#GetStranded #Celebes: Nenek Penyu Liukang Loe [2]

Melihat penyu dari atas perahu, mungkin sudah pernah. Tetapi melihat penyu dari dekat dan sudah berumur puluhan tahun, pernahkah?? Memeluk dan berbicara padanya? Di penangkaran penyu, hal itu bisa kita lakukan. Biasanya sih, tidak gratis. Bolehlah dicoba bermain dengan penyu. Yuuukk 😉
(doc pribadi)
(doc pribadi)
***

BEFORE:

getstranded-celebes-35-ribu-ke-pulau-liukang-loe/

***

Pulau Liukang Loe, Tanjung Bira
20 Juni 2014

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Di sekitar Pulau Liukang Loe yang berada tidak jauh dari Tanjung Bira, ada sebuah penangkaran penyu yang dikelola oleh penduduk lokal. Untuk naik ke penangkaran penyu yang terbuat dari kayu berwarna coklat ini, berbentuk pondokan santai, dikenakan biaya Rp 5.000,- per orang. Cukup bersahabat dengan kantong kan?

Penangkaran ini tidaklah luas. Tempat nyaman dengan pemandangan laut terhampar di sekeliling penangkaran penyu itu, menambah satu point cantik dengan air toscanya. Disediakan tempat duduk bersantai jika ingin memesan makanan dan minuman disana. Tempatnya teduh ditiup angin laut yang memanjakan mata dengan warnanya.

Aku dan mate penasaran, kami pun naik ke penangkaran. Kulihat petakan yang di dalamnya terdapat penyu-penyu besar, karena saat itu yang terlihat adalah kelebatan penyu yang berenang dengan gesit di bawah penangkaran itu. Aku bertanya pada ibu yang menjaga penangkaran, apakah kami boleh masuk ke dalam dimana terdapat penyu-penyu yang besar di dalamnya. Ia menganggukkan kepalanya dan menunjuk sebuah papan putih bertuliskan, berenang Rp 10.000,-. Maksudnya kami bisa berenang dan bermain di petakan kolam penyu tersebut.

Aku masuk dan menuruni anak tangga. Tidak dalam ternyata. Kurang dari 1 meter tinggi badanku. Dibawah kakiku adalah pasir laut berwarna putih dengan rumput-rumput laut yang tumbuh. Air hijau sedikit dingin karena penangkarannya yang terlindung dari sinar matahari. Aku mengintip dan mencoba menyelam ke dalam, kulihat jaring terpasang kuat sebagai penahan bagi para penyu ini agar tidak keluar dari wilayah penangkaran. Jaringnya menutupi seluruh bagian petakan juga dasar berpasir putih, sehingga sedikit terasa kasar bila dipijak dengan kaki telanjang.

Penyu yang ada disini, berjumlah 12 ekor dan hampir semuanya perempuan. Ehh, sebutan lelaki dan perempuan, berlaku buat penyu apa sih?? Menurut ibu, penyu tertua yang berusia 70 tahun pun adalah nenek penyu karena berkelamin perempuan. Hayooo…. ada tahu ngga cara membedakan penyu jantan dan betina? Jantan dan betina? Itu dia! Horeeee… aku tahu jawabannya.

Yusuf, si kecil kelas 5 SD yang jago mengimbangi lajunya penyu. (doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
Yusuf, si kecil kelas 5 SD yang jago mengimbangi lajunya penyu.
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)

Di penangkaran ini terdapat penyu  berusia 70 tahun, 60 tahun dan 12 tahun. Mereka sudah 9 bulan berada di penangkaran. Biasanya mereka diberi makan berupa batang sayuran. Kata ibu yang mempunyai anak bernama Yusuf dan jago berenang bersama penyu ini, ada 2 ekor penyu yang menurut (patuh) disana. Jadi kami bermain, berfoto dan menggendong penyu yang menurut saja. Yusuf yang mencarikannya. Ia sudah sangat hafal dengan penyu yang bersahabat itu. Buktinya, ketika si penyu di dekatkan pada kami, tidak ada yang berontak sama sekali. Kelihatan sudah terbiasa dengan manusia-manusia yang ingin memeluk dan memegangnya.

(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)

Aku mencoba mengikuti berenang seekor penyu, tetapi begitu ia tahu diikuti, maka langsung saja si penyu melesat berenang cepat meninggalkan hingga aku tak bisa mengimbanginya. Kepakan sayap penyu itu sungguh luar biasa ya? Sekali mendayung saja, si penyu sudah berenang jauh di depanku. Hahahaah… kata temanku, Ketos si anak SMA, berenang dengan penyu itu tidak boleh berisik. Harus tenang agar ia mau berenang lambat dan diikuti. Aku mencoba apa yang disarankan Ketos, dan berhasil! Senangnyaaaaa….

Kulitnya yang keras, badannya yang besar dan hentakan sayapnya yang kencang namun tidak dapat berenang jauh karena tertutup oleh jaring penahannya, membuat penyu-penyu tersebut hanya bisa berenang hingga ke sisi lain jaring dibawah petakan penangkaran. Mereka bersembunyi dibalik pondasi penangkaran atau diantara rumput laut yang ada. Tetap kelihatan sih, soalnya petakannya tidak besar. Aku hanya menginti dari tempat berdiriku saja. Kasihan juga kalau dikejar. Mungkin mereka merasa asing dan sedikit terganggu bila kami terus saja penasaran ingin mendekati penyu-penyu yang ingin menyendiri.

Justicia, Ketos, Rendi, aku dan mate. (doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
Justicia, Ketos, Rendi, aku dan mate.
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)

***

Cukup lama kami bermain di penangkaran penyu itu. Hari semakin siang, kami pun pindah lokasi spot snorkeling.

Aku bertanya pada Pak Andeng, “Kita ngga menepi main ke pantai di Pulau Liukang Loe nya ya, Pak?”

“Ngga. Main disini saja. Kalau kesana, nanti lama. Ini kan hari Jum’at, waktunya shalat,” jawabnya. Ehmm… lupa. Kebanyakan masyarakat Makassar adalah Muslim. Dan hari melaut kami adalah Jum’at. Berarti kesenangan melaut sebentar lagi berakhir. Okeeeee…. nyemplung lagi menyapa ikan dan terumbu karang karena entah kapan aku bisa mengunjunginya lagi.

Byuuuuurrrr….

Cukup lama berenang-renang di dalam sampai aku mendengar Pak Andeng memanggilku. Ia melihatku yang menyelam sendirian di bawah dan merekomendasikan spot cantik yang bisa kutelusuri. Benar saja, ikut dengan Pak Andeng, aku melihat ikan-ikan yang sebelumnya belum tertangkap oleh mata minusku. Ikan gemuk seperti karang, gerombolan ikan yang berenang cepat, entah apa namanya dan terumbu karang yang lebih berwarna daripada di kedalaman dekat kapal.

Pak Andeng mengajakku ke arah lainnya dan menunjukkan sesuatu di bawah sana. Sekimpulan pasukan dengan ikan bertubuh panjang langsing berwarna hitam dan mulut yang agak panjang. Ekornya bergerak dan berenang santai. Bagai pasukan yang siap perang, berbaris berenang bersama.

“Pak, Ejie mau turun, lihat dari dekat, bolehkan? Bahaya ngga ikannya?” teriakku karena angin agak kencang.

“Boleh,” jawabnya singkat dengan menganggukkan kepalanya dan memberi kode padaku untuk turun. “Saya pantau mbak dari sini.”

Dalam sekejab, aku sudah meluncur di kedalaman 5 meter dan mengikuti barisan ikan panjang langsing tersebut. Tidak bisa lama, karena sepertinya aku berenang agak melawan arus. Perlu dorongan yang kuat untuk bisa mengimbangi keluwesan berenang ikan-ikan itu. Pegal kakiku dan nafas mulai berkurang. Aku segera naik ke permukaan dan mengatakan pada Pak Andeng bahwa arus mulai kencang. Pak Andeng mengajakku untuk segera kembali ke kapal. Ia pun mengarahkan teman-teman lain agar segera menaiki kapal.

Permainan laut berakhir. Ukiran biru langit dengan awan putih dan sinar mentarinya, mengiringi kepulangan kami hingga ke Pantai Pasir Putih Tanjung Bira.

***

(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
(doc pribadi, taken by dheddy MAN2 MODEL MKS)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s