#GetStranded #Celebes: Pemakaman Bertingkat Kete’Kesu

 

 

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Pemakaman berusia 500 tahun ini terbilang cukup ramai dikunjungi. Padahal bukan hari libur. Bertingkat, berbatu, terlihat sangat tua karena hampir semua peti mati yang terdapat disana, kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi. Beberapa malah teronggok di pinggiran tangga saja. Pemandu wisata pun tak terlihat, berbeda di tempat wisata lainnya. Tulang-belulang juga tampak tidak sebagaimana mestinya. Entah sengaja dibiarkan berantakan begitu saja penempatannya atau memang kurang terawatkah?
#butuh penjelasan lebih 🙂

***

Toraja
18 Juni 2014

Jika anda berwisata ke daerah Toraja, bagi kaum Muslim agar melihat dan rajin bertanya mengenai masakan yang ada disana. Karena hampir semua makanan kebanyakan tidak halal bagi Muslim. Justru di Tana Toraja ini adalah surga makanan bagi pecinta kuliner berdaging apapun.

Untungnya lagi, ada Yusran yang bersama kami. Ia mengajak kami ke warung Jawa dan juga Muslim langganannya. Meskipun berbeda keyakinan, mate tidak suka memakan istilah yang ia sebut “daging gendut”.  Amanlah kami hari itu.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Jarak dari Rantepao menuju ke Desa Kete’ Kesu berkisar 5 km. Bila berkendara motor hanya sekitar 30 menit saja. Terlihat rata karcis retribusi di Tana Toraja ini, Kete’ Kesu pun membayar Rp 10.000,- per orang.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Kete’ Kesu berada di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara. Sempat  bertanya pada Ronald si empunya penyewaan motor, Kete’ Kesu terkenal dengan seni pahat dan kerajinan tradisionalnya berupa ukiran kayu. Disini juga terdapat Tongkonan (rumah adat Toraja).

Yang aku tidak mendapat jawaban karena kami berjalan berdasarkan kesenangan adalah arti dari tanduk-tandiuk sapi yang dipasang berjajar menurun di Tongkonan tersebut. Mungkin sama seperti menhir tadi ya? Bahwa bangsawan tertinggilah yang bisa menempati rumah dengan tanduk terbanyak. Karena tidak semua rumah disana memiliki tanduk di teras rumahnya.

Kebudayaan  megalitik yang paling lengkap di Tana Toraja, ada disini. Keindahan alamnya yang diapit oleh pegunungan, hamparan sawah membentang, serta barisan rumah adat yang usianya mencapai lebih dari 300 tahun. Setiap rumah adatnya behadapan dengan rumah kecil dengan pondasi terbuka. Sama seperti di Dusun Pariding Utara tadi.

Kami memasuki area pekuburan. Jalanan rapi dengan banyak tempat membeli aneka souvenir yang menggoda mata. Aku yang tadinya berencana langsung ke pekuburan, sedikit tersendat melihat souvenir jika saja mate tidak mengingatkan waktu berjalan yang tidak banyak.

Memasuki area tersebut, di sebelah kiri terdapat tiga buah rumah yang berbeda. Paling kiri bawah, rumah bertanduk kerbau atau sapi itu, menyimpan sebuah ging besar yang terbuat dari kayu dengan gambar seperti matahari di tengahnya. Rumah kedua berupa rumah kecil dan terakhir di kiri atas paling ujung, aku rasa itu adalah makam pasangan dalam kerabat yang sama atau pasangan suami istri.

Wow, naik ke atas rupanya membutuhkan stamina yang fit. Mate ku tampak kelelahan, tetapi aku menyemangatinya agar terus naik. Sayang sudah minggat jauh-jauh tapi tak menikmati perjalanan. Nanti kan tidak ada cerita seru yang bisa dibagikan kalau tidak ikut naik. Heheheeee….

Kami melewati makam-makam tua yang menyimpan pesona mistis. Tampaknya makam-makam itu kurang terurus ya? Soalnya, banyak peti mati yang kelihatan sudah tidak bagus kondisinya. Atau memang sengaja dibiarkan begitu sajakah supaya terlihat semakin “menua” tergerus zaman? Sayang sekali kalau memang tidak diurus jika Kete’ Kesu dijadikan tempat wisata yang dominasi favorit wisatan, kan?

Padahal menurutku, makam bertingkat itu unik. Asumsiku sih, tiap tingkatan itu pasti memiliki sejarah kisahnya yang masih berkaitan dengan derajat dan bangsawan di masa itu. Mungkin bila semakin tinggi makam dalam peti kayu berbentuk rumah dengan model kepala yang khas, semacam tanduk, berarti semakin tinggi pula derajatnya. Benarkah begitu?

Kami naik hingga keatas. Jalanan berupa undakan anak tangga yang melingkar dan kembali aku menemukan hal yang tidak pantas dilakukan. Sebuah tengkorak kepala yang diisengi dengan puntung rokok dan sebuah botol. Di tempat lain, terlihat pula tumpukan botol di dekat rumah yang sudah sangat reyot dan tidak terurus. Entah apakah botol-botol itu memang sengaja dimasukkan dalam wisata atau hanya tumpukan sampah yang tidak dibuang?

Semakin ke atas, semakin terlihat lumut yang ada di dinding Kete’ Kesu ini menandakan sudah sangat lama usianya. Dan di belokan terakhir, hanya jalan landai serta harus berhati-hati. Jalannya agak licin karena tetesan air yang berasal dari atas batu di pekuburan itu. Dihadapanku terlihat karangan bunga yang juga sudah terlihat usang. Dan jika melongok ke dalamnya, terdapat lorong didalam gua. Kami memutuskan perjalanan hanya cukup sampai di ujung mulut gua saja. Jika membaca di sejumlah artikel Google, ada juga serangkaian ritual dan upacara adat yang masih dipertahankan sebagai pesona wisata di Kete Kesu.

Nah, jika sudah puas berjalan-jalan ke atas, mampirlah untuk membeli souvenir sebagai buah tangan bagi handai taulan anda. Di sekitarnya tersedia bermacam-macam souvenir berupa gantungan kunci, kain tenun Toraja, syal, tas dengan manik-manik, tatakan gelas, nampan, gelang dan kalung cantik, patung, hiasan dinding, lukisan bahkan ukiran kayu bergambar kakek dan nenek juga sapi putih belang yang terkenal di Toraja.. semuanya merupakan hiasan hasil lukisan atau ukiran khas masyarakat Kete Kesu sendiri. Kisaran harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 5.000,-  per barang hingga ratusan ribu rupiah, tergantung barang atau benda apa yang anda inginkan.

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

6 thoughts on “#GetStranded #Celebes: Pemakaman Bertingkat Kete’Kesu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s