Mengintip Phinisi di Panrang Luhu

 

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Selama ini hanya mendengar kata Phinisi saja. Bagaimana pembuatan dan bahan apa saja yang dipakai untuk sebuah kapal besar tersebut (yang kerap dipesan justru, oleh bangsa lain untuk kapal pesiar), tidak tahu. Dari penelusuran dan berkat rasa penasaran kembali, serta waktu kunjung hanya sedikit karena harus bertolak ke Malengkeri, Makassar kembali, aku dan mate menyambangi sebuah tempat pembuatan kapal phinisi yang terkenal itu. Satu arah menuju ke Pantai Pasir Putih Tanjung Bira.

***

Tanjung Bira
20 Juni 2014

Pukul 11.20 WITA

Usai check out, makan siang lezat masakan sang chef Salassa Guest House, Kak Shanti, serta menitipkan barang-barang kami agar bisa berkunjung di 2 tempat yang belum terjamah, kami bergegas jalan. Berkat kebaikan hati Kak Shanti, kami diperbolehkan memakai motornya secara gratis, paling nanti kuiisi bensin saja begitu mengembalikan motornya. Karena Kak Shanti tidak ingin dibayar untuk pemakaian motornya tersebut.

Untung saja mate orangnya cuek dan mau kesana-kemari. Kami benar-benar menghemat dan memanfaatkan waktu sebelum hari menjelang sore dan kehabisan kendaraan yang mengarah ke Makassar.

Tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Bira, ada sebuah pembuatan kapal phinisi yang terkenal.

Untuk kesana, sebaiknya:

  1. Sewa motor. Kisaran harga sewa per hari antara Rp 50.000,- hingga 70.000,-.
  2. Jalan kaki jika anda menginap di salah satu penginapan dalam lokasi Pantai Pasir Putih Tanjung Bira hingga ke pelabuhan. Dari pelabuhan naik angkot berwarna merah, turun di Panrang Luhu.
  3. Jalan kaki menyusuri pantai dari pelabuhan hingga ke Panrang Luhu jika ingin menikmati suasana dan angin pantai bila anda mempunyai banyak waktu luang.
  4. Cari tumpangan kendaraan yang mengarah ke Panrang Luhu, jika beruntung.

Kami melewati turunan tajam berbelok yang membuat kami tertawa-tawa. Menggelitik perut kami soalnya. Melewati rumah penduduk yang tampak sepi. Melewati masjid yang penuh dengan anak-anak yang mengaji siang itu dan melewati pasir pantai lembut yang membuat motor agak susah berjalan diatasnya.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Kapal setengah jadi itu sungguh besar. Baru kali ini aku melihat pembuatan kapal phinisi. Aku memotretnya dari kejauhan. Banyak pekerja disana, sekitar 15 orang. Aku mendekat dan memperhatikan mereka. Seorang bapak yang tengah beristirahat kudekati. Kami bercerita.

Dikatakannya, yang aku lihat ketika itu, bukanlah pembuatan kapal phinisi, tetapi kapal kargo. Untuk pembuatan phinisi, kurang lebih sama seperti yang kulihat itu.

Bedanya, kapal phinisi itu umumnya memiliki 2 tiang layar utama dan 7 buah layar terdiri dari 3 di ujung depan 2 di depan, dan 2 di belakang.  Jumlah tiang dan layar itu mempunyai pengartian sendiri. 2 tiang utama berdasarkan 2 kalimat syahadat, dan 7 buahnya merupakan jumlah dari surat Al-Fatihah. Pengartian lainnya, nenek moyang kita mampu mengarungi 7 buah samudera besar di dunia (Sumber Wikipedia).

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Tak lama, aku bertemu Pak Samsul, mandor pembuatan kapal kargo tersebut. Ia membenarkan apa yang dikatakan anak buahnya. Biasanya yang sering mengorder pembuatan kapal phinisi adalah Pak Muhammad Basho. Satu-satunya pengorder phinisi yang ada di Tanjung Bira. Ia tinggal di sebuah rumah yang juga dijadikan penginapan yakni Panrita Lopi. Saat kami kesana, beliau sedang umroh, jadi aku tidak bisa banyak bertanya mengenai phinisi.

Menurut Pak Samsul, order kapal phinisi biasanya datang dari luar negeri. Misalnya Inggris, Swiss dan Perancis. Kebanyakan negara Eropa yang antusias memesan. Karena kapal phinisi biasanya buat kapal pesiar.

Pembuatan kapal phinisi bisa berlangsung lama, tergantung seberapa besar kapal yang dipesan dan bahan yang masuk. Jika bahan yang diperlukan sedang tidak ada atau sangat jarang diperoleh, maka pembuatan kapal akan lama. Hitungannya bisa 1 tahun lebih. Paling cepat, 10 bulan.

Pengadaan bahan kapal tersebut biasanya diperoleh dari Makassar dan Kendari. Kedua tempat itu memiliki kayu yang bagus untuk membuat kapal.

Berikut adalah beberapa bahan yang digunakan untuk pembuatan kapal:

  1. Kayu besi. Sangat kekar, berwarna coklat dan mempunyai tekstur bagus beralur lurus.
  2. Mur berukuran super jumbo.
  3. Tali sebagai pengikat untuk menguatkan beberapa bagian.
  4. Plat besi sebagai tumpuan dasar kapal. Gunanya untuk menahan bagian bawah kapal jika terjadi kandas agar tidak langsung mengenai bagian kapal, menghindari karang atau bebatuan yang ada di dasar laut.
  5. Dll

Pekerja yang biasa mengerjakan phinisi adalah orang-orang asli dari Pantai Ara. Mereka seperti sudah terlatih membuat kapal, baik phinisi, kargo maupun perahu kecil. Sudah merupakan keturunan atau darah lahir mereka tercipta sebagai pembuat phinisi.

Di Panrang Luhu ini, tidak hanya ada pembuatan kapal phinisi dan kargo saja, tetapi juga perahu-perahu kecil untuk hopping island maupun nelayan.

Yang membuat kaget adalah keterangan Pak Samsul mengenai pembuatan kapal biasanya tidak diiringi design atau blue print begitu istilah kerennya. Cengok ngga tuh? Nah, Pak Samsul sendiri sebelumnya adalah seorang koki yang juga pernah bekerja sebagai pembuat kapal akhirnya menjadi mandor untuk sebuah pembuatan kapal. Wuiiiiiihhh…. jempol!

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s