Dari hasil tenun tersebut bisa dihasilkan aneka kerajinan tenun misalnya, syal, taplak meja, karpet tipis, baju, tas maupun selimut.

Alat yang digunakan pada alat tenun tersebut adalah:

  1. Kalak, pengikat yang mengatur naik turunnya benang masuk secara bergantian.
  2. Kaberan, alat bambu yang lebih besar dari kalak. Fungsinya sama, memasukkan benang tetapi ditarik untuk bantuan.
  3. Balida, alat untuk merapatkan benang jadi kain.
  4. Apit, alat untuk mengapit benang supaya bisa ditenun.
  5. Pembokoran, alat untuk mengencangkan ke belakang menggunakan daya dorong badan dan harus memakai ulang atau tali dari kulit kerbau.
  6. Tora, berfungsi tempat memasukkan benang.
  7. Pak karidisan, tempat benang untuk memasukkan di tora agar gampang memasukkan benang ke dalam tenunan.
  8. Lemulun, alat pembatas supaya alatnya tidak lari ke atas (pak karidisan).
  9. Tumpuan, kaki sebagai tumpuan harus kuat menahan dan membantu alat pembokoran.

This slideshow requires JavaScript.

Untuk mengerjakan sebuah kain tenun, pengrajin haruslah sabar dan telaten agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Setelahnya kami juga melihat seorang nenek yang sedang merapikan benang kapas pada mesin unuran. Menurut Ibu Turu, kain tenunan yang dihasilkan dari alat tersebut harganya jauh lebih mahal. Kenapa? Soalnya, bahan yang digunakan jauh lebih alami, demikian pula pada saat pewarnaannya. Pengerjaan kain tenun dengan alat unuran, jauh lebih lama, yakni sekitar 3-6 bulan tergantung motif dan jenis kain yang mau dibuat.

Seorang nenek yang menenun dengan mesin unuran. (doc pribadi)
Seorang nenek yang menenun dengan mesin unuran.
(doc pribadi)

TIPS:

  1. Sebaiknya jika ingin membeli oleh-oleh kain tenun seperti taplak meja, syal, pashmina, dll, jangan ragu untuk membeli di tempat pengerjaannya langsung, karena jauh lebih murah dan masih bisa ditawar. Jika membeli di bandara, harga bisa mencapai 2 kali lipat dari harga sebenarnya. Jangan sampai gigit jari karena kepengin yang ngga kesampaian, yaaaa….
  2. Jika mengambil banyak, biasanya akan diberikan diskon oleh para pengrajinnya.

Bila akan berkunjung kemari:

  1. Naik bemo (angkutan kota yang ada di Toraja, red) dari Terminal Bolu, jurusan Rantepao-Sa’adan.
  2. Rental motor yang banyak disediakan oleh jasa sewa kendaraan di Rantepao.

***

Diapit Ibu Turu dan Thomas. (doc pribadi)
Diapit Ibu Turu dan Thomas.
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s